Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kebangkitan Dewa Pedang

Kebangkitan Dewa Pedang

JACKBROWN | Bersambung
Jumlah kata
66.2K
Popular
194
Subscribe
8
Novel / Kebangkitan Dewa Pedang
Kebangkitan Dewa Pedang

Kebangkitan Dewa Pedang

JACKBROWN| Bersambung
Jumlah Kata
66.2K
Popular
194
Subscribe
8
Sinopsis
FantasiFantasi TimurKultivasiJurus PedangDewa Pedang
Bara Mahesa adalah jenius bela diri yang jatuh dari tingkat Pra-Surgawi ke Surga Ketiga tanpa sebab jelas. Ia diusir dari akademi, dihina keluarganya, dan hidup terpuruk. Namun, segel pada Cincin Semesta peninggalan kakeknya terbuka, memunculkan roh Raden Wiratama—petarung legendaris 4.000 tahun lalu. Bara mewarisi teknik terlarang tersebut dan mulai bangkit. Dengan berburu makhluk spiritual dan mengumpulkan sumber daya, ia naik ke tingkat Surga Keenam hanya dalam sebulan. Kini ia siap membalas semua hinaan dan membuktikan bahwa genius sejati tak pernah mati.
Bab 1 - Jenius Klan Mahesa

“Klan Mahesa dari kota Awan Hitam sungguh mulia! Nama mereka akan tersebar ke seluruh negeri!”

“Klan Mahesa begitu kuat dan makmur, nama sang jenius Klan Mahesa akan bergema ke seluruh penjuru!”

Setahun yang lalu, perkataan seperti itu terdengar di seluruh kota Awan Hitam.

Bahkan anak kecil berusia tiga tahun pun mengenal nama Klan Mahesa.

Klan Mahesa memperoleh ketenaran yang begitu luar biasa karena lahirnya seorang jenius bela diri bernama Bara Mahesa.

Bara memulai perjalanan bela diri pada usia lima tahun, dan pada usia enam tahun ia telah menjadi seorang pendekar Tingkat Surga Ketiga.

Di usia delapan hingga dua belas tahun, kultivasinya meningkat dari Tingkat Surga Keenam hingga Tingkat Surga Kesembilan.

Pada usia empat belas tahun, ia berhasil menembus Tingkat Surga Kesembilan dan mencapai ranah Pra-Surgawi.

Ia telah menjadi seorang pendekar yang sangat kuat.

Di seluruh kota Awan Hitam, jumlah pendekar ranah Pra-Surgawi sangatlah sedikit.

Bahkan di keluarga-keluarga besar sekalipun, jumlah pendekar Pra-Surgawi tidak mencapai selusin.

Karena itulah, seluruh kota Awan Hitam terguncang ketika mendengar kabar bahwa seseorang berhasil mencapai ranah Pra-Surgawi pada usia empat belas tahun.

Saat berusia enam belas tahun, Bara berhasil diterima di Institut Dewa Angin, salah satu dari tiga institut terbaik di Provinsi Naga Hitam.

Ia adalah satu-satunya pendekar dari kota Awan Hitam yang berhasil memasuki salah satu dari tiga institut terbaik dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

Pada saat itu, kejayaan Bara bersinar di seluruh kota Awan Hitam.

Ia adalah kebanggaan Klan Mahesa, dan namanya selalu disebut oleh setiap murid Klan Mahesa.

Meskipun baru berusia enam belas tahun, Bara telah menjadi panutan bagi tak terhitung banyaknya pendekar muda di kota itu.

Namun, tepat setahun yang lalu, Bara dikeluarkan dari Institut Dewa Angin dan tidak punya pilihan selain kembali ke klannya.

Kasus seseorang direkrut oleh Institut Dewa Angin lalu dikeluarkan kembali merupakan kejadian yang sangat langka.

Ketika kabar itu menyebar, bukan hanya Bara yang menjadi bahan ejekan para pendekar lain, bahkan Klan Mahesa sendiri ikut menjadi sasaran cemoohan dan gunjingan di seluruh kota.

Bara dikeluarkan karena tingkat kultivasi bela dirinya terus menurun.

Bukan saja tingkat kultivasi Bara tidak mengalami peningkatan selama berada di Institut Dewa Angin, justru terus merosot.

Dalam enam bulan berada di institut tersebut, tingkat kultivasinya turun dari ranah Pra-Surgawi kembali ke Tingkat Surga Kesembilan.

Namun, itu hanyalah permulaan.

Pada bulan-bulan berikutnya, tingkat kultivasinya turun hampir satu tingkat setiap bulan.

Kini, kultivasi Bara telah merosot hingga Tingkat Surga Ketiga.

Pada awalnