

Jakarta.
Dari kejauhan, nama itu terdengar seperti janji harapan.
Orang-orang desa selalu bercerita bahwa di kota besar itu siapa saja bisa mengubah nasib, asalkan mau bekerja keras. Namun ketika bus yang ia tumpangi berhenti di terminal yang bising itu, Samprawira menyadari satu hal : kenyataan jauh lebih berat daripada bayangannya. Udara di sini terasa tebal, bercampur bau asap kendaraan, debu, dan keringat ribuan orang yang berdesakan mencari nafkah. Suara klakson, teriakan pedagang, dan deru mesin menjadi musik pengiring kehidupan yang tak pernah berhenti.
Sam berdiri mematung sejenak di pinggir jalan, memeluk erat koper kayu tua peninggalan ayahnya.
Di dalamnya hanya ada pakaian sederhana, beberapa perlengkapan pribadi, dan selembar uang hasil menjual rumah satu-satunya yang ia miliki di desa. Rumah itu peninggalan ibunya—wanita yang telah berpulang ke rahmat Tuhan tepat saat melahirkannya. Ayahnya? Pria itu tak lama kemudian menikah lagi, lalu pergi entah ke mana, meninggalkan Sam sendirian tanpa pesan perpisahan, tanpa kabar hingga kini. Tak ada lagi yang tersisa di desa itu baginya. Jadi ia memutuskan pergi, menumpang bus berjam-jam hingga sampai ke ibu kota, berharap di sini nasibnya akan berubah.
"Harus kuat, Sam. Ini baru permulaan," gumamnya pelan, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah menyusuri jalan setapak yang semakin sempit menuju alamat yang ditujukan kepadanya oleh kenalan sesama orang desa.
Jalanan itu berkelok-kelok di antara deretan rumah yang saling berhimpitan seolah tak memberi ruang untuk bernapas. Tembok-temboknya kusam, catnya mengelupas dimakan hujan dan panas matahari. Orang-orang berlalu-lalang dengan wajah lelah, tak ada yang menoleh, tak ada yang peduli siapa anak baru yang berdiri terpaku di sana. Sampailah ia di depan sebuah pintu kayu berwarna cokelat tua yang sudah pudar. Ia mengetuknya pelan.
"Permisi... Bu Ratna?" panggilnya lembut.
Pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya dengan wajah ramah muncul di baliknya, mengenakan daster bermotif bunga yang sudah agak usang, tangannya basah seolah baru saja mencuci piring. "Ya? Siapa ya?"
"Saya Sam, Bu. Dari desa. Katanya Ibu menyewakan kamar kosong?" jawab Sam dengan sopan, sedikit menunduk.
Bu Ratna tersenyum lebar. "Oh, Sam! Iya, iya. Tadi Pak Joko sudah bilang kalau kamu akan datang. Masuk dulu, Nak, jangan berdiri di luar."
Sam melangkah masuk dengan hati-hati. Ruang tamunya sempit, hanya berisi kursi plastik dan meja kayu yang sudah goyang. Aroma rempah dan masakan rumah tercium dari arah dapur, membuat perutnya yang kosong terasa semakin lapar.
"Kamar yang tersedia itu kecil ya, Nak. Hanya cukup untuk kasur dan meja kecil. Tapi bersih," kata Bu Ratna sambil membukakan pintu kamar di bagian belakang rumah itu.
Sam melongok ke dalam. Ukurannya memang nyaris tak cukup untuk berputar. Sebuah kasur tipis terpasang di lantai, sebuah meja kayu kecil berdiri di sudut, dan jendela kecil yang menghadap langsung ke tembok rumah tetangga. Namun bagi Sam, ini sudah seperti surga. Setidaknya ia punya atap untuk berlindung.
"Berapa sewanya, Bu?" tanyanya sambil meletakkan koper kayunya di lantai.
"Seratus lima puluh ribu sebulan, Nak. Uang listrik sama air kita patungan sama penghuni lain di sini. Bagaimana?"
Sam mengangguk mantap, meski hatinya terasa perih. "Siap, Bu. Saya bayar untuk tiga bulan dulu ya."
Ia mengeluarkan dompet kain tua, menghitung lembaran uang yang tersisa di sana. Semua itu adalah hasil penjualan rumah tempat ia dilahirkan dan tumbuh besar. Sekarang, sebagian darinya harus ia tukar hanya dengan sepetak kamar kecil di Jakarta. Namun ia tak boleh menyesal. Ini pilihannya.
"Terima kasih, Bu," ucapnya sambil menyodorkan uang itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
Bu Ratna menerima uang itu, lalu menatap Sam dengan tatapan iba. "Kamu ini masih muda, sendirian di kota besar. Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan panggil Ibu ya. Di sini kita hidup seperti keluarga."
"Makasih banyak, Bu Ratna," jawab Sam tulus, tersenyum tipis. Setidaknya, di tempat asing ini, ada satu orang yang menyapanya dengan kebaikan.
Tiga hari berlalu sejak kakinya menginjakkan kaki di Jakarta. Sam tak mau diam. Uang sisa itu harus berkembang, bukan habis begitu saja untuk makan dan sewa kamar. Pagi-pagi sekali, sebelum fajar menyingsing, ia sudah bangun. Air dingin menyiram wajahnya, membangkitkan semangat yang sempat goyah karena keraguan.
