
- Jumlah kata
- 63.6K
- Popular
- 204
- Subscribe
- 39
Sinopsis
Terlempar ke tahun 1978, Surya mendadak jadi anak konglomerat! Berbekal ingatan dari masa depan, ia siap menggilas ibu tiri yang serakah, mencaplok perusahaan raksasa, dan membangun pasukan pengawal elit. Harta, takhta, dan artis-artis cantik Ibukota... semua kini ada di bawah kendalinya!
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Dua Miliar Rupiah, Sepakat!
Mei 1978. Kawasan elite Menteng, Jakarta.
Di balkon lantai atas sebuah rumah bergaya kolonial yang megah, seorang pemuda tampan duduk santai di kursi malas rotannya. Matanya menatap jauh menembus rindangnya pepohonan, mengarah ke proyek-proyek gedung tinggi di kawasan Sudirman yang mulai menggeliat di bawah hangatnya matahari Orde Baru.
Namanya Surya Kusuma, 22 tahun. Anak sulung sekaligus pewaris tunggal takhta bisnis keluarga Kusuma.
Sebenarnya, jiwa yang bersemayam di tubuh pemuda itu adalah seorang penjelajah waktu. Ia berasal dari tahun 2023 dan terlempar ke dunia ini tepat di tahun 1973. Lima tahun sudah ia bernapas di era 70-an yang penuh dengan intrik, lobi tingkat tinggi, dan pembangunan gila-gilaan.
Nasibnya lumayan bagus karena terlahir sebagai anak salah satu taipan ibu kota. Sayangnya, ibu kandungnya sudah lama meninggal. Sang ayah, Tirta Kusuma, lantas menikah lagi dan memberinya seorang ibu tiri saat usianya baru 15 tahun.
Meski sang ibu tiri sering memandangnya dengan sebelah mata, hidup Surya tetap berjalan mulus layaknya pangeran ibu kota. Selama lima tahun ini, ia tidak hanya berpangku tangan menghabiskan uang ayahnya. Bermodal dana awal dari Tirta dan sebuah cheat bawaan dari masa depan berupa Sistem AI Dewi, Surya diam-diam membangun kerajaannya sendiri di luar radar keluarga. Sistem cerdas yang tertanam di otaknya itu berisi mahadata sejarah dan pergerakan ekonomi masa depan.
Berkat kecerdasan buatan itu, Surya berhasil mendirikan dua entitas rahasia: Investama Nusantara, sebuah perusahaan investasi tertutup, dan Garuda Perisai Security, penyedia jasa pengawalan VVIP yang berisi para mantan tentara bayaran elit.
Namun, kedamaian semu itu baru saja hancur. Ayahnya, Tirta Kusuma, tewas dalam sebuah 'kecelakaan' lalu lintas yang sangat janggal beberapa hari lalu di tol Jagorawi yang baru saja diresmikan.
Upacara pemakaman telah usai kemarin. Harusnya suasana rumah duka perlahan sepi, namun lantai satu kediaman Kusuma hari ini justru terasa seperti sarang penyamun. Ibu tirinya, Yuliastuti, membawa seluruh anggota keluarga besarnya. Tujuannya sangat gamblang: kudeta harta warisan. Yuliastuti sudah lama gatal ingin menendang Surya keluar dari hak waris Kusuma Group.
Surya menyunggingkan senyum tipis. Drama perebutan aset yang biasanya hanya ia saksikan di layar kaca, kini menjadi panggung realitanya.
"Tok! Tok! Tok!"
Pintu kamarnya diketuk kasar.
"Masuk saja, tidak dikunci," sahut Surya tenang.
Seorang asisten rumah tangga melongok dengan wajah pucat. "Den Surya, Nyonya minta Aden turun ke ruang tamu sekarang."
"Bilang saja aku sedang sibuk. Dua puluh menit lagi aku turun."
Begitu pintu ditutup, Surya bangkit dari kursi malasnya. Waktunya membalikkan keadaan. Ia mengangkat gagang telepon rotary di atas meja dan memutar nomor khusus.
