

Hujan di Jakarta tidak pernah punya tata krama. Ia turun begitu saja, menghantam atap seng kontrakan tiga kali tiga meter itu dengan suara berisik yang memekakkan telinga. Di ambang pintu yang catnya sudah mengelupas, Cak Mat berdiri mematung. Di hadapannya, seorang wanita paruh baya dengan daster bermotif bunga kamboja yang sudah pudar warna-warnanya, berdiri dengan tangan berkacak pinggang. Matanya yang tajam tertuju pada Cak Mat seolah pemuda itu adalah tumpukan sampah yang lupa diangkut pagi tadi.
"Mat! Aku sudah bilang, ini bukan rumah singgah! Kamu sudah nunggak tiga bulan. Mau bayar pakai apa? Pakai janji-janji manismu itu?" teriak Bu Rahmi, sang pemilik kontrakan. Suaranya bersaing dengan gemuruh petir di langit Jakarta Selatan.
Cak Mat, atau yang bernama asli Ahmad Fauzan, hanya bisa menunduk. Jemarinya yang kasar karena terbiasa bekerja serabutan meremas pinggiran tas kresek besar berwarna hitam yang berisi seluruh hidupnya: tiga potong kaus oblong, dua celana jin yang sudah menipis di bagian lutut, dan sepasang pakaian dalam. Namun, beban yang paling berat bukan berasal dari pakaian-pakaian itu, melainkan dari sebuah benda logam yang mencuat dari balik kresek.
Sebuah wajan. Hitam, legam, penuh jelaga, dan tampak sangat tidak berharga.
"Bu Rahmi, tolonglah... Besok saya dapat bayaran dari proyek bangunan di Lebak Bulus. Saya langsung bayar lunas," suara Cak Mat parau, bergetar di antara dinginnya angin malam yang menusuk tulang.
Bu Rahmi tertawa, sebuah tawa kering yang tidak mengandung humor sedikit pun. "Proyek? Proyek apa? Aku dengar mandormu kabur bawa lari uang kalian semua! Jangan coba-coba tipu aku, Mat. Keluar sekarang juga! Sebelum aku panggil satpam buat seret kamu ke jalanan!"
Dengan kasar, Bu Rahmi meraih tas kresek di tangan Cak Mat. Saat ia melihat gagang kayu tua yang menonjol keluar, ia menarik wajan itu dan melemparkannya ke aspal jalanan yang basah. Prang! Suara logam berat menghantam aspal bergema di gang sempit itu.
"Apa-apaan ini? Kamu simpan sampah di rumahku? Wajan rongsokan begini? Bahkan tukang loak pun bakal muntah kalau liat ini!" maki Bu Rahmi sambil meludah ke samping. "Keluar!"
Pintu kayu itu dibanting tepat di depan hidung Cak Mat. Bunyi kunci yang diputar dua kali menjadi penutup resmi bagi masa depannya di tempat itu. Cak Mat berdiri di bawah guyuran hujan yang kian deras. Bajunya yang tipis langsung basah kuyup, menempel erat pada tubuhnya yang tegap namun kurus.
Ia berjalan perlahan, memungut wajan hitam itu dari genangan air. Wajahnya terpantul samar di permukaan air yang kotor. Cak Mat mengusap jelaga yang menempel di permukaan wajan itu dengan lengan bajunya. Ini adalah satu-satunya harta yang ditinggalkan almarhum kakeknya di desa sebelum ia berangkat merantau ke Jakarta dua tahun lalu.
"Mat, wajan ini lebih dari sekadar besi. Ini adalah jantung. Jangan biarkan apinya mati," pesan kakeknya sebelum mengembuskan napas terakhir. Saat itu, Mat hanya menganggap itu adalah bualan orang tua yang mulai pikun. Tapi sekarang, saat ia tidak punya apa pun lagi, wajan ini terasa seperti satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak gila di kota yang kejam ini.
Langkah kaki Mat membawanya menyusuri gang-gang sempit, menghindari jalan raya yang macet dengan mobil-mobil mewah milik para eksekutif yang pulang kantor. Ia sampai di sebuah area di belakang gedung perkantoran tinggi di kawasan SCBD. Di sana, terdapat sebuah gang buntu yang remang-remang, hanya diterangi oleh lampu jalan yang berkedip-kedip seolah mau mati.
Mat berteduh di bawah emperan toko kelontong yang sudah tutup. Badannya menggigil hebat. Bibirnya mulai membiru karena hipotermia ringan. Perutnya berbunyi nyaring, sebuah pengingat bahwa ia belum menyentuh makanan sejak kemarin pagi.
Ia merogoh saku celananya. Kosong. Hanya ada satu uang logam lima ratus perak yang tidak akan cukup untuk membeli sebatang rokok sekalipun.
"Sial... apa aku akan mati kelaparan malam ini?" bisiknya pada diri sendiri.
Mat menatap wajan hitam di pangkuannya. Anehnya, meski udara sangat dingin, wajan itu terasa hangat. Bahkan, sisa-sisa air hujan yang menempel di permukaannya mulai menguap, menciptakan kabut tipis yang berputar-putar.
Mat merasa pusing. Rasa lapar yang melilit perutnya mulai membuatnya berhalusinasi. Ia melihat seolah-olah permukaan wajan yang kasar itu mulai berdenyut seperti jantung manusia. Rasa panas menjalar dari telapak tangannya menuju ke seluruh tubuh, mengusir rasa dingin yang tadi menguasainya.
