Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
BARANG-BARANG AJAIB, JANU MANGGALA

BARANG-BARANG AJAIB, JANU MANGGALA

abdulrizqi60 | Bersambung
Jumlah kata
24.5K
Popular
100
Subscribe
2
Novel / BARANG-BARANG AJAIB, JANU MANGGALA
BARANG-BARANG AJAIB, JANU MANGGALA

BARANG-BARANG AJAIB, JANU MANGGALA

abdulrizqi60| Bersambung
Jumlah Kata
24.5K
Popular
100
Subscribe
2
Sinopsis
18+PerkotaanAksiKekuatan SuperHaremPria Dominan
Janu Manggala adalah seorang pemuda yang putus kuliah di tengah jalan lantaran faktor ekonomi. di dalam keterpurukannya Janu memutuskan untuk merantau ke Jakarta dan menjadi kuli pelabuhan demi mencari modal untuk membangun usaha. selama di Jakarta Janu sangat giat bekerja, tidak hanya itu malam harinya ia sempatkan untuk menulis novel, ya! Janu memiliki cita-cita menjadi penulis novel terkenal. namun sayang sekali cita-cita Janu harus ia kubur dalam-dalam lantaran sang editor yang mempermalukannya di depan umum membuat mentalnya down hingga berbulan-bulan, sejak saat itu Janu memutuskan berhenti menulis dan memilih mencari uang secara realistis demi membangun usaha melalui toko warisan kakeknya yang dahulu adalah toko barang antik yang tidak laku, Janu berniat mengganti barang dagang di toko itu. apa yang tidak Janu ketahui barang-barang antik itu bukanlah barang biasa melainkan artefak hidup yang setia kepada Tuannya.. tidak hanya itu tanpa Janu sadari ia sendiri adalah sosok sakti mandraguna Tuan dari artefak hidup itu. inti dari cerita ini adalah Sang MC yang sangat sakti tiada tanding namun ia tak menyadari dirinya sakti.
Janu Manggala

Seorang pemuda berdiri menyenderkan perutnya di pagar besi anjungan sebuah kapal. Wajahnya teterpa derasnya angin lautan menggeraikan bebas rambutnya yang sesekali ia sugarkan dengan jemari tangannya.

Pandangannya jauh menatap lautan biru, ia tampak terlena pada nuansa laju kapal yang membawanya pergi ke pulau sebrang. Ia meninggalkan kampung halaman demi sebuah cita-cita dan angan yang terpendam menuju sebuah kota kecil.

Sampailah ia di kota kecil itu, kota tua yang nyaris seperti potongan masa lalu yang di tinggalkan tergesa. Jalannnya di penuhi gang-gang sempit yang berkelok dengan rumah-rumah berdinding kusam berdiri rapat dengan warna cat yang memudar.

Satu hal yang sangat mencolok langitnya begitu terang seolah panas terik dan rasa gerah adalah bagian yang tak pernah terpisahkan dari jiwanya.

2 tahun kemudian...

Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Di sebuah kamar Kos yang berukuran 3×4 dan terlihat kumuh seorang pemuda berusai 22 tahun sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. Ia duduk di temani segelas kopi dengan mata yang fokus menatap layar monitor laptopnya. Tampak ia sedang membaca kembali apa yang ia ketik.

Namanya adalah Janu Manggala, seorang pemuda yang hidup sendirian di pinggiran sebuah kota. Ia sudah tak memiliki orang tua, ia anak semata wayang dan sudah tidak memiliki siapapun.

Sebelum ia memutuskan menginjakan kaki di perantauan dia dahulu adalah seorang mahasiswa di salah satu kampus terbaik di Sumatera Utara, namun sayang sekali Janu harus berhenti kuliah karena faktor ekonomi.

Awalnya hidup Janu Manggala baik-baik saja, ia terkenal sebagai mahasiswa yang pintar, selama ini kuliah Janu di biyayai oleh kakeknya namun setelah kakek Janu meninggal di situlah awal kehancuran Janu. Ia di gusur dari rumahnya sendiri yang berada di sebuah desa, karena ternyata kakeknya menggadaikan rumah itu untuk biyaya kuliahnya.

Janu sama sekali tidak mendapatkan warisan apapun dari kedua orang tuanya, karena kedua orang tua Janu adalah orang miskin, mereka sudah lama meninggal sejak Janu kecil. Janu hanya mendapatkan warisan sebuah toko barang antik dari kakeknya.

Selama tinggal bersama kakeknya Janu sama sekali tidak pernah melihat ada pembeli yang membeli barang antik milik kakeknya. Ia berpikir bahwa bisnis barang antik kurang di minati. Oleh karena itu Janu merantau demi mencari modal untuk membangun bisnis yang lain dengan toko peninggalan kakeknya.

Kini ia bekerja di sebuah dermaga pelabuhan. Pagi hingga sore Ia menjadi kuli bongkar muat dan malam harinya ia menulis novel. Ya cita-cita Janu adalah menjadi seorang penulis terkenal. Sebuah laptop second accer jadul dengan ram kecil, itulah harta satu-satunya yang ia miliki, yang menemaninya setiap malam menyalurkan hobby serta bakatnya sekaligus sebagai jembatan baginya untuk mengejar cita-cita dan impiannya semenjak kecil dahulu.

Ia tak seperti remaja umumnya, yang suka bergaul dan nongkrong. Ia hanya menghabiskan waktu di kamar kosnya setiap malam dan di pagi hingga sore ia bekerja di pelabuhan. Semua itu ia lakukan demi mewujudkan satu impian yang kerap mengganggu tidurnya.