"Bang Wahyu. Ini Surya. Bawa pasukan pengawal terbaik kita dan notaris kepercayaan perusahaan. Merapat ke Menteng sekarang juga."
"Siap, Bos! Sepuluh menit kami sampai."
Surya kembali menyesap kopinya dengan santai. Tepat sepuluh menit kemudian, suara deru mesin Mercedes-Benz W116 dan dua jip tangguh membelah kesunyian halaman rumahnya.
"Waktunya berburu," gumam Surya. Ia merapikan kerah kemejanya dan berjalan santai menuruni tangga pualam.
Begitu ujung sepatunya menyentuh lantai satu, belasan pasang mata langsung menyorotnya bak serigala lapar.
"Surya, ke sini kau! Ada yang harus kita selesaikan hari ini juga," panggil Yuliastuti dengan nada arogan.
"Tunggu sebentar, tamuku baru datang," balas Surya tanpa sudi menatap wajah wanita itu. Ia melangkah lurus ke pintu utama.
Di teras, Bang Wahyu dan empat pria berbadan tegap dengan setelan safari gelap baru saja turun dari mobil. Bang Wahyu adalah mantan pasukan khusus yang kenyang asam garam operasi militer rahasia. Kini, ia menjabat sebagai Kepala Operasional di Garuda Perisai Security.
"Bos," sapa mereka serempak, menunduk hormat.
"Ikut aku ke dalam. Kalau ada yang macam-macam, kalian tahu harus apa," perintah Surya dingin.
"Siap, Bos."
Kehadiran lima pria berwajah beringas di belakang Surya seketika menyapu bersih senyum congkak di wajah Yuliastuti.
"Surya! Preman dari mana yang kau bawa ke rumah ini?! Suruh mereka keluar! Kau pikir ini pasar burung?!" bentak Yuliastuti, suaranya sedikit bergetar.
Surya mendengus pelan, menatap lurus ke arah gerombolan keluarga tirinya. "Tante Yuli, niat busukmu itu sudah tercium dari ujung jalan. Tante bilang orang-orangku ini preman? Lalu, rombongan bertampang centeng yang Tante bawa ini mau disebut apa? Orang suci? Tidak usah banyak sandiwara. Kita buka-bukaan saja sekarang."
Di era Orde Baru, hukum sering kali memihak pada siapa yang punya bekingan paling kuat. Kalau Surya sendirian menghadapi belasan orang dari keluarga Yuliastuti, ia mungkin akan celaka. Tapi dengan Bang Wahyu dan tim khususnya, keamanan nyawanya terjamin mutlak.
"Bagus kalau kau mau bicara terbuka!" Yuliastuti menggebrak meja. "Aku berikan kau uang tunai lima puluh juta rupiah. Serahkan semua hak waris sahammu di Kusuma Group padaku, dan mulai detik ini kau angkat kaki dari keluarga ini!"
Surya tertawa renyah, tawanya menggema di ruang tamu yang tegang itu. "Lima puluh juta? Tante mau beli kerupuk? Atas namaku sendiri, Papa sudah membalik nama 25% saham induk Kusuma Group jauh-jauh hari. Belum lagi surat wasiat rahasia yang sudah disahkan notaris. Papa tahu istrinya ini serigala berbulu domba, jadi seluruh kendali Kusuma Group jatuh ke tanganku secara sah!"
Wajah Yuliastuti memerah padam. "Si tua bangka keparat! Berani-beraninya dia main belakang denganku!" umpatnya kehilangan keanggunan.
Ini adalah pukulan telak yang meruntuhkan skenario mereka. Kusuma Group bukanlah perusahaan publik yang sahamnya bisa dibeli di bursa, melainkan raksasa monopoli swasta yang menguasai konsesi logistik dan perkebunan berkat lobi pemerintah. Yuliastuti mengira ia bisa otomatis menjadi penguasa tunggal karena Surya masih muda.