Tiba-tiba, dari kegelapan gang, muncul aroma yang sangat kuat. Aroma yang tidak seharusnya ada di gang buntu yang kotor dan basah. Aroma bawang putih yang ditumis dengan mentega, harum lada yang tajam, dan aroma smoky dari api kayu bakar yang sangat murni.
Aroma itu bukan berasal dari restoran mana pun. Aroma itu keluar dari pori-pori wajan hitam yang dipegang Mat.
Mat mengerjapkan mata. Di depannya, di atas aspal yang masih basah, ia melihat ada sebuah tas belanja kain yang entah milik siapa, mungkin terjatuh dari motor yang lewat. Ia membukanya dengan gemetar. Di dalamnya ada sedikit sisa beras dalam plastik yang bocor, sebutir telur yang retak tapi belum pecah, dan beberapa siung bawang yang sudah mulai bertunas.
"Kek... maafkan Mat. Mat benar-benar lapar," gumamnya.
Ia mencari beberapa ranting kayu kering di tumpukan sampah konstruksi di sudut gang. Dengan sisa tenaga, ia menyusun api kecil. Begitu wajan hitam itu diletakkan di atas api, sesuatu yang gila terjadi. Api yang tadinya kuning kemerahan berubah menjadi biru cerah yang menyilaukan.
Mat mulai memasak. Ia tidak punya minyak, tapi begitu bawang menyentuh wajan, logam itu mengeluarkan minyak alami yang sangat bening. Ia memasukkan beras yang sudah ia bersihkan dengan air hujan yang tertampung di plastik.
Saat ia mulai mengaduk, asap yang keluar dari wajan tidak menyebar ditiup angin. Asap itu bergulung-gulung, memadat, dan membentuk bayangan seekor makhluk melata yang panjang dengan sisik-sisik yang berkilauan. Mata makhluk asap itu merah membara, menatap Mat dengan rasa lapar yang sama.
Mat tidak takut. Sebaliknya, ia merasa ada kekuatan besar yang mengalir dari gagang wajan ke pembuluh darahnya. Ia mengocok telur dan menuangkannya. Cshhh! Bunyi desisan itu terdengar seperti musik orkestra di telinganya.
Tanpa ia sadari, ia melakukan teknik memasak tingkat tinggi. Ia melempar nasi ke udara, dan nasi itu jatuh kembali ke wajan tanpa ada satu butir pun yang tumpah. Aromanya kini memenuhi seluruh blok, menyelinap masuk ke celah-celah jendela gedung tinggi di atasnya, merayap ke indra penciuman siapa pun yang ada di sana.
Di lantai 40 gedung perkantoran mewah di seberang gang, seorang wanita berdiri di balkon kaca. Saphira, CEO muda yang dikenal sebagai "Permaisuri Es", tiba-tiba menghentikan gerakannya menyesap anggur merah. Lidahnya yang selama setahun ini mati rasa, tiba-tiba mengeluarkan air liur. Sesuatu yang sangat primitif dalam dirinya terbangun.
Ia menatap ke bawah, ke arah gang gelap yang terlihat kumuh. Di sana, di tengah kegelapan, ia melihat secercah cahaya biru yang aneh dan kepulan asap berbentuk naga yang menari-nari.
Kembali ke gang, Cak Mat baru saja akan menyuap sesendok nasi goreng yang paling sederhana namun paling ajaib dalam hidupnya. Namun, sebelum sendok itu mencapai bibirnya, suara langkah kaki sepatu hak tinggi yang beradu dengan aspal basah terdengar mendekat.
Seorang wanita dengan gaun kerja hitam yang sangat elegan, rambut panjang yang basah sedikit oleh gerimis, dan tatapan mata yang penuh rasa lapar yang gila, berdiri di depan Cak Mat.
"Berikan padaku," ucap wanita itu dengan suara rendah yang penuh otoritas, namun bergetar. "Aku akan bayar berapa pun. Berikan makanan itu padaku."
Cak Mat mendongak, matanya bertemu dengan mata Saphira. Di saat yang sama, wajan hitam di hadapannya bergetar hebat, mengeluarkan suara berdengung seolah sedang memperingatkan sesuatu. Cak Mat merasakan panas yang luar biasa di dadanya, dan saat ia menatap nasi goreng itu, ia melihat butiran nasi itu bersinar seolah mengandung emas cair.
"Maaf, Mbak. Ini bukan buat dijual," jawab Cak Mat tenang, meski jantungnya berdegup kencang melihat kecantikan wanita di depannya.
Wanita itu melangkah maju, masuk ke dalam lingkaran cahaya api biru. Ia merogoh dompet kulitnya dan melemparkan segepok uang seratus ribuan ke atas tanah, tepat di depan kaki Cak Mat yang telanjang dan kotor.
"Aku tidak minta izin. Aku memesannya," desis Saphira.
Namun, saat Saphira hendak meraih wajan itu, asap berbentuk naga tadi menukik turun, mengeluarkan raungan sunyi yang hanya bisa dirasakan oleh batin mereka berdua. Api biru melonjak tinggi, memisahkan mereka.
Di ujung gang, sesosok bayangan pria tinggi dengan jubah hitam mengawasi mereka dari balik kegelapan. Ia memegang sebuah belati kecil bermotif naga yang sama dengan yang ada di wajan Mat.
"Pewarisnya telah terbangun," bisik pria itu dengan seringai dingin. "Dan perang rasa ini akan dimulai dengan darah."