

Hujan deras mengguyur ibu kota Kekaisaran Arvandel, menenggelamkan jalan-jalan giok dalam lautan air dan kilau petir.
Langit meraung dengan petir, seolah-olah para dewa menolak menyaksikan aib yang akan tercatat dalam sejarah malam itu. Genderang istana berdentum berulang "Dumm! Dumm! Dumm!" suara yang menusuk tulang, bukan untuk merayakan kemenangan perang, melainkan untuk mengiringi seorang permaisuri ke liang kematian.
Di Pelataran Agung, ribuan lentera yang terguyur hujan berkedip lemah, nyalanya seakan ikut bergetar oleh ketakutan. Rakyat dan pejabat berdiri berderet, jubah mereka lepek oleh air, namun tak satu pun berani berkedip, takut kehilangan momen darah yang akan menodai batu giok istana.
Permaisuri Ayla Varendis.
Ia berlutut di tengah pelataran. Rambut hitamnya terurai kusut, menempel di wajah pucatnya yang masih menyimpan sisa keanggunan.
Sutra putih yang melekat di tubuhnya kini berubah menjadi abu-abu kusam, basah kuyup, bercampur lumpur dan darah tipis dari bibirnya yang pecah.
Meski tubuhnya gemetar, matanya tetap teduh, berkilau samar seperti bintang terakhir sebelum fajar tenang, seolah maut hanyalah pintu yang mesti dilewati.
Di singgasana naga emas, Kaisar Arvendis duduk kaku, wajahnya membatu seperti arca tanpa jiwa. Petir berulang kali menyambar langit, mencetak bayangan tajam pada matanya yang kelam.
Mata yang dulu pernah mencintai Ayla, kini tak lagi mengenal belas kasih.
"Ayla," suaranya bergema, berat, menggetarkan pilar-pilar istana.
"Engkau dituduh berkhianat, bersekongkol untuk menggulingkanku, mencemari tahta yang suci ini. Malam ini, di hadapan langit dan bumi, kau akan mati bukan sebagai permaisuri… melainkan sebagai pemberontak kekaisaran!"
Bisikan merayap di antara barisan pejabat. Ada yang puas, ada yang pura-pura menunduk. Beberapa selir menutup mulut dengan lengan baju, menahan senyum licik di balik pura-pura iba.
Di balik barisan prajurit, seorang pemuda meronta, tubuhnya ditahan kasar. Raka Arvendis.
Usianya baru tujuh belas, tapi luka-luka di tangannya adalah saksi latihan pedang yang tak kenal ampun. Matanya merah, wajahnya basah oleh hujan bercampur air mata.
Tubuhnya bergetar, bukan karena dingin, melainkan oleh amarah yang mendidihkan darah mudanya.
"Ibu!" raungnya, suara pecah menembus derasnya hujan.
"Ibu tidak bersalah! Ayah, kau tahu itu, bukan! Ibu tidak bersalah, Ayah!"
Rantainya berderak keras ketika ia menarik paksa, pergelangan tangannya tergores hingga berdarah. Prajurit menekan bahunya hingga ia berlutut di lumpur, wajahnya dipaksa menunduk.
Kaisar tidak menjawab. Ia hanya menoleh sekilas ke arah putranya tatapan dingin, dingin seperti mata ular, lalu mengangkat tangan.
"Laksanakan."
Seorang prajurit eksekutor maju. Pedang kerajaan terhunus, bilahnya berkilau keperakan di bawah cahaya petir. Hujan menetes dari ujungnya, seolah besi itu sudah haus darah.
Liang Sheng berteriak histeris, tubuhnya menghantam tanah, berusaha merangkak mendekati ibunya meski rantai mengiris kulitnya.
"Berhenti! Jangan sentuh ibuku! Kalian semuanya monster!"
Namun suara teriakannya terkubur di bawah duumm! Duumm! Duumm! Genderang perang.
Permaisuri Ayla Varendis menoleh, perlahan. Bibirnya yang pecah melengkungkan senyum tipis, senyum seorang ibu yang hendak menidurkan anaknya untuk terakhir kali.
"Putraku, Raka…" bisiknya, nyaris tak terdengar di tengah badai. "Jangan tangisi Ibu. Ingatlah… darah kita adalah darah sang naga. Tak ada pengasingan yang mampu memadamkan nyala itu."
Eksekutor menatap Kaisar. Kaisar Arvendis mengangguk.
Pedang terangkat tinggi, hujan menetes deras di bilahnya. Petir membelah langit.... dan pedang turun dengan kecepatan kilat.
"Slassshhh!"
Kepala Permaisuri Ayla terpisah dari tubuhnya, jatuh menghantam batu giok dengan bunyi basah. Darah menyembur deras, bercampur hujan, melukis pelataran dengan merah pekat.
Tubuhnya rebah, jubah putihnya ternodai genangan merah yang mengalir seperti sungai kecil di antara celah batu.
Kerumunan menahan napas. Sebagian bergidik, sebagian tersenyum puas. Tapi Raka Arvendis meraung, teriakan panjangnya menggema lebih keras daripada guntur.
"Ibuuu!!!"
Tangannya berdarah, kukunya patah saat berusaha meraih tubuh dingin yang terbujur. Air mata bercampur lumpur, wajahnya tak lagi wajah seorang pangeran, melainkan binatang terluka yang kehilangan segalanya.
Namun Kaisar berdiri. Suaranya menusuk, dingin, tanpa ampun:
"Buang anak itu! Mulai malam ini, Raka Arvendis bukan lagi darah kekaisaran. Hapus namanya dari silsilah. Ia hanyalah seorang buangan dan hanya ada satu larangan baginya: jangan pernah kembali ke istana ini lagi, seumur hidupnya!"
Prajurit menyeret tubuh Sheng ke tanah, menariknya menjauh dari jasad ibunya. Batu giok dingin menggores kulitnya, rantai besi meremukkan pergelangan tangannya.
Hujan semakin deras, seperti ratapan langit bagi darah yang baru saja menodai pelataran suci.
"Lepaskan aku! Bajingan! Kalian semua binatang tanpa hati!" teriak Raka, suaranya parau bercampur amarah. Ia meronta dengan tenaga sisa, tapi tubuhnya lunglai, seperti dirampas kekuatannya dari dalam.
Sebelum ibunya dituduh meracuni Kaisar, para tetua istana telah menyegel jalur meridiannya dengan formasi jarum emas.
Basis kultivasi Raka Arvendis di alam inti energi awal tingkat kedua, diratakan hingga tinggal abu.
Yang dulu dikenal sebagai salah satu genius muda Kekaisaran Arvandel, kini hanyalah cangkang kosong tanpa kekuatan.
"Diam, pengkhianat!" bentak salah seorang prajurit, menendang pinggangnya hingga ia terguling ke lumpur. Suara tawa kasar terdengar dari pasukan lain, seolah penderitaannya adalah hiburan.
Raka mencoba bangkit, tubuhnya goyah, wajahnya tertutup lumpur bercampur darah. Matanya, meski kabur oleh air mata, masih memandang lurus ke arah singgasana di kejauhan, ke arah ayahnya.
Kaisar Arvendis berdiri tak bergeming, jubah naga emasnya basah oleh hujan, tapi sorot matanya tetap dingin, seolah memandang orang asing, bukan putra kandungnya.
"Kaulah pengkhianat, Ayah!" suara Raka pecah, hampir tenggelam dalam hujan. "Kau membunuh istrimu sendiri… kau membunuh satu-satunya orang yang peduli denganku…!"
Namun teriakannya hanya ditelan oleh genderang yang kini berhenti berdentum, menyisakan kesunyian mencekam.
Tak lama kemudian, rantai besi yang melilit tubuhnya ditarik lebih keras. Raka diseret menuruni tangga pelataran, lalu digiring ke arah gerbang istana. Setiap langkah adalah penghinaan.
Di luar gerbang, rakyat ibu kota sudah menunggu. Mereka berkerumun bagai kawanan serigala yang haus darah. Begitu Sheng dilemparkan ke hadapan mereka, ejekan pun meledak.
"Lihat! Mantan putra mahkota, sekarang hanya pengkhianat busuk!"
"Bunuh saja dia! Jangan biarkan darah kotor seperti itu hidup di kekaisaran kita!"
"Puihh!"
Ludah jatuh ke wajah dan rambutnya. Batu-batu kecil dilemparkan, mengenai bahunya, pelipisnya. Seorang wanita tua bahkan menghantam punggungnya dengan tongkat kayu, matanya dipenuhi kebencian.
Raka terhuyung, berusaha bangkit. Jubahnya compang-camping, tubuhnya lebam, namun matanya menolak padam. Ia menatap kerumunan itu dengan sorot yang mengiris, suara seraknya memuntahkan amarah:
"Kalian percaya kebohongan istana! Ibuku bukan pengkhianat! Aku… aku akan membuktikannya! Suatu hari, kalian semua akan tahu siapa yang sebenarnya berlumur dosa!"
Namun teriakannya hanya disambut tawa sinis dan lebih banyak ludah yang menghina.
Akhirnya, prajurit menendangnya keras hingga tubuhnya terhempas ke tanah berbatu di luar gerbang. Hujan terus mengguyur, membasuh luka-lukanya, tapi juga membuatnya terlihat lebih menyedihkan.
Pintu gerbang istana ditutup perlahan, suara besinya menggema berat "ggrraaakkk!" seperti penjara yang menutup selamanya.
Kini, Raka Arvendis bukan lagi putra mahkota. Ia bukan lagi keluarga kekaisaran Arvandel. Ia hanyalah anak buangan.
Namun di lubuk hatinya, di bawah penderitaan yang mencekik, api lain menyala. Api yang kelak akan menelan dinasti ini hingga abu.