

“Kenapa... kenapa kalian melakukan ini padaku?”
Di dalam sebuah ruangan yang gelap dan lembap, terdapat meja operasi kotor dan usang di sudutnya. Zevan Pratama terbaring di atasnya layaknya seekor domba yang menunggu ajal. Wajahnya pucat pasi, matanya hampa tanpa sisa keinginan untuk hidup. Suaranya begitu lirih, hampir tenggelam dalam kesunyian.
Ia memiringkan kepalanya sedikit. Selembar plastik yang tergantung membelah ruangan itu menjadi dua dunia yang berbeda. Melalui plastik tersebut, samar-samar terlihat pemandangan di sisi lain.
Seorang pria dan wanita duduk berdampingan di sebuah sofa tua yang reyot. Keduanya tampak berusia sekitar lima puluh tahun. Pria itu berwajah kurus kering dengan rambut berminyak yang berantakan. Sepasang matanya yang keruh menatap rakus ke arah tumpukan uang merah di atas meja kayu usang.
Wanita di sampingnya memiliki mata sipit yang terangkat dengan bibir tipis yang memancarkan kekejaman. Ia menatap tumpukan uang itu dengan keserakahan yang serupa.
Di sofa seberang, duduk seorang pria bertubuh kekar dengan wajah berminyak. Ia menyeringai, memperlihatkan barisan gigi kuningnya, lalu berkata dengan nada licik:
“Tuan Suryo, kami sudah menaksir harga seluruh organ putra Anda. Setelah dipotong hutang Anda, masih tersisa lima ratus juta rupiah. Jika Anda setuju, silakan tanda tangani dokumen ini.”
“Setuju! Seratus persen setuju!”
Suryo Pratama menjawab dengan wajah penuh senyum menjilat. Ia segera menyambar pena dan menandatangani dokumen itu tergesa-gesa, seolah takut pihak lawan akan berubah pikiran. Setelah itu, ia mendekap erat uang lima ratus juta tersebut ke dadanya.
Pria kekar itu tertawa terbahak-bahak. “Kerja sama yang menyenangkan! Kudengar Anda masih punya satu putra lagi. Kalau kekurangan uang, silakan datang kembali.”
“Berani dia? Yang itu putra kandungku!” wanita itu menimpali. Bibirnya yang dipulas lipstik mencolok terbuka, mengeluarkan teriakan tajam yang memekakkan telinga.
Suryo Pratama berdiri sambil terus memeluk uangnya, membungkuk penuh hormat. “Kak Kuncoro, kami boleh pergi sekarang?”
“Tidak ingin melihat putramu untuk terakhir kalinya?”
“Untuk apa melihat orang yang sudah mau mati? Hanya bikin sial saja,” ujar wanita itu dengan wajah penuh jijik. Nada suaranya dingin dan kejam.
Suryo Pratama seolah tak mendengar apa pun; matanya hanya tertuju pada uang di tangannya.
Kak Kuncoro tertawa aneh. “Kalau begitu, silakan pergi.”
“Terima kasih, Kak Kuncoro! Terima kasih!” Suryo dan istrinya membungkuk berulang kali layaknya anjing penjilat sebelum melangkah pergi.
Melihat kedua orang itu pergi dengan wajah penuh kegembiraan, mata Zevan Pratama yang terbaring di meja operasi digenangi kesedihan yang memilukan. Siapa sangka, pria dan wanita itu adalah ayah kandungnya sendiri, Suryo Pratama, dan ibu tirinya, Vina?
Demi uang, mereka menjual seluruh organ tubuhnya kepada sindikat pasar gelap… dan ia hanya dihargai lima ratus juta rupiah. Bahkan saat pergi, mereka tak sekali pun menoleh.
Sejak kecil, Zevan telah kehilangan ibunya. Ayahnya menikah lagi dan memiliki putra lain. Sejak saat itu, dunianya menjadi gelap gulita. Ia kerap dipukuli hingga tubuhnya penuh luka; rasa lapar sudah menjadi kawan karibnya.
Ayahnya adalah seorang pemabuk dan penjudi berat. Setiap kali dirundung masalah, Zevan selalu menjadi pelampiasan. Bahkan sebelum lulus SMP, ia sudah dipaksa bekerja. Namun, Zevan tahu bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar. Ia memohon hingga berlutut selama tiga hari tiga malam. Akhirnya sang ayah mengizinkan, namun tanpa memberi sepeser pun biaya.
Demi sekolah, Zevan memungut barang bekas, menjadi samsak hidup di sasana tinju, bahkan menjual darahnya sendiri. Hingga akhirnya, ia berhasil lulus dan mendapatkan pekerjaan.
Hari itu, ia menangis sejadi-jadinya. Ia sempat mengira dirinya telah bebas. Namun, ia terlalu naif. Sekali lintah menempel, ia tak akan mudah melepaskan isapannya. Sejak bekerja, seluruh penghasilannya dikuras habis oleh keluarga itu. Jika ia menolak, mereka akan membuat keributan di tempat kerjanya hingga ia terpaksa berganti pekerjaan berkali-kali.
Kali ini, ia pulang karena kabar bohong bahwa adik tirinya sedang sekarat. Di saat yang sama, kekasihnya menelepon untuk memutuskan hubungan.
“Zevan, aku sudah muak dengan keluargamu yang seperti vampir. Kau tidak akan pernah bisa memberiku kehidupan yang kuinginkan. Kita putus.”
Kata-kata dingin itu menghantamnya seperti petir. Dalam keadaan linglung, ia meminum segelas air yang diberikan ibu tirinya. Hanya sekali teguk, ia langsung jatuh pingsan.
Saat tersadar, ia sudah berada di atas meja operasi yang dingin.
Kesedihan terbesar adalah ketika hati telah mati. Saat ia berusaha menuju cahaya, kenyataan justru menyeretnya kembali ke neraka. Obat bius mulai bekerja, kesadarannya semakin kabur. Sebelum benar-benar pingsan, ia melihat seorang pria berjubah putih. Pisau bedah yang dingin di tangan pria itu justru terasa menenangkan.
Mungkin benda kecil itulah yang akan memberinya kebebasan sejati.
“Cepat sedikit!” Suara tidak sabar Kak Kuncoro terdengar dari luar.
Pria yang memegang pisau menjawab singkat, lalu dengan cekatan melepas baju Zevan. “Nak, jangan salahkan aku. Salahkan orang tuamu yang lebih buruk dari binatang. Aku hanya membantumu terbebas. Kau seharusnya berterima kasih padaku.”
Setelah desinfeksi sederhana, pisau pun diayunkan. Bersih dan tegas! Kulit dan daging terbelah, darah memuncrat seketika.
“Sial!”
“Ada apa?”
“Terpotong terlalu dalam... terjadi pendarahan hebat!”
Pria itu panik. Secara refleks, ia merobek lukisan tua yang tergantung di dinding untuk menyumbat darah. Lukisan itu penuh debu dan entah sudah berapa lama tergantung di sana. Namun, ia tidak menyadari sesuatu...
Darah Zevan Pratama yang mengenai lukisan itu memicu reaksi gaib. Pola-pola emas menyala tiba-tiba muncul, membentuk simbol kuno yang aneh.
**BOOM!!!**
Cahaya emas meledak hebat, menghancurkan segalanya. Kak Kuncoro dan pria bedah itu bahkan tak sempat berteriak sebelum tubuh mereka hancur menjadi kabut darah. Seluruh isi ruangan berubah menjadi debu, kecuali Zevan yang masih tak sadarkan diri.
Dari sisa-sisa lukisan, muncul sebuah gagang pedang emas yang diikuti oleh bilahnya, seolah ditarik oleh tangan tak kasat mata. Pedang itu terbuat dari material misterius yang bukan emas maupun tembaga. Pada satu sisi bilahnya terukir matahari, bulan, dan bintang. Di sisi lain, terukir lukisan gunung, sungai, dan pepohonan.
Tak lama, sebuah cincin hitam dengan ukiran rumit melayang keluar dan terpasang secara otomatis di jari Zevan.
*“Aku adalah Yugantara, pendiri Alam Rahasia Kuno. Ribuan tahun telah berlalu… akhirnya aku menemukan pewaris dengan Tubuh Matahari Murni.”*
*“Hari ini, aku mewariskan ajaranku padamu. Peganglah pedang suci ini, lindungi martabat dunia manusia, dan jangan sia-siakan penantianku selama ribuan tahun.”*
Suara tua yang berat dan sarat akan wibawa menggema di ruangan yang kini kosong itu. Setelah suara itu lenyap, lukisan tua tersebut terbakar tanpa api dan berubah menjadi simbol emas yang menyatu ke dalam dahi Zevan.
Ruangan kembali sunyi. Tubuh Zevan memancarkan cahaya emas lembut. Kulitnya bersinar layaknya batu giok, dan semua lukanya sembuh dalam sekejap.
Sekitar satu jam kemudian, cahaya itu meredup. Zevan Pratama tiba-tiba membuka matanya, seolah baru saja terjaga dari mimpi buruk yang panjang. Saat matanya terbuka, kilatan cahaya tajam memancar, seakan matahari, bulan, dan bintang berputar di dalam pupilnya.