Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SANG PEWARIS KULTIVASI GANDA

SANG PEWARIS KULTIVASI GANDA

Zoken Kenarok | Bersambung
Jumlah kata
52.7K
Popular
524
Subscribe
47
Novel / SANG PEWARIS KULTIVASI GANDA
SANG PEWARIS KULTIVASI GANDA

SANG PEWARIS KULTIVASI GANDA

Zoken Kenarok| Bersambung
Jumlah Kata
52.7K
Popular
524
Subscribe
47
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalHaremSistem21+
Dia adalah pewaris sistem kultivasi terlarang yang hanya bisa dibangkitkan melalui sentuhan yang memabukkan. Setiap ciuman adalah energi yang mengalir. Setiap pelukan adalah kekuatan yang membuncah. Setiap malam bersama adalah level up menuju kekuasaan yang bisa mengguncang seluruh jagat. Raka Nalendra—pewaris darah dewa dan penguasa Tirta Nagantara. Satu demi satu wanita jelita menjadi kunci kebangkitan kekuatannya. Satu takdir yang akan mengubah masa silam dan masa yang akan datang. Ketika kultivasi berpadu hasrat, ketika kekuatan terlahir dari sentuhan yang terlarang—inilah kisah seorang pemuda yang bangkit menjadi maharaja dengan harem yang tak terhitung banyaknya. Saksikanlah perjalanan pewaris terakhir dinasti Nalendra—di mana setiap sentuhan adalah kekuatan, setiap malam adalah petualangan yang membakar, dan setiap wanita menyimpan rahasia yang mengubah takdir dunia.
Bab 1

Kabut tipis masih menggantung di atas langit Jakarta saat Raka terbangun pagi itu.

Bukan suara alarm yang membuka matanya, melainkan sentuhan lembut jemari yang sudah dia kenal sejak kecil, mengusap rambutnya pelan.

"Bangun, anak malas."

Raka mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar terjaga.

Agni sudah duduk di pinggir ranjang, mengenakan gaun tidur sutra krem yang membalut tubuhnya dengan pas.

Rambut hitamnya tergerai bebas di punggung, dan senyum tipis tersungging di bibirnya begitu melihat Raka mulai sadar.

Cahaya pagi menyelinap dari celah tirai, jatuh lembut di wajah wanita itu.

"Bibi..." Raka mengucek mata, suaranya masih serak. "Jam berapa ini?"

"Tujuh pagi. Waktunya bangun."

Agni mengusap pipi Raka dengan punggung tangannya, gerakan yang sudah jadi kebiasaan mereka bertahun-tahun.

Raka bergeser mendekat, lalu memeluk pinggang Agni dan membenamkan wajahnya di perut wanita itu.

Aroma tubuh Agni yang hangat selalu berhasil membuatnya tenang, seperti rumah yang tidak pernah berubah.

"Lima menit lagi, Bi. Masih ngantuk."

"Dasar manja." Agni tertawa kecil sambil mengacak rambut Raka. "Lepas dulu, sarapanmu bisa dingin."

Raka tidak juga melepaskan pelukannya.

Dia menarik napas dalam-dalam, menikmati aroma tubuh Agni yang selalu mengingatkannya pada bunga melati.

"Bibi sudah masak kesukaanmu," ujar Agni sambil merapikan rambut Raka dengan jemarinya.

"Cepat bangun. Bibi juga harus mandi."

"Kenapa harus mandi? Bibi kan sudah wangi." Raka menyeringai jahil, mendongak menatap wajah Agni dari bawah.

"Dasar nakal." Agni mencubit pipi Raka hingga pemuda itu meringis pelan.

"Sudah, cepat mandi. Ada yang perlu kita bicarakan."

"Iya, iya." Raka akhirnya melepaskan pelukannya, meski enggan.

Namun ada sesuatu dalam nada suara Agni barusan yang membuat Raka menangkap keseriusan.

Bibinya jarang bicara seperti itu kecuali memang ada hal penting.

"Tunggu dulu." Raka menyipitkan mata curiga.

"Jangan bilang Bibi mau kasih tau kalau Bibi akhirnya mau nikah sama salah satu om-om kaya yang ngejar-ngejar Bibi itu?"

Agni tertawa kecil mendengar godaan itu.

Selama bertahun-tahun memang banyak pria kaya yang berusaha mendekatinya, tapi tak satu pun berhasil menarik hatinya.

Wajar saja. Sebagai CEO Agni Corporation, konglomerat real estate dan teknologi terbesar di Asia Tenggara, sekaligus wanita dengan kecantikan yang nyaris tidak masuk akal, Agni tidak pernah kekurangan pengagum.

Namun hatinya sudah lama tertambat pada satu nama.

Mahesa Nalendra. Cinta pertama sekaligus terakhirnya.

"Bukan itu, dasar anak nakal." Agni mencubit pelan pipi Raka. "Ini soal sekolahmu."

Agni bangkit dari duduknya, membuat gaun sutranya berkibar lembut, dan sekilas memperlihatkan lebih banyak kulit pahanya.

"Sekarang mandi, lalu turun untuk sarapan."

"Iya, Bi." Raka meregangkan tubuhnya sambil menjawab.

"Jangan lupa pakai baju yang rapi. Bibi mau mengajakmu ke suatu tempat."

Raka menguap lebar sambil meregangkan otot-ototnya yang terbentuk alami meski dia tidak pernah berlatih secara khusus.

Rambut hitamnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya, memberi kesan maskulin yang tidak dibuat-buat.

•••

Setengah jam kemudian, Raka keluar dari kamar dengan kemeja putih dan celana formal yang membuatnya tampak lebih dewasa dari biasanya.

Di ruang makan, Agni sudah menunggu dengan penampilan yang bahkan lebih memukau.

