

Jam empat pagi, alarm ponsel Zayn berbunyi pelan di bawah bantal.
Ia mematikannya sebelum bunyi itu sempat membangunkan kamar sebelah. Dinding kos Cempaka Residence yang walaupun terbuat dari beton tetapi terasa tipis seperti kertas di waktu subuh. Kalau Zayn bersin terlalu keras, Pak Broto di kamar nomor lima bisa mengeluh soal itu keesokan paginya.
Zayn duduk di tepi kasur lipat, mengucek mata, lalu menatap langit-langit kamar yang catnya sudah mengelupas di sudut. Lampu kecil di meja belajar masih menyala. Ia memang tak pernah tidur dalam gelap total, sudah kebiasaan sejak kecil. Ia bangkit, melipat sarung, dan berjalan ke kamar mandi bersama di ujung lorong.
Air dingin menampar wajahnya. Ia meringis, tapi tak mengeluh. Sudah tiga tahun ia menjalani rutinitas ini, bangun sebelum ayam berkokok, mandi air sumur yang selalu dingin di jam segini, lalu berangkat kerja saat kota masih setengah tidur.
Di depan cermin retak kecil yang tertempel di dinding kamar mandi, ia menyisir rambut hitamnya yang bergelombang, asal rapi. Wajahnya biasa saja—tidak jelek, tapi tak juga mencolok. Bahunya sedikit membungkuk, kebiasaan lama dari bertahun-tahun menunduk di depan orang lain.
Ia kembali ke kamar, mengenakan kemeja putih yang sudah agak pudar warnanya, lalu celana bahan hitam yang ujungnya mulai berbulu halus karena terlalu sering dicuci. Sepatu pantofel yang ia pakai juga bukan baru. Sol depannya sudah agak menipis, tapi masih ia rawat dengan semir setiap malam Minggu.
Sebelum keluar kamar, tangannya berhenti sejenak di atas dompet kulit tipis di meja. Ia membukanya, menghitung isi dalam hati tanpa perlu mengeluarkan uangnya. Delapan ratus ribu. Untuk kuliah yang biayanya belasan juta, angka itu seperti lelucon yang tak lucu.
Ia menutup dompet itu, memasukkannya ke saku belakang, lalu keluar kamar.
Di lorong kos yang remang, ia melewati kamar nomor tujuh belas. Itu adalah kamar Intan. Pintu kamar itu tertutup rapat, tapi Zayn bisa mencium samar bau rokok mint dari celah bawah pintu. Ia tidak berhenti. Intan bukan orang yang suka disapa pagi-pagi, itu yang ia pelajari sejak pindah ke kos ini dua bulan lalu.
Perjalanan dari Cempaka Residence ke rumah keluarga Wijaya di kawasan Pondok Indah memakan waktu empat puluh menit dengan motor bebek tuanya. Jalanan masih lengang, hanya beberapa pedagang sayur yang mulai membuka lapak dan tukang ojek pangkalan yang menguap sambil menunggu penumpang pertama.
Zayn memarkir motornya di area belakang, dekat pos satpam. Pak Slamet, satpam shift pagi, mengangguk singkat padanya.
"Pagi, Mas Zayn."
"Pagi, Pak." Zayn membungkuk sedikit, senyum tulus terukir di wajahnya. "Sarapan sudah, Pak?"
"Belum. Nanti kalau sempat."
"Nanti saya bawakan gorengan kalau lewat depan, Pak."
Pak Slamet tertawa kecil. "Kamu ini, sopir majikan malah mikirin satpam."
Zayn hanya nyengir, lalu berjalan menuju garasi. Di sanalah masalah pertama hari itu menunggunya.
Bang Rojak, sopir senior keluarga Wijaya yang sudah bekerja delapan tahun, sedang berdiri sambil merokok di dekat mobil Alphard hitam. Melihat Zayn datang, ia menyeringai, bukan seringai ramah.
"Eh, anak baru." Bang Rojak menghembuskan asap ke arah lain, tapi nadanya sengaja direndahkan agar terdengar meremehkan. "Lo yang cuci mobil Pak Hendra sama punya Bu Erika hari ini. Gue lagi capek."
Zayn menoleh sebentar ke jam tangannya yang murah. Sudah jam setengah enam. Ia baru saja sampai.
"Mobil Bu Erika kan tugas Bang Dedi, Bang," Zayn menjawab, nadanya masih sopan, tak sedikit pun terdengar menolak.
"Dedi lagi izin. Jadi lo yang gantiin." Bang Rojak membuang puntung rokoknya ke lantai garasi, lalu menginjaknya. "Lo kan emang gunanya buat gitu. Anak baru harus tahu diri."
Zayn menelan ludah. Kalau ia menolak, besok-besok hidupnya di garasi ini akan lebih sulit. Kalau ia mengiyakan, ia harus mencuci dua mobil sekaligus sebelum jam berangkat kerja Hendra Wijaya jam tujuh.
"Baik, Bang," katanya akhirnya, seperti biasa.
