

Saat pulang kerja, Seno duduk seorang diri di pojok parkiran restoran. Di usianya yang masih 21 tahun dan bergulat dengan menuntaskan kuliah, dengan terpaksa ia mengambil pekerjaan paruh waktu menjadi tukang cuci piring di sebuah restoran.
Sambil bersantai melepas lelah, ia merokok dan melihat banyak mobil mewah di sana. Dalam hati pemuda itu berucap, ‘Enak banget ya jadi orang kaya begitu? Apa-apa tinggal beli. Nggak usah kerja keras kayak aku. Hidup kenapa nggak adil begini sih?’
Mendadak, sebuah mobil BMW masuk ke parkiran restoran dan seorang wanita cantik bertubuh seksi turun dari dalam. Seno terbelalak. “Renata? Kok dia kesini ... sama siapa dia?”
Wanita bernama Renata tersenyum judes dan berjalan menuju Seno yang segera berdiri, mematikan rokok, lalu mendekat. Ketika mereka berhadapan, satu kalimat pedas meluncur dari bibir merah yang kemarin lusa masih dicium mesra oleh tukang cuci piring tersebut.
“Kita putus!”
Singkat, padat, bahkan terlalu jelas sampai Seno serasa disambar kereta api.
Terbelalaklah pemuda itu. “Kamu kenapa, Ren? Kamu bercanda kan? Kita mau anniversary ketiga loh minggu depan.”
“Apanya yang bercanda? Aku serius! Kita putus! Aku sudah muak pacaran sama orang miskin kayak kamu! Nonton bioskop aja nggak ada duit. Minum kopi di cafe gaul juga nggak bisa!”
“Malah kadang gaji SPG aku yang buat nombokin biaya hidup kamu! Astaga! Mokondo banget kamu itu, Seno!”
Senyum Renata semakin mengejek, “Aku aja yang selama ini emang bego karena mau jadi pacar kamu! SPG rokok secantik aku mau sama orang mokondo kayak kamu! Itu kan namanya bego! Tapi sekarang nggak lagi! Mulai sekarang, kita putus, ngerti!”
Seno terengah, “Semua duit aku kan memang buat bayar biaya kuliah. Kalau ada lebihnya malah aku balikin semua utang aku ke kamu. Kadang juga aku tambahin dikit-dikit kalau kamu mau beli baju selama emang aku ada lebihan. Kamu dulu ngertiin keadaan aku lho. Kenapa sekarang kamu beru—“
Belum sempat kalimatnya selesai, seorang pria turun dari mobil BMW seri X yang memang terlihat gagah jika dibanding motor butut Seno. Makinlah mata Seno terbelalak.
“Kamu ke sini sama si Ardi?” engahnya melotot. “Dia itu playboy, Ren! Dia suka nidurin perempuan di kampus cuman buat senang-senang! Kalau dia bosan, dia bakal buang kamu!”
Pemuda bernama Ardi itu berjalan dengan senyum mengejek. Di belakangnya berjalan juga tiga orang pria bertubuh tinggi besar dengan tato ala preman pada lengan serta leher.
Ardi langsung merangkul dan mencium pipi Renata di depan Seno dengan senyum sombong. “Sudah beres mutusin gembel satu ini?”
“Sudah dong, Sayang. Tapi kayaknya dia nggak terima. Pakai acara jelekin kamu segala. Kata dia kamu playboy yang cuman mau nidurin aku dan buang aku kalau kamu sudah bosan,” jawab Renata sambil merangkul leher Ardi dan mencium bibir kekasih barunya sangat mesra.
Darah Seno mendidih melihat kemesraan itu. Ardi yang memang anak pengusaha kaya raya itu selalu sombong. Mereka bertiga adalah teman kampus dan mungkin akan menjadi musuh setelahnya.
“Oh, dia nggak terima kamu putusin? Yah, wajar sih. Apa yang mau dia banggain setelah ini kalau nggak ada kamu?” ejek Ardi lagi sambil mencium bibir Renata, sengaja memanas-manasi.
“Kamu tunggu di mobil dulu ya, Sayang. Biar aku urus si Seno miskin gembel nggak tahu malu ini. Biar dia belajar apa akibatnya kalau jelek-jelekin aku lagi.”
Renata mengangguk, lalu melirik sinis pada Seno. “Bye-bye ... semoga kamu semakin miskin setelah ini. Dan jangan harap aku mau kamu seret dalam kemiskinanmu! Hihihi!”
Seno benar-benar murka, tetapi masih ditahan. Setelah Renata masuk ke dalam BMW tersebut, ia langsung menoleh pada Ardi. “Kamu cuman mau maininin dia doang kan?”
Ardi tertawa, lalu mengeluarkan ponselnya. “Mainin atau nggak, itu urusanku sama Renata karena dia udah milih aku jadi pacarnya dan ninggalin kamu yang gembel.”
“Yang harus kamu tahu adalah ini ....”
Mendadak dari ponsel Ardi terdengar suara mendesah sensual, “Aaah ... mmhh ... aduuuh ... ah, ah, aaaah ... Ardi ... aduuuh ... enaaak!”
Seno membeku. Di depan matanya layar itu memperlihatkan tubuh telanjang Renata di atas ranjang. Buah melonnya bergoyang bebas, mata terpejam, dan bibir terus mendesah.
Bahkan, kamera yang merekam adegan ini kemudian turun, memperlihatkan lembah basah Renata sedang dihajar keluar masuk oleh sebuah jari tengah yang memakai cincin akik berwarna merah.
Mata Seno berpindah ke jari Ardi yang tengah memegangi ponsel. Cincin akik merah melingkar di jari, sama persis dengan yang ada di video.
Berarti ... itu jari Ardi yang ada di video.
“Renata puas banget lho main sama aku. Dan harus kuakuin, dia seksi banget di atas ranjang. Desahannya ... byuhhh ... mantap, Bro!” ejek Ardi terbahak, diikuti tawa tiga preman di belakangnya.
Dada Seno kembang kempis. Ingatannya berputar pada satu tahun lalu saat mereka hampir saja bercinta di kost sang gadis. Kala itu, Renata bilang, “Jangan ya. Aku mau menjaga keperawananku sampai kita menikah nanti. Biar spesial.”
Dan sekarang ... dengan mudahnya Renata menyerahkan keperawanan kepada Ardi? Gila! Kemarahan Seno benar-benar memuncak.
Pemuda miskin itu mencoba membela harga dirinya untuk terakhir kali. Dia tertawa dan berkata, “Ck ... ternyata Renata wanita murahan ya? Ternyata dia rela jual diri demi bisa dapat duit dari lelaki kaya macam kamu!”
“Nggak rugi aku diputusin sama dia! Hahaha! Kamu ambil saja wanita murahan macam dia! Habis-habisin! Aku nggak pe—”
BUGH!
Sebuah tinju dari Ardi mendarat tepat di perut kerempeng Seno. Begitu kuat tinjuannya sampai punggung tukang cuci piring itu terhentak ke belakang.
Seno langsung jatuh tersungkur dengan posisi bersimpuh di atas aspal parkiran. Dadanya sesak tidak bisa bernapas dan mualnya luar biasa.
“S-sialan ...,” erang Seno memegangi perutnya.
Mendadak, kaki Ardi yang dilapisi sepatu harga belasan juta menendang kepala Seno dan menginjaknya sampai pipi pemuda miskin itu menghantam aspal.
“Bangsat miskin berani-beraninya ngatain cewek aku! Dia kasih perawannya buat aku! Nggak terima kamu, heh? Cari mati kamu!”
“Kkkhh ... kkkhh ...!” Seno merintih kehabisan napas karena sekarang bukan lagi kepala, tetapi lehernya yang diinjak oleh Ardi.
Melihat wajah Seno merah padam dan matanya mendelik kehabisan udara, anak orang kaya itu tertawa kejam. Sayangnya, dia belum ingin berhenti. Kakinya diangkat dan siksaannya dialihkan. “Kalian bertiga, hajar dia sampai mampus!”
“Siap, Bos!” angguk tiga preman dengan seringai sadis.
BUGH! BUGH! BUGH!
Terus menerus suara pukulan dan tendangan terdengar menghujani tubuh Seno yang kurus kerempeng. Mereka sengaja tidak menghajar muka supaya tidak terlihat langsung lukanya.
Cukup luka dalam saja di kepala dan area perut. Perlahan darah mengalir dari bibir dan telinga Seno akibat luka dalam yang dideritanya.
Ardi menyeringai puas. Sebelum kembali ke BMW-nya, satu tindakan menghina terakhir dilakukan, “Cuih!” Dia meludahi muka Seno. “Hajar terus sampai dia benar-benar sekarat!”
Memasuki BMW, suara tawa Renata renyah terdengar. “Makasih ya, Ardi Sayang. Kamu udah bebasin aku dari orang miskin benalu macam dia.”
Bibir Renata dipagut mesra oleh Ardi seraya dia berbisik, “Apa sih yang nggak buat kamu, Sayangku yang manis? Yuk, kita check in lagi di hotel. Aku udah kangen sama desahan kamu.”
Sementara BMW itu pergi meninggalkan parkiran, preman suruhan Ardi terus menerus memukuli dan menginjak perut serta kepala Seno.
Salah satu dari mereka terkekeh berkata, “Kita bawa dia ke pinggir jembatan sama motornya sekalian. Biar dikira dia jatoh dari sepeda motor terus luka-luka!”
Yang lain setuju. Mereka segera menggeret tubuh Seno masuk ke dalam mobil sementara ada yang membawa motor butut pemuda itu menuju jembatan sepi di pinggir kota.
Seno masih bisa merasakan ketika tubuhnya dilempar keluar dari dalam mobil, lalu ditimpa sepeda motor. Suara mobil para preman pergi juga masih terdengar samar di telinganya.
Entah berapa lama Seno tergeletak di pinggir jalan. Yang jelas kemudian dia mendengar ada suara sepeda motor berhenti dan seorang wanita menggoyang tubuhnya, bertanya ada apa dengannya. Setelah itu, semua menjadi gelap.
Hening ... tak ada cahaya, itu yang Seno rasakan. Akan tetapi, perlahan semua berubah. Sayup-sayup dia mendengar ada suara orang berbicara dan seberkas cahaya menerangi.
Matanya mengerjap sedikit demi sedikit hingga akhirnya semua menjadi jelas. Yang terihat adalah sebuah kamar berukuran kecil bernuansa merah muda. Secara reflek tangan dan kakinya mulai bergerak, merasakan seprai di bawah tubuhnya.
‘Aku di mana?’ engahnya bingung dalam hati. Entah sudah berapa lama dia di sana.
Mendadak ... sesuatu terjadi!
TING!
“SELAMAT! SISTEM TERKAYA SEJAGAD RAYA TELAH AKTIF!”
Seno melongo, terduduk dengan sendirinya. Ia tolah-toleh, mencari siapa yang sudah meneriakkan suara tersebut. Akan tetapi, tidak ada satu manusia pun di kamar tersebut.
“SISTEM TELAH BERHASIL TERHUBUNG DENGAN HOST BERNAMA SENO ARIOBIMO!”
Terengah, Seno bertanya dengan suara yang sangat pelan pada dirinya sendiri. “Apa aku udah mati dan sekarang lagi ada di surga? Itu suara malaikat kan?”
“Atau aku udah jadi gila saking pengennya jadi orang kaya ...?”