

Bab 1. Konflik Di Gerbang Kampus.
Kinan memejamkan matanya rapat-rapat saat Dano menindih tubuh sintalnya, jemarinya meremas seprei kasur yang kini sudah kusut masai. Secara naluriah, ia memberikan akses dengan membuka kedua pahanya. "Ini... ini pertama kalinya, Beb," ucapnya lirih dengan napas memburu.
"Aku juga baru pertama kali," jawab Dano sambil memperhatikan lubang kewanitaan Kinan yang bersih, mulus, dan masih rapet seperti garis.
Dano perlahan menindih tubuhnya. Ketika dada saling bersentuhan, ia merasakan kehangatan, kekenyalan payudaranya yang cukup besar. Kejantanannya yang sudah berdiri keras, bergesekan dengan bibir kewanitaannya yang sudah lembab.
Suara napas Kinan makin memburu, terdengar berat dan terputus-putus saat merasakan tekanan besar yang perlahan mengisi kekosongan di dalam dirinya. Rasa sakit yang tajam sempat menusuk, namun perlahan berubah menjadi sensasi panas yang menjalar ke seluruh saraf, membuatnya melengkungkan punggungnya lebih tinggi.
"Ahhhh...Beb... pelan..." Desahan Kinan lirih, ia merasakan lubang kewanitaannya robek saat selaput daranya terkoyak, ukuran kejantanan yang besar memenuhi lubang basahnya.
Keringat dingin mulai membasahi kulit punggung Kinan yang mulus, menciptakan kilauan tipis di bawah lampu kamar yang temaram. Ia menggigit bibir bawahnya dengan keras untuk menahan erangan yang hampir lolos, sementara dadanya yang cukup besar dikulum Dano. Ia merasakan jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya karena adrenalin yang memuncak.
"Ahhh... pelan-pelan, Sayang... ini sakit tapi..." Kinan mendesis saat batang kejantanan terus bergerak.
Dano menghentakkan kejantanannya yang besar hingga menyundul rahim kekasihnya itu. Lalu ia tidak bergerak agar Kinan meredakan rasa sakit dan terbiasa dengan ukuran kejantanannya...
***
Jauh sebelum menaklukkan tubuh Kinan, Dano Prawira adalah seorang pria usia dua puluh tahun, penampilannya biasa saja, tapi juga tidak jelek, tinggi badan 175 cm, kulit kuning, rambut lurus berminyak dengan gaya jadul, tubuhnya ramping.
Dano masuk ke gerbang kampus dengan mengendarai motor listrik. Ia berhenti di depan pos satpam, tanpa peduli dengan para mahasiswa yang lewat. "Pagi, Pak Agus." Ia memberikan bungkusan plastik berisi gorengan.
"Mas Dano, kenapa selalu bawa makanan," tegur Pak Agus dengan nada ramah, ia seorang pensiunan militer yang kini bekerja sebagai satpam kampus.
"Cuma sepuluh ribu aja kok, Pak." Dano tersenyum ramah saat pemberiannya diterima.
Pak Agus melihat sebuah mobil milik mahasiswa yang berniat untuk mencari masalah. "Mas Dano, cepat minggir."
BRAKKK!
Tapi terlambat, bemper depan mobil menabrak motor listrik sampai ringsek, membuat Dano terjungkal ke depan, telapak tangannya refleks membentur paving blok untuk menahan tubuhnya. Telapak tangannya lecet hingga berdarah.
Pak Agus menegur pemilik mobil itu. "Steven, apakah kau tidak bisa pelan sedikit? Ini area kampus."
Steven membuka pintu mobil. Wajahnya memerah karena marah. Ia membanting pintu mobil. Pandangan matanya tertuju pada Pak Agus. "Salahkan dia. Kenapa si bodoh itu berhenti di depan pos keamanan." Ia melihat Dano yang baru berdiri. "Ganti rugi. Lihat bemper depan hampir terlepas."
