

"Muka kayak kamu itu cuma pantas jadi keset! Kalau barang ini lecet, ginjalmu pun gak cukup buat ganti!"
Suara melengking Pak Subroto bergema di seisi galeri seni yang ber-AC dingin. Tangannya yang dipenuhi cincin batu akik menunjuk tepat di depan hidung Dimas. Di lantai marmer, sebuah kotak kayu jati tergeletak miring. Kosong.
Dimas langsung berlutut, memungut kotak itu dengan tangan gemetar. Jaket ojolnya yang sudah pudar warnanya terasa makin gerah. "Maaf, Pak. Tadi talinya longgar di motor, saya gak sengaja—"
"Gak sengaja dengkulmu!" Seorang perempuan muda dengan riasan tebal dan kacamata hitam yang bertengger di kepala mendengus kencang. Itu Amanda, selebgram yang memesan barang antik tersebut.
Dia melipat tangan di dada, menatap Dimas dari atas ke bawah dengan pandangan jijik. "Eh Mas, tahu gak sih? Itu kotak properti buat syuting konten saya nanti sore! Kalau lecet begini, estetika feed saya rusak. Lagian, galeri elit kok pakai kurir gembel begini sih, Pak Broto?"
"Maaf, Jeng Amanda. Ini memang kurir lepasan, potong gaji saja nanti," ucap Subroto, mendadak ramah dan membungkuk hormat pada Amanda, sebelum kembali menatap Dimas dengan mata melotot. "Sana pergi! Bikin kotor pemandangan saja. Masih ada satu barang lagi di gudang lama daerah Kota Tua. Antar sekarang, jangan sampai telat atau ratingmu saya bikin hancur!"
Sebelum berbalik, Amanda sengaja menggeser tas mewahnya hingga menyenggol sisa air mineral di meja, tumpah tepat mengenai ujung sepatu usang Dimas. "Aduh, sori. Refleks," ucapnya tanpa dosa, disusul tawa renyah yang menghina.
Pak Subroto hanya mendengus, lalu melempar selembar uang sepuluh ribu lecek ke lantai. "Ini buat beli es, biar otakmu agak adem dan gak teledor lagi. Buruan jalan!"
Dimas menatap lembaran uang di dekat sepatunya yang basah. Jari-jarinya mengepal kuat di dalam saku jaket hingga kukunya memutih. Dia tidak sudi memungutnya. Ditahannya napas dalam-dalam agar air mata sialan tidak jatuh di depan dua manusia ini.
Dimas tidak menjawab. Dia hanya bisa menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokan. Jantungnya tidak berdegup kencang karena takut, melainkan karena menahan amarah yang menyumbat dadanya hingga sesak. Dia berdiri, mengangguk sekilas tanpa berani menatap mata kedua orang itu, lalu melangkah keluar.
Sabar, Dim. Ibu di kampung butuh uang obat. Kontrakan sudah menunggak dua bulan, bisik Dimas dalam hati, mencoba menenangkan gemuruh di kepalanya.
Malam jatuh terlalu cepat, membawa rintik hujan yang membuat aspal jalanan Jakarta berkilau kusam di bawah lampu merkuri. Dimas memarkir motor bebeknya di depan sebuah bangunan kolonial yang tampak meranggas di sudut Kota Tua. Cat putihnya sudah mengelupas, digantikan lumut hitam yang lembap.
Bau tanah basah dan aroma apek langsung menyengat hidung Dimas begitu dia mendorong pintu kayu gudang yang beritit kencang. Di dalam, suasananya remang-remang. Hanya ada satu bohlam kuning yang bergelantungan di langit-langit tinggi, bergoyang pelan ditiup angin malam yang masuk dari celah ventilasi.
"Permisi ... Pak? Saya kurir yang mau ambil barang," panggil Dimas. Suaranya tenggelam dalam kesunyian gudang. Tidak ada jawaban.
Dimas melangkah lebih dalam, melewati deretan peti kayu dan patung-patung batu yang diselimuti kain putih. Bulu kuduknya meremang. Suasana di sini terasa berat, seolah udara di sekitarnya mendadak menjadi tebal dan sulit dihirup.
Di ujung ruangan, di atas sebuah meja kerja kayu yang sudah lapuk, sebuah kotak beludru hitam yang setengah terbuka menarik perhatiannya. Dimas mendekat.
