

Udara di Hutan Tirta Wening sore itu terasa lembab. Firman menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. Ia lalu kembali membungkuk di antara semak-semak yang lebat.
Matanya jeli menyisir permukaan tanah, mencari daun pegagan dan beberapa jenis tanaman herbal lainnya yang dipesan oleh Bibinya untuk stok obat di klinik tradisional milik Bibi.
"Harusnya di area sekitar danau ada banyak daun pegagan,” gumam Firman pada diri sendiri.
Ia pun melangkah lebih dalam, mengikuti suara gemercik air yang menandakan keberadaan danau kecil di tengah hutan yang menjadi bagian dari Desa Tirtasari itu.
Namun, baru beberapa langkah mendekat, telinganya menangkap suara yang terdengar lain. Itu jelas bukan suara air, tapi suara desahan halus yang sengaja ditahan, mungkin agar tak ada yang mendengarnya.
“Ahhh… mhh…”
Langkah Firman berhenti begitu saja. Rasa penasaran dalam benaknya bangkit.
Ia merunduk, sengaja mencari semak untuk bersembunyi. Ia pun menyibak dedaunan rimbun dengan sangat pelan, lalu mengintip ke arah tepian danau yang berbatu.
Jantung Firman serasa berhenti berdetak. Di atas sebuah batu datar di pinggir air, seorang wanita sedang telentang dengan posisi yang sangat menantang.
Itu Anggun, kembang desa yang terkenal sombong.
Pakaian atasnya sudah setengah terbuka, mengekspos kulit perut putih mulusnya yang berkilau terkena cahaya matahari.
Jari-jari lentiknya sedang bergerak liar di balik bawahannya. Gadis itu tengah memuaskan diri sendiri sembari memejamkan mata rapat-rapat.
Firman menelan ludah dengan susah payah. Pemandangan di depannya benar-benar menguji iman pria normal mana pun.
Secara refleks, tangan Firman turun ke bawah, menyentuh milikya sendiri yang ada di balik celana.
Seketika itu juga, gairahnya runtuh. Tatapannya berubah lesu.
Miliknya tetap tertidur pulas, layu, dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan meski sudah disuguhi pemandangan sepanas itu.
Firman pun hanya bisa menghembuskan napas berat yang penuh rasa putus asa.
Sudah bukan rahasia lagi bagi warga Desa Tirtasari. Firman memang dikenal sebagai pemuda impoten.
Bahkan, banyak yang menduga jika orang tuanya sengaja membuangnya ke desa terpencil itu dengan alasan untuk belajar pengobatan pada Bibinya, Kaliya, hanya karena mereka malu memiliki anak laki-laki yang impoten.
Bagi keluarganya, pria yang tidak bisa mengacungkan miliknya adalah pria tidak berguna yang tidak akan bisa meneruskan garis keturunan.
Kecewa dan muak dengan kondisinya sendiri, Firman memutuskan untuk pergi saja. Namun sial, saat ia menggeser kaki kanan, tumitnya tanpa sengaja menginjak sebuah ranting kering.
KRAK!
"Siapa di sana?!" Suara Anggun memekik tajam.
Aktivitas panas gadis itu langsung terhenti. Dengan cekatan, ia menarik pakaiannya untuk menutupi tubuh dan langsung berdiri dengan waspada.
Matanya yang tajam menghujam ke arah semak-semak tempat Firman bersembunyi.
"Keluar! Jangan jadi pengecut!"
Tahu jika dirinya tidak bisa kabur lagi, Firman akhirnya menegakkan tubuh dan keluar dari balik semak-semak dengan canggung.
"Ini aku, Anggun. Aku tidak bermaksud…"
"Firman?" Anggun mengernyit, sebelum akhirnya senyum meremehkan terukir di bibir tipisnya.
Gadis itu bersedekap, menatap Firman dari atas ke bawah dengan tatapan jijik.
"Oh, si pemuda impoten yang menyedihkan itu rupanya. Sedang apa kamu di sini? Mengintipku?"
Wajah Firman memanas menahan malu dan kesal. Ucapan Anggun tepat menusuk titik paling sensitif dalam hidupnya.
"Aku sedang mencari tanaman obat untuk Bibi Kaliya. Demi Tuhan, aku tidak tahu kalau kamu ada di situ. Aku baru saja sampai."
"Alasan!" Anggun mendengus sinis. "Laki-laki cacat seperti sepertimu ternyata punya hobi menjijikkan juga, ya? Mau nonton gratis?"
"Aku sudah bilang, aku tidak sengaja!" Firman mencoba menahan kesabarannya, meski suaranya tetap naik satu oktaf juga. "Aku minta maaf kalau aku sudah membuatmu tidak nyaman. Aku pergi sekarang."
"Enak saja! Setelah ketahuan kamu mau pergi begitu saja," potong Anggun cepat.
Ia berjalan mendekat dengan langkah angkuh.
"Kamu tahu kan siapa pamanku? Kepala Desa. Aku tinggal bilang kalau kamu mengintip dan mencoba memperkosaku di tengah hutan, dan warga desa akan menyeretmu keluar dari sini malam ini juga!"
Firman menegang. "Anggun, tolong jangan kekanak-kanakan seperti itu. Aku bahkan tidak menyentuhmu sama sekali. Kalau kamu lapor ke Kepala Desa, itu namanya fitnah."
"Siapa yang peduli? Warga desa pasti lebih percaya padaku daripada pemuda pendatang yang tak berguna sepertimu!"
Anggun membalikkan badan dengan kibasan rambutnya yang setengah basah lalu melangkah pergi meninggalkan area danau tanpa mempedulikan seruan Firman lagi.
"Sialan!"
Firman menendang udara dengan gusar. Amarahnya memuncak.
Ia mengambil beberapa batu kerikil di dekatnya dan melemparkannya ke permukaan danau dengan bertenaga hingga menimbulkan riak-riak air yang pecah.
"Kenapa nasibku harus seburuk ini?!" rutuknya dengan suara tertahan.
Kenyataan bahwa dia tidak bisa membela diri, dan juga kenyataan bahwa miliknya tetap mati kutu bahkan setelah melihat tubuh polos Anggun tadi, benar-benar membuat dadanya terasa sesak.
Masih belum puas meluapkan emosi, Firman mendekati sebuah batu hitam berukuran cukup besar di dekat kakinya. Dia mencengkeram sisi-sisi batu itu, lalu mengangkatnya dengan paksa untuk dilemparkan ke air.
Namun, begitu batu itu terangkat, sesuatu yang berwarna merah menyala di atas tanah basah mengalihkan perhatiannya.
Di balik batu itu, seekor kalajengking raksasa bersarang. Ukurannya sebesar telapak tangan orang dewasa dan seluruh tubuhnya yang berwarna merah darah itu memancarkan pendar cahaya yang redup.
Sebelum Firman sempat menjatuhkan kembali batu besar tadi, makhluk itu sudah bergerak secepat kilat.
JLEB!
Sengatan di punggung kaki kanannya terasa seperti tusukan besi panas yang membara.
"ARGHHH!!!"
Firman menjerit histeris. Rasa sakit luar biasa menjalar dengan cepat dari kakinya, naik ke dada, lalu langsung menyerang kepalanya.
Pandangannya mengabur lalu berputar hebat. Tubuhnya ambruk ke atas tanah, dan dalam hitungan detik, semuanya menjadi gelap gulita.
Saat kesadarannya kembali, hal pertama yang Firman rasakan adalah bau menyengat dari ramuan herbal dan minyak kayu putih.
Ia mengerjap-ngerjapkan mata. Tak butuh waktu lama untuknya mengenali langit-langit kayu dari kamar di klinik pengobatan tradisional milik bibinya.
"Kamu sudah sadar, Firman?"
Firman menoleh ke arah suara itu. Bibi Kaliya sedang berjalan menghampiri ranjang tempat ia terbaring sembari membawa secangkir teh hangat.
Kaki kanan Bibi Kaliya tampak terseret agak berat. Beberapa tahun lalu, Bibi Kaliya memang mengalami kecelakaan kerja yang membuat kaki kanannya lumpuh.
Kehadiran Firman sangatlah membantu keadaannya karena semenjak tinggal di sana, sebagian besar pekerjaan berat di rumah dan klinik memang Firman yang mengambil alih.
"Bi... kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Firman dengan suara serak. Kaki kanannya masih terasa tebal dan kebas.
"Untung nyawamu masih bisa diselamatkan," sahut Bibi Kaliya sembari meletakkan cangkir di atas meja dan memeriksa perban di kaki Firman. "Tadi Anggun yang membawamu ke sini."
Firman mengernyit heran. "Anggun?"
"Iya. Dia bilang dia mendengar teriakanmu yang kencang dari arah danau.
Saat dia mencoba mendatangimu, rupanya kamu sudah pingsan dengan kaki membiru seperti tersengat sesuatu.
Anggun susah payah menggendongmu sampai ke sini supaya Bibi bisa cepat mengobatimu. Kalau terlambat sedikit saja, kakimu mungkin bisa diamputasi."
Tepat saat Bibi Kaliya selesai berbicara, pintu kamar klinik terbuka. Anggun masuk dengan wajah ketus yang biasa ia perlihatkan.
Pakaiannya sudah berganti dengan daster rumahan tipis berwarna kuning gading.
Anggun memang cukup dekat dengan Bibi Kaliya, yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri. Ia bahkan sering datang ke klinik, meminta Bibi Kaliya mengajari caranya menjaga kecantikan dengan bahan alami.
"Sudah bangun tarzan mesum?" cibir Anggun dingin, melipat tangan di depan dada. "Anggap saja sengatan hewan tadi adalah hukum karma karena kamu sudah berani mengintipku di danau."
Firman membuka mulut, hendak melakukan pembelaan dan meluruskan salah paham yang tadi terjadi. Namun, kata-katanya mendadak tertahan di tenggorokan.
Matanya terbelalak lebar.
Ia baru menyadari jika saat kata-kata tajam itu terdengar di telinganya, bibir Anggun sama sekali tidak bergerak. Gadis itu hanya berdiri diam memandangnya dengan tatapan sinis.
Firman menoleh ke arah Bibinya, tapi Bibi Kaliya yang seharusnya marah besar setelah mendengar perkataan Anggun tadi juga tidak menunjukkan reaksi apapun, seolah suara itu memang tidak pernah keluar dari mulut Anggun.
”Tunggu dulu... apa barusan aku bisa mendengar suara hatinya Anggun?” batin Firman mulai panik.
Belum sempat dia mencerna kemampuan aneh tersebut, pandangan mata Firman mendadak seperti bermasalah. Ada sensasi hangat yang secara tiba-tiba menjalar ke kedua bola matanya.
Detik berikutnya, Firman nyaris melompat dari ranjang.
Bagaimana tidak? Pakaian yang dikenakan oleh Anggun dan Bibi Kaliya perlahan-lahan memudar, menjadi sangat transparan seperti terbuat dari lembaran plastik bening.
Firman bisa melihat dengan sangat jelas lekuk tubuh Bibi Kaliya yang matang di balik bajunya.
Dan yang lebih gila lagi, daster kuning gading yang dikenakan Anggun seolah lenyap, menampilkan lekuk tubuh kembang desa itu secara utuh, telanjang bulat di depan matanya, mulai dari dua bongkahan indahnya yang kencang hingga paha putih mulusnya yang tadi sempat dia intip di danau.
Firman mematung, napasnya memburu, memandang bergantian ke arah dua wanita di depannya dengan mata melotot.
Dan di saat yang bersamaan, sebuah keajaiban lain terjadi di bawah sana.
Sesuatu yang sudah bertahun-tahun mati dan tak bertenaga, tiba-tiba terasa berkedut hebat. Darah mengalir deras ke area itu, memicu rasa panas yang membakar.
Pusaka Firman yang tadinya tertidur pulas, mendadak terbangun. Ia bangkit berdiri dengan gagah, menegang sempurna hingga menonjol jelas di balik selimut klinik.