Bang Rojak tertawa puas, lalu masuk ke pos jaga sopir untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda.
Zayn mengambil ember dan lap dari gudang kecil di sudut garasi. Ia mulai bekerja, menyabuni bodi mobil, membilas, mengelap kaca sampai bening. Keringat mulai membasahi kemejanya meski udara pagi masih sejuk. Tangannya bergerak cepat dan terlatih; sudah ratusan kali ia melakukan ini, sampai gerakannya jadi otomatis.
Di tengah pekerjaannya, seorang pembantu rumah tangga, Bu Yah, keluar membawa keranjang cucian.
"Zayn, tolong angkatin galon dulu ke dapur, ya. Berat, saya nggak kuat."
Zayn menghentikan lapnya, mengelap tangan ke celana, lalu berjalan mengikuti Bu Yah ke gudang belakang. Ia mengangkat dua galon sekaligus, membawanya ke dapur, memasangnya di dispenser dengan hati-hati agar tak tumpah.
"Makasih, ya, Nak," kata Bu Yah, tersenyum tulus. Itu satu-satunya senyum tulus yang Zayn terima pagi ini.
"Sama-sama, Bu."
Ia kembali ke garasi, melanjutkan cucian mobil yang tertunda. Matahari mulai naik, sinarnya memantul dari bodi Alphard yang basah, menyilaukan mata. Zayn menyipitkan mata, terus bekerja tanpa berhenti.
Jam tujuh kurang lima belas menit, kedua mobil sudah bersih dan mengkilap. Zayn baru sempat mengelap keringat di dahinya dengan lengan baju ketika suara pintu utama rumah terbuka.
Hendra Wijaya keluar, mengenakan jas abu-abu gelap, tas kerja kulit di tangan kanan. Perawakannya tegap, rambutnya sudah memutih di pelipis, langkahnya mantap seperti orang yang tak pernah ragu pada keputusan sendiri.
Zayn segera membuka pintu belakang Alphard, menunduk sedikit.
"Selamat pagi, Pak."
Hendra hanya mengangguk singkat, tanpa menatap wajah Zayn, lalu masuk ke mobil sambil membuka laptopnya. Zayn menutup pintu pelan-pelan, lalu bergegas ke kursi kemudi.
Sepanjang perjalanan menuju kantor PT. Melia Sejahtera Utama di kawasan Sudirman, Hendra sibuk menelepon soal laporan tambang, sesekali menggeram kesal pada orang di seberang telepon. Zayn menyetir dengan hati-hati, menghindari jalan berlubang, memastikan setiap pengereman halus agar tak mengganggu bosnya.
"Kamu tahu jalan alternatif kalau macet di depan?" tanya Hendra tiba-tiba, masih menatap layar laptop.
"Tahu, Pak. Lewat belakang gedung BCA, lebih cepat lima menit."
"Ambil jalan itu."
"Baik, Pak."
Hanya itu percakapan mereka pagi itu. Zayn membelokkan mobil ke jalan yang dimaksud tanpa perlu diberi tahu dua kali. Ia hafal setiap gang tikus di Jakarta Selatan, hafal jam-jam macet, hafal kapan lampu merah di persimpangan mana yang lama menyalanya. Pengetahuan itu tak pernah dihargai siapa pun, tapi Zayn tetap menyimpannya rapi, seperti menyimpan sesuatu yang berharga meski tak ada yang melihatnya berharga.
Di lampu merah, matanya sekilas menangkap pantulan wajahnya sendiri di kaca spion. Ia melihat lingkaran hitam samar di bawah matanya, bekas kurang tidur yang menumpuk berminggu-minggu. Ia buru-buru mengalihkan pandangan sebelum pikirannya sempat berlama-lama meratapi diri sendiri.
Ada hal lain yang lebih penting dipikirkan, cara mendapatkan biaya kuliah, kabar ibunya di kampung, dan cara bertahan hidup satu hari lagi tanpa mengecewakan siapa pun.
Mobil berhenti di depan gedung kantor. Hendra turun tanpa berkata apa-apa, hanya melambaikan tangan singkat sebagai tanda Zayn boleh pergi memarkir. Zayn membungkuk sedikit ke arah punggung bosnya yang sudah melangkah menjauh, lalu memutar mobil menuju basement parkir.
Baru saja ia memasukkan mobil ke slot parkir langganan, ponselnya bergetar. Pesan dari Bu Yah.
"Zayn, nanti jam 8 jemput Non Carol sama Non Anya ya di rumah. Mereka mau ke kampus tapi beda arah."
Zayn menghela napas pelan, menghitung jadwal di kepalanya. Jam delapan antar Carol dan Anya, lalu antar ke dua kampus berbeda. Semua harus selesai sebelum jam sepuluh, karena setelah itu ia harus kembali menjemput Hendra untuk rapat di luar kantor.
Ia mengetik balasan singkat—"Siap, Bu"—lalu menyalakan mesin lagi, keluar dari basement menuju rumah Wijaya untuk menjemput Erika.
"