Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pewaris Ilmu Pijat Kuno

Pewaris Ilmu Pijat Kuno

@sky_blue | Bersambung
Jumlah kata
42.1K
Popular
6.6K
Subscribe
914
Novel / Pewaris Ilmu Pijat Kuno
Pewaris Ilmu Pijat Kuno

Pewaris Ilmu Pijat Kuno

@sky_blue| Bersambung
Jumlah Kata
42.1K
Popular
6.6K
Subscribe
914
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurHarem21+
PERINGATAN BANYAK ADEGAN 21++ 🔞🔞 Bima seorang mahasiswa Bahasa Inggris di salah satu kampus ternama yang hidup pas-pasan demi mempertahankan mimpinya lulus kuliah. Ketika biaya kuliah hampir sembilan juta rupiah mengancam membuatnya dikeluarkan, ia nekat meminta bantuan kepada Novita, perempuan yang selama ini diam-diam ia sukai dan selalu ia bantu dalam berbagai kesulitan. Namun yang ia terima bukanlah bantuan. Di depan banyak mahasiswa, Bima justru dipermalukan dan dianggap tidak akan pernah mampu mengembalikan uang sebanyak itu. Malam yang sama mengubah hidupnya. Di tengah hujan, ia menolong seorang kakek misterius yang sedang diburu orang-orang tak dikenal. Sebelum mengembuskan napas terakhir, sang kakek mewariskan sebuah rahasia yang telah dijaga selama puluhan tahun. Warisan terakhir Aliran Surya Nadi. Sejak saat itu, kedua tangan Bima bukan lagi tangan biasa. Dengan ilmu pijat kuno yang mampu memulihkan tubuh dan menghilangkan berbagai keluhan, namanya mulai dikenal dari kalangan mahasiswa hingga para pengusaha kaya. Namun semakin tinggi ia melangkah, semakin banyak pula rahasia dan musuh yang muncul untuk merebut warisan tersebut. Kini Bima harus memilih. Menggunakan kekuatan itu demi membalas semua penghinaan yang pernah ia terima... Atau menjaga amanah yang telah diwariskan kepadanya. Karena tanpa ia sadari, dirinya adalah pewaris terakhir ilmu pijat kuno yang selama puluhan tahun dicari banyak orang.
Bab 1 - Tangan Meminta

Plak! Plak! Plak!

Suara berirama kulit bertemu kulit itu terdengar begitu intens di dalam ruangan yang sunyi. Deru napas memburu dan lenguhan pasrah seorang wanita berparas matang terdengar bersahut-sahutan, pasrah menerima setiap hantaman gila dari sosok pria yang kini mendominasinya tanpa ampun.

Di atas kasur lantai itu, Bima tersenyum nakal. Cincin batu hitam di jarinya berkilau samar di bawah remang cahaya, mengalirkan daya tahan fisik yang luar biasa dan energi gaib yang membuat pusaka jumbonya menegang sempurna, mengunci liang intim sang wanita hingga tak berdaya.

Siapa sangka, pemuda yang kini menjelma menjadi macan liar yang ditakuti sekaligus dipuja oleh para wanita itu, beberapa waktu lalu hanyalah seorang mahasiswa miskin yang harga dirinya diinjak-injak di kantin kampus?

Semua kegilaan ini ... bermula dari sebuah siang yang terkutuk.

Bima menekan layar ponselnya untuk ketiga kalinya dalam sepuluh menit terakhir.

Notifikasi dari portal akademik kampus masih terpampang di sana, tidak berubah, tidak peduli seberapa sering ia refresh.

Tunggakan biaya kuliah: Rp 8.750.000. Batas pembayaran: 14 hari.

Ia mengunci layar. Menatap langit-langit kosong kamar kosnya yang catnya sudah mengelupas di sudut kiri. Kipas angin butut di pojok ruangan berputar pelan, lebih banyak mengeluarkan suara derit daripada angin.

Empat belas hari.

Bima duduk di tepi kasur tipis itu dan menghitung ulang dalam kepalanya. Bukan untuk pertama kali, tapi untuk kesekian kali sejak notifikasi itu pertama muncul tiga hari lalu.

Tabungannya? Empat ratus ribu lebih sedikit. Kiriman dari ibu bulan ini sudah habis untuk bayar kos dan makan.