Ia berjalan kaki menuju pasar induk yang letaknya lumayan jauh dari tempat ia mengontrak. Jalanan masih sepi, hanya ada truk-truk pengangkut sayur dan buah yang berlalu-lalang. Sesampainya di sana, hiruk-pikuk tawar-menawar sudah terdengar dari kejauhan. Bau tanah basah, buah segar, dan bau asap bercampur menjadi satu. Suara teriakan penjual dan pembeli saling bersahutan, menciptakan suasana yang kacau namun penuh kehidupan.
Sam berkeliling dari lapak ke lapak, membandingkan harga, memilih buah yang paling segar dengan harga yang paling terjangkau. Ia tak boleh salah pilih. Kalau buahnya cepat busuk, modalnya habis begitu saja, dan ia tak punya cadangan uang untuk memulainya lagi.
"Bu, mangga ini berapa sekilonya?" tanyanya pada seorang penjual wanita yang sibuk menata buah di atas meja kayu.
"Tiga puluh ribu, Nak. Ini mangga harum manis, manis banget nih! Baru datang tadi pagi!" jawab wanita itu sambil tersenyum ramah.
Sam menggeleng pelan, berusaha tetap sopan namun tegas. "Mahal sekali, Bu. Bisa kurang tidak? Saya mau beli banyak untuk dagangan, jadi saya cari yang grosiran ya."
Penjual itu menatapnya sekilas, seolah menimbang apakah pemuda ini benar-benar bisa membeli dalam jumlah banyak. "Kalau ambil di atas lima kilo, dua puluh delapan ribu deh. Itu sudah sangat murah lho, Nak."
Sam berpikir sejenak, matanya menatap tumpukan mangga kuning keemasan itu. "Dua puluh lima ribu saja ya, Bu? Saya ini baru mulai dagang, modalnya belum banyak. Nanti kalau sudah laku dan pelanggan saya banyak, saya pasti balik ke sini lagi, janji."
Setelah beberapa saat tawar-menawar yang hangat, akhirnya mereka sepakat di harga dua puluh enam ribu rupiah per kilo. Sam membeli lima kilo mangga, lalu berkeliling lagi untuk membeli pisang, pepaya, dan jeruk. Keranjang anyaman yang ia beli seharga lima belas ribu rupiah itu kini terisi penuh, terasa berat saat diangkat ke pundaknya.
Dengan keranjang yang tergantung di kedua ujung bambu, ia memikulnya di bahu. Berat sekali, menekan bahunya yang kurus, namun ia tak berani mengeluh. Ini awal perjuangannya. Kalau ia tak kuat memikul keranjang ini, bagaimana ia bisa memikul beban hidup yang jauh lebih berat?
Pertama kali ia berkeliling di sekitar pemukiman tempat ia mengontrak. Suaranya yang lantang namun lembut terdengar memanggil dari gang ke gang, menyusuri jalan setapak yang sempit hingga nyaris tak bisa dilewati dua orang sekaligus.
"Bu... Pak... Buah segar! Mangga, pisang, pepaya, jeruk... baru datang dari pasar pagi, masih segar sekali!"
Orang-orang mulai keluar dari rumah mereka, menyambutnya dengan senyum dan sapaan akrab. Bu Ratna bahkan menjadi pembeli pertamanya, keluar dengan celemek yang masih terikat di pinggang.
"Nah, ini Nak Sam sudah mulai dagang ya," sapa Bu Ratna sambil memilih mangga dengan teliti. "Timbangkan dua kilo ya, Bu Ratna buat makan siang sama tetangga sebelah."
"Iya, Bu. Ini mangganya manis sekali, Bu. Saya pilihkan yang paling bagus, yang sudah matang pas untuk dimakan hari ini," jawab Sam dengan semangat, tangannya bergerak cekatan menimbang dan membungkus buah itu.
Seorang tetangga lain, Bu Ani, juga menghampirinya sambil mengipasi diri dengan kipas kertas. "Wah, dagangannya terlihat segar sekali ya, Sam. Baunya saja sudah harum. Saya ambilkan satu kilo pisang sama setengah kilo jeruk ya."
"Makasih banyak, Bu Ani! Semoga keluarganya suka," ucap Sam, tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Hati terasa hangat melihat sambutan baik dari tetangga sekitar. Setiap kali ia selesai melayani satu pembeli, ucapan "terima kasih" dan "semoga laku terus" selalu terdengar menyertainya.
Hampir semua orang di lingkungan itu mengenalnya dengan baik dalam waktu singkat. Mereka tahu Sam pemuda yang sopan, rajin, dan selalu menolong siapa pun yang membutuhkan. Kalau ada tetangga yang kesulitan mengangkat galon air, membawa belanjaan berat, atau bahkan memperbaiki pagar yang miring, Sam pasti sigap membantu tanpa diminta, tanpa pamrih. Sering kali, ada yang sengaja membeli buah lebih banyak hanya untuk membantunya agar dagangannya cepat habis dan ia bisa pulang lebih awal untuk beristirahat.
"Kamu ini anak baik, Sam," kata Pak Surya, tetangga yang sudah berusia lanjut dan berjalan bertongkat, saat membeli beberapa buah pepaya untuk istrinya yang sakit. "Di kota besar seperti ini, orang sibuk memikirkan dirinya sendiri. Tapi kamu... tetap baik hati. Pasti rezekimu akan selalu dilancarkan Tuhan, Nak."
"Terima kasih, Pak. Semoga saja," jawab Sam dengan mata bersinar, kata-kata itu seperti air segar bagi hatinya yang mulai haus akan penghargaan.