Pak Agus tidak bisa membantah. Dano Prawira memang salah karena berhenti di depan pos keamanan yang menjadi akses keluar masuk. Beberapa mahasiswa-mahasiswi yang akan masuk, berhenti, melihat masalah.
Dano melihat ban belakang motor listrik menjadi angka delapan. Jelas tidak bisa digunakan lagi. Ia melihat bemper depan mobil milik Steven rusak. Ia melihat pria itu, yang satu kelas dengannya. "Kenapa aku harus ganti rugi. Seharusnya kau—"
Bughh!
Steven memukul perut Dano hingga membungkuk. Lalu memukul matanya, yang membuat Dano terjungkal ke belakang. Lalu datang tiga teman Steven, berniat untuk memukul Dano.
"BERHENTI!" teriak Pak Agus yang langsung berdiri di antara Dano dan Steven. "Steven, kau keterlaluan. Apa yang kau lakukan sudah masuk ke tindakan kekerasan."
Steven tidak takut. "Kau mau dipecat?" ancamnya dengan nada meninggi. "Jelas si bodoh itu yang salah. Pokoknya ganti rugi."
Pak Agus melotot melihat Steven. Ingin rasanya ia memberikan pelajaran keras. Namun, ia tidak berani melakukannya karena ayahnya Steven seorang pejabat pemerintah.
Dano berdiri sambil telapak tangan kiri menutupi mata kiri yang lebam karena pukulan. Tangan kanannya meraih lengan kiri Pak Agus. "Ini salah saya."
Pak Agus menghela napas panjang. Keheranan dengan sikap Dano yang terlalu baik. Tidak hanya sekali Steven mencari masalah seperti ini.
Dano melihat Steven. "Aku hanya punya uang empat ratus ribu." Ia merogoh saku celana panjang, mengeluarkan empat lembar uang seratus ribuan, uang hasil seminggu kerja di kafe.
Steven langsung merampas uang itu, tapi ekspresi wajahnya belum puas. "Ini kurang." Ia berteriak keras, sengaja mempermalukan Dano yang menjadi bahan tontonan mahasiswa. "Tambah enam ratus ribu. Kalo nggak bisa, teman-temanku akan berikan salam olahraga!" Ia mengulurkan tangan kiri.
Dano sangat marah. Uang itu seharusnya cukup untuk memperbaiki bemper yang penyok. Dan juga, ia tidak punya uang lagi. Ia ingin memukuli Steven, tapi takut dengan konsekuensinya jika melukai anak pejabat.
Pada saat itu, datang seorang mahasiswi cantik, Kinan Wandira (19 tahun), tubuh ramping seperti model papan atas. Dia adalah salah satu bunga kampus yang menjadi perbincangan hangat di kalangan mahasiswa. Teman satu kelas dengan Dano dan Steven. Dia sahabat baik Dano semenjak duduk di bangku SMP.
"Aku melihat semuanya." Suara Kinan lembut, mengalihkan perhatian semua orang termasuk Steven dan Dano. "Kau yang salah, Stev. Seharusnya kau bisa mengerem laju mobilmu. Kau sengaja cari masalah, kan?"
Ekspresi wajah Steven langsung berubah, dari marah menjadi serba salah. Ia melihat Kinan. Kecantikannya membuat hatinya bergetar. Ia buru-buru melihat Dano. "Kalau bukan karena Kinan, hari ini kau selesai." Nada bicaranya mengandung ancaman. Ia mengalihkan pandangannya, melihat ketiga temannya. "Singkirkan rongsokan itu." Jari telunjuknya mengarah pada motor listrik milik Dano.
Kedua temannya segera menarik motor, dibuang ke luar gerbang. Steven dan ketiga temannya masuk ke mobil, ekspresi wajahnya seperti orang yang tak bersalah.
Dano segera minggir ke samping pos keamanan saat mobil Steven melaju. Tangannya terkepal erat karena marah saat bertatap mata dengan Steven. Tapi kemarahannya memudar saat melihat wajah cantik sahabatnya yang menenangkan hati. "Terima kasih, Kinan." Ia duduk di kursi kayu yang biasanya duduki oleh Pak Agus.
"Kamu nggak salah." Suara Kinan sangat lembut. Ia duduk di sampingnya, lalu mengeluarkan tisu. Tangannya dengan lembut membersihkan sikut Dano yang kotor dan lecet. "Tapi lain kali, kamu harus lebih berhati-hati. Steven selalu mencari kesalahanmu."
Pak Agus membubarkan kerumunan mahasiswa. Beberapa mahasiswa tampak iri melihat keakraban Kinan dan Dano. Banyak mahasiswa yang ingin mendekati Kinan, tetapi wanita itu selalu bersikap dingin kepada siapa pun, tapi selalu lembut kepada Dano.
Dano mengusap air mata, bukan karena terharu atas kebaikan Kinan, tapi matanya merah terkena pukulan. Terasa pedih dan sakit. Semenjak SMP, sahabatnya itu selalu melindunginya dari gangguan teman-teman sekolah, seperti seorang kakak perempuan yang melindungi adik. Usia Kinan lebih muda satu tahun, tapi kebaikannya, sikap posesif terhadapnya, melebihi keluarga sendiri.
"Aku malu pada diri sendiri," ucap Dano lirih, hanya didengar oleh Kinan. "Sampai kapan kamu terus menolongku? Seharusnya aku yang melindungimu."
Kinan mengucek rambut Dano. "Kamu memang memalukan. Bisa bela diri, tapi diam saja saat di bully." Suara lembut, tidak mengejek, tapi ingin membuat Dano ceria, kembali bersemangat.
Ia mengeluarkan tisu baru, lalu mengusap mata Dano yang masih mengeluarkan air mata pedih. "Kamu harus memeriksa matamu ke dokter. Ayo, aku antar."
"Gak usah. Aku baik-baik saja." Dano menolaknya, nada tetap sama, lirih.
Tapi hatinya menjadi perih karena Kinan terlalu baik. Kebaikan yang sulit untuk membalasnya. Ia memang belajar bela diri dengan tujuan untuk melindungi diri sendiri. Tapi, saat menghadap para pembully, ia takut dengan konsekuensinya. Takut kejadian beberapa bulan lalu terulang kembali. Yang berakhir pada hukuman karena membela diri sendiri. Kejadian itu membuatnya trauma.
"Sebentar lagi jam pelajaran dimulai," lanjut Dano. Ia berdiri, menepuk-nepuk celananya yang kotor di bagian pantat.
Kinan hanya menghela napas panjang. Ia tahu Dano menyimpan dendam kepada Steven dan yang lainnya. Dan ia tahu kenapa Dano tidak mau pergi ke dokter. Karena setiap luka yang Dano terima, akan menjadi pengingat.
Pak Agus mendekat. "Mas Dano, sebagai seorang pria, kau seharusnya bisa menjaga harga diri. Buat apa belajar bela diri jika tidak dipraktekkan." Ia tidak menegur, tapi ia ingin Dano tidak menjadi samsak tinju orang lain.
"Sabuk putih, nggak berguna jika berhadapan dengan orang seperti Steven." Dano tertawa, tawa mengejek terhadap dirinya sendiri. Ia melihat Pak Agus. "Saya masih pemula, Pak"
Kinan menjadi kesal. Ia menjewer telinga kiri Dano. "Kamu selalu saja merendahkan diri sendiri. Lebih baik jadi perempuan saja." Ia menarik telinganya, berjalan ke arah gedung kampus.
"Aduh... Aduh...! Sakit tau!" Dano mengeluh sambil memegang tangan kanan Kinan yang lembut dan hangat. Tapi ia tidak berusaha untuk melepaskan tangan wanita itu yang menjewernya.
Pak Agus geleng-geleng kepala. Segudang pengalaman di militer, meyakini bahwa Dano berbohong. Karena fisik pemuda itu berotot, hasil dari pelatihan bela diri yang keras. Tidak mungkin hanya mencapai sabuk putih. "Apakah benar anak itu hanyalah seorang bela diri pemula?" pikirnya ragu.