Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kultivator Penentang Langit

Kultivator Penentang Langit

JACKBROWN | Bersambung
Jumlah kata
263.7K
Popular
7.9K
Subscribe
217
Novel / Kultivator Penentang Langit
Kultivator Penentang Langit

Kultivator Penentang Langit

JACKBROWN| Bersambung
Jumlah Kata
263.7K
Popular
7.9K
Subscribe
217
Sinopsis
FantasiFantasi TimurKultivasiJurus PedangHarem
Pada hari pernikahannya, Jaka Manggala—yang dikenal sebagai Bima Adinata, si sampah Klan Adinata—diracun, diusir, dan dipisahkan dari keluarganya. Tapi mereka tidak tahu bahwa ia telah bereinkarnasi dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya. Dengan Mutiara Racun Langit yang menyatu dalam tubuhnya, dan kekuatan kuno yang terbangun di dalam jalur mendalamnya, Jaka memulai perjalanan untuk bangkit dari bawah, membalikkan penghinaan, melindungi orang-orang yang dicintainya, dan… melawan para dewa.
Bab 1 - Benua Cahaya Abadi

Pegunungan Langit Terlarang,

Saat ini, di tepi tebing tersebut, seorang pemuda sedang bersandar pada sebuah batu besar.

Di hadapannya berdiri lautan manusia yang menutup seluruh jalan pelariannya.

"Jaka, kau sudah terpojok! Jika kau menurut dan menyerahkan Mutiara Racun Langit kepada kami, mungkin kami akan membiarkanmu tetap hidup!"

"Hari ini kami akan menegakkan keadilan atas nama langit untuk menyingkirkan bencana sepertimu! Jika kau segera menyerahkan Mutiara Racun Langit itu, kami akan memberimu kematian yang layak. Jika tidak, kau akan merasakan penderitaan yang sangat menyakitkan!"

"Jaka! Berhentilah bersikap keras kepala! Satu-satunya jalan keluar bagimu adalah menyerahkan Mutiara Racun Langit! Kau tidak pantas memiliki benda suci seperti itu!"

Gelombang teriakan bergema dari kerumunan.

Kerumunan itu terdiri dari klan-klan terkuat di seluruh Benua Cahaya Abadi. Para pemimpin setiap klan hadir di sana, bahkan beberapa tetua legendaris yang telah lama mengasingkan diri pun ikut muncul.

Sambil perlahan mendekat, kerumunan itu terus melontarkan ancaman.

"Kalian... menginginkan... Mutiara Racun Langit ini?"

Jaka Manggala tertawa dingin. Perlahan ia mengangkat tangan kanannya. Sebuah mutiara berwarna hijau giok dengan cahaya redup muncul di telapak tangannya.

Begitu mutiara itu memancarkan sinarnya, semua orang langsung menghentikan langkah mereka.

"Guruku menghabiskan seluruh hidupnya untuk menyelamatkan dunia. Ia telah menyelamatkan tak terhitung banyaknya orang tanpa pernah mengharapkan keuntungan ataupun ketenaran. Namun hanya karena Mutiara Racun Langit ini, kalian... para anggota sekte yang mengaku sebagai sekte benar... membunuh guruku tujuh tahun yang lalu."

"Aku membenci... membenci diriku sendiri karena begitu lemah. Selama tujuh tahun ini, aku tidak mampu membantai habis kalian semua... para bajingan dari sekte-sekte munafik yang mengaku sebagai sekte benar!"

Dengan mata yang dipenuhi kebencian, ia menatap semua orang, lalu tertawa dingin, "Kalian para bajingan, menginginkan Mutiara Racun Langit milikku... Bermimpi saja kalian!!"

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Jaka tiba-tiba mengangkat tangannya dan memasukkan Mutiara Racun Langit ke dalam mulutnya. Ia menelannya bulat-bulat hingga mutiara itu langsung masuk ke dalam perutnya.

"Apa... Apa yang kau lakukan!"

"Dia benar-benar... menelan Mutiara Racun Langit!"

"Jaka! Apa kau benar-benar ingin mati!"

"Tidak masalah! Bunuh saja dia, lalu ambil mutiaranya!"

Mutiara Racun Langit telah masuk ke dalam tubuhnya, tetapi racun itu tidak langsung menyebar dan membunuhnya seperti yang dibayangkan semua orang. Sebaliknya, cahaya hijau redup perlahan memancar dari permukaan tubuhnya.

"Bunuh dia sekarang juga! Kalau tidak, Mutiara Racun Langit itu bisa mengalami perubahan di dalam tubuhnya. Kalau itu terjadi, semuanya akan menjadi masalah besar!"

Sambil meraung, belasan orang yang berada di barisan paling depan langsung menyerbu Jaka secara bersamaan.

Melihat wajah-wajah orang yang paling ingin ia musnahkan, Jaka justru tertawa.

"Aku memang tidak punya kemampuan untuk membunuh kalian semua. Tapi jangan pernah berpikir kalian bisa membunuhku! Sampah seperti kalian tidak pantas memiliki Mutiara Racun Langit, apalagi membunuhku. Jika aku harus mati, maka aku akan mati oleh tanganku sendiri! Hahaha..."

Setelah tertawa, Jaka mengerahkan seluruh sisa tenaganya dan melompat ke belakang.

"Hentikan dia!!!"

