

Gugusan pegunungan itu menjulang tinggi, sambung-menyambung seolah membelah langit.
Sinar matahari pagi yang cerah bagaikan senyum gadis remaja. Namun, di pedalaman Pegunungan Halimun, kabut tebal selalu menggantung sepanjang tahun, menciptakan ilusi alam gaib yang misterius.
Seorang pemuda belasan tahun dengan pakaian penuh noda darah kering, berjalan gontai keluar dari balik kabut tebal hutan belantara itu, menapaki kaki Pegunungan Halimun.
"Sudah genap satu bulan... dan aku masih hidup!"
Pemuda itu menghentikan langkahnya. Ia mendongak menatap langit biru, dan menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara pegunungan yang segar.
Meski baru enam belas tahun, perawakannya sudah terbentuk sempurna. Tingginya nyaris seratus delapan puluh sentimeter. Tubuhnya ramping, kulitnya bersih, dan wajahnya lumayan tampan. Namun, di balik sepasang matanya yang jernih dan tajam, sesekali melintas kilat kepedihan yang terlalu tua untuk anak seusianya.
Kemeja putihnya sudah menguning karena terlalu sering dicuci. Celana kain kasarnya pun sudah pudar tak berbentuk warnanya. Kalau saja ia tidak berdandan ala anak kampung tulen begini, pesonanya pasti bisa disandingkan dengan aktor-aktor Korea yang sering wara-wiri di televisi.
"Aku pasti akan mencari tahu siapa bangsat yang menjebakku! Kalau dendam ini tak terbalas, aku, Yudha Pratama, lebih baik tidak usah jadi manusia!"
Yudha berbalik, menatap tajam ke arah ibu kota Kecamatan Cikaso yang berada di luar cincin pegunungan. Kedua tangannya mengepal erat, memancarkan kilat permusuhan dari matanya.
---
Yudha Pratama tinggal di Kampung Bojong, sebuah desa miskin di kaki Pegunungan Halimun. Yatim piatu sejak bayi, ia dipungut dan dibesarkan oleh Mbah Karto, seorang bujangan tua tukang kusir delman di kampung itu.
Mbah Karto usianya sudah enam puluhan. Warga kampung memanggilnya "Karto Pincang". Waktu muda, dia pernah digebuki warga sampai kakinya patah gara-gara ketahuan mengintip mahasiswi KKN yang sedang mandi. Buntutnya, dia dipenjara sepuluh tahun. Keluar dari bui, Mbah Karto bukannya tobat malah makin hancur. Mabuk, judi, ngutang, nipu, sampai rutinitas mengintip janda-janda kampung mandi—semua kelakuan minus diborongnya.
Punya bapak angkat dengan reputasi preman mesum kampung tingkat dewa, membuat Yudha tumbuh besar diiringi tatapan sinis, cibiran, dan sumpah serapah tetangga.
Demi mengubah nasibnya yang suram, Yudha belajar mati-matian. Ia memegang teguh pepatah sakti, "Pendidikan adalah kunci kesuksesan".
Otaknya encer dan tekadnya sekeras baja. Dari SD sampai SMA, namanya selalu nangkring di peringkat pertama paralel tanpa pernah tergeser.
Kini, ia bersekolah di SMA Negeri 1 Cikaso, sekolah unggulan di kecamatan tersebut. Sayangnya, Yudha yang kelewat lurus dan cuma tahu buku ini tidak sadar kalau takhta "Peringkat Satu"-nya selalu membuat Siska, primadona sekolah, mendidih kepanasan karena dengki.
Siska punya segalanya: keluarga kaya raya, wajah cantik jelita, dan otak yang lumayan pintar. Dia selalu jadi juara dua. Baru masuk kelas satu saja, gelarnya sebagai kembang sekolah sudah tak terbantahkan. Entah berapa banyak anak orang kaya dan bad boy sekolah yang rela jadi anjing peliharaannya demi mendapat seulas senyuman.
Tapi, selalu berada di bawah bayang-bayang si gembel Yudha membuat gengsinya terluka parah.
Kenapa? Kenapa cowok miskin gembel kayak Yudha selalu juara satu? batin Siska tak terima.
Sebagai cewek kasta tertinggi, dia harus jadi nomor satu di segala hal—termasuk nilai rapor. Siska tipe perempuan manipulatif yang menghalalkan segala cara demi ambisi.
Untuk menyingkirkan saingan terberatnya itu, Siska memanfaatkan Bagas, kakak kelas yang selama ini menempel padanya bagai lintah.
Bagas ini siswa kelas tiga. Bapaknya adalah Kepala Sekolah, sedangkan ibunya pejabat tinggi di Dinas Pendidikan Kabupaten. Lengkap sudah privilesenya untuk jadi preman sekolah tanpa takut sanksi. Tidak ada perbuatan bejat yang tidak berani ia lakukan.
