

Di bawah sinar remang bulan, sebuah truk dan mobil jip terhenti di ujung jalan kaki Gunung Salak. Sekitar 20 orang besenjata laras Panjang berseragam cokelat dengan Tactical Vest berloncatan satu per satu dari truk membentuk sebuah barisan rapih melebar. Seorang pria berjaket kulit, yang didampingi pria berkemeja putih menghampiri setelah keluar dari mobil jip.
Pria berjaket kulit itu, berbicara sangat pelan hingga suaranya terkalahkan oleh hembusan angin yang menggesek dedaunan. Tampaknya itu sebuah instruksi dalam aksi penyerangannya.
Tak lama kemudian, pasukan itu membelah diri berlari ke arah berbeda. Salah satunya mendekatiku yang berlutut di balik pohon pinus yang merempet. Suara nafas dan derap langkahnya, terdengar jelas. Jarak kami tak terlalu jauh. Aku hanya bisa menahan nafas berharap tak ada seorang pun menyadari keberadaanku di sana.
Mereka hanya melewatiku mendekati sebuah rumah di kaki gunung. Posisi mereka menyebar mengitarinya dan menguncinya dengan AK 102 yang digenggamnya. Pasukan yang lainnya pun sama. Sekitar 20-25 meter dari sasaran.
Pria berjaket kulit dan pendampingnya berjalan mengikuti rombongan yang melewatiku. Ku mengintip sedikit dari balik pohon. Benar. Dia adalah targetku, seorang pejabat polisi. Komandan operasional dari kelompok penyerangan. Dan orang yang menggenakan kemeja putih adalah wakilnya.
Keduanya menggengam pistol jenis revolver di tangan kanannya. Pria berkemeja putih terlihat sedikit menggigil karena udara dingin. Mungkin ia kelupaan membawa jaketnya.
Sang Komandan memberikan aba aba agar pasukan kian mendekat sasaran. Pria berkemeja putih itu mengikuti pergerakan pasukan dari belakang. Sementara pria berjaket kulit itu tetap berada di posisinya. Tampaknya ia mewakilkan komandonya kepada pria berkemeja putih itu untuk mengawasi pergerakan musuh.
Aku pun Bersiap dengan Glock 45 MOS Hunter Edition mengangkatnya hingga pas di telinga, bergerak jongkok mendekati. Sementara Glock 17-ku masih bersarung di pinggang.
Pria berkemeja putih itu mengangkat tangan, memberi sinyal kepada pasukan untuk melakukan penyerbuan.
Ini saatnya aku untuk bergerak. Kekacauan adalah selimutku untuk menuntaskan misi.
Tepat ketika rentetan tembakan pertama meletus dari pasukan penyerbu, aku menarik pelatuk Glock-ku dua kali. Sasaranku adalah kepala pria berjaket kulit. Sang Komandan.
Cetik... Cetik...
Di tengah gemuruh AK-102 dan teriakan komando, suara senjataku hanyalah bisikan maut yang tak terdengar siapa pun. Pria berjaket kulit itu roboh seketika, darah sempat menyembur ke kemeja putih, wakilnya itu. Pria itu tampak panik, mengira tembakan datang dari dalam rumah. Rencanaku sempurna.
Aku tak perlu lagi mengarahkan senjataku ke pria berkemeja putih itu, berlari menuju tempat yang sudah ku incar sebelumnya. Tempat yang aman dari sinar bulan. Jaraknya sekitar 70 meter dari rumah yang disergap.
Namun suara rentetan senjata masih terdengar memekik telinga. Beberapa orang di dalam rumah itu pun memuntahkan tembakan balasan. Tampaknya ada empat tim yang melakukan perlawanan. Atau mungkin hanya empat orang.
Tiba-tiba, tanah yang tak jauh dariku tampak bergerak. Seperti yang telah kuduga sebelumnya seseorang keluar dari sebuah lubang dengan posisi tiarap, kemudian berjongkok dengan cepat. Ada tiga orang bersenjata AK-47. Mereka lebih mencondongkah tubuhnya ke arah para penyerang.
“Bagaimana? Kita sikat saja dari belakang?,” ujar salah seorang seraya memandangi markasnya di serbu.
“Jangan, mereka tertalu banyak,” jawab yang lainnya.
“Tapi bagaimana rekan-rekan di sana? Mereka tak akan bisa bertahan,” ujar pria yang pria yang pertama.
