

"Aku tidak main-main, Mas. Aku ingin serius denganmu."
Kalimat itu keluar dari bibir Rania begitu saja, ada nada penekanan yang menegaskan keinginan.
Ringgo menatap perempuan yang masih terbaring hampir tanpa busana di kasur hotel itu, dengan sprei putih yang kusut di antara tubuh mereka.
Tatapannya mencari-cari tanda kebohongan di wajah Rania, namun ia hanya menemukan sorot ketulusan yang membuat dadanya bergemuruh.
"Serius?" tanyanya pelan, nyaris seperti bisikan.
Rania mengangguk. Jemarinya menyusuri dada bidang Ringgo, menyentuh bekas-bekas kuku yang ia tinggalkan semalaman. "Aku tidak tahu apa yang kau lakukan padaku, Mas. Tapi aku tidak bisa berhenti memikirkanmu."
Ringgo menghela napas panjang. Ia memalingkan wajah ke jendela besar yang memperlihatkan siluet kota Jakarta di kejauhan.
Menara-menara kaca berkilauan tertimpa cahaya matahari pagi. Di lantai empat puluh dua hotel bintang lima ini, ia merasa seperti raja yang baru saja menaklukkan kerajaan pertamanya.
Padahal enam bulan lalu, ia hanyalah duda biasa dengan gaji pas-pasan dan hati yang remuk.
"Aku harus ke kamar mandi dulu," katanya, menghindar.
Rania menarik lengannya sebelum Ringgo sempat bangkit. "Jangan pergi dulu."
Perempuan itu bangkit dan mendudukkan diri di pangkuan Ringgo. Rambutnya yang hitam tergerai menutupi sepasang bukit kembarnya.
Ia menatap Ringgo dengan intensitas yang nyaris tidak wajar, seolah-olah pria di hadapannya adalah oksigen yang ia butuhkan untuk bernapas.
"Mas," bisik Rania, "aku bahkan tidak peduli kalau kau hanya mempermainkanku."
Ringgo menelan ludah. Ada sesuatu yang berdenyut di dalam dadanya setiap kali mendengar pengakuan seperti ini.
Bukan cinta. Bukan juga rasa bersalah. Melainkan kepuasan yang gelap, yang semakin hari semakin ia candui.
Ia menarik pinggang Rania dan menciumnya dalam-dalam. Lidah mereka bertemu dalam tarian yang sudah sangat familiar. Rania mengerang pelan, jemarinya mencengkeram bahu Ringgo.
"Kau ingin membuktikan keseriusanmu?" tanya Ringgo di sela ciuman.
Rania mengangguk lemah.
"Tunjukkan padaku."
Dan pagi itu, untuk keempat kalinya dalam dua puluh empat jam terakhir, mereka bercinta lagi.
---
Empat jam kemudian, Ringgo melangkah keluar dari lobi hotel dengan setelan jas abu-abu yang membalut tubuhnya dengan sempurna.
Rania berjalan di sisinya, mengenakan gaun hitam sederhana yang ia beli tadi pagi dari butik hotel. Tangan mereka saling bertaut, dan setiap mata yang melihat pasangan ini pasti mengira mereka pengantin baru.
"Kau yakin tidak mau kuantar?" tawar Rania saat valet membawakan mobil sport merah miliknya.
Ringgo menggeleng. "Aku ada urusan. Nanti malam kuhubungi lagi."
"Jangan lama-lama," rengek Rania. Ia mengecup pipi Ringgo sekilas, lalu masuk ke dalam mobilnya.
Ringgo memperhatikan mobil itu melaju menjauh sebelum akhirnya berjalan ke arah halte bus yang terletak di ujung jalan.
Perjalanan ke kantor memakan waktu empat puluh lima menit dengan TransJakarta. Ringgo sengaja tidak meminta Rania mengantarnya.
Ia ingin menjaga ilusi bahwa ia adalah pria mapan yang memiliki segalanya, termasuk mobil mewah.
Faktanya, ia masih belum terbiasa dengan semua kemewahan yang tiba-tiba menghampirinya. Apartemennya masih yang lama.
Mobil belum ia beli. Ia masih berhati-hati, mengumpulkan modal sedikit demi sedikit dari para wanita yang berhasil ia taklukkan.
Rania adalah yang pertama. Manajer keuangan di perusahaan properti ternama.