Beasiswa KIP yang ia ajukan semester lalu? Ditolak dengan alasan kuota penuh.

Pinjaman online? Ia sudah buka tiga aplikasi, menghitung bunga, lalu menutupnya lagi. Delapan juta lebih dengan bunga dua persen per minggu bukan solusi, itu jebakan mati.

Minta ibu tambahan? Tidak mungkin. Ia tahu persis kondisi ekonomi di rumah sedang sekarat.

Semua pintu sudah ia ketuk. Tinggal satu yang belum. Dan pintu itu bernama Novita.

Kantin kampus selalu ramai di jam sebelas siang. Bima menemukannya di meja biasa, pojok kanan, dekat jendela, tempat Novita selalu duduk bersama dua teman perempuannya.

Ia menarik napas panjang sebelum melangkah mendekat. "Nov."

Novita mendongak. Rambutnya diikat setengah hari ini, ada stiker kecil berbentuk bintang di sudut ponselnya. Dulu Bima yang belikan stiker itu, waktu mereka sama-sama jalan ke bazar kampus bulan lalu.

"Oh, Bima." Nada suaranya biasa saja. Bukan dingin, tapi juga tidak hangat. "Kenapa, Bim?"

"Bisa ngobrol sebentar? Penting," ucap Bima setengah berbisik.

Salah satu temannya, Rena, langsung menoleh dengan ekspresi setengah penasaran setengah menghakimi. Novita melirik temannya itu sebentar, lalu mengangguk pelan. "Duduk aja."

Bima duduk di kursi seberang. Di sekelilingnya, meja-meja lain penuh mahasiswa yang makan, ngobrol, dan tertawa.

Tidak ada yang memperhatikan mereka. Tapi entah kenapa, Bima merasa semua orang bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang.

"Gue mau minta tolong," katanya langsung tanpa basa-basi.

"Tolong apa?" tanya Novita mengerutkan kening.

"Pinjam uang." Bima mengeluarkan kalimat itu seperti mencabut gigi, rasanya amat berat. "Buat bayar UKT. Delapan juta lebih. Gue janji bakal balik dalam..."

"Berapa?!" potong Rena yang tiba-tiba menyela dengan suara meninggi.

Bima menelan ludah, lalu mengulang. "Delapan juta itu ratus lima puluh ribu."

Hening sebentar.

Lalu Rena tertawa kecil. Bukan tawa yang halus, melainkan tawa bernada ejekan yang sedari tadi sudah menunggu untuk keluar.

"Serius lo? Delapan juta?" cemooh Rena sinis.

"Ren, udah." Novita mengangkat satu tangan, tapi nada suaranya sama sekali tidak berniat menghentikan temannya itu.

Bima menatap lurus ke mata Novita. "Nov, lo tahu gue. Gue bukan tipe yang minta kalau gue gak beneran butuh. Gue udah coba semua jalan. Beasiswa ditolak, pinjol bunganya gila-gilaan, minta ibu juga gak mungkin kondisinya. Lo satu-satunya yang gue pikir bisa bantu."

Novita diam sebentar. Ia meletakkan sendoknya ke atas piring.

"Gue tahu lo gak sembarangan minta, Bim. Tapi delapan juta itu bukan angka yang kecil," ucap Novita perlahan.

"Gue tahu, Nov."

"Dan lo mau bayar balik kapan? Dari mana?" tanya Novita lagi, nadanya mulai meragukan.

"Gue lagi cari kerja sambilan. Gue..."

"Kerja sambilan?" Rena kembali memotong dengan intonasi meremehkan. "Bim, lo kan anak Sastra Inggris. Kerja sambilan lo paling jadi guru les privat. Berapa sih memangnya penghasilan guru les?"

"Ren."

"Gue serius nanya, Nov. Bukan nyindir," lanjut Rena menatap Bima dengan tampangan yang justru lebih menyakitkan dari sindiran terbuka. "Lo pikir realistis gak sih, Bim? Nyari delapan juta dari guru les, itu butuh berapa bulan? Keburu lo DO!"

Bima tidak menjawab.

Bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena meja sebelah sudah mulai menoleh ke arah mereka. Dua cowok yang dari tadi makan bakso sekarang menatap Bima dengan ekspresi setengah heran setengah terhibur, menonton harga diri Bima yang sedang dikuliti.

