

“Wira, tindakanmu benar-benar tidak dapat dimaafkan!” Raungan penuh amarah menggema ke seluruh ibu kota kekaisaran. "Sebagai Penguasa negeri ini, bagaimana mungkin kau bersekongkol dengan iblis untuk mencelakai rakyatmu sendiri?!"
Pemilik suara itu adalah seorang pemuda berjubah pedang. Di bawah kakinya, sebilah pedang yang diselimuti aura keabadian membelah langit saat ia melesat di atas bentangan ibu kota.
"Jangan takut, wahai rakyat! Dewa Pedang telah datang! Aku akan menyelamatkan kalian dan menegakkan keadilan atas nama kalian!"
Mendengar itu, tak terhitung banyaknya rakyat yang menangis dan berlutut, sementara ratapan mereka memenuhi udara.
Seluruh ibu kota kekaisaran telah dipenuhi oleh ular-ular berbisa. Makhluk-makhluk itu menggigit dan menyerang rakyat jelata, menyebarkan racun kepada siapa pun yang mereka temui. Banyak orang tewas seketika. Darah mengalir di jalanan, sementara mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana.
Di tengah lautan ular yang menggeliat berdiri seorang pemuda berjubah putih berhias sulaman naga, sedang bertarung melawan seekor iblis ular yang sangat ganas. Dialah Wira Pradana, Kaisar muda Negeri Awan.
Hari ini seharusnya menjadi hari penobatan Permaisurinya.
Namun, hari yang semestinya dipenuhi sukacita dan perayaan itu justru diawali oleh serangkaian kejadian aneh.
Pertama, Rara Atmaja, putri Perdana Menteri, menghilang secara misterius.
Lalu, jutaan ular berbisa bermunculan dari seluruh saluran air di ibu kota kekaisaran dan mulai menyerang rakyat, termasuk seekor iblis ular berusia ratusan tahun yang sangat kejam.
Wira segera memimpin para Pengawal Kekaisaran untuk bertempur melawan iblis ular beserta kawanan ular-ularnya.
Namun, tepat ketika kemenangan sudah berada di depan mata, kemunculan sosok yang menyebut dirinya sebagai Dewa Pedang itu justru membuat keadaan menjadi semakin rumit.
"Dia salah!" teriak Wira. "Apa dia benar-benar baru saja mengatakan kalau semua ini ulahku? Bahwa aku telah bekerja sama dengan iblis ini untuk mencelakai rakyatku sendiri?!"
Merasa diperlakukan dengan sangat tidak adil, matanya memancarkan kebingungan sekaligus tekad yang tak tergoyahkan.
Tiba-tiba, kilatan cahaya pedang melesat turun dari langit.
Cahaya dingin yang tajam itu menembus tepat ke dahi iblis ular tersebut, menghancurkannya seketika menjadi kabut darah dan daging yang beterbangan.
Percikan darah iblis itu menyiram seluruh tubuh Wira.
"Sial... itu luar biasa." gumam Wira, terpukau oleh kekuatan dahsyat yang baru saja ia saksikan.
Dan bukan hanya dirinya yang terkejut. Para pejabat dan rakyat Negeri Awan memandang pemandangan itu dengan campuran rasa takut dan hormat.
"Iblis ularnya sudah mati! K-kita selamat! Kita selamat!"
"Kekuatan Dewa Pedang benar-benar luar biasa!"
"Hidup penyelamat kita!"
...
Gelombang rasa syukur menyebar di antara rakyat yang berhasil diselamatkan. Banyak dari mereka kembali berlutut, mengucapkan terima kasih dengan penuh ketulusan.
Tiba-tiba, sebuah suara menggelegar menggema.
"Wira!"
Sebelum Wira sempat menyadari apa yang terjadi, Dewa Pedang telah muncul tepat di atasnya.
Alis Dewa Pedang berkerut dingin penuh penghinaan, sementara aura pedangnya berputar dengan begitu mendominasi. Hanya hembusan dari pedangnya saja sudah meninggalkan luka-luka berdarah di tubuh Wira.
