

'Kenapa aku malah kembali ke masa lalu? Apa ada yang salah dengan gerbang teleportasi?'
Di atas ranjang di dalam kamar sempit, Bayu menatap tangannya sendiri. Jemarinya yang biasa mampu merobek ruang kini kembali menjadi tangan manusia biasa.
Memang, dahulu dia hanyalah pemuda biasa sampai sebuah organisasi misterius datang menemuinya. Mereka membawa paksa dirinya meninggalkan Bumi menuju dunia kultivasi karena memiliki Tubuh Suci.
Selama dua ribu tahun, dia berkultivasi dan bertarung hingga mencapai ranah Dewa Semu. Namun ketika perang besar pecah, banyak yang berbalik arah. Para penguasa yang biasa menundukkan kepala justru bersekutu untuk membunuhnya.
Di ambang kematian, dia mengaktifkan Gerbang Teleportasi Kosmis untuk melarikan diri. Namun bukannya berpindah tempat, dia justru kembali ke masa mudanya.
Bayu mendesah.
'Mungkin ini yang terbaik. Aku jadi tahu siapa saja yang akan mengkhianatiku di masa depan. Yang penting malam ini aku harus berada di tempat itu.'
Bayu meregangkan otot dan memandang sekeliling.
Ini adalah kontrakan keluarganya di masa lalu. Kalender di dinding yang menunjukkan tanggal 1 Juni 2026 menjadi alasan kenapa dia yakin malam ini adalah titik awal segalanya.
Bayu berdiri. Dia baru keluar kamar ketika suara familiar terdengar.
"Uang sekolahnya Ibu bayar minggu depan, ya. Nggak usah dengerin omongan orang-orang itu. Ibu memang sering telat, tapi selalu berhasil bayar, kan?"
Langkah Bayu langsung terhenti. Dadanya seperti dihantam sesuatu.
Selama dua ribu tahun ini, dia pernah dikejar ribuan ahli, disiksa petir surgawi, bahkan dikhianati orang-orang yang bersumpah setia di bawah kakinya. Namun semua itu tak pernah benar-benar mengguncangnya.
Tapi suara itu...
Dia hampir lupa bagaimana suara wanita itu terdengar. Karena dalam ingatannya, tidak lama lagi pemilik suara itu meninggal akibat sakit dan kelelahan bekerja.
Bayu berjalan menuju dapur. Di sana ada seorang wanita paruh baya duduk sambil mengusap rambut gadis remaja.
Itu adalah ibu dan adiknya. Mereka masih hidup!
Melihat kakaknya datang, Rina yang sekarang berusia 16 tahun itu pergi sambil mengusap air matanya.
Bu Ratri memaksakan senyum pada Bayu. "Udah mau berangkat? Mau makan dulu?"
Namun Bayu seperti tidak mendengar. Dia terus menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.
Melihat putranya seperti hendak menangis, Bu Ratri mendekat dan menempelkan punggung tangannya ke dahinya.
"Kamu sakit?"
Bayu tersadar dan mengerjapkan mata dengan cepat. "Nggak, Bu. Aku... kangen aja."
Bu Ratri mengernyit, agak bingung.
"Kalau sakit, di rumah aja nggak usah masuk kerja dulu. Atau gimana kalau ikut proyeknya Om Bisma? Pasti diterima kalau Ibu yang ngomong."
"Nggak usah, Bu. Kan Ibu tahu kalau penghasilanku di klub lebih banyak dari tukang bangunan."
Bayu masih ingat bahwa dia dulu bekerja sebagai pelayan di Regal Club, sebuah klub malam tak jauh dari rumah. Gajinya biasa saja, tapi tip-nya lumayan besar.
Bu Ratri menggeleng khawatir. "Tapi Ibu nggak suka kamu kerja di tempat kayak gitu. Kamu kan masih muda, ganteng lagi. Cari kerja yang pagi sore apa nggak bisa?"
Bayu meraih kedua tangan ibunya dan menggenggamnya. Tindakan tiba-tiba ini membuat Bu Ratri terkejut, tapi tidak menolak.
"Pokoknya Ibu tenang aja. Biar aku yang atur semuanya."
Bu Ratri hendak membalas, tapi Bayu dengan cepat mencium tangan rentanya sebelum bergegas menuju pintu keluar.
"Lho, Bay? Nggak mandi dulu? Terus seragammu?"
"Tanggung, Bu. Mau telat. Seragamnya ada di loker."
Setelah Bayu pergi, Bu Ratri bergantian melihat pintu dan punggung tangannya. Putranya yang biasanya nakal itu baru saja sungkem?
'Ada apa dengan anak itu?'