Tenang. Bima memaksa batinnya sendiri. Ini bukan tempat untuk emosi.

"Nov," kata Bima pelan, menatap kekasihnya itu. "Gue minta tolong ke lo sebagai teman dekat. Bukan sebagai bank."

Novita menghela napas panjang. Seperti orang yang sedang mencari cara paling sopan untuk mengatakan sesuatu yang sangat kasar.

"Bim, jujur ya." Novita menatap Bima dingin. "Gue gak punya uang segitu yang bisa gue kasih gitu aja. Dan kalaupun ada... gue gak yakin itu bijak. Bukan karena gue gak percaya lo, tapi gue gak mau situasi ini jadi awkward di antara kita ke depannya."

"Awkward..." Bima mengulang kata itu dengan senyum getir.

"Iya. Maaf ya, Bim."

"Oke." Bima berdiri dari kursinya.

Kursi kayu itu sedikit bergeser dan mengeluarkan suara derit yang terlalu keras, seolah mempertegas situasi yang sudah terlanjur hancur. "Makasih, Nov."

"Bim..." Novita sempat memanggil.

Namun, Bima sudah melangkah pergi dengan dada sesak. Di belakangnya, ia masih bisa mendengar suara Rena yang sengaja tidak direndahkan.

"Masa depan aja gak jelas, berani banget minta delapan juta. Gak tahu diri ya."

Dan yang paling menyakitkan bagi Bima, ia tidak mendengar Novita menyuruh Rena untuk diam. Hubungan mereka resmi hancur siang itu.

Hujan deras turun tanpa peringatan tepat pukul delapan malam.

Bima terpaksa berjalan kaki dari warnet tempatnya mengirim lamaran kerja ke beberapa platform freelance. Ia sengaja meninggalkan motor bebek tuanya di kosan karena sisa bensin di tangkinya sudah sangat kritis. Uang di kantongnya pun sudah tidak tersisa lagi untuk sekadar membeli seliter bensin eceran.

Jaketnya tipis, dan dalam tiga menit tubuhnya sudah basah kuyup.

Ia tidak berjalan buru-buru. Lagipula, mau buru-buru ke mana?

Tujuan akhirnya tetap sama. Kamar kos yang pengap. Notifikasi portal akademik yang mencekik. Empat belas hari yang sekarang tersisa sebelas hari lagi.

Saat melewati gang kecil yang remang di belakang gedung ruko yang sebagian besar sudah tutup, telinga Bima menangkap sesuatu.

Bugh!

Suara benturan keras disusul erangan pelik terdengar. Bima menghentikan langkahnya.

Dari balik dinding gang, ada suara langkah kaki cepat, lalu suara seseorang yang tersungkur ke tanah. Bima melangkah pelan ke ujung gang, lalu mengintip berhati-hati.

Seorang kakek tua tampak terduduk lemas di tanah yang becek. Bajunya kusut dan ada sobekan besar di lengan kirinya.

Tiga langkah di depannya, dua laki-laki berbadan besar dan kekar berdiri dengan ekspresi bengis yang mengintimidasi.

"Udah tua masih susah diajak kerja sama ya!" gertak salah satu pria berbadan kekar itu.

"Kasih dulu barangnya, Kek! Kami gak mau bikin susah!" timpal pria yang satunya lagi.

Kakek itu mendongak. Matanya menyorotkan kilat tajam meski tubuh rentanya gemetar hebat. "Tidak akan kalian dapatkan... selama aku masih bernapas!"

"Nah, kebetulan itu yang lagi kami pertimbangkan untuk kami sudahi." Pria kekar itu mengepalkan tinjunya, siap menghajar sang kakek.

Bima seharusnya pergi. Itu pilihan paling masuk akal bagi manusia normal. Dua orang lawan satu, di gang gelap yang sempit.

Bima bukan jagoan, bukan ahli bela diri. Ia hanya mahasiswa sastra miskin yang bahkan tidak sanggup membayar UKT-nya sendiri.

Namun, kakinya mendadak tidak bisa digerakkan ke arah yang benar. Hatinya menolak untuk menjadi pengecut.

"Hei! Berhenti!"

Suara lantang itu keluar dari mulut Bima sebelum otaknya sempat menyetujui.

