Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pono Dewa Pemelet

Pono Dewa Pemelet

Ibrahiman | Bersambung
Jumlah kata
48.9K
Popular
100
Subscribe
8
Novel / Pono Dewa Pemelet
Pono Dewa Pemelet

Pono Dewa Pemelet

Ibrahiman| Bersambung
Jumlah Kata
48.9K
Popular
100
Subscribe
8
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalDukunHarem
Petualangan nafsu seorang kakek yang jelek yang memiliki ilmu pelet buluh perindu dan pelet pilin cabe membuatnya bisa meniduri Leni istri Pak Lurah sekalian Miu anak gadis Pak Lurah.banyak janda dan anak gadis di desanya jadi korban.Tak cukup sampai disitu Pono juga membuat artis, keluarga pejabat sampai bule-bule jadi tunduk.
Bab 1 : Pono si Pemelet

Desa Sidomulyo baru saja dibasuh hujan sore hari, menyisakan bau tanah basah yang pekat dan kepulan kabut tipis di permukaan Sungai Brantas yang membelah desa. Di tepian sungai itu, berdiri seorang lelaki tua dengan punggung sedikit membungkuk namun memiliki sorot mata seajam sembilu. Kakek Pono.

​Tangannya yang keriput baru saja melepaskan sebungkus plastik hitam berisi sampah dapur ke aliran air yang cokelat. Tindakan sepele, namun bagi Pono, sungai adalah tempat segala sesuatu yang kotor layak dibuang.

​"Pono! Sudah berapa kali dibilang, jangan buang sampah ke sungai! Banjir nanti kalau mampet!"

​Suara bariton itu menggelegar. Pak Lurah Darma, dengan seragam dinasnya yang masih rapi, berdiri di atas jembatan beton tak jauh dari sana. Tatapan Pak Lurah penuh penghinaan, seolah Pono hanyalah noda di desa yang sedang ia rapikan itu.

Pono tidak menjawab. Ia hanya menunduk, namun jemarinya meraba kantong kain di pinggangnya. Di sana, tersimpan rahasia yang membuat namanya dibisikkan dengan ngeri sekaligus takjub: Buluh Perindu yang terbungkus minyak malaikat subuh, dan segenggam Cabai Rawit Merah yang telah dibacakan mantra penggetar sukma.

​"Maaf, Pak Lurah," gumam Pono pelan, suaranya parau.

​"Maaf saja tidak cukup! Besok ikut kerja bakti, bersihkan sungai ini! Jangan mentang-mentang sepuh bisa seenaknya!" Darma meludah ke samping, lalu pergi dengan langkah angkuh.

​Pono mendongak. Di matanya, kilatan dendam membara. Ia bukan sekadar orang tua biasa. Di Sidomulyo, ia adalah Dewa Pemelet. Jika Darma merasa bisa menghinanya di depan umum, maka ia akan menghina Darma di dalam kamar paling pribadinya.

​Ritual di Keheningan Malam

​Malam Jumat Kliwon itu, suasana rumah Pono yang terpencil di ujung desa terasa mencekam. Bau kemenyan merayap keluar dari ventilasi kayu yang lapuk. Di hadapan Pono, terdapat dua foto yang ia curi dari pajangan di kantor desa: Leni, istri Pak Lurah yang molek dan masih kencang di usia empat puluhan, serta Miu, anak gadisnya yang baru lulus kuliah dan menjadi primadona desa.

​"Darma... kamu punya wibawa karena jabatan. Tapi istrimu dan anakmu... mereka akan merangkak di bawah kakiku karena nafsu," bisik Pono.

​Ia mengeluarkan sebilah buluh perindu. Benda itu tampak bergerak-gerak sendiri saat terkena asap kemenyan, seolah-olah bernyawa. Pono mulai merapal mantra:

​"Ingsun amatake ajiku si Buluh Perindu, nali

sukmane Leni, nali raga Miu. Teko welas, teko asih, rontok imanmu dadi siji karo kersaku..."

​Sambil merapal, tangan kanannya mengambil sebuah cabai rawit. Ia memelintir cabai itu dengan ritme yang lambat namun pasti. Inilah Pelet Pelintir Cabe. Teknik yang menyerang titik syaraf paling sensitif dari kejauhan. Semakin kuat Pono memelintir cabai itu hingga mengeluarkan minyak pedas, semakin panas dan membara rasa rindu serta gairah yang dirasakan korbannya.

​Kejatuhan Benteng Sidomulyo

​Tiga hari kemudian, keajaiban hitam mulai bekerja.

​Leni, yang biasanya dingin dan anggun, tiba-tiba merasa gelisah setiap kali melewati depan gubuk Pono. Ada magnet yang menarik jiwanya. Sementara itu, Miu mulai bermimpi aneh tentang seorang pria yang membelainya, pria yang wajahnya tak jelas namun memiliki aroma kemenyan yang memabukkan.