Sementara Bu Ratri berpikir keras, Bayu berjalan cepat menuju tempat kerja. Alasan dia buru-buru adalah demi mengejar waktu.
Dalam ingatannya, petinggi organisasi Zodiak akan datang kepadanya tepat pukul sembilan malam, satu jam dari sekarang. Dan untuk mencegah takdir berubah, dia harus menjalani malam ini seperti di masa lalu.
Begitu tiba di klub, Bayu langsung ke ruang ganti. Dia buru-buru cuci muka, berganti seragam, dan menuju bar.
Di sana dia menyapa Pak Brama, manajer klub ini, dimana atasannya itu menatapnya dengan dingin.
"Kamu terlambat lagi. Ini sudah ketiga kalinya minggu ini. Kamu pikir tempat ini milik kakekmu?"
"Maaf, Bos."
"Simpan maafnya. Kamu beruntung belum saya pecat karena banyak pelanggan cari kamu. Sana, ke meja nomor satu lantai dua. Ada tamu penting khusus minta kamu."
Bayu mengangguk, sudah tahu apa yang menantinya di sana.
'Haah... sudah lama sejak aku mengalami adegan klasik dihina dan diputusin pacar. Benar-benar khas tokoh utama...'
Begitu tiba di lantai dua, Bayu langsung melihat (mantan) pacarnya, Maya, duduk manja di pelukan seorang putra taipan lokal bernama Farhan. Di belakang mereka berdiri dua pengawal.
Dulu pemandangan itu membuatnya hancur berantakan, tapi sekarang dia merasa semuanya tampak kekanak-kanakan.
'Oke. Saatnya akting...'
Bayu menepuk kedua pipinya sebelum mendekat ke meja nomor satu.
"Selamat malam. Saya Bayu, pelayan malam ini. Ada yang bisa saya siapkan?"
Farhan menatap Bayu dari atas ke bawah dengan sinis, lalu tersenyum saat menoleh ke Maya.
"Oh, jadi ini pacar miskin yang kamu ceritain itu? Ckck... kerja gaji kecil, tapi berani pacarin cewek secantik kamu. Kamu dapat apa sih dari cowok kayak gini, May? Gimana kalau kamu putusin dia sekarang juga?"
Maya memberi senyum manis ke Farhan, lalu menatap Bayu dengan pandangan dingin.
"Kamu dengar itu? Kita putus! Sebenarnya dari dulu aku cuma bertahan karena kasihan."
Maya lantas menempelkan dirinya ke Farhan. "Kenalin pacar baruku, Farhan dari keluarga Kusuma. Dia punya semua yang kamu nggak punya. Baik, kaya, punya koneksi, ..."
Maya terus berbicara. Panjang kali lebar. Bayu berdiri dengan ekspresi bosan, berharap ada tombol skip tutorial.
Adegan berikutnya datang. Farhan mengambil potongan kue di atas meja dan melemparkannya ke lantai. Krim dan remahannya langsung berserakan di bawah kakinya.
Farhan menunjuk kue itu.
"Eh, sampah. Dengerin. Jilat tuh kue. Kalau kamu nurut, aku bisa minta Om Brama naikin gajimu buat kompensasi. Tapi kalau nolak, aku bisa bikin kamu dipecat, plus kamu bakal susah cari kerja di kota ini."
Bibir Bayu tampak sedikit gemetar. Matanya juga mulai berkaca-kaca. Dia mati-matian menahan nguap sampai matanya berair karena bosan mendengar ocehan Maya.
Hanya saja di mata Farhan, itu terlihat seperti seseorang yang marah dan merasa terhina tapi tidak berdaya melawan. Dan itu cukup membuatnya puas. Lagipula dia sudah mendapatkan wanita cantik untuk dipermainkan beberapa hari.
"Wah, wah... segitunya sampai mau nangis? Cengeng. Pergi sana."
Bayu tersentak. Kantuknya hilang seketika.
'Hah?! Kenapa naskahnya beda?! Bukankah seharusnya kau menyuruh pengawalmu menghajarku karena aku tidak menjilat kue itu?!"
Bayu mengalami dilema dadakan.
Plot aslinya adalah dia dipermalukan, dihajar, lalu dibuang ke gang belakang klub. Baru kemudian, dalam keadaan marah dan babak belur itulah Tubuh Sucinya bereaksi untuk pertama kali hingga menarik perhatian seorang petinggi organisasi Zodiak yang kebetulan melintas.
Tapi sekarang?
Bayu mendadak menyadari masalah besarnya. Karena emosinya tidak bergejolak, Tubuh Sucinya tidak akan bereaksi meskipun dia dihajar habis-habisan. Lalu untuk apa dia menjalani adegan reka ulang ini?
Bayu mengepalkan tangan.
'Brengsek. Bagaimana ini?'