Dua minggu pendekatan, tiga hari penaklukan, dan hasilnya: lima puluh juta rupiah dalam bentuk investasi bodong yang ia buat atas nama PT Arjuna Nusantara, perusahaan fiktif yang baru ia daftarkan minggu lalu.
Tapi Rania bukan sekadar sumber uang. Ia adalah pembuktian pertama bahwa 'Ajian Asmarandana' benar-benar bekerja.
Ringgo masih ingat malam pertama ia menemukan lembaran lusuh itu. Malam di mana ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
***
Enam bulan sebelumnya.
Gerimis turun di pemakaman umum Tanah Kusir ketika Ringgo berdiri di depan pusara istrinya, Rani. Tepat tiga tahun sejak perempuan itu meninggal karena kanker serviks yang terlambat ditangani.
Ringgo menatap batu nisan itu dengan mata kering, "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Ran," bisiknya. "Aku sudah mencoba."
Ia sudah mencoba move on. Sudah mencoba membuka hati pada Rini, janda beranak satu yang dikenalkannya di grup parenting WhatsApp.
Selama setahun, ia mengira Rini adalah jawaban dari doa-doanya. Perempuan itu hangat, penyayang, dan selalu tahu cara membuatnya tertawa.
Sampai seminggu yang lalu, ketika ia datang ke rumah Rini tanpa pemberitahuan dan menemukan sebuah Alphard putih terparkir di garasi.
Pemilik Alphard itu adalah seorang kontraktor tambang bernama Haris. Usianya lima puluh dua tahun, dua puluh dua tahun lebih tua dari Rini. Tapi ia punya sesuatu yang Ringgo tidak punya, uang.
"Aku realistis, Mas," kata Rini malam itu, sambil memasukkan semua barang Ringgo ke dalam kardus. "Aku butuh kepastian. Bukan cuma cinta. Anakku butuh biaya sekolah. Aku butuh rumah yang layak. Kau... kau bahkan masih ngontrak."
Ringgo tidak bisa membantah. Gajinya sebagai desainer grafis lepas tidak cukup untuk membeli rumah, apalagi Alphard.
Ia pulang ke apartemen kontrakannya yang sempit dan duduk dalam gelap selama berjam-jam, menatap pisau dapur yang tergeletak di wastafel.
Ia ingin mati. Tapi mendiang istrinya tidak akan mengizinkan itu.
"Mas, kalau aku sudah tidak ada, jangan menyerah ya," begitu pesan Rani di hari-hari terakhirnya. "Cari jodoh lagi. Bahagia lagi. Tapi jangan lupa bahagiakan diri sendiri dulu."
Ringgo menghela napas panjang. Ia meletakkan pisau kembali ke wastafel dan mulai membersihkan apartemen.
Malam itu, ia membongkar lemari pakaiannya untuk menyingkirkan semua barang kenangan Rini, baju, foto, hadiah ulang tahun. Satu per satu ia masukkan ke dalam kantong plastik hitam.
Sampai tangannya menyentuh sebuah kotak kayu kecil di bagian paling belakang lemari.
Kotak itu adalah warisan dari kakeknya yang meninggal dua tahun lalu. Ibunya pernah berpesan agar kotak itu jangan dibuka sebelum waktunya tiba.
Tapi malam itu, Ringgo tidak peduli lagi pada pesan siapa pun. Ia membuka kotak itu dan menemukan setumpuk kertas lusuh bertuliskan aksara Jawa kuno.
Di bagian paling atas, tertulis judul dengan tinta merah yang sudah pudar:
"AJIAN ASMARANDANA."
***
Kembali ke masa kini.
Ringgo merogoh saku jasnya dan mengeluarkan lembaran kertas lusuh yang selalu ia bawa ke mana-mana.
Tulisan aksara Jawa itu sekarang tidak lagi asing baginya, ia sudah menghafal setiap kata, setiap mantra, setiap janji kekuatan yang ditawarkan.
"Tingkat satu: Pesona Wasesa," bisiknya membaca bagian bawah halaman itu. "Tingkat dua: Puspa Kencana..."
Jarinya menyentuh tulisan di bawahnya, yang tulisannya masih samar dan belum bisa ia baca sepenuhnya.
"Tingkat tiga: Cakra ... Nagara."
Ringgo melipat kertas itu kembali, meraih jasnya, dan berjalan keluar dari kantor.
Hujan sudah mulai turun di Jakarta, membasahi jalanan, tapi Ringgo tidak peduli.
Karena malam ini, ia akan membuka pintu menuju target keduanya.
***