“Kalau kita ikut menyerang dari sini juga nasibnya bakal sama, kita tak akan mampun bertahan,” balasnya.
“Kita lari saja ke kaki gunung. Mereka tidak akan bisa melacak kita,” ujar satu orang yang baru berbicara.
Tak mau menunggu lebih lama, aku Tarik pelatuh ke arah salah seorang yang menghadap ke arahku. Orang yang terakhir berbicara tadi.
Cetik ... Cetik ...
Lalu ku arahkan ke orang disampingnya.
Cetik .. Cetik …
Dan seseorang yang membelakangiku yang kini hanya melongo memandangiku dengan pasrah.
Cetik … Cetik …
Ketiganya roboh bersimbah darah tanpa suara.
Aku sempat melirik pria berkemeja putih masih terus berjuang melakukan penembakan ke arah rumah dengan kalap. Sesekali tampak ia mengarahkan pasukannya hingga mendekat bangunan. Dua-tiga orang telah menempelkan tubuhnya di rumah itu.
Dengan menunduk, aku berlari menjauhi lokasi pertempuran menuju titik pelarian. Di atas bukit, aku berjongkok melihat dua penjaga tak jauh dari truk dan mobil jip.
Bisa saja aku melumpuhkan mereka dengan mudah. Namun keberadaanku harus senyap. Ku terpaksa mengitarinya untuk menuju titik pelarianku melewati semak belukar yang ada.
Terdengar sayup-sayup mereka sedang berbincang-bincang soal aksi penyerangan. Salah seorang berharap agar aksi penyerangan itu tak berlangsung lama. Namun suaranya hilang tertelan angin yang cukup kencang malam itu.
Tiba di lokasi pelarian, sepeda motor cross sudah menungguku. Ia tertutupi dedaunan dan ranting-ranting pohon.
Setelah memasang helm, ku dorong motor tersebut hingga jauh dari para penjaga tadi. Ku berharap mesinnya tidak terlalu kedinginan sehingga bisa lebih mudah dinyalakan.
Motorku itu sepertinya paham akan tugasnya. Dalam dua kali hentakan langsung menyala meraung-meraung di Tengah kegelapan malam. Aku langsung memacunya menjauhi lokasi tersebut dengan rute yang berbeda dari para penyerang itu.
Aku langsung menuju Bandung. Lebih tepatnya menuju tempat persembunyianku di kota itu. Jalanan teramat sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintas sepanjang jalan.
Sekitar pukul 02.00 WIB, aku tiba di tempat persembunyianku di Bandung. Sebuah tempat yang tak kuceritakan kepada siapapun, termasuk orang-orang yang memerintahku. Tak ada alat komunikasi di tempat ini.
Di tempat itu, aku membereskan beberapa perlengkapanku. Diantaranya Glock 45 MOS, Glock 17, puluhan butir peluru, Google malam hari, pisau komando dan lainnya. Ku simpan mereka di dalam sebuah lemari besi yang terkunci rapat.
Lalu aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan keringatku. Walau udara tadi terasa dingin, namun ku tak bisa menghindari peluhku berjatuhan dari tubuhku.
Aku menyalakan keran air dan mengatur suhunya agar sesuai harapanku pada sebuah bathtub. Hangat yang mendekati panas.
Usai air cukup, aku merendam tubuhku. Panas air menjalar, melunturkan ketegangan otot-otot yang kaku. Aroma bubuk mesiu samar-samar masih tercium di ujung jari, bercampur dengan uap sabun. Wangi bunga Melati.
Pejabat Polisi Budi Harsono. Nama itu kini bisa dicoret dari daftar.
Di berita besok pagi, dia pasti akan disebut pahlawan yang gugur dalam tugas memberantas teroris. Biarlah. Negara butuh pahlawan untuk dipuja, dan butuh hantu sepertiku untuk membuang sampah yang membusuk di dalamnya.
Aku menghela napas panjang, membiarkan kepalaku terkulai di bibir bathtub. Lelah ini bukan main. Menjadi Satya Ghataka, eksekutor setia, berarti menyerahkan tidur nyenyak demi tidur nyenyak jutaan orang lain yang tak akan pernah tahu namaku.
Kelopak mataku terasa memberat. Gelap menyambutku sebelum matahari sempat meninggi.