Ya, ia bertekad menjadi seorang penulis terkenal hingga karyanya di kenal oleh banyak orang. Tekadnya begitu kuat dan tak tergoyahkan. Ia berpikir bahwa usianya masih sangat muda. Gerbang harapan masih terbuka luas baginya untuk mewujudkan cita-cita. Untuk itulah ia memulainya dari sekarang..

Ramadhan pertama di tanah perantauan, Janu memiliki banyak waktu untuk menulis. Ia memilih bekerja setengah hari di bulan puasa. 12 hari menjelang lebaran pelabuhan tak berfungsi normal. Logistik dan bongkaran hampir tidak ada, temannya mengajak mengerjakan proyek borongan untuk mengecat dinding sebuah bangunan seperti auditorium di tengah kota.

"Mau nggak? Kalau mau besok berangkat. Lumayan seminggu." Ucap temannya yang sesama kuli.

"Boleh deh..." jawab Janu sembari makan bekalnya.

Keesokan harinya dengan berboncengan sepeda motor absolute revo spion sebelah dengan speakbor yang oglek menari kesana kemari. Sesampainya di sana mereka langsung menenemui pemborong tersebut.

"Kalian berdua sanggup nggak, Ngerjain ini seminggu kelar? Auditorium sama pager luar ini?" Ucap pemborong tersebut.

"10 hari paling pak, karena gak bisa sekali jadi. Mungkin 2-3 kali pengecatan." Jawab teman Janu yang bernama Anton, pria bertubuh pendek gempal dengan tato di lengan kiri bahunya bergambar kalajengking yang saat ini justru terlihat seperti gambar lobster gemoy seiring bertambah besar lengannya karena menjadi kuli di pelabuhan.

"Hah? Lama banget, di hari kesembilan mau ada acara. Gedung mau di pake, ngga bisa kalau 10 hari. Huffff.... gimana ini?"

"Yang rundingannya kemarin kan paling lambat 10 hari pak? Dan saya berusaha seminggu kelar. Saya ngga tahu kalau sama pager juga, bapak ngga bilang." Protes Anton.

"Oke gini aja, prioritaskan gedung auditoriumnya dulu. Seminggu harus kelar, masalah pager nanti kita bicarakan lagi. Saya juga baru dapet konfirmasi bahwa gedung mau di pake lima hari lagi."

"Ya udah gitu aja pak."

"Mulai dari lantai 5 ya,, soalnya acara bakal di gelar di lantai dasar. Kalian boleh tidur di lantai 2."

"Siap pak!"

Saat itulah Janu dan Anton mulai mengerjakan proyek borongan itu berdua. Mereka bekerja penuh ketelitian agar hasil memuaskan dan dapat di terima.

Setiap malam mereka keluar sekedar healing menghirup udara kedustaan perkotaan yang penuh nestapa dan drama. Sebrang jalan raya di depan masjid besar mereka duduk di depan warung tenda nasi goreng. Berdua menikmati malam dengan menyantap nasi goreng.

"Emang mau ada acara apaan sih Ton di gedung itu?" Tanya Janu di sela-sela makan.

"Denger-denger sih kaya acara meet and greet gitu."

"Acaranya artis?"

"Nggak tau, mungkin musisi yang mau lounching album baru. Emang artis doang yang bisa jumpa fans? Atlet juga bisa kan?"

"Iya juga ya..."

"Oh ya Nu, kalau aku yang buat acara gitu kira-kira ada nggak ya yang mau dateng buat minta tanda tangan gitu? Hahaha..." kelakar Anton dengan labil tawanya.

"Ada Ton bapak-bapak yasinan.."

"Njirrr!!! Almarhum berarti?"

Selesai makan mereka duduk di pinggir taman, menikmati lalu lalang kendaraan malam dan gemerlip lampu air mancur di taman itu.

"Kita keliatan kaya gelandangan ngga sih Nu?? Pengin deketin cewek tapi ngga pede.."

"Halah ngga usah Ton. Ini kota! Cewek-ceweknya finansial oriented semua! Yang ada jijik mereka lihat kita."

"Iya juga ya... sebenarnya ngga cantik-cantik amat juga mereka itu. Bajunya aja yang keliatan bagus, banyak yang boneng gitu giginya.... hahahaha..."

"Lebaran ini kamu pulang kampung ngga ton?"

"Nggak, kamu ngerasa ngga sih Nu? Semenjak ngga ada orang tua pulang kampung itu berasa ngga berarti kaya epic momentnya hilang. Lebaran udah ngga seistimewa dulu lagi. Jadi males mau pulang."

"Hmm... iya juga sih aku juga males pulang. Ngga punya siapa-siapa juga saya di sana semuanya udah meninggal."

Udara begitu sunyi dan terasa dingin di malam itu, mereka mengotorinya dengan menghembuskan asap rokok ke udara, sekedar untuk menyumbang polusi kepada makhluk yang merasa paling tersakiti tanpa tau betapa kerasnya dunia ini untuk dimengerti.

Mereka mengakhiri malam itu dengan berjalan di blok paping trotoar menuju auditorium tempat mereka tidur.

Sesampainya di auditorium Anton langsung tidur, Janu masih terjaga di pagar lantai dua. Sepinya waktu ia rasakan kala sendiri hanya di temani hembusan asap rokok yang terbawa angin sembari menatap langit malam yang seolah tertawa tak perduli.

Lanjut membaca
Lanjut membaca