

Hujan badai menderu keras menghantam kaca jendela apartemen mewah di lantai empat puluh. Kilat menyambar terang, menerangi ruangan yang berantakan dan menyorot siluet seorang pria yang terkapar tak berdaya di atas lantai marmer yang sedingin es.
Darah segar menetes dari sudut bibir pria itu. Noda merah pekat mengotori karpet putih bersih di bawahnya.
Pria itu bernama Arya. Dia mencoba mengangkat kepalanya yang terasa seberat timah. Pandangannya kabur, dan rasa sakit yang teramat sangat merobek dada kirinya. Tempat di mana Inti Mana miliknya baru saja dihancurkan secara paksa, mencabut seluruh kemampuannya sebagai seorang Awakened.
Di hadapannya, berdiri sepasang manusia yang menatapnya seperti menatap seekor serangga yang menjijikkan.
"Kenapa...?" Suara Arya terdengar serak. Tenggorokannya terasa seperti diisi pecahan kaca. "Setelah semua yang kuberikan padamu, Elena... kenapa kau melakukan ini?"
Wanita yang berdiri di depannya adalah Elena. Istri yang telah dinikahinya selama tiga tahun. Wanita yang demi dirinya, Arya rela mengorbankan seluruh sumber daya kultivasinya agar Elena bisa naik ke peringkat yang lebih tinggi.
Elena hanya tersenyum dingin. Gaun sutra merah marun yang membalut tubuh indahnya tampak sangat kontras dengan pemandangan tragis di bawah kakinya. Mata indahnya yang dulu selalu menatap Arya dengan penuh kelembutan, kini hanya memancarkan rasa muak yang tak ditutupi.
"Kau masih bertanya kenapa, Arya?" Elena melipat kedua lengannya di dada. "Lihatlah dirimu. Kau lemah. Kau hanya seorang Supporter Kelas C yang bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri."
Sebuah pijakan keras mendarat tepat di atas punggung Arya, memaksanya kembali mencium lantai marmer.
"Istrimu benar, Pecundang." Suara berat seorang pria menggema di ruangan itu.
Pria itu adalah Bima, seorang Ketua Guild Kelas S yang namanya ditakuti di seluruh kota. Sepatu kulit mahalnya menginjak luka di punggung Arya tanpa ampun. Aroma parfum mahal bercampur bau tembakau menguar dari tubuh Bima, menusuk hidung Arya yang dipenuhi bau darahnya sendiri.
Rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan kehancuran di dalam dada Arya. Hatinya hancur berkeping-keping. Pikirannya bergejolak, memutar kembali memori pengorbanannya. Dia bekerja siang dan malam di Dungeon tingkat rendah, mengumpulkan material berharga demi membeli Elixir Kebangkitan untuk Elena.
Semua itu ternyata hanya menjadi batu loncatan bagi wanita iblis ini.
"Aku butuh pria yang bisa memberikanku perlindungan mutlak, bukan beban sepertimu," ucap Elena dengan nada datar. Dia melemparkan selembar kertas yang sudah ditandatanganinya ke wajah Arya. Itu adalah surat cerai. "Inti Mana milikmu sudah diekstrak untuk memperkuat fondasi Bima. Anggap saja itu bayaran atas kebersamaan kita selama ini."
Bima tertawa meremehkan. Dia menendang rusuk Arya hingga tubuh pria itu terpental dan menabrak meja kaca hingga hancur berantakan. Pecahan kaca menusuk kulit Arya, menambah rentetan luka fatal di tubuhnya.
"Ayo pergi, Sayang. Udara di sini tiba-tiba berbau seperti mayat," ucap Bima sambil merangkul pinggang ramping Elena.
Mereka berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun. Pintu apartemen terbanting menutup, meninggalkan Arya sendirian di dalam kegelapan ruangan yang perlahan terasa semakin dingin.
Napas Arya semakin putus-putus. Darah tidak berhenti mengalir dari dadanya. Kematian sudah berdiri di ambang pintu, menunggu untuk menjemput jiwanya.
Di tengah rasa sakit yang mulai menumpulkan indranya, sebuah kebencian yang sangat pekat lahir di dasar jiwa Arya. Dia membenci kelemahannya. Dia membenci kepolosannya.
"Jika... jika aku diberi satu kesempatan lagi..." Arya bergumam pelan di tengah genangan darahnya. Jari-jarinya mencengkeram pecahan kaca hingga telapak tangannya robek. "Aku tidak akan pernah menjadi pria baik lagi. Aku ingin kekuatan. Kekuatan mutlak untuk mengendalikan takdirku sendiri... kekuatan untuk membuat mereka berlutut di bawah kakiku!"
Cahaya kilat kembali menyambar, diiringi suara guntur yang memekakkan telinga. Namun kali ini, suara guntur itu diikuti oleh sebuah suara mekanis tanpa emosi yang bergema langsung di dalam kepalanya.
[Kondisi Kematian terdeteksi.]
[Kebencian Ekstrem terdeteksi.]
[Keselarasan Jiwa mencapai 100%.]
[Memulai inisiasi Protokol Kebangkitan.]
Mata Arya terbelalak. Waktu di sekitarnya seolah berhenti berdetak. Tetesan darah yang jatuh dari dagunya membeku di udara. Sebuah panel layar tembus pandang berwarna keemasan gelap tiba-tiba muncul di hadapannya.
[Sistem Subjugasi Absolut telah berhasil terikat dengan Tuan Rumah.]
"Sistem...?" Pikiran Arya berpacu. Sebagai seorang Awakened, dia tahu tentang anomali yang jarang terjadi di dunia ini, tetapi memiliki sistem eksklusif adalah mitos belaka.
[Sistem Subjugasi Absolut merespons keinginan terdalam Tuan Rumah.]
[Fungsi Utama: Tuan Rumah diberikan otoritas penuh untuk menanamkan 'Segel Ketaatan' kepada target wanita yang terpilih. Sekali segel tertanam, target akan mematuhi segala perintah fisik maupun mental tanpa syarat, tanpa penolakan, dan tanpa batas waktu.]
Napas Arya tertahan. Mengendalikan tanpa syarat? Mematuhi segala perintah? Bukankah ini kekuatan yang melanggar hukum alam itu sendiri?
[Memuat Status Tuan Rumah...]
[Slot Harem/Subjugasi Tersedia: 0 / 15]
[Peringatan Logika Sistem: Penanaman Segel Ketaatan normalnya membutuhkan Poin Dominasi yang sangat besar sebagai bayaran atas kekuatan absolut ini.]
[Namun, untuk memulihkan Tuan Rumah dari ambang kematian, Sistem memberikan Paket Pemula.]
[Hadiah Pemula 1: Pemulihan Fisik dan Pembentukan Ulang Inti Mana (Tingkat S).]
[Hadiah Pemula 2: Satu (1) Token Segel Ketaatan Gratis tanpa syarat Poin Dominasi.]
Tiba-tiba, energi keemasan yang hangat dan sangat kuat mengalir deras ke dalam tubuh Arya. Sensasinya seperti disiram air kehidupan. Tulang rusuknya yang patah kembali tersambung dengan bunyi gemeretak halus. Dada kirinya yang berlubang menutup dengan cepat.
Lebih dari itu, sebuah pusaran energi yang jauh lebih besar dan mengerikan dari Inti Mana lamanya mulai terbentuk di pusat dadanya. Rasa sakit sirna seketika, digantikan oleh ledakan tenaga yang membuat setiap otot di tubuhnya menegang sempurna.
Arya bangkit berdiri perlahan. Dia mengepalkan tangannya. Udara di sekitarnya bergetar hebat. Dia tidak lagi lemah. Dia merasa bisa menghancurkan tembok beton hanya dengan jentikan jarinya.
Namun, sebelum dia bisa mencerna kekuatan barunya, suara langkah kaki halus terdengar dari arah pintu depan apartemen. Seseorang memaksa masuk dengan meretas kunci elektronik.
Pintu terbuka pelan. Sesosok wanita dengan balutan pakaian taktis hitam ketat melangkah masuk. Wajahnya tertutup masker separuh, menyisakan sepasang mata tajam yang sedingin es. Di tangan kanannya, tergenggam sebuah belati beracun yang melengkung tajam.
Arya segera mengenali aura wanita itu. Dia adalah Kania, salah satu pembunuh bayaran elite tingkat B yang sering bekerja membersihkan jejak kotor Bima. Rupanya, Bima tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun dan mengirim seseorang untuk memastikan Arya benar-benar mati.
Kania menatap Arya yang berdiri tegak. Matanya menyiratkan keterkejutan yang nyata. Menurut informasi yang dia terima, targetnya seharusnya sudah menjadi mayat.
Tanpa membuang waktu untuk bertanya, Kania melesat maju dengan kecepatan luar biasa. Belatinya mengincar tenggorokan Arya dengan presisi mematikan. Niat membunuhnya sangat kental dan menyesakkan.
Namun, Arya tidak bergerak menghindar. Dia hanya menatap lurus ke dalam mata Kania yang sedang menerjang ke arahnya. Di dalam pandangan Arya, sebuah opsi dari Sistem muncul berkedip di atas kepala Kania.
[Target Ditemukan: Kania (Awakened Tingkat B).]
[Gunakan Token Segel Ketaatan Gratis pada target ini?]
"Gunakan," ucap Arya dingin.
[Segel Ketaatan Absolut berhasil ditanamkan!]
Dalam hitungan milidetik, tepat ketika ujung belati beracun Kania tinggal satu sentimeter dari leher Arya, tubuh wanita itu membeku total. Serangannya terhenti di udara seolah menabrak dinding tak kasatmata.
Mata Kania yang tadinya dipenuhi niat membunuh, perlahan berubah kosong. Tubuhnya gemetar hebat seolah jiwanya sedang dipaksa bertekuk lutut oleh sebuah kekuatan kosmik yang tak tertandingi. Belati di tangannya terlepas dan jatuh bergemerincing ke lantai marmer.
Rasa takut, bingung, namun diiringi kepatuhan absolut yang aneh mulai memenuhi pikiran Kania. Dia tidak tahu sihir iblis apa yang baru saja merasukinya, tetapi setiap sel di tubuhnya kini berteriak bahwa pria di hadapannya adalah dewa yang harus dia sembah.
Arya melangkah maju. Dia mengangkat tangannya dan menyentuh pelan dagu Kania, memaksa wanita itu mendongak menatap matanya. Sentuhan Arya membuat napas Kania menjadi sedikit lebih berat.
"Mulai detik ini," suara Arya terdengar dalam, berat, dan memancarkan dominasi mutlak yang membuat lutut Kania lemas. "Nyawamu, tubuhmu, dan kesetiaanmu adalah milikku sepenuhnya. Berlututlah."
Tanpa ada sedikit pun perlawanan di hatinya, Kania perlahan menurunkan tubuhnya. Wanita pembunuh bayaran yang terkenal berdarah dingin itu kini berlutut dengan patuh di hadapan kaki Arya.