Beberapa orang segera mengulurkan tangan setelah menyadari niat Jaka, tetapi mereka bahkan tidak mampu menyentuh bayangannya. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menyaksikan tubuhnya jatuh bebas menuju dasar lembah.

~~~

Kesadaran Jaka perlahan-lahan mulai pulih.

‘Apa yang sebenarnya terjadi... Bagaimana mungkin aku belum mati? Aku ingat dengan jelas bahwa aku melompat dari Tebing Hukuman Abadi. Lalu bagaimana aku masih bisa hidup? Anehnya, tubuhku sama sekali tidak terasa sakit... Bahkan aku tidak merasakan sedikit pun ketidaknyamanan. Apa yang sebenarnya terjadi?’

Jaka tiba-tiba membuka kedua matanya dan segera duduk tegak. Ia mendapati dirinya sedang berbaring di atas sebuah ranjang.

"Ah! Bima! Kau... Kau sudah sadar!"

Suara seruan penuh keterkejutan seorang gadis terdengar di telinganya.

Sesaat kemudian, gadis itu memasuki pandangannya.

Sekilas, gadis berpakaian hijau yang sangat cantik itu tampak berusia sekitar lima belas tahun, Di usianya yang masih begitu muda, ia sudah memiliki pesona luar biasa.

Menatap gadis yang berdiri di dekatnya, Jaka memperhatikannya dengan saksama.

Tanpa sadar, satu kata keluar dari bibirnya. "Yara?"

Gadis itu mengangkat tangannya dan menyentuhkan telapak tangannya ke dahi Jaka. Tak lama kemudian, wajahnya tampak lega.

Dengan ekspresi penuh kebahagiaan, ia berkata, "Syukurlah, suhu tubuhmu hampir kembali normal. Kau benar-benar hampir membuatku mati ketakutan. Bima, bagaimana keadaanmu? Apa ada bagian tubuhmu yang terasa tidak nyaman? Cepat beritahu aku."

Menghadapi tatapan gadis yang dipenuhi kekhawatiran itu, Jaka hanya menggeleng pelan.

"Beristirahatlah dulu di sini. Aku akan pergi memberi tahu kakekmu bahwa kau sudah sadar. Hari ini adalah hari besarmu! Saat kau pingsan tadi, kakekmu hampir kehilangan akal. Dia bahkan pergi sendiri mencari Tabib Dirman untuk mengobatimu."

Setelah pintu tertutup, Jaka kembali duduk di atas ranjang sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan.

Tempat ini adalah salah satu kota di wilayah paling timur yang berada di salah satu dari Tujuh Kekaisaran di Benua Bintang Surgawi, yaitu Kota Langit Terapung. Dan identitasnya saat ini adalah satu-satunya cucu dari Tetua Kelima Klan Awan Senja, yaitu Bima Adinata. Tahun ini usianya baru menginjak enam belas tahun.

Itulah identitasnya saat ini.

Tiba-tiba, ingatannya dari Benua Cahaya Abadi kembali terlihat.

‘Jika aku adalah Bima... lalu mengapa aku memiliki kenangan tentang Benua Cahaya Abadi Apakah setelah aku mati di Benua Cahaya Abadi, jiwaku berpindah ke tubuh ini?'

Jaka... atau kini Bima... terdiam cukup lama. Perlahan-lahan ia menenangkan dirinya dan mulai merapikan pikirannya yang kacau.

Saat itu masih pagi buta. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan putri Keluarga Wijaya.

Dua jam yang lalu, Yara membangunkannya, lalu membantunya mengenakan jubah pengantin berwarna merah. Setelah itu, ia memakan semangkuk bubur yang dimasak sendiri oleh Yara. Tak lama kemudian, seluruh tenaga di tubuhnya tiba-tiba menghilang. Setelah itu, ia tidak lagi mengingat apa pun.

Baru sekarang ia kembali sadar.

Tiba-tiba, aroma yang asing tercium dari bibirnya. Sudut bibir Bima sedikit bergerak, sementara raut wajahnya langsung berubah muram.

‘Ini adalah... Bubuk Penghancur Jantung!’

Selama bertahun-tahun hidup di Benua Cahaya Abadi, Jaka telah mempelajari hampir seluruh jenis racun yang ada di dunia karena

Dapat dikatakan bahwa tidak ada racun yang tidak dikenalnya. Hanya dengan mencium aromanya, ia mampu mengetahui nama dan khasiat racun tersebut. Pada saat yang sama, berkat Mutiara Racun Langit, tubuhnya juga kebal terhadap segala jenis racun.

Tatapan Bima menjadi suram. Dalam sekejap, ia memahami apa yang sebenarnya telah terjadi.

Ia telah bereinkarnasi ke dunia ini dan memasuki tubuh yang telah mati!

Tiba-tiba, telapak tangan kirinya merasakan sensasi yang aneh. Bima mengangkat tangan kirinya, lalu terkejut saat melihat sebuah tanda berbentuk lingkaran berwarna hijau tercetak di telapak tangannya.

Mutiara Racun Langit!

Seolah sedang bermimpi, Bima menatap tanda Mutiara Racun Langit itu dan tanpa sadar berbisik, "Mutiara Racun Langit....”

Begitu suaranya menghilang, tanda hijau di telapak tangannya tiba-tiba memancarkan cahaya hijau. Seketika kepalanya terasa sedikit pusing hingga ia tanpa sadar menutup mata. Ketika kembali membuka mata, seluruh dunia di hadapannya telah berubah menjadi lautan cahaya hijau.

Setelah terdiam cukup lama, Bima akhirnya menyadari bahwa dirinya telah memasuki dunia yang berada di dalam Mutiara Racun Langit.

Bima menutup kedua matanya kembali dan memusatkan pikirannya. Seketika dunia hijau itu perlahan menghilang. Saat ia kembali membuka mata, yang terlihat di hadapannya sekali lagi adalah kamar yang sama.

Menatap tanda hijau samar di telapak tangannya, Bima perlahan tersenyum.

Lanjut membaca
Lanjut membaca