

Malam itu saat bulan darah terjadi, seorang anak lahir dari wanita paling cantik di kota Phoenix.
"Selamat Arini, kamu melahirkan bayi laki-laki, tapi ...." Bidan persalinan yang membantunya terdiam, begitu menatap bayi laki-laki di tangannya.
"Tapi apa Bi?" tanya Arini yang masih terlihat lelah setelah persalinan pertamanya. "Bawa kesini. Aku ingin melihatnya."
Bidan persalinan itu menggendong anak laki-laki tadi mendekat, bayi itu begitu mungil dan menggemaskan, ia tidak menangis semenjak berada di dunia yang nampak asing baginya.
Tidak seperti bayi pada umumnya, bayi itu begitu tenang. Begitu Arini melihat bayinya, ia mendapati rambut tipis itu berwarna putih. Bukan hanya rambut di kepalanya. Tapi di alis dan bulu matanya juga putih.
Sedangkan ketika bayi itu membuka matanya, menatap Arini. Irisnya berwarna keperakan. Bagi orang lain ini jelas bukan sesuatu yang normal.
"Ba-bagaimana ini?" ujar Arini, ia meneteskan airmata sembari memeluk anaknya.
"Nona, mumpung masih bayi. Sebaiknya ..."
"Jangan, tolong jangan katakan hal itu padaku. Dia buah hatiku, harta paling berharga. Aku ... Tidak akan melakukan sesuatu yang menyakitinya."
Begitulah akhirnya Arini mengambil keputusan. Waktu berlalu, Arini membawa anaknya kembali ke desa Bintang dan memberi bayinya nama Sakti.
Bayi itu tumbuh begitu sehat, tapi seiring waktu meski Arini mencoba menyembunyikannya. Semua orang pada akhirnya melihat Sakti dan yang melihatnya, menganggap bayi itu adalah bentuk dari kesialan. Aneh dan menakutkan.
Sakti kecil selalu diejek, tak memiliki teman dan berakhir pada pengucilan antara dirinya serta Ibunya.
"Bu, hari ini aku akan bermain dengan Juna dan kawan-kawan," ujar Sakti sore itu.
Arini yang sedang sakit menatap Sakti dari atas kasur. "Nak, uhuk ... uhuk ... bermain kemana?" tanyanya.
Sakti saat ini sudah berumur lima tahun, ia sudah terbiasa membantu ibunya menyiapkan hal-hal sepele seperti mengambilkan air minum dan sebagainya, yang bisa ia lakukan.
"Minum dulu Bu," ujar Sakti sembari menyerahkan segelas air pada Ibunya.
Arini menerima gelas air itu tapi tatapannya semakin lekat kepada Sakti. Ia tahu warga desa tidak begitu menyukai anaknya, jadi mengapa hari ini mereka akan mengajaknya bermain?
"Nak, kamu yakin mereka akan mengajakmu bermain?"
Sakti mengangguk bahagia, "mereka akan mengajakku bermain siapa cepat dia dapat."
Arini mengerutkan keningnya, permainan macam apa itu. Ia baru saja mendengar hal seperti itu.
"Di mana kalian akan bermain?" tanya Arini lagi.
"Di lapangan desa, tentu saja di sana Bu. Apa aku tidak boleh ikut?" tanya Sakti, wajahnya terlihat muram menunggu jawaban dari Ibunya.
Arini tersenyum dan membelai kepala Sakti dengan lembut. "Boleh, bermainlah bersama mereka."
Wajah Sakti kini terlihat lebih ceria, matanya yang keperakan itu sangat indah bagi Arini meski beberapa orang malah menghinanya. Bagi Arini anaknya memang istimewa dan hanya dia yang menyadari itu.
Hal yang Arini tidak ketahui adalah, permainan siapa cepat dia dapat adalah ajakan untuk mencuri di rumah kepala desa yang sedang mengadakan pesta hari ini.
Saat ini ada lima orang bocah berdiri di pagar belakang rumah kepala desa, empat di antaranya berumur sekitar delapan sampai sepuluh tahun. Yang terkecil di antara mereka adalah Sakti.
"Sakti, kalau kamu ambil makanan di sana. Kami akan mengakui kamu masuk ke dalam kelompok ini," yang bicara Juna, salah satu yang tertua di antara mereka dan memiliki tubuh lebih besar dari yang lainnya.
Sakti sebenarnya tidak begitu peduli, ia tidak masalah tidak masuk ke dalam kelompok Juna. Hanya saja, Ibunya sedang sakit, tak ada makanan di rumah. Ia tak memiliki pilihan lain selain mengiyakan apa yang Juna minta. Karena Sakti kecil, juga memanfaatkan mereka untuk mencuri makanan itu.
Tak ada yang tahu, bahkan Ibunya sekalipun, jika mata Sakti yang keperakan itu memiliki kemampuan untuk merekam semua pergerakan yang ia lihat dan menghapalnya dalam sekejap saja. Itu karena Sakti kecil tak pernah tau kalau matanya unik.
Sakti sudah memperhatikan rumah kepala desa itu, ia menghitung dan menghapal setiap wajah pelayan yang bekerja seperti ia mengenal mereka bertahun-tahun lamanya.
"Masuklah Sakti, kami akan berjaga di sini untukmu, utamakan beras dan daging." Juna kembali berkata.
Sakti tahu, mereka tidak menyukainya. Mereka tidak akan melindungi, tapi setidaknya mereka pasti akan memberi jalan agar Sakti bisa masuk dengan mudah agar mereka juga bisa menikmati hasil curian itu.
Sakti mengangguk, tubuh kecilnya mulai memanjat tangga kayu yang dibawa dari rumah Juna menuruni pagar tinggi milik kepala desa.
Warga desa Bintang memiliki pekerjaan rata-rata sebagai petani dan pengrajin.
Dinamai desa Bintang karena area ini memiliki pemandangan yang sangat indah di malam hari. Dengan kerlip bintang di langit, seperti lentera yang bergelantungan.
Di sana beberapa orang tengah berpesta, karena penyerahan upeti berakhir dengan baik. Mereka minum, makan dan menari. Menikmati pesta malam itu dengan alunan lagu.
Tak menyadari Sakti yang sudah mengendap ke dapur. Tempat dimana ia bisa mendapatkan lebih banyak makanan.
Glek!!
Sakti menelan ludah, perutnya berbunyi karena ia juga belum makan beberapa hari ini. Makanan yang tersisa hanya ia berikan kepada Ibunya.
Sakti mengambil sekarung beras, mengantarnya kepada Juna. Lalu ia diminta kembali lagi mengambil beberapa ikat daging dan kembali mengantarnya kepada Juna.
Untuk Sakti sendiri, ia sudah menyimpan beras beberapa genggam, memasukkannya ke dalam kantong kain yang sudah ia persiapkan.
Dilihatnya terhampar aneka makanan di atas meja, makanan yang akan diantar ke tengah pesta.
"Jika aku mengambil sedikit, apa akan ketahuan?" gumam Sakti. Ia mendekat secara perlahan dan brukh!
Bunyi itu datang, Sakti menoleh dan melihat Juna serta teman-temannya mengambil kembali tangga yang seharusnya digunakan sebagai tempat pelarian Sakti.
Terakhir kali ia melihat senyum jahat dari Juna dan teman-temannya yang lain. Sakti tahu ia tidak disukai, tapi tak menduga mereka akan bersikap kejam padanya. Meninggalkannya sendirian.
Kepala Sakti kembali menoleh ke arah makanan yang ada, ia kemudian mengambil dua iris daging dan roti. Memakannya sembari bersembunyi di bagian belakang dapur.
Satu iris daging dan roti ia simpan untuk Ibunya, Sakti hanya perlu menunggu keadaan tenang untuk keluar dan pergi dari rumah kepala desa. Jika ketahuan, maka habislah ia. Dan mungkin Ibunya juga akan terkena masalah.
"Dasar pencuri!!"
Sakti hampir terkejut, begitu ia menoleh ia mendengar suara itu. Sakti kira ia ketahuan, ternyata Juna dan beberapa temannya yang tertangkap.
Tapi hal lain terjadi, di tempat persembunyiannya. Sakti melihat Juna dan anak-anak lain ditampar, kemudian Juna menunjuk ke arahnya.
"Tangkap semua pencuri kecil itu!! Temukan siapa saja yang berani mencuri di rumahku!!" teriak kepala desa nampak murka.
Mata Sakti tidak hanya mampu merekam apa yang ia lihat, tapi matanya juga memiliki penglihatan lebih jelas dari manusia lainnya. Penglihatannya di malam hari sejernih ia melihat di siang hari.
"Di sini ada satu!!" teriak pengawal kepala desa, Sakti menoleh cepat. Dan mendapati pengawal itu berada hanya 5 meter darinya.
"Jangan lari!!" teriak pengawal itu begitu melihat Sakti berlari.