Sore itu, saat Pak Lurah sedang rapat di kota

Leni dan Miu secara tak sadar berjalan beriringan menuju arah hutan jati, tepat di mana gubuk Pono berada. Mereka seperti kerbau yang dicocok hidungnya.

​"Ibu, kenapa kita ke sini?" tanya Miu dengan tatapan kosong.

"Ibu tidak tahu, Nduk... rasanya haus sekali, tapi bukan haus air," jawab Leni dengan napas yang mulai memburu.

​Pono sudah menunggu di ambang pintu. Ia tidak perlu lagi bersembunyi. Dengan sarung lusuhnya, ia tersenyum lebar. Saat kedua wanita itu melihat Pono, di mata mereka, Pono bukan lagi kakek tua bangka, melainkan sosok pria paling jantan yang pernah mereka temui.

"Mas pono aku dan anakku Miu tak tau kenapa harus kesini,aku hanya ingin ketemu kamu mas,terbayang terus."

Ndak papa nduk,aku juga pengen ketemu kalian,kalian pada cantik-cantik sih,ayo masuk!"ujar Pono sambil menari keduanya kedalam rumah.Leni dan Miu yang sudah kena pelet nurut aja,bahkan ketika Pono menciumi mereka,desahan Leni dN Miu mulai terdengar.

"Ah mas Pono ciumanmu kuat banget aku jadi enak,"bisik Leni penuh birahi.

"Emuachhh,"disedotnya mulut Leni dg sadis dan tangannya tiba-tiba meremas dada Miu membuat Miu kaget manja.

"Ah mas Pono, tangannya nakal"desah Miu manja.Tak mau kalah Miu meraba selangkangan Pono dengan birahi,"ih burung mas pono udah tegang ya,gede LG ah,"goda Miu.

Pono segera berpindah mencium Miu dan tangannya berpindah meremas pepaya Leni.

" Ah Miu emuach,"disedotnya bibir Miu dg kencang,

"ah kamu cantik banget nduk,aku jadi tak kuat,buka bajumu ya tak tahan ni."

Leni segera menyahut.

"Aku dulu Pono aku dah birahi banget sayang,buruan masukin burungmu."teriak Leni sambil tangannya melorotin kolor Pono.

"Oke sayangku aku juga tegang banget nih,buka bajumu,ah."secepat kilat Pono memasukkan pusakanya yang gede dan gagah.

"Ah, pelan-pelan pono,ah punyamu gede banget."

Tapi pono tak peduli,terus di gasnya Leni sampai ke puncak sambil ciuman dengan Miu.Setelah Leni puas Pono merangsek Miu yang masih perawan.

" Pelan-pelan mas Pono aku masih perawan"

desahnya cemas,tapi Pono main gas aja.

"Ah sakit mas Pono ah ah enak tapi, pelan aja sayang."

​Malam itu, gubuk reyot itu menjadi saksi bisu hancurnya kehormatan keluarga Pak Lurah. Pono mencumbu Leni untuk kedua kalinya dengan rakus, sementara Miu menunggu gilirannya yang kedua dengan tatapan memuja. Rasa dendam Pono terbayar lunas setiap kali ia mendengar rintihan mereka menyebut namanya, bukan nama Lurah.

​Keserakahan yang Tak Terbendung

​Keberhasilan menaklukkan "Benteng Sidomulyo" ternyata menjadi bumerang bagi jiwa Pono. Ia yang awalnya hanya ingin membalas dendam, kini merasa seperti dewa sungguhan. Sensasi menguasai raga wanita-wanita paling terhormat di desa membuatnya ketagihan.

​"Kalau istri Lurah saja bisa bertekuk lutut, apalagi yang lain?" pikirnya licik.

​Minggu-minggu berikutnya, Desa Sidomulyo berubah menjadi "ladang perburuan" bagi Pono. Dengan ilmu pelintir cabenya, ia menyasar janda-janda kaya yang sombong hingga anak-anak gadis kembang desa.

​Satu per satu, wanita di Sidomulyo mulai sering terlihat berkunjung ke rumah Pono dengan alasan "minta obat" atau "konsultasi".

Desa Sidomulyo selalu tampak tenang di permukaan, namun di balik rimbunnya pohon bambu dan aroma tanah basah setelah hujan, tersimpan rahasia yang berdenyut dalam kegelapan. Kakek Pono, lelaki ringkih dengan punggung sedikit membungkuk itu, bukanlah sekadar tetua desa biasa. Di balik sorot matanya yang keruh, tersimpan gairah purba yang meluap-luap.