Demi mendapat hati sang primadona, Bagas—yang notabene masih pelajar—merancang sebuah jebakan iblis yang bahkan preman pasar pun belum tentu kepikiran. Ia menyuruh kacungnya, Rendy—yang tak lain adalah teman sekamar Yudha di asrama—untuk menyelundupkan sekantong penuh pakaian dalam wanita ke dalam lemari pakaian Yudha. Setelah itu? Tentu saja Bagas berlagak menelepon satpam sekolah untuk melaporkan temuan mencurigakan.
Bukti tertangkap basah. Yudha panik dan kehabisan kata-kata untuk membela diri.
Apalagi belakangan ini, asrama putri dan kos-kosan guru perempuan memang sedang diteror sosok mesum. Bra dan celana dalam yang dijemur di balkon sering raib bak ditelan bumi. Situasi ini membuat para siswi dan guru perempuan sampai paranoid dan tak berani menjemur cucian di luar.
Padahal, si maling mesum itu sebenarnya adalah Bagas sendiri! Dan semua pakaian dalam di lemari Yudha itu adalah hasil curiannya!
Pihak keamanan sekolah yang memang sedang pusing tujuh keliling mencari pelakunya langsung girang. Kasus "terpecahkan". Si maling mesum ternyata adalah Yudha, siswa teladan kebanggaan sekolah!
Karena usia Yudha masih di bawah delapan belas tahun, pihak sekolah tidak menyerahkannya ke polisi. Sebagai gantinya, Yudha langsung diberi sanksi mutlak: Dikeluarkan dengan tidak hormat.
"Gila, ya! Benar-benar musang berbulu domba! Siapa sangka anak sepintar Yudha ternyata otaknya mesum begitu! Jijik banget!"
"Ya ampun, usianya baru enam belas tahun lho, tapi kelakuannya udah kayak om-om cabul! Anak zaman sekarang emang krisis moral!"
"Cuih! Sampah kayak dia emang pantes ditendang dari sekolah! Jangan-jangan lingerie merah marunku yang baru beli itu dia yang nyolong! Ih, pasti dipakai buat hal-hal yang nggak bener tuh!"
"Buset dah, si Yudha diam-diam menghanyutkan, Bro! Eh, kira-kira tuh kolor sama beha buat apaan ya sama dia?"
"Ah elah, Lu pura-pura bego atau emang kelewat polos, Tom? Lu kira film-film biru yang sering Lu tonton di HP itu buat pajangan doang?"
"Hehe, kalian pada nggak tahu aja. Katanya sih, bapak angkatnya di kampung tuh preman cabul, hobi ngintipin janda mandi! Ya wajar lah kalau buah jatuh nggak jauh dari pohonnya! Genetiknya udah mesum dari sono!"
Diiringi sumpah serapah, cibiran, dan tatapan jijik dari seluruh warga sekolah, Yudha memanggul karung goni berisi baju dan buku-bukunya. Ia melangkah keluar dari gerbang sekolah dengan air mata ketidakadilan yang menggenang.
"Yudha Pratama! Kamu cowok paling brengsek dan nggak tahu malu! Nggak nyangka aku kamu punya kelainan seburuk ini! Sial banget aku bisa jadi pacar kamu! Mukaku mau ditaruh di mana?! Dengar ya, masa depanmu sudah hancur! Mulai detik ini, kita putus! Jangan pernah hubungi aku lagi sampai mati!"
Tepat di depan gerbang sekolah, Sari—teman masa kecil sekaligus pacarnya yang sama-sama masuk ke SMA 1 Cikaso—mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi Yudha. Tanpa memberikan kesempatan sedikit pun bagi Yudha untuk menjelaskan, gadis itu berbalik dan pergi dengan penuh amarah.
"Sari... bahkan kamu nggak percaya kalau aku dijebak?"
Air mata Yudha akhirnya menetes melihat punggung gadis itu menjauh. Hatinya terasa diiris sembilu.
Sari adalah gadis dari kampung yang sama dengannya. Ayah Sari adalah residivis kelas teri, copet langganan penjara. Sama seperti Yudha, Sari tumbuh besar dengan stigma negatif dari orang kampung. Anak-anak lain dilarang keras orang tuanya bermain dengannya.
Merasa senasib sepenanggungan, Yudha dan Sari pun dekat. Mereka sering belajar bersama dan berjuang mati-matian hingga bisa tembus ke SMA unggulan ini.
Sebenarnya, otak Sari tergolong pas-pasan. Peluangnya masuk universitas negeri sangat kecil. Beda dengan Yudha yang punya jalan tol menuju kampus top. Sari, yang menyadari hal itu dan punya perhitungan panjang, sengaja mendekati Yudha dan mau jadi pacarnya demi mengamankan masa depannya sendiri. Ia melihat Yudha sebagai aset berharga.