Dulu, ayah Yuliastuti—Yanto 'Naga'—adalah tokoh dunia hitam yang punya kedekatan dengan beberapa perwira militer. Tirta Kusuma menikahinya demi mengamankan bekingan operasional bisnisnya. Kini, Yanto membawa kroni-kroninya untuk menelan Kusuma Group secara paksa. Surya sangat yakin kecelakaan ayahnya adalah hasil sabotase mereka.
"Lima puluh juta itu sudah terlalu besar untuk anak ingusan sepertimu," suara serak dan berat memecah ketegangan. Yanto 'Naga' menatap Surya dengan mata menyipit tajam.
"Dua miliar." Surya membalas tatapan bos sindikat itu tanpa berkedip sedikit pun. "Siapkan dana dua miliar rupiah, dan aku akan melepas seluruh hak warisku hari ini juga."
Mendengar nominal fantastis itu, napas semua orang di ruangan itu tertahan. Di tahun 1978, dua miliar rupiah adalah kekayaan tingkat dewa, setara dengan jutaan dolar Amerika.
"Bocah sinting, jangan menggali kuburanmu sendiri! Punya uang sebanyak itu tapi nyawamu melayang, buat apa?" ancam Yanto terang-terangan, menyandarkan tubuhnya ke depan. "Tawaran lima puluh juta hangus. Aku beri kau lima juta rupiah. Tanda tangani akta pelepasan sahamnya sekarang, atau mobilmu mungkin akan blong remnya besok pagi!"
"Wah, aku sangat ketakutan," ejek Surya sambil duduk bersandar santai di sofa kulit mahal. "Kalian tahu Pak Hartono 'Si Raja Kapal'? Kudengar beliau sedang mencari kendaraan bisnis untuk memonopoli pelabuhan darat. Menurut kalian, beliau berani bayar berapa kalau aku menyerahkan Kusuma Group padanya lengkap dengan jalur lobi almarhum Papa?"
Ancaman itu langsung membungkam Yanto. Kalau sampai aset strategis Kusuma Group jatuh ke tangan konglomerat kelas berat seperti Hartono, geng Naga Barong tidak akan berkutik. Selama lima tahun ini Surya sudah membangun jejaring keamanannya sendiri; ia kebal terhadap gertakan preman kelas teri.
"Surya, kita ini keluarga," Yuliastuti mencoba melembutkan suaranya, meski matanya menyorotkan kebencian. "Mari realistis. Mengelola lobi pemerintah dan konsesi sebesar Kusuma Group itu butuh koneksi tingkat atas. Di tanganmu, perusahaan itu akan mati pelan-pelan. Kau mau menghancurkan warisan ayahmu?"
"Itu urusanku, bukan urusan Tante. Darah yang mengalir di tubuhku darah Kusuma. Aku pewaris mutlaknya," potong Surya tajam.
"Satu miliar! Mentok!" potong Yanto 'Naga' dengan urat leher menonjol. Rencana busuknya sudah matang: ia akan memberikan uang itu, menendang Surya secara legal, lalu mengirim pembunuh bayaran malam harinya untuk mengambil kembali uang tersebut.
"Biar kalian tidak menyebutku keras kepala, begini saja." Surya mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Yanto dengan senyum predator. "Dua miliar rupiah. Taruh angkanya di atas meja, dan Kusuma Group resmi menjadi milik kalian."
Suasana mendadak hening. Harga itu adalah harga mati yang bisa menguras hampir seluruh cadangan likuiditas sindikat Naga Barong.
"Dua miliar! Deal! Tapi ingat, kalau kau macam-macam, Jakarta tidak akan cukup luas untuk tempatmu bersembunyi!" gertak Yanto sambil menggebrak meja jati hingga cangkir teh bergetar.
"Deal. Dua miliar." Surya tersenyum puas, kemenangan mutlak tergambar di wajahnya. "Tapi ada syaratnya. Aku mau pembayarannya melalui Cek Kontan dari Bank Bumi Daya sekarang juga. Notarisku akan langsung menelepon kepala cabang bank untuk memverifikasi dananya sebelum penaku menyentuh kertas kalian. Oh ya, satu hal lagi... rumah Menteng ini seratus persen tetap menjadi hak milikku!"
Daftar bab
46 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