​Di dalam kamar pengapnya yang berbau kemenyan dan minyak srimpi, Pono mengelus pelan seuntai bulu perindu yang diletakkan di atas kain mori. Benda itu menggeliat pelan seolah bernyawa saat terkena uap keringat dari telapak tangannya. Tidak jauh dari sana, tumpukan cabai rawit merah hasil petikan tengah malam tadi berserakan, siap menjadi media ilmu pelintir cabe yang melegenda.

​Surga di Balik Mantra

​Bagi Pono, moralitas adalah konsep usang. Selama setahun terakhir, ia merasa telah menggenggam kunci surga dunia. Satu-satu wanita di Sidomulyo—dari janda muda hingga istri orang yang kesepian—jatuh ke dalam dekapannya tanpa perlawanan. Cukup dengan memelintir cabai sambil merapalkan nama target hingga tangkai cabai itu patah, maka si wanita akan merasakan panas membara di sekujur tubuh yang hanya bisa dipadamkan oleh sentuhan Pono.

​Pono tertawa parau, mengingat bagaimana malam-malamnya diisi dengan rintihan manja yang memuja namanya. Baginya, itu adalah validasi atas kekuasaannya. Ia merasa seperti raja kecil di desa terpencil ini. Namun, ada satu duri yang mengganjal di hatinya yang hitam.

​Benteng yang Tak Terpatahkan

​Namanya Woro. Gadis itu adalah antitesis dari segala kekacauan yang diciptakan Pono. Woro dikenal sebagai kembang desa yang alim, yang harinya dihabiskan antara rumah, sawah, dan musala. Wajahnya yang teduh tanpa riasan selalu membuat hati Pono bergejolak, bukan hanya karena nafsu,karena rasa penasaran yang menjurus pada kegilaan Pono sudah mencoba segalanya. Ia telah memelintir ratusan cabai hingga jemarinya lecet dan pedas, meneriakkan nama Woro dalam setiap embusan napasnya. Ia juga telah merendam bulu perindunya dalam air mawar yang telah dibacakan mantra tingkat tinggi. Namun, hasilnya nol besar.

​Setiap kali Woro berpapasan dengannya di jalan desa, gadis itu hanya menunduk dan mengucap salam dengan sopan.

"Siang kek Pono,mau kemana?" Sahut woro menyapa.Tidak ada binar gila di matanya, tidak ada napas yang memburu, tidak ada tanda-tanda "panas" yang biasa dialami korban-korbannya. Seolah-olah, ada sebuah dinding kaca transparan namun sekeras baja yang melindungi Woro dari segala serangan gaib.

​"Kenapa? Kenapa bocah ingusan itu tidak mempan?" geram Pono, menyapu tumpukan cabai di depannya hingga berserakan ke lantai tanah.

​Tekad Sang Iblis

Malam ini, bulan purnama menggantung pucat di atas Sidomulyo. Pono duduk bersila, matanya merah karena kurang tidur dan amarah yang memuncak. Ia merasa dipermalukan oleh kesucian Woro. Kegagalannya menundukkan gadis itu terasa seperti tamparan bagi ilmu yang telah ia pupuk dengan laku tirakat bertahun-tahun.

​"Kau pikir kau suci, Woro? Kau pikir Tuhanmu akan terus menjagamu?" Pono berbisik pada bayangannya sendiri di dinding.

​Ia mengambil sebilah keris kecil dan melukai ujung ibu jarinya. Tetesan darah merah kental jatuh mengenai bulu perindu yang langsung menyerap cairan itu dengan rakus. Pono memutuskan untuk melakukan ritual terlarang yang selama ini ia hindari karena risikonya yang besar. Ia akan menggunakan aji pengasihan pamungkas yang menuntut tumbal kewarasannya sendiri.

Bagi Pono, tidak ada lagi jalan kembali. Jika surga dunia adalah apa yang ia cari, maka Woro adalah puncak dari singgasana tersebut. Ia bersumpah, sebelum ayam berkokok di fajar mendatang, Woro harus merangkak di kakinya, memohon untuk dicintai.

​"Apapun caranya... meskipun aku harus menyerahkan jiwaku pada iblis penghuni alas Sidomulyo, kau akan menjadi milikku," desisnya sambil mulai memelintir cabai dengan kekuatan yang luar biasa, hingga aroma pedas yang menyengat memenuhi ruangan, bercampur dengan bau amis darah.

Tp pono lagi-lagi gagal dan mulai putus asa,tapi otaknya mulai memikirkan cara lain yg licik. Seringainya keluar dalam senyuman tipis.

"Minta bantuan Leni dan Miu,yah itu caranya."

Mata Pono berbinar licik

Lanjut membaca
Lanjut membaca