Tapi kini? Yudha tertangkap basah melakukan hal memalukan dan ditendang dari sekolah. Aset itu hangus sudah. Baginya, cowok tanpa masa depan tak ubahnya sampah. Sari adalah tipe perempuan realistis yang tahu kapan harus membuang beban. Makanya, ia langsung memutuskan hubungan tanpa pikir panjang.
"Kenapa... kenapa harus begini? Aku difitnah! Ada yang sengaja merancang semua ini! Tapi siapa yang memfitnahku?!"
Didepak dari sekolah dan dicampakkan pacar di hari yang sama, Yudha hancur lebur mendapat pukulan ganda. Kepalanya pusing, pikirannya kalut seperti benang kusut. Ia berjalan limbung bak zombi, tak tentu arah menyusuri jalanan kecamatan.
Yudha ini tipe anak kuper. Pendiam, hidupnya cuma bolak-balik asrama dan perpustakaan. Dia tidak pernah mencari masalah dengan siapa pun. Dipikir sampai botak pun, ia tak bisa mengingat siapa orang yang pernah ia singgung.
Hari makin gelap. Tanpa sadar, langkah kakinya membawa ia ke pinggiran kota, tepat di tepi Sungai Cikahuripan.
Sungai Cikahuripan ini adalah sungai besar dengan arus yang sangat deras, membelah wilayah Pegunungan Halimun dan bermuara ke lautan lepas. Dulu, saat akhir pekan, ia dan Sari sering menghabiskan waktu duduk-duduk di sini.
Tiba-tiba, dua preman tanggung berambut pirang jagung, usianya sekitar delapan belasan, mencegat langkahnya.
"Woi, bocah udik! Hari ini perayaan hari keluarnya Lu dari sekolah, kan? Ada 'bos' dari SMA 1 Cikaso yang bayar kita buat ngasih Lu salam perpisahan..."
Kedua preman itu tersenyum licik. Tanpa ba-bi-bu, bogem mentah dan tendangan langsung menghujani tubuh Yudha bertubi-tubi bak badai.
Meski posturnya tinggi, Yudha sama sekali tidak punya keahlian berkelahi. Ia langsung tumbang pada serangan pertama, meringkuk sambil memegangi kepalanya, bersimbah darah di atas tanah.
Agak jauh dari tempat itu, di pinggir jalan, sebuah mobil SUV putih terparkir menepi. Di bangku kemudi duduk si biang kerok, siswa kelas tiga bernama Bagas. Di bangku penumpang depan ada Siska si primadona sekolah, dan di kursi belakang duduk sang kacung pengkhianat, Rendy.
Ketiganya duduk santai di dalam mobil, tertawa cekikikan sambil menonton siaran live adegan Yudha digebuki habis-habisan.
Bagas rupanya belum puas hanya membuat Yudha dikeluarkan. Demi memamerkan kekuasaannya di depan Siska, ia menyewa dua preman jalanan untuk membuntuti Yudha dan memberinya 'hadiah perpisahan' spesial.
Hati Siska bersorak kegirangan. Dendam kesumatnya karena selalu kalah peringkat akhirnya terbalaskan dengan sangat memuaskan. Menatap wajah pongah Bagas, mata Siska berbinar penuh damba. Ia pun mencondongkan tubuhnya dan mendaratkan ciuman mesra di bibir Bagas sebagai hadiah.
Setelah puas menjadikan Yudha samsak hidup, kedua preman itu meludah kasar, mengumpat, lalu berjalan santai masuk ke dalam SUV tersebut.
Mobil itu pun melesat pergi, meninggalkan debu yang beterbangan.
Pukulan kedua preman itu sangat brutal. Wajah Yudha babak belur, seluruh tubuhnya remuk redam, dan ia tergeletak tak berdaya dalam genangan darahnya sendiri.
Malam makin pekat. Di pinggiran kota yang sepi ini, tak ada satupun orang lewat. Yudha tak punya ponsel genggam, tak ada cara memanggil ambulans atau melapor polisi.
Sambil menggertakkan gigi menahan rasa sakit yang luar biasa, ia memaksakan diri untuk berdiri, berniat berjalan mencari keramaian untuk meminta tolong. Namun, tiba-tiba pandangannya menggelap. Keseimbangannya hilang, dan ia pun jatuh tersungkur nyungsep ke dalam arus ganas Sungai Cikahuripan.
Kesialan bertubi-tubi yang menimpanya hari itu, dan jatuhnya ia ke Sungai Cikahuripan, tanpa disangka justru menjadi awal dari sebuah anugerah tersembunyi.