

Senja merayap turun perlahan, mewarnai langit dengan gurat jingga yang tampak seperti luka lama yang tak kunjung sembuh. Di dalam rumah kecil di pinggir hutan, cahaya temaram dari lampu minyak berpendar goyah, menebarkan bayangan yang memanjang di dinding, bergerak seperti napas seseorang yang sedang menahan tangis.
Raka duduk di samping ranjang kayu itu. Kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan, berusaha menahan gemetar yang tak mau reda. Setiap helaan napas ibunya membuat perutnya tercekik, seakan udara berubah menjadi serpihan kaca yang menyayat dari dalam.
Wanita itu, yang dulu tersenyum hangat dan bekerja tanpa henti demi dirinya, kini terbaring lemah. Kulitnya memucat hingga mirip kertas tipis, seolah hidup sedang menghapus warna darinya sedikit demi sedikit.
Rambutnya yang kusut menempel di dahi karena keringat dingin. Setiap kali Tiara menarik napas, dadanya naik hanya setinggi bayangan daun di luar.
Raka ingin berkata sesuatu, apa pun, tetapi tenggorokannya terasa beku.
"Raka …" suara ibunya muncul seperti bisikan dari dunia yang jauh.
Perlahan ia mengangkat tangan, jemarinya bergetar hebat. Gerakan kecil itu saja sudah memakan seluruh tenaga yang tersisa.
Raka segera menyangga tangan itu dengan kedua telapak tangannya.
"Ibu … aku di sini," sahutnya pelan.
Tiara mengusap punggung tangan putranya dengan tenaga yang tersisa. "Anakku … dengarkan Ibu baik-baik, sebelum terlambat."
Dengan sisa tenaga yang sulit dibayangkan, ia menggeser tangan ke arah bantal, jemarinya menarik keluar sebuah benda kecil yang selama ini tak pernah ditunjukkan.
Sebuah liontin dengan batu hijau jernih terbaring di telapak tangannya. Kilaunya begitu bersih hingga tampak seperti setetes embun yang membeku di udara.
"Ambillah, ini liontin peninggalan ayahmu …"
Ia meletakkan liontin itu di telapak tangan Raka. Batu itu terasa dingin pada awalnya, tetapi perlahan menghangat, seperti benda hidup yang berusaha mengenali pemiliknya.
Raka menunduk. Kilauan batu itu memantul di matanya yang mulai berkaca-kaca.
"… Ibu," katanya ragu. "Aku bahkan tidak tahu kalau ayah meninggalkan sesuatu seperti ini."
Sang ibu menatapnya lama, seakan ingin menghafal setiap garis wajah putranya.
"Karena saat itu kau masih terlalu kecil, Nak," jawabnya pelan. "Beban seperti ini tidak boleh diwariskan sebelum waktunya. Ibu menunggu sampai kau cukup dewasa. Sampai kau bisa berdiri sendiri."
Udara menjadi berat. Lampu minyak berkedip-kedip, seolah takut padam.
"Raka … setelah ibu tiada, kau harus pergi ke sekte tempat kami dulu belajar. Sekte tempat ayahmu menemukan jalan yang tak pernah sempat ia jelaskan padamu."
Ia menggeleng cepat. "Tidak. Aku tidak mau pergi. Aku tidak mau meninggalkanmu, Bu!"
"Anakku …" Ia mengangkat tangan, menyentuh pipi Raka dengan lembut. "Hidupku tersisa serpihan tipis. Bahkan jika kau tetap di sini, ibumu ini tetap akan pergi."
Raka memejamkan mata. Bahunya naik-turun, menahan gejolak yang memukul dadanya.
"Jangan tahan air matamu, tangisan bukan kelemahan. Itu bukti bahwa hatimu masih hidup."
Tetapi Raka tetap diam. Ia menunduk, dagunya menempel ke dada, menahan segalanya seorang diri.
Di luar, angin mulai berdesir. Daun-daun bambu saling beradu, menimbulkan suara lirih seperti bisikan masa depan yang belum terungkap. Aroma tanah basah memenuhi udara, membawa firasat yang sulit ditafsirkan.
Tiara menarik napas dalam-dalam. Ia menggenggam jemari putranya itu dengan sisa kekuatan yang tinggal sehalus abu.
"Pergilah. Liontin itu akan menuntunmu. Kau akan memahami semuanya … pada waktunya."
Raka mendongak. Matanya berkaca-kaca, lalu pecah. Bahunya bergetar saat air mata itu jatuh satu per satu, tak lagi bisa ia tahan.
"Jika Ibu pergi …" suaranya pecah di tengah kalimat. Tangannya mencengkeram kain di dada ibunya, seolah itu satu-satunya hal yang masih bisa menahannya.
"… apa yang tersisa buatku?"
Tiara menatapnya lama. Seakan ia ingin menyimpan wajah itu di tempat yang tak bisa disentuh waktu.
Perlahan, dengan sisa tenaga yang tinggal setipis napas, ia mengangkat tangannya. Jemarinya gemetar saat menyentuh pipi Raka, menghapus air mata yang terus jatuh.
"Raka …" panggilnya pelan, lalu tersenyum tipis. "Kau."
Hanya itu.
Tak ada kata lain. Tak ada penjelasan.
Perlahan, tangan yang lembut itu meluncur turun, kehilangan kekuatan. Senyuman hangat masih tertinggal di wajahnya, seolah ingin meyakinkan putranya bahwa jawabannya sudah cukup.
Raka terdiam. Isakannya pecah tertahan, tubuhnya bergetar hebat saat ia menunduk, menahan wajahnya di sisi ranjang.
Ruangan tenggelam dalam keheningan yang suci. Seolah dunia ikut menunduk, memberi hormat. Seolah hening itu adalah tirai terakhir, diturunkan perlahan untuk jiwa yang kembali ke asalnya.
Beberapa saat setelah keheningan itu menutup segalanya, malam pun berlalu tanpa suara.
Ketika fajar menyentuh ambang jendela, Raka sudah menggali tanah di belakang rumah kecil itu dengan tangannya sendiri. Tanah yang lembap dan dingin menempel di jemarinya, beraroma hujan, menjadi saksi senyap kepergian terakhir sang ibu.
Ia berhenti sejenak, menatap lubang yang telah cukup dalam. Di bawah cahaya pagi yang pucat, ia membaringkan tubuh wanita mulia itu dengan hati-hati.
"Maaf kalau caraku kasar," bisiknya. "Tanganku … tidak pernah sehalus tanganmu, Bu."
Ia menimbun tanah perlahan. Setiap genggam seperti mengubur satu kenangan. Ketika gundukan itu selesai, Raka berlutut. Keningnya menyentuh tanah yang masih basah.
"Semoga perjalananmu ringan," ucapnya pelan. "Kalau memang ada tempat kembali … semoga di sana Ibu tidak lagi lelah."
Ia terdiam lama, lalu bergumam pelan.
"Aku akan baik-baik saja. Aku janji, Ibu."
Setelah memandang makam itu untuk terakhir kalinya, Raka berdiri dengan langkah yang belum sepenuhnya tegak.
Ia mengambil ransel lusuh yang tergantung di dinding rumah. Hanya membawa sebatang pisau pendek, sehelai pakaian ganti, makanan kering secukupnya, dan liontin yang kini menggantung di dadanya.
Ia menggenggam liontin itu sebentar.
"Ibu … aku titipkan langkahku pada doa-doamu," bisiknya.
Lalu Raka melangkah pergi, meninggalkan rumah kecil itu bersama fajar yang perlahan menghangat.
Pagi pertama adalah perjalanan yang sunyi. Langkah Raka menyusuri jalan tanah yang mengarah keluar dari hutan, melalui pepohonan menjulang yang meneteskan sisa embun. Cahaya mentari menyelinap di antara celah dedaunan dan jatuh seperti serpihan perak di bahunya.
Hutan itu pernah menjadi rumah masa kecilnya, namun kini terasa asing, seperti tempat yang baru saja kehilangan satu jiwa yang menjadi pusatnya.
Menjelang siang hari, ia mendengar suara lirih dari balik semak. Rintihan kecil yang hampir tak terdengar, seperti anak kecil yang menahan tangis. Raka menunduk, menyibak ranting, dan menemukan seekor kucing kecil berwarna putih keabu-abuan. Salah satu kakinya tertancap duri panjang, membuat tubuh mungil itu gemetar menahan sakit.
"Hei, kemarilah … jangan takut."
Tangan Raka masih bergetar oleh sisa duka, namun ia memaksa dirinya tetap lembut.
Ia mencabut duri itu perlahan, kemudian membalut luka kecil itu dengan robekan kain dari pakaiannya sendiri.
Kucing itu mengeong pelan, lalu merayap ke pangkuannya seolah ingin mencari kehangatan yang juga sedang hilang dari Raka.
"Kau sendirian juga, huh …? Baiklah. Mari kita berjalan bersama."
Pada hari kedua, langit berubah menjadi biru bening. Sungai dangkal membelah jalan, memantulkan bayangan mereka berdua. Raka berhenti sejenak, membasuh wajah, sementara kucing kecil itu bermain-main mengejar pantulan cahaya.
"Aku tidak tahu apa yang menungguku," katanya lirih, menatap arus air yang bening. "Tapi … setidaknya kau bersamaku untuk sekarang, kucing kecil."
Angin menggerakkan helai rambutnya. Di kejauhan, burung-burung hutan terbang seperti pecahan doa yang melayang ke langit.
Pada hari ketiga, pepohonan yang semula rapat mulai merenggang, menyisakan celah-celah cahaya yang jatuh seperti bilah perak di tanah.
Raka berhenti sejenak di tepi tebing kecil. Dari titik itu, ia melihat kabut tipis menggantung di antara perbukitan, dan di tengahnya berdiri sebuah kota yang memantulkan cahaya lembut senja meski hari masih pagi.
Ia melangkah turun mengikuti jalan batu yang makin rapi. Angin membawa aroma roti panggang bercampur rempah, suara barang dagangan yang digeser, denting logam, dan obrolan samar-samar mulai terdengar dari balik kabut.