"Kau memerintah negeri ini, namun membiarkan monster-monster mencelakai rakyatmu sendiri. Kau harus mempertanggungjawabkan semua ini!" Tatapan tajam sang Dewa Pedang tidak bergeming sedikitpun saat mengucapkan kata-kata itu kepada Wira.
"Apa...?" Wira baru saja hendak berbicara, tetapi langsung disela oleh rentetan suara dari kerumunan.
"Dia yang memelihara iblis ular itu? Kaisar kita?"
"Kalau Dewa Pedang yang mengatakannya, pasti itu benar!"
"Aku tidak percaya... bagaimana mungkin dia mengkhianati kita seperti ini...?!"
...
Bisik-bisik penuh keterkejutan segera menyebar di tengah kerumunan.
Dari dalam istana, Perdana Menteri Negeri Awan, Danu Atmaja, melangkah keluar dengan wajah dipenuhi amarah. Sambil menunjuk ke arah Wira, ia meraung, "Wira, kau benar-benar bodoh! Rakyat menjunjungmu sebagai Penguasa mereka, tetapi kau begitu buta dan ceroboh hingga membahayakan nyawa begitu banyak orang!"
Ia kemudian berlutut di tanah, air mata mengalir di wajahnya. "Yang Mulia Kaisar terdahulu! Bimbinganku telah gagal, hingga membiarkan Penguasa Muda menyimpang dan melakukan kesalahan sebesar ini. Kekacauan ini juga merupakan dosaku!”
Seketika itu juga, semua kesalahan seolah ditimpakan kepada Wira.
"Dewa Pedang!" Ia mengertakkan gigi dan berteriak. "Berikan aku kesempatan untuk membela kehormatanku! Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan iblis ular ini..."
Sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya, Dewa Pedang memotongnya dengan seringai dingin. "Diam! Persepsiku menjangkau langit dan bumi. Dosamu telah terlihat jelas. Tak perlu lagi mencari-cari alasan. Hari ini, aku akan menegakkan keadilan atas nama langit dan mengirimmu ke neraka!"
Wira terhuyung mundur. Mata merahnya dipenuhi ketidakpercayaan dan amarah. "Persepsimu menjangkau langit dan bumi? Mungkin itu bisa membodohi rakyat biasa, tapi kau hanyalah seorang Kultivator Pedang! Aku yakin semua kekacauan dengan iblis ular ini memang ulahmu sejak awal! Kita bahkan belum pernah bertemu sebelumnya, jadi kenapa kau sengaja menjebakku!? Kalau sektemu mengetahui perbuatanmu, mereka pasti akan memenjarakanmu!"
Bagi rakyat biasa, para kultivator yang menggunakan pedang dianggap sebagai dewa yang pantas dipercaya dan dipuja tanpa keraguan. Namun Wira tidak semudah itu tertipu. Ia tahu para Kultivator itu tak lebih dari orang-orang yang berpura-pura menjadi dewa.
"Wira, tutup mulutmu!" bentak seorang pejabat.
"Kau sudah gila! Berani-beraninya berbicara seperti itu kepada Dewa Pedang?" teriak yang lain.
"Ini sudah keterlaluan. Dia akan membawa kutukan kepada kita semua," seru seorang wanita dari tengah kerumunan.
…
Amarah orang-orang yang menyaksikan kejadian itu semakin memuncak. Rasa muak mereka terhadap Wira terlihat begitu jelas.
Kultivator Pedang itu melihat kegaduhan tersebut lalu mendarat tepat di depan Wira. Matanya dipenuhi ejekan. "Dengar itu?" katanya sambil terkekeh. "Bagi serangga sepertimu, aku memang tak ubahnya seorang Dewa! Namaku Bima Wijaya! Ingatlah, atau lupakan saja. Tidak ada bedanya. Karena hari ini kau akan mati di tanganku!"
Tanpa berkata apa-apa lagi, matanya menyipit dan ia mengacungkan dua jarinya seperti sebilah pedang, menusuk lurus ke arah dahi Wira. Ia benar-benar berniat membunuh Wira.
"Tunggu!" Sebuah suara wanita memecah ketegangan.