Kedua laki-laki berbadan besar itu seketika menoleh serentak. Bima melangkah masuk ke dalam gang, memposisikan dirinya berdiri tegak di antara para preman dan kakek tua itu. Dadanya berdebar terlalu kencang, namun ia mencoba berakting setenang mungkin.

"Kalian ngapain?!" gertak Bima. Suaranya terdengar lebih stabil dari yang ia duga.

"Minggir, anak muda! Jangan cari mati, ini bukan urusan lo!" ancam preman berbaju hitam.

"CCTV di ujung gang ini nyala dan terhubung langsung ke pos polisi," Bima berbohong dengan wajah lurus tanpa berkedip. "Dan gue udah merekam aksi kalian dari tadi!"

Bima mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. Layar kameranya memang terbuka, ia lupa mematikannya setelah memfoto struk warnet tadi, meski sebenarnya ia tidak merekam apa pun.

Kedua laki-laki itu saling bertukar pandang, tampak ragu dan was-was.

Bugh!

Salah satu dari mereka mendorong bahu Bima dengan keras hingga tubuh pemuda itu membentur dinding bata, sebelum akhirnya kedua preman itu memilih kabur melarikan diri dengan langkah cepat ke arah jalan raya.

Bima mengembusen napasnya yang sempat tertahan. Lututnya baru terasa gemetar hebat sekarang, tepat setelah bahaya itu pergi berlalu.

Ia segera berbalik ke arah kakek tua itu. Kondisinya sangat renta, mungkin berusia delapan puluh tahun lebih. Rambutnya memutih sempurna, dengan tangan penuh urat menonjol yang bergetar.

Namun, sepasang mata kakek itu menatap Bima dengan sorot yang dalam. Bukan sekadar rasa terima kasih biasa. Tatapan itu seolah menyiratkan bahwa sang kakek sudah mengenali jiwa Bima sejak lama.

"Anak muda..." Suaranya parau dan berat. "Kamu... tidak takut?"

"Takut, Kek," jawab Bima jujur seraya berjongkok di hadapannya. "Lutut gue bahkan masih gemetar sampai sekarang."

Kakek itu tersenyum tipis, sangat tipis. "Tapi kamu tetap memilih untuk menolongku."

"Refleks, Kek. Mungkin saya agak bodoh," Bima meringis, lalu menatap sobekan berdarah di lengan kakek itu. "Bapak perlu saya antar ke klinik terdekat?"

"Tidak perlu, Nak." Kakek itu mencoba bangkit berdiri.

Bima dengan cekatan otomatis mengulurkan tangannya, menopang tubuh ringkih sang kakek dengan hati-hati. "Hanya perlu istirahat sebentar."

"Saya antar pulang ke rumah ya? Bapak tinggal di mana?" tanya Bima menawarkan diri.

Kakek itu tidak langsung menjawab. Ia justru menatap telapak tangan Bima yang masih menggenggam erat lengannya, lama sekali, seolah sedang membaca garis-garis takdir di sana.

"Kamu..." ucap kakek itu akhirnya dengan suara yang sangat pelan namun berwibawa. "Punya tangan yang bagus."

Bima tertegun, tidak tahu harus menjawab apa.

"Bim..." Kakek itu mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata Bima. "Bukan karena tanganmu kuat. Tapi karena kamu menggunakan tangan itu untuk menegakkan hal yang benar, meskipun kamu tahu tidak ada keuntungan materiil bagimu."

Hujan masih mengguyur bumi siang menuju malam itu. Bima masih berjongkok di gang sempit yang bau got, memegangi lengan kakek misterius yang bahkan belum ia ketahui namanya.

Namun, untuk pertama kali sejak penolakan memalukan di kantin kampus tadi siang, Bima merasakan sesuatu yang hangat bergejolak di dalam dadanya. Bukan lagi rasa sakit atau kehinaan.

Sesuatu yang belum bisa ia beri nama. Tapi rasanya... seperti sebuah takdir baru yang besar baru saja dimulai.

Kadang, awal dari segalanya bukanlah cahaya yang menyilaukan. Kadang, takdir agung justru dimulai dari derasnya hujan, gang yang gelap, dan satu keputusan bodoh yang ternyata mengubah seluruh jalannya dunia.

Lanjut membaca
Lanjut membaca