Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Reinkarnasi CEO Di Tubuh Preman Gendut

Reinkarnasi CEO Di Tubuh Preman Gendut

Jana Indria | Bersambung
Jumlah kata
49.3K
Popular
3.1K
Subscribe
271
Novel / Reinkarnasi CEO Di Tubuh Preman Gendut
Reinkarnasi CEO Di Tubuh Preman Gendut

Reinkarnasi CEO Di Tubuh Preman Gendut

Jana Indria| Bersambung
Jumlah Kata
49.3K
Popular
3.1K
Subscribe
271
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalZero To HeroTime TravelSistem
Baskara, CEO sukses tahun 2026, tewas dalam kecelakaan dan terbangun di tahun 1980 dalam tubuh Eko, preman miskin yang baru keluar dari penjara. Saat keluarganya terjerat utang dan Mak jatuh sakit, sebuah Sistem memberinya modal Rp10.000 dengan satu syarat: “Kayakan keluarga ini, atau lupakan lima sahabat yang paling kau cintai.” Berbekal pengetahuan bisnis masa depan, Baskara pun mengubah Rp10.000 menjadi awal kerajaan bisnis yang mengguncang tahun 1980.
1. Hidup kembali

“Aargh …!!”

Baskara merasa dirinya seperti dilempar dari tebing yang sangat tinggi ke dalam jurang tak berdasar.

Hingga tiba tiba tubuhnya tersentak hebat, jantungnya serasa copot ke atas tenggorokan. Matanya terbuka lebar secara paksa, napasnya memburu seperti orang yang baru saja tenggelam dan berhasil muncul ke permukaan air.

"Hah! Hah! Tidaaaak!!" Baskara berteriak hysteris, tangannya menggapai-gapai udara kosong.

Namun, suaranya tidak keluar seperti suaranya yang biasa. Suara yang keluar justru terdengar berat, serak, dan menggelegar seperti hantaman godam.

Baskara tersedak air liurnya sendiri. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik. Pandangannya buram untuk beberapa saat, sebelum akhirnya menyesuaikan diri dengan cahaya remang-remang yang masuk dari celah-celah kecil.

Di mana dia? Di mana jet pribadinya? Di mana pecahan kaca, kemewahan, dan yang paling penting, di mana sahabat-sahabatnya?

Baskara mencoba menggerakkan tubuhnya untuk berdiri, namun punggungnya terasa kaku dan perih.

Ketika dia meraba bagian bawah tubuhnya, telapak tangannya menyentuh sesuatu yang seperti anyamannya kasar dan menusuk-menusuk kulit.

“Kok bisa ada ini?!” tanya Baskara pada dirinya sendiri sambil memperhatikan benda yang tepat dia tiduri tadi, tikar pandan.

Tikar pandan yang sudah robek-robek di beberapa bagian, digelar di atas lantai semen yang dingin, lembap, dan retak-retak.

Bau pesing yang menyengat, bercampur dengan bau tanah basah dan keringat asam, langsung menusuk hidungnya hingga membuat perutnya mual.

Dia melihat ke sekeliling lagi. Ruangan itu sangat sempit. Dindingnya terbuat dari semen telanjang yang berlumut di sudut-sudutnya. Di depannya, terdapat jeruji besi tebal yang berkarat.

"Ini... ini apa? Masa iya aku ada di dalam penjara?" gumam Baskara bingung. Suaranya kembali terdengar asing di telinganya sendiri.

Dia mengangkat kedua tangannya ke depan wajah. Seketika itu juga, matanya membulat sempurna, hampir melompat keluar dari kelopaknya.

Tangan itu bukan tangannya. Tangan Baskara adalah tangan seorang eksekutif yang terawat, dengan jari-jari lentik yang biasa memegang pena mahal dan bersalaman dengan para menteri.

Tapi tangan yang ada di depan matanya sekarang adalah tangan yang luar biasa besar, dengan buku-buku jari yang tebal, kulit yang menghitam kasar, penuh dengan kapalan dan bekas luka sayatan jalanan yang sudah mengering.

"Enggak... ini nggak mungkin. Gua mimpi. Gua pasti lagi koma di rumah sakit setelah pesawatnya jatuh," bisik Baskara pada dirinya sendiri. Dia menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan keras.

*PLAK!* Rasanya sakit sekali. Nyata. Terlalu nyata untuk sebuah mimpi.

Dia meraba dadanya, turun ke perutnya. Tubuh ini sangat besar. Kekar, padat oleh otot yang kasar, mengenakan kaus oblong putih yang sudah berubah warna menjadi kekuningan karena daki dan keringat, penuh dengan lubang- lubang kecil.

"Heh! Eko! Ngapain lu tabok-tabok muka sendiri kayak orang gila begitu?" sebuah suara berat dan malas terdengar dari sudut ruangan yang agak gelap.

Baskara tersentak. Dia baru sadar kalau dia tidak sendirian di dalam ruangan berjeruji itu. Ada tiga orang pria lain yang bertelanjang dada, bertato kasar dengan gambar naga yang tidak proporsional, sedang menatapnya dengan tatapan agak segan tapi juga heran.

"Siapa... siapa yang lu panggil Eko?" tanya Baskara, suaranya agak bergetar.

Orang yang menegurnya tadi, seorang pria berambut gondrong jagung, tertawa hambar sambil meludah ke sudut sel.

"Lah, si Bos malah ngelawak. Ya lulah! Siapa lagi yang namanya Eko, si preman pasar induk di ruangan ini selain lu? Udah lu jangan stres gara-gara kelamaan di sel. Hari ini kan lu bebas, Ko. Tuh, liat noh, sipir udah jalan ke sini bawa kunci."

Baskara mematung. Otaknya yang biasa berpikir cepat untuk strategi bisnis bernilai jutaan dolar mendadak macet total.

*Gue Eko? Preman pasar induk? Bebas?*

Sebelum dia sempat mencerna apa yang terjadi, suara denting kunci besi yang beradu dengan jeruji membuyarkan lamunannya.

Seorang pria berseragam cokelat tua kusam dengan kumis tebal berjalan mendekat, wajahnya tampak ketus.

"Eko! Sini lu! Barang -barang lu ambil di depan. Hari ini lu bebas. Awas ya, kalau lu bikin rusuh di pasar lagi, bacok orang lagi, gua pastiin lu balik ke sel ini dan mendekam lebih lama!" bentak sipir itu sambil membuka gembok besi yang besar.

Baskara berdiri dengan canggung. Tubuhnya yang sekarang terasa sangat berat dan tinggi, kepalanya bahkan hampir menyentuh bagian atas pintu sel saat dia melangkah keluar.

Langkah kakinya terasa limbung, bukan karena sakit fisik, tapi karena jiwanya menolak kenyataan ini. Dia berjalan seperti robot, mengikuti petunjuk sipir menuju sebuah ruangan administrasi yang tampak sangat kuno.

Di atas meja kayu yang catnya sudah mengelupas, terdapat sebuah cermin kecil yang buram. Baskara langsung bergegas berdiri di depan cermin itu tanpa memedulikan tatapan heran petugas di sana. Begitu melihat pantulan di cermin, jantung Baskara serasa berhenti berdetak.

Wajah di cermin itu adalah wajah pria berusia akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan. Rahangnya kokoh dan persegi, dengan janggut tipis yang tidak terawat. Dengan pipi yang sudah mirip bakpao.

Ada bekas luka goresan panjang di pelipis kirinya, matanya tajam namun terlihat lelah dan liar. Itu bukan wajah Baskara sang CEO. Itu adalah wajah orang asing. Wajah seorang kriminal jalanan.

"Nih, baju lu sama dompet lu. Kosong, nggak ada duitnya. Buruan keluar, orang tua lu udah nungguin di depan dari subuh," ketus petugas sambil menyodorkan sebuah bungkusan kain.

Baskara menerima bungkusan itu dengan tangan bergetar.

*Orang tua? Ini tubuh siapa sebenarnya, kenapa aku tiba tiba ada di tubuh ini?!.* Pikiran itu berputar-putar di kepalanya bagaikan gasing.

Saat dia melangkah keluar dari pintu gerbang besi besar penjara yang catnya sudah mengelupas, cahaya matahari langsung menyengat matanya.

Baskara harus menyipitkan mata selama beberapa saat. Ketika pandangannya mulai jelas, dia melihat dua orang tua sedang berdiri di bawah pohon pelindung di seberang jalan.

Seorang wanita tua dengan kebaya loak yang warnanya sudah pudar dan kain jarik yang disampirkan di bahunya, serta seorang pria tua bertopi pet kusam dengan celana kain yang cingkrang dan sandal jepit yang tipisnya sudah seperti kerupuk.

Begitu melihat Baskara keluar, wajah kedua orang tua itu langsung berubah. Ada gurat ketakutan yang sangat jelas di mata mereka, tubuh mereka agak menyusut, namun di saat yang sama, sang wanita tua tampak menahan tangis haru.

"E... Eko..." panggil wanita tua itu dengan suara bergetar, ragu-ragu untuk mendekat.

Tiba-tiba, tanpa bisa di cegah, sebuah hantaman informasi mendadak melintas begitu saja di dalam kepala Baskara.

Rasa sakit yang tajam seperti ditusuk jarum membuat dia memegangi kepalanya selama beberapa detik. Informasi-informasi itu mengalir masuk bagai air bah, memaksa otaknya untuk menerima memori yang bukan miliknya.

*Wanita tua itu... Mak. Namanya Mak Sumi.*

*Pria tua di sebelahnya... Pak. Namanya Pak Karso.*

*Di rumah masih ada Amir, kakak kandung yang kerjanya jadi kuli panggul pasar, beserta istrinya yang bernama Ina. Dan ada Andi, adik bungsu nomor tiga yang masih sekolah di SMEA.*

*Tahun... tahun ini bukan 2026. Ini tahun 1980.*

*Tahun 1980?! Gua terlempar hampir setengah abad ke belakang, masuk ke tubuh penuh lemak bernama Eko, ini!?* ulang Baskara dengan suara pelan dan tergagap.

Lanjut membaca
Lanjut membaca