Di dalam kotak itu, terbaring sebilah keris tanpa sarung. Bilahnya berlekuk, permukaannya hitam legam dan dipenuhi karat kasar yang menyerupai kerak darah kering.
Ini barang yang dimaksud Pak Subroto? Kok kayak rongsokan? batin Dimas heran.
Niatnya hanya ingin memastikan apakah itu barang yang harus dia bawa. Dimas mengulurkan tangan kanan. Namun, baru saja ujung jari telunjuknya menyentuh hulu keris yang berbentuk ukiran kayu kuno itu—
ZRAAAKKK!
Rasa sakit yang luar biasa hebat langsung menghantam tubuh Dimas. Itu bukan sekadar sengatan listrik biasa. Rasanya seperti ada ribuan jarum berapi yang ditembakkan masuk lewat pori-pori jarinya, menjalar cepat menyusuri lengan, hingga menghantam dadanya.
Dimas menjerit, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Tubuhnya kaku, kejang di tempat. Matanya melotot lebar, dan tiba-tiba, pandangannya berubah menjadi merah pekat. Rasa panas yang teramat sangat membakar kedua kelopak matanya, seolah-olah ada cairan besi mendidih yang dituangkan langsung ke dalam rongga matanya.
"AAAGHHH!"
Dimas ambruk ke lantai semen yang dingin. Dia mencengkeram wajahnya, bergulingan menahan siksaan yang tak tertahankan. Cairan hangat dan kental mulai mengalir dari sudut matanya, membasahi sela-sela jari. Darah.
Dunia di sekitarnya berputar hebat, lalu semuanya perlahan menjadi gelap gulita saat kesadarannya putus sepenuhnya.
Dimas tersentak bangun. Napasnya memburu, memutus keheningan gudang tua itu. Dia terengah-engah, memegangi dadanya yang naik-turun dengan cepat. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Dia mengerjapkan mata beberapa kali. Rasa perih di matanya sudah hilang, menyisakan sensasi hangat yang aneh. Dimas menyentuh pipinya. Ada bekas cairan kering di sana. Ketika dia melihat telapak tangannya di bawah remang bohlam, bercak merah kecokelatan itu jelas adalah darah yang sudah mengering.
Gua ... gua gak buta? Dimas membatin panik. Dia segera berdiri, memeriksa tubuhnya yang entah kenapa terasa jauh lebih ringan dan bertenaga daripada biasanya.
Namun, saat Dimas mengedarkan pandangan ke sekeliling gudang, jantungnya serasa berhenti berdetak.
Dunia di matanya tidak lagi sama.
Warna-warni ruangan itu memudar, menyisakan siluet abu-abu, tetapi segalanya menjadi jauh lebih tajam. Dimas menatap dinding bata di depannya. Detik berikutnya, dia terkesiap dan melangkah mundur hingga menabrak meja.
Dinding itu seolah berubah menjadi transparan seperti kaca yang buram. Dimas bisa melihat dengan sangat jelas apa yang ada di balik tembok tebal berumur ratusan tahun itu. Tumpukan ban bekas di gang sempit samping gudang, dan seekor tikus got yang sedang berlari cepat.
Bukan cuma itu. Pandangan Dimas beralih ke kabel-kabel tua yang menjalar di langit-langit gudang. Di dalam kabel yang terbungkus karet hitam itu, Dimas bisa melihat aliran berpendar terang berwarna biru elektrik yang bergerak lincah.
Itu aliran listrik. Dia bahkan bisa mendengar suara dengung halus dari arus tersebut, seolah suara itu berbisik langsung di telinganya.
Dimas memandangi kedua tangannya sendiri. Di balik kulitnya yang sawo matang, ada pendaran urat-urat halus keemasan yang mengalir dari telapak tangan menuju ke lengan, berdenyut seirama dengan detak jantungnya.
Dimas memegang kepalanya yang mendadak pening karena informasi visual yang bertubi-tubi ini. Dia menatap keris karatan di atas meja, yang kini memancarkan aura merah pekat yang pekat dan mengintimidasi.
"Gua ... gua kenapa?" bisik Dimas lirih pada kegelapan, menyadari bahwa hidupnya yang miskin dan tertindas, baru saja berubah menjadi sesuatu yang sangat mengerikan.