

Stasiun Kereta Pusat Kota dipenuhi lalu-lalang manusia. Kerumunan padat, bahu saling bersenggolan, tak pernah sepi.
Di sebuah gang sempit tak jauh dari stasiun, dua pria paruh baya bertubuh kekar, jelas berpenampilan seperti pengawal, sedang memukuli seorang pemuda tanpa ampun.
Tak jauh dari mereka, sepasang pria dan wanita muda berdiri saling merangkul, menonton dengan ekspresi dingin. Sang pria terlihat congkak, sementara si wanita sama sekali tidak menunjukkan simpati.
"Jaxen Edion, dengar baik-baik," ujar pemuda berambut panjang itu dengan nada meremehkan setelah memberi isyarat agar para pengawal berhenti. "Vina Harun sekarang pacarku. Ini cuma peringatan. Kalau kau masih berani mengganggunya, lain kali kakimu yang akan kupatahkan."
Pemuda itu masih muda, sekitar dua puluh tahun, mengenakan kemeja bermerek dan kalung emas mencolok. Penampilannya norak, namun penuh rasa percaya diri.
Jaxen Edion tergeletak di tanah dengan tubuh penuh luka. Pukulan brutal tadi membuat sekujur tubuhnya nyeri, bibirnya pecah, dan darah mengalir di sudut mulut.
Namun, ia mengabaikan rasa sakit itu dan menatap gadis di samping pria berambut panjang tersebut.
"Vina… apakah kau dipaksa olehnya? Katakan yang sebenarnya."
Vina Harun, gadis berusia awal dua puluhan dengan riasan tebal dan pakaian mencolok, bersandar manja di lengan pria itu. Setelah ragu sejenak, ia menatap Jaxen Edion dengan wajah penuh jijik.
"Jaxen, semuanya sudah berakhir. Orang yang kucintai sekarang adalah Riko Hendro. Tolong jaga harga dirimu."
Kata-kata itu membuat pandangan Jaxen Edion kosong. "Kenapa…?" gumamnya lemah.
Vina Harun menarik napas panjang lalu berkata dingin, "Karena kita akan lulus kuliah. Kau tidak punya apa-apa. Apa yang bisa kau berikan padaku? Riko Hendro bisa membelikanku perhiasan, ponsel, bahkan ayahnya sudah menyiapkan pekerjaan untukku. Kau? Tidak bisa memberiku apa pun."
Penghinaan itu menusuk tanpa ampun.
"Aku dulu memang bodoh," lanjutnya. "Sekarang aku sadar. Kau baik padaku, tapi kita tidak cocok. Keluargaku juga sudah menyetujui hubunganku dengan Riko."
Jaxen Edion terdiam lama. Wanita yang dulu begitu ia kenal kini terasa asing.
"Baik… aku mengerti," ucapnya akhirnya, suaranya datar namun penuh keputusasaan.
Riko Hendro tertawa puas. "Lihat dirimu, anak desa miskin. Berani bermimpi memiliki Vina? Uangku saja cukup untuk menghancurkanmu."
Ia lalu sengaja berkata keras sambil memeluk Vina Harun, "Sayang, semalam kau melayaniku dengan baik. Nanti sampai Hill Valley, tas LV yang kau inginkan akan kubelikan."
Jaxen Edion gemetar. Raut malu di wajah Vina Harun membuat hatinya hancur sepenuhnya. Selama dua tahun berpacaran, ia bahkan hanya berani menggenggam tangan gadis itu.
Kini segalanya jelas, wanita yang ia cintai telah berubah.
Mereka bertiga adalah mahasiswa tingkat akhir Universitas Medika Insani di Helesthein. Jaxen Edion sebenarnya sudah merasakan kejanggalan sejak setengah tahun lalu, namun tak pernah berani memikirkannya lebih jauh.
Cinta memang tak pernah menang melawan uang, batinnya pahit.
"Vina Harun, suatu hari kau akan menyesal."
Ia mengucapkannya dengan tenang, tanpa amarah. Dalam hatinya, masa lalu mereka telah benar-benar berakhir.
Vina Harun mendengus. "Aku hanya menyesal tidak memutuskanmu lebih cepat. Setelah lulus pun, kau tetap tak akan punya pekerjaan. Hidupmu takkan berbeda dari pedagang kaki lima itu."
Riko Hendro tertawa keras. "Kalau nanti kau benar-benar tidak punya uang untuk hidup, aku bisa meminjamkan beberapa juta. Anggap saja belas kasihan."
Vina Harun menarik lengan Riko Hendro. "Sudah cukup, kita harus berangkat. Kalau terlambat, sampai Hill Valley bisa malam."
Riko Hendro mengangkat kunci BMW di tangannya sambil tersenyum licik. "Tenang saja. Ada sopir. Kau tidur saja di mobil. Malam nanti masih butuh tenaga."
Wajah Vina Harun memerah. "Dasar mesum… ayo pergi."