Wanita itu mengenakan blazer hitam dipadukan rok span senada, memperlihatkan betisnya yang jenjang.

Rambutnya diikat rapi dalam sanggul elegan, menonjolkan garis lehernya yang anggun serta sepasang anting berlian kecil yang berkilau setiap kali dia bergerak.

Garis lehernya yang anggun terekspos sempurna.

"Wah, udah rapi aja." Raka bersiul kagum. "Ada rapat board hari ini?"

"Bisa dibilang begitu." Agni menyiapkan piring sarapan di depan Raka sambil tersenyum.

"Tapi sebelum itu, aku harus mengantar seseorang ke tempat yang sangat penting."

Raka menaikkan alis. "Siapa yang mau diantar?"

"Kamu."

"Aku?" Raka melongo sesaat, sendok di tangannya berhenti di udara. "Diantar ke mana? Sekolahku kan masih libur."

"Raka, kamu akan pindah sekolah hari ini."

"Pindah?" Raka meletakkan sendoknya, lalu menghampiri Agni dan duduk di sampingnya.

"Tunggu dulu. Jangan bilang Bibi mau kirim aku ke luar negeri. Aku nggak mau jauh dari Bibi."

Mendengar itu, sesuatu di hati Agni menghangat.

Meski Raka bukan anak kandungnya, ikatan mereka sudah seperti ibu dan anak sungguhan, bahkan lebih dari itu.

Kadang cara pemuda itu memandangnya membuat Agni harus mengingatkan diri sendiri tentang batas yang seharusnya ada di antara mereka.

"Bukan ke luar negeri." Agni berbalik menghadap Raka, menatapnya lekat. "Ke sebuah akademi khusus. Namanya Akademi Nalendra."

"Akademi Nalendra?" Raka mengerutkan dahi. "Belum pernah dengar nama itu. Sekolah macam apa?"

Agni terdiam sejenak, memilih kata dengan hati-hati. Belum waktunya menceritakan semuanya.

"Sekolah khusus untuk anak-anak istimewa." Agni menggenggam tangan Raka lembut. "Dan kamu salah satu dari mereka."

Raka menatap mata Agni dalam-dalam, mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di baliknya.

Yang dia temukan hanya ketulusan, bercampur kekhawatiran yang tidak biasa.

"Bibi cuma ingin yang terbaik untukmu." Agni bangkit dan memeluk Raka erat, membuat wajah pemuda itu tenggelam di antara dada Agni yang besar.

Gyut~

Aroma tubuh Agni yang hangat membuat kepala Raka sedikit berdenyut oleh desiran aneh yang belakangan ini semakin sering muncul tanpa alasan jelas.

"Percaya sama Bibi. Kamu bakal suka sekolah ini."

"Tapi aku udah nyaman di JIA." Raka membalas pelukan itu meski agak canggung, tangannya melingkar di pinggang Agni.

"Teman-temanku semua di sana. Tim basket juga butuh aku buat kejuaraan bulan depan."

"Kamu bisa dapat teman baru di Akademi Nalendra." Agni melepaskan pelukannya, menatap Raka dengan lembut.

"Dan soal basket, di sana ada olahraga yang jauh lebih menantang."

"Olahraga apa? Terbang naik sapu sambil lempar bola?" ledek Raka sarkastis.

Agni tersenyum miring. "Ini bukan cerita Harry Potter, dasar anak nakal. Sekarang siap-siap. Kita akan ke akademi hari ini untuk pendaftaran."

"Hari ini?!" Raka terkejut. "Bi, ini terlalu mendadak!"

"Justru kamu sudah terlambat. Harus segera diurus." Agni merapikan kerah Raka sebelum turun, dan tangannya menyentuh sebuah tali tipis yang kemudian ia tarik sedikit.

Hingga muncullah sebuah liontin giok hijau sebesar dua ruas jari dari balik pakaian Raka.

Agni mengusapnya pelan, dan tatapannya berubah sendu.

"Jangan pernah melepaskan kalung ini."

"Bibi sudah bilang begitu sejak aku kecil." Raka tertawa pelan.

"Karena ini peninggalan ibumu. Jadi, apa pun yang terjadi, jangan lepaskan."

Agni menepuk dada Raka pelan, lalu berbalik dan melangkah menuju pintu dengan langkah yang anggun dan tidak bisa didebat.

"Bibi sudah mengemas pakaian baru untukmu. Semuanya sudah di mobil."

Raka menghela napas panjang dan mendongak ke langit-langit, mencari kesabaran yang mungkin tersimpan di sana. Tidak ketemu.

Ada yang aneh dengan semua ini.

Bibinya tidak pernah memaksakan sesuatu, tapi kali ini terasa berbeda, seperti ada urgensi yang sengaja disembunyikan darinya.

•••

Bentley hitam meluncur mulus keluar dari basement Corporation Tower.

Agni duduk tenang di kursi kemudi, jari-jarinya yang lentik menggenggam setir dengan anggun, sementara Raka masih berusaha mencerna situasi aneh yang baru saja terjadi.

"Bibi, serius nih. Sekolah barunya di mana?"

"Puncak."

"Puncak? Jauh banget."

Raka memutar tubuh menghadap Agni, memperhatikan profil wajah bibinya.

"Sekolah macam apa yang sampai harus di pegunungan?"

"Sekolah yang mengutamakan privasi dan ketenangan." Agni menyalip truk di depannya dengan gerakan halus.

"Udaranya juga segar, bagus buat konsentrasi."

"Berarti aku harus pulang-pergi tiap hari? Capek banget."

"Siapa bilang pulang-pergi?" Agni melirik Raka sekilas, matanya berkilat jahil. "Kamu bakal tinggal di asrama."

"ASRAMA?" Raka nyaris melompat dari kursinya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca