Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kultivator Budiman

Kultivator Budiman

naga hitam | Bersambung
Jumlah kata
51.4K
Popular
271
Subscribe
43
Novel / Kultivator Budiman
Kultivator Budiman

Kultivator Budiman

naga hitam| Bersambung
Jumlah Kata
51.4K
Popular
271
Subscribe
43
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurPerangPertualangan21+
Budiman, pemuda miskin yang selalu di buly oleh para Tuan Muda dari keluarga besar. Perhatian! Novel ini banyak mengandung adegan dewasa. Harap bijak memilih bacaan...!!
Budiman

Budiman, pemuda berumur sembilan belas tahun. Saat ini, Budiman masih duduk di kelas 12 sebuah SMA favorit di Kota Kembang.

Budiman sendiri sudah sejak dua tahun terakhir hidup sendiri, setelah dua tahun lalu, kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas saat berkunjung ke rumah saudaranya yang ada di luar kota.

Budiman hidup di sebuah rumah kecil warisan orang tuanya yang berada di sebuah desa di pinggiran Kota Kembang. Desa tempat Budiman tinggal merupakan desa yang langsung berbatasan dengan hutan terlarang.

Di suatu pagi, tepatnya pada hari Sabtu, Budiman dengan penuh semangat mengayuh sepeda dari rumah menuju sekolah.

Jarak yang cukup jauh dan membutuhkan waktu hampir setengah jam membuat Budiman harus berangkat lebih awal agar tidak terlambat.

Waktu menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit saat Budiman tiba di sekolah. Tanpa membuang waktu, dia langsung memarkirkan sepedanya di sudut parkiran sekolah.

Baru saja Budiman selesai memarkirkan sepedanya dan berniat pergi ke kelas, dia dihentikan oleh tiga orang siswa yang merupakan tuan muda dari keluarga kaya yang selalu membully dirinya.

Ya, sebagai siswa miskin yang bersekolah di sekolah favorit dengan mengandalkan beasiswa, Budiman memang selalu menjadi korban bully, terutama oleh ketiga tuan muda dari keluarga besar yang sekarang berada di hadapannya.

"Hei! Budiman miskin, dekil! Bukankah aku sudah memperingatkanmu agar kamu menjauhi Vania! Berani-beraninya kamu masih mendekatinya. Apa kamu ingin mati!" teriak Bagas Lukminto.

Bagas Lukminto adalah tuan muda ketiga dari keluarga Lukminto. Keluarga Lukminto sendiri merupakan sebuah keluarga kelas atas di Kota Kembang.

Selain sebagai seorang tuan muda dari keluarga kelas atas yang membuatnya begitu arogan, Bagas sendiri merupakan seorang kultivator tahap Prajurit bintang satu, sehingga membuat dirinya bertambah arogan.

Di Nusantara sendiri, sudah sangat sedikit yang bisa menjadi kultivator. Hal itu dikarenakan sudah semakin sulit menemukan energi spiritual di Alam Bumi.

Kebanyakan para kultivator berasal dari keluarga kaya atau murid sebuah perguruan dan sekte bela diri.

"Bagas, aku sama sekali tidak mendekati Vania. Kemarin Vania hanya meminjam buku catatanku," balas Budiman dengan tenang, meskipun kakinya sedikit bergetar saat melihat tatapan tajam mata Bagas.

"Bos, mana ada maling ngaku? Kalau ada, penjara pasti akan cepat penuh. Lebih baik kita hajar saja bocah dekil ini agar dia tidak lagi macam-macam dengan Anda," sahut Toni Gunawan, tuan muda dari keluarga Gunawan.

Keluarga Gunawan sendiri merupakan keluarga kelas menengah di Kota Kembang. Keluarga Gunawan merupakan bawahan dari keluarga Lukminto. Oleh karena itu, Toni selalu setia menjadi pengikut Bagas Lukminto di sekolah.

"Benar, kita hajar saja bocah bau ini. Kalau perlu kita habisi saja sekalian," timpal Ramon Pahlevi, tuan muda ketiga dari keluarga Pahlevi.

Sama seperti keluarga Gunawan, keluarga Pahlevi juga merupakan keluarga menengah dan termasuk bawahan keluarga Lukminto.

Mendengar provokasi dari kedua anak buahnya, wajah Bagas seketika memerah dan bersiap untuk menghajar Budiman. Untuk itu, dia langsung bersiap melayangkan sebuah bogem mentah ke arah Budiman.

Namun, belum sempat ia melakukan aksinya, sebuah suara merdu namun tegas menghentikan aksinya. Bahkan, tubuh Bagas langsung bergetar saat mendengar suara tersebut.

"Bagas Lukminto! Apakah kamu tahu risiko berkelahi di sekolah? Mungkin guru lain tidak akan berani menghukummu karena status keluargamu. Tapi, saya sama sekali tidak akan peduli dengan semua itu," ucap seorang wanita cantik dengan seragam guru yang berjalan menghampiri Bagas dan Budiman.

"E-ehh... Kakak ipar, saya mana mungkin berkelahi di sekolah. Tadi saya hanya bercanda dengan Budiman. Iya, kan, Jon?" ucap Bagas sembari merangkul Budiman dengan sedikit keras.

"I-ya, kami hanya sedang bercanda, Bu," balas Budiman dengan gugup.

"Bagas, pertama-tama saya tegaskan kepadamu bahwa saya bukan kakak iparmu dan sampai kapan pun tidak akan pernah menjadi kakak iparmu. Katakan kepada kakakmu agar tidak menyebarkan berita bohong. Kedua, jika sampai saya melihat kamu bermain tangan dengan siswa lain di sekolah ini, saya tidak akan segan-segan untuk menghukummu. Sekarang, pergi ke kelas," seru Clara Darmawan dengan wajah kesal.

"Baik, Bu Clara," balas Bagas dengan wajah masam. Kemudian, ia berbisik ke arah Budiman, "Kali ini kamu selamat. Lain kali, jangan harap." Bagas mengancam sebelum pergi bersama kedua anak buahnya.

Budiman hanya bisa tersenyum masam mendengar ancaman dari Bagas. Ia sendiri sangat heran dengan Bagas yang begitu membencinya hanya karena dia dekat dengan Vania Raharja.

Padahal, dia dan Vania hanya sekadar teman satu kelas. Lagipula, dia pun sadar diri bahwa tidak mungkin seorang Vania yang merupakan nona muda dari keluarga Raharja akan jatuh cinta padanya yang hanya pemuda miskin dan yatim piatu.

"Budiman, lebih baik kamu ke depannya lebih berhati-hati lagi terhadap Bagas. Mungkin setelah saya ancam, dia tidak akan berani berbuat macam-macam kepadamu di sekolah. Tapi, bisa saja dia menghajarmu di luar sekolah," ucap Clara dengan wajah serius mengingatkan Budiman.

Budiman mengangguk paham. "Saya mengerti. Terima kasih sudah membela saya, Bu Clara."

"Ya sudah, segera pergi ke kelasmu. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Nanti, saat pulang, kamu tunggu saya. Saya akan mengawalmu sampai jalan menuju desamu," ucap Clara dengan senyum manisnya.

"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Bu," balas Budiman dengan senang.

Clara hanya mengangguk pelan, lalu dengan santai berlalu meninggalkan Budiman yang masih terpaku menatap kepergiannya.

"Sudah cantik, baik, buah semangka dan bemper belakangnya juga sangat besar. Sayang guru. Kalau sama-sama siswa, pasti aku kejar," gumam Budiman dalam hati, tak sadar jika wajahnya biasa-biasa saja.

"Bicara apa kamu, Bud? Kamu sama sekali tidak pantas dengan Bu Clara. Kamu harus lebih sadar diri. Kamu hanya pemuda yatim piatu dan miskin. Tidak sebanding dengan Bu Clara," lanjut Budiman yang masih bergumam dalam hatinya.

Tak mau berpikir terlalu jauh tentang sosok guru idaman dan pusat fantasi bagi semua siswa di sekolahnya, Budiman langsung berjalan menuju kelasnya.

Sementara itu, Bagas dan kedua anak buahnya sedang asyik menikmati rokok di rooftop sekolah, sembari membahas rencana mereka untuk membuat perhitungan dengan Budiman.

"Tuan Muda, kita tidak boleh diam saja. Jika kita hanya diam saja, maka bocah desa itu akan semakin besar kepala," kata Toni dengan penuh semangat, terus memprovokasi Bagas agar membuat perhitungan dengan Budiman.

"Saya setuju dengan yang Toni katakan. Apalagi sekarang Bu Clara terang-terangan membela bocah miskin itu. Saya sangat yakin bocah miskin itu akan semakin berani terhadap Anda," sahut Ramon yang tak mau kalah menyalakan api kebencian terhadap Budiman.

"Aku tahu tentang hal itu. Tapi, kita tidak bisa lagi sembarangan memberikan pelajaran kepada bocah miskin itu. Kakakku bisa mengamuk kalau sampai tahu aku tidak memperlakukan Bu Clara dengan baik," balas Bagas sambil tersenyum masam.

"Tuan Muda, saya sebenarnya sangat heran. Mengapa kakak pertama Anda sangat menyukai Bu Clara? Meskipun saya akui Bu Clara memang sangat cantik dan menggoda, namun dia tetap seorang wanita biasa. Tidak sebanding dengan kita yang kultivator," ucap Toni dengan wajah penasaran.

Lanjut membaca
Lanjut membaca