Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pendekar Lembah Neraka

Pendekar Lembah Neraka

Xeron | Bersambung
Jumlah kata
87.6K
Popular
68.0K
Subscribe
4.3K
Novel / Pendekar Lembah Neraka
Pendekar Lembah Neraka

Pendekar Lembah Neraka

Xeron| Bersambung
Jumlah Kata
87.6K
Popular
68.0K
Subscribe
4.3K
Sinopsis
FantasiFantasi TimurPendekarSilatPedang
Malam penuh bara menghancurkan segalanya. Raka Nandaka, bocah sepuluh tahun, menyaksikan keluarganya dibantai tanpa ampun. Ayahnya, kepala desa yang disegani, difitnah hingga amarah warga membakar habis rumah dan nama baiknya. Dikejar untuk dihabisi, Raka berlari tanpa arah hingga terperosok ke dalam hutan terlarang—tempat Datuk Aliran Hitam bersemayam, sosok mengerikan yang haus akan nyawa. Namun, takdir berkata lain. Bukannya mati, Raka justru menarik perhatian sosok yang lebih mengerikan: Datuk Maung Raja Geni, sang Majikan Lembah Neraka. Alih-alih membunuhnya, Datuk Maung melihat sesuatu dalam diri bocah itu—sesuatu yang layak ditempa. Di bawah didikannya, Raka tumbuh menjadi pendekar yang kelak mengguncang dunia persilatan dengan nama yang ditakuti semua orang: Pendekar Lembah Neraka. Dendam. Keadilan. Pengkhianatan. Semua akan dipertaruhkan dalam pertarungan yang membakar dunia persilatan!
Bab 1. Bocah Istimewa

Suara gemuruh hujan yang mulai mengguyur tanah bercampur dengan pekikan marah warga Desa Banyu Ireng. Di antara kilatan petir yang membelah langit, seorang anak kecil berlari sekuat tenaga, nafasnya tersengal-sengal, dadanya terasa terbakar. Kakinya yang tanpa alas penuh luka akibat tertusuk duri dan batu tajam, tapi ia tak bisa berhenti. Jika ia berhenti, nyawanya akan melayang.

"Tangkap anak itu! Jangan biarkan dia lolos!"

Teriakan lantang seorang lelaki dewasa menggema di antara suara rintik hujan. Cahaya obor berkelipan di belakangnya, menciptakan bayangan-bayangan mengerikan dari orang-orang yang mengejarnya.

Namanya, Raka Nandaka. Putra dari Kepala Desa Banyu Ireng yang kini diburu oleh warganya sendiri. Anak itu menggigit bibirnya, menahan ketakutan yang hampir melumpuhkannya.

Ia tak tahu mengapa mereka ingin membunuhnya. Ia hanya tahu bahwa ayahnya telah mati, ibunya dan kakaknya telah tiada, dan sekarang mereka menginginkan dirinya juga.

Sejak fitnah keji itu menyebar, keluarganya menjadi musuh bagi desa yang pernah mereka lindungi. Pamannya, yang seharusnya menjadi pelindung, justru menjadi penyulut kebencian. Raka tak mengerti bagaimana kebohongan bisa begitu cepat mengubah orang-orang yang dulu tersenyum padanya menjadi gerombolan pemburu yang haus darah.

Sebuah batu besar melayang ke arahnya, hampir menghantam kepalanya. Ia menunduk dan tersandung akar pohon yang mencuat dari tanah. Tubuhnya terpelanting, wajahnya terbenam ke dalam lumpur. Sejenak, rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya. Namun, ketika mendengar langkah-langkah kaki yang semakin dekat, ia menguatkan diri dan kembali bangkit.

Di depannya, bentangan hutan lebat berdiri seperti tembok hitam yang menyeramkan. Hutan itu adalah Hutan Larangan, tempat yang dikeramatkan oleh warga desa. Tak seorang pun berani memasukinya. Namun, bagi Raka, tidak ada pilihan lain.

Ia menoleh ke belakang, melihat puluhan pasang mata penuh kebencian. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia berlari ke dalam kegelapan hutan. Ranting-ranting tajam mencakar kulitnya, ilalang liar menghambat langkahnya, tetapi ia terus berlari. Ia harus menjauh, harus bertahan.

Ketika akhirnya suara warga mulai meredup di kejauhan, ia berhenti sejenak, mengatur nafasnya. Hujan semakin deras, menyelimuti hutan dalam kabut tipis. Raka mengusap air yang menetes di wajahnya. Sekarang, ia benar-benar sendirian.

Langkahnya semakin berat, tubuhnya menggigil. Rasa lapar mulai menusuk perutnya, tetapi ia harus tetap bergerak. Semakin jauh ia masuk ke dalam hutan, semakin mencekam suasananya. Udara terasa lebih dingin, dan suara-suara aneh mulai terdengar dari balik pepohonan yang menjulang tinggi.

Sampai akhirnya, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Seakan ada mata yang mengawasinya dari kegelapan. Angin berhembus lebih kencang, membawa bisikan yang membuat bulu kuduknya berdiri. Dan saat itulah, sosok itu muncul. Seorang lelaki tua dengan pakaian kulit harimau, berdiri di tengah jalan setapak, menatapnya dengan mata yang menyala merah seperti bara api.

"Bocah! Berani sekali kau menginjakkan kaki di tanah ini!"

Suara berat dan bergemuruh itu menghentikan langkah Raka. Ia menelan ludah. Tubuhnya ingin berlari, tapi kakinya terpaku di tempat. Hutan Larangan telah membawanya ke dalam bahaya yang lebih besar.

Lutut Raka hampir goyah, tapi ia menggigit bibirnya, mencoba tetap tegak. "Aku hanya lewat, aku tidak tahu ini tempat apa."

Lelaki tua itu menyeringai, menunjukkan gigi-gigi kuningnya yang tajam. "Kau sudah mengotorinya! Semua yang masuk ke hutan pengasinganku harus membayar! Dan harga yang harus kau bayar adalah... sebelah tanganmu!"

Mata Raka melebar. Tangannya refleks menggenggam pergelangan tangan kirinya sendiri, seakan melindunginya. "T-tidak! Aku tidak mau... Aku terpaksa masuk ke tempat ini karena dikejar mereka!"

"Tidak ada ampun bagi yang melanggar wilayah kekuasaan Datuk Maung Raja Geni!" lelaki itu mengangkat tangannya, dan dari telapak tangannya, api berkobar hebat.

Raka menelan ludah. Ia tahu dirinya lemah, tapi menyerah bukan pilihan. Seumur hidupnya, ia sudah kehilangan segalanya. Jika ini akhir hidupnya, maka ia akan menghadapinya dengan kepala tegak.

"Kalau kau ingin tanganku," ucapnya dengan suara bergetar, "ambil sendiri!"

Datuk Maung Raja Geni terkejut, lalu menyeringai lebar. "Kau punya nyali juga, anak ingusan! Bagus!" Api di tangannya semakin membesar, siap melahap bocah itu kapan saja.

Dengan satu gerakan cepat, Datuk Maung Raja Geni melemparkan pukulan api ke arah Raka. Api itu menderu seperti naga yang mengamuk, menerangi hutan yang gelap dengan nyala merah yang menyilaukan. Panasnya terasa bahkan sebelum api itu benar-benar mendekat, membuat dedaunan di sekitar mereka bergetar seperti ketakutan.

Raka menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar hebat. Dalam benaknya, ia yakin ini adalah akhir hidupnya. Bocah seumurannya seharusnya masih bermain, bukan menghadapi maut di tangan seorang datuk sesat yang ditakuti banyak pendekar. Namun nasib telah membawanya ke jurang kematian lebih cepat dari yang pernah ia bayangkan.

Namun, ketika api itu hampir mencapai tubuhnya, sesuatu yang luar biasa terjadi. Dalam sekejap, api yang berkobar itu berhenti di udara, bergetar seolah melawan kehendak yang tak terlihat, lalu menghilang begitu saja, lenyap seperti ditelan angin malam. Raka membuka matanya dengan penuh ketakutan, napasnya memburu. Ia masih berdiri di tempatnya, tak tersentuh oleh kobaran api yang seharusnya telah membakarnya menjadi abu.

Di hadapannya, Datuk Maung Raja Geni berdiri dengan tangan masih terangkat. Wajahnya yang tadi menunjukkan keseriusan kini tersenyum penuh maksud, seperti seekor harimau yang menunda menerkam mangsanya.

Padahal, dalam dunia persilatan, menarik kembali serangan yang telah diluncurkan bukanlah perkara mudah. Hanya pendekar dengan penguasaan tenaga dalam tingkat tinggi yang bisa melakukannya dengan begitu sempurna, seolah-olah api itu memang bukan berasal dari dunia ini.

Raka menatap lelaki tua itu dengan mata penuh kebingungan. Mengapa serangan itu ditarik? Apa yang membuat Datuk Maung Raja Geni mengurungkan niatnya?

Datuk Maung Raja Geni mengamati bocah itu dengan tatapan tajam yang menembus jantung. Seolah-olah ia sedang membaca sesuatu yang tersembunyi di dalam diri Raka. Ada sesuatu yang istimewa, sesuatu yang menghalanginya untuk menghabisi bocah ini. Ia seolah menemukan cerminan dirinya pada diri bocah itu

."Hm… menarik," gumamnya, suaranya bagai guruh yang tertahan di langit.

Dalam sekejap, sebelum Raka bisa berpikir atau bereaksi, tubuhnya sudah terangkat dari tanah. Jari-jari Datuk Maung Raja Geni mencengkeram pundaknya seperti cakar elang mencengkram mangsa.

Seketika dunia di sekelilingnya berubah menjadi bayangan-bayangan kabur, pepohonan berkelebat seperti mimpi yang berlari kencang. Angin berdesir kencang di telinganya, menghantam tubuhnya dari segala arah, membuatnya nyaris tak bisa bernapas. Kecepatan ini mustahil bagi manusia biasa.

Lalu, tiba-tiba semuanya berhenti.

Raka terhuyung saat Datuk Maung melepaskannya begitu saja. Lututnya lemas, udara di sekitarnya terasa jauh lebih dingin dan tipis.

Ia mengangkat wajah, mendapati dirinya berada di tempat yang asing, sebuah dataran tinggi yang tersembunyi di antara kabut dan pepohonan raksasa.

Raka menggigil dan menggigit bibirnya, menahan rasa takut yang kini benar-benar menggerogoti jiwanya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca