Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Berburu Cinta 1.000 Wanita

Berburu Cinta 1.000 Wanita

DicArc | Bersambung
Jumlah kata
63.1K
Popular
100
Subscribe
10
Novel / Berburu Cinta 1.000 Wanita
Berburu Cinta 1.000 Wanita

Berburu Cinta 1.000 Wanita

DicArc| Bersambung
Jumlah Kata
63.1K
Popular
100
Subscribe
10
Sinopsis
18+PerkotaanSupernatural21+HaremKekuatan Super
PERINGATAN HANYA UNTUK 21+. Daimon Dewangga pengangguran sejati yang dimodifikasi Epta menjadi sosok baru kaya raya, yang ditugasi untuk membuahi 1.000 wanita untuk melahirkan anak dengan gen unggul.
BAB 1 - Hidup atau Mati

Jakarta seakan sengaja memanggang siapa saja yang bernapas di atas aspalnya hari ini. Terik matahari siang memantulkan uap panas dari permukaan jalan raya, membakar kulit dan menguras kewarasan.

Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak kenal ampun itu, Daimon Dewangga melangkah gontai. Bahunya menurun lesu. Kemeja putihnya yang semula tersetrika rapi kini lepek oleh keringat yang terus bercucuran membasahi punggung.

Ia baru saja keluar dari sebuah gedung pencakar langit berlantai kaca. Hasilnya nihil. Kata penolakan itu lagi-lagi meluncur sangat mudah dari bibir pewawancara, menghancurkan sisa harapannya dalam hitungan detik.

Daimon bukanlah pemuda tanpa otak. Ia adalah lulusan dengan predikat cumlaude dari jurusan Public Relations di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta. Gelar sarjana itu ia raih bukan dari dompet tebal, melainkan beasiswa penuh yang ia pertahankan mati-matian.

Namun, realitas kehidupan benar-benar menampar keyakinannya. Tiga tahun berlalu sejak ia memindahkan tali toga. Tiga tahun pula ia luntang-lantung tanpa pekerjaan.

Puluhan perusahaan menolaknya dengan alasan yang nyaris seragam. Ia selalu dianggap tidak memenuhi kriteria yang diharapkan. Keputusasaan bahkan sempat mendorongnya untuk mendaftar menjadi driver ojek online.

Jalan pintas itu pun tertutup rapat. Ia tidak memiliki SIM, apalagi sepeda motor untuk membelah kemacetan ibu kota.

Untuk sekadar menyambung napas dan mengisi perut, Daimon terpaksa terus menggerus sisa uang tabungannya. Tabungan itu adalah sisa dari hasil menjual rumah peninggalan orang tuanya. Keduanya tewas dalam sebuah kecelakaan tragis saat ia masih berseragam putih abu-abu.

Tanpa saudara yang sudi menampung, Daimon sempat menumpang hidup di rumah mantan pembantu orang tuanya. Ketika merasa cukup dewasa, ia memilih pergi. Ia menanggung takdirnya sendiri, berpindah dari satu kosan sempit ke kosan lain karena biaya sewa yang terus mencekik.

Hari ini, langkah kakinya terasa jauh lebih berat. Penolakan kerja tadi pagi benar-benar memukul mentalnya.

"Susah banget cari kerja di Jakarta. Apalagi kalau enggak punya kendaraan sendiri. Apa gue mesti coba ke daerah lain gitu buat cari kerja?" pikir Daimon.

Di tengah perenungannya yang kalut, perut bawahnya mendadak bergejolak. Hajat biologisnya muncul tanpa permisi. Keinginannya untuk buang air kecil sudah mencapai batas tak tertahankan.

Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes di pelipisnya. Ia melirik ke kanan dan kiri jalanan yang padat. Tidak ada toilet umum. Bangunan-bangunan kaca di sekitarnya terlalu angkuh untuk menerima seorang pengangguran yang hanya menumpang buang hajat.

Matanya dengan cepat menangkap sebuah lorong kecil yang tersembunyi di antara dua gedung perkantoran. Tanpa berpikir panjang, ia berlari kecil menuju lorong pengap tersebut.

Ia kembali menoleh ke belakang, memastikan tidak ada mata yang mengawasi. Ia melangkah semakin dalam, mencari sudut yang paling gelap. Tangan kanannya dengan tergesa membuka ritsleting celana, lalu melepaskan tekanannya ke arah tanah berdebu.

"Ahhhhh legaaaaaa ..." desahnya pelan dengan mata terpejam.

Usai membenahi sabuk dan celananya dengan benar, Daimon memutar tubuhnya untuk kembali ke jalan raya. Namun, langkah kakinya mendadak membeku. Jantungnya seakan copot dari rongga dada.

Lima orang pria bertampang garang dan bertubuh gempal sudah berdiri memblokir jalan keluarnya.

"Heh, emang itu wc umum!" teriak salah seorang di antara mereka. Suaranya menggelegar memantul di dinding lorong.

Wajah Daimon memucat. Jauh di lubuk hatinya, ia tahu ia bersalah karena membuang hajat sembarangan.

"Duh, maaf, Bang. Saya kebelet," jawab Daimon dengan nada suara bergetar.

Pria bertato naga melangkah maju menyeringai. "Ya udah, elo mesti bayar denda."

Mata Daimon membelalak. "Denda? Duh, maaf, Bang, saya enggak punya uang."

Preman bertubuh paling besar mendengus kasar. "Ga punya uang? Bohong banget lo, bocah. Segitu tampilan mentereng ngaku ga punya uang!"

"Iya, beneran. Saya habis ngelamar kerja. Ditolak. Saya aja belum makan dari tadi," ujar Daimon memelas, mencoba meyakinkan mereka.

Jawaban itu sama sekali tidak memuaskan para preman jalanan tersebut. Tanpa aba-aba, salah seorang dari mereka merangsek maju. Tangannya yang sekasar parut langsung mencengkeram kerah kemeja Daimon dengan kuat, menyeret tubuh kurus itu.

"Periksa di sakunya!" teriak pria yang mencengkeramnya.

"Bang, Bang, tolong, Bang. Saya orang miskin," ucap Daimon meronta pelan.

"Jangan banyak bacot lo!" bentak pria lain yang kini merogoh paksa saku celana kain Daimon.

"Ampuun, Bang. Saya mohon, Bang," pinta Daimon dengan air mata yang nyaris tumpah. Rasa takut dan terhina bercampur menjadi satu.

Tiba-tiba wajah preman yang memeriksa sakunya berbinar cerah.

"Ini ada hape! Pake ini aja bayar dendanya!" teriak preman itu sembari mengangkat ponsel Daimon ke udara.

Dada Daimon terasa sesak. "Jangan, Bang, itu harta saya yang penting. Buat cari kerja."

Usai ponselnya dirampas paksa, pria di hadapannya mendorong dada Daimon dengan tenaga penuh. Keseimbangan Daimon goyah. Tubuhnya terjerembap keras mencium tanah berdebu. Sikunya lecet bergesekan dengan kerikil tajam.

"Masa sih ga punya duit .." ujar salah seorang preman meremehkan.

"Mungkin duitnya banyak di hapenya," timpal preman lainnya seraya membolak-balik benda pipih tersebut.

Daimon menelan ludah. Ia merangkak pelan di atas tanah kotor itu, mendekati kaki-kaki para pengeroyoknya.

"Tolong, Bang, jangan bawa hape saya itu," lirihnya dengan nada putus asa.

Salah seorang preman memutar tubuh, menatap jijik ke bawah. Tanpa belas kasihan, ia mengangkat sebelah kakinya dan mendorong kasar wajah Daimon dengan telapak sepatunya yang dekil.

Tubuh Daimon kembali terpelanting. Kepalanya membentur tanah lembap. Perlakuan itu menghancurkan sisa-sisa harga dirinya.

Di titik terendah itu, rasa takutnya menguap. Amarah mendadak menyala membakar jiwanya. Ini bukan lagi soal barang berharga, pikirnya, ini pertaruhan hidup dan mati.

Jika preman itu membawa lari ponselnya, itu sama saja memutus urat nadinya perlahan. Ia akan mati kelaparan di ibu kota tanpa alat untuk mencari pekerjaan. Ia harus melawan.

"Mampus ya mampus dah," gumam Daimon mengunci rahangnya. "Gue dah nothing to lose."

Daimon bangkit perlahan. Tatapan matanya yang tadi memelas kini berubah tajam bagai serigala terluka. Ia merendahkan tubuhnya, menekuk kedua lutut membentuk sudut tajam, memusatkan seluruh energi kemarahannya ke area tumit.

Tanpa membuang sedetik pun, ia berlari kecil menerjang ke depan. Ia meloncat tinggi ke udara, melontarkan tendangan telak menggunakan kaki kanannya tepat ke arah tubuh pria yang memegang ponselnya.

Bughhhhhh!

Hantaman keras itu membuat pria besar tersebut terlontar jatuh. Benda persegi panjang milik Daimon terlepas dari genggamannya dan jatuh ke atas tanah.

Melihat rekannya tersungkur, keempat pria lainnya langsung naik pitam. Salah seorang yang berdiri paling dekat dengan Daimon seketika melayangkan pukulan kepalan tangan lurus ke arah wajahnya.

Bakkkkk!

Pukulan itu bersarang telak di rahang. Tubuh Daimon terhuyung hebat. Pandangannya langsung berkunang-kunang, tulang wajahnya seakan remuk. Namun secara ajaib, sepasang kakinya menolak untuk rubuh. Ia tetap berdiri tegak.

"Mau ngelawan lo, bocah!" geram preman itu dengan napas menderu.

Telinga Daimon berdenging keras. Sambil menahan amis darah di sudut bibir, ia kembali memasang kuda-kuda.

Pria itu merangsek maju, menyerang membabi buta. Daimon berusaha tenang, mundur selangkah demi selangkah membaca ritme serangan lawan untuk mencari celah.

Hingga sepersekian detik yang krusial itu tiba.

Buggggh!

Daimon melontarkan tendangan kilat lurus ke arah selangkangan pria tersebut. Tendangan mematikan itu bersarang sempurna. Pria garang itu seketika melotot, tubuhnya ambruk berlutut memeluk perut bawahnya seraya mengerang kesakitan.

Namun kemenangan Daimon hanya seumur jagung. Dua rekan preman lainnya langsung menyergap dari sisi kiri dan kanan. Tenaga raksasa mereka memiting paksa kedua tangan Daimon, menguncinya mati di belakang punggung.

Daimon meronta, tetapi tenaganya telah terkuras habis. Ia tak berkutik.

Di saat ia kehilangan daya, seorang preman lainnya melangkah pelan ke hadapannya dengan senyum iblis. Pria itu mengayunkan tangannya yang kasar, menampar wajah Daimon dengan tenaga penuh.

Pakkkkkk!

Pakkkkk!

Pakkkkk!

Wajah Daimon terlempar ke kiri dan kanan. Kulitnya memerah terbakar. Belum cukup sampai di situ, preman itu mengepalkan tinjunya, menghajar perut Daimon berulang kali layaknya memukul samsak daging.

Udara di paru-paru Daimon terkuras. Napasnya putus. Pandangannya mulai gelap menahan sakit yang merobek ulu hati. Kesadarannya nyaris melayang sepenuhnya.

Hingga di detik-detik paling mematikan itu, sebuah suara pecah menggelegar membelah kesunyian lorong.

"Woiiii, lagi apa kalian!!!"

Teriakan keras itu menggema lantang, menghentikan seluruh pergerakan layaknya sihir, dan membuat siapa saja yang mendengarnya menahan napas untuk melihat siapa sosok yang berani mencampuri urusan ini.

Lanjut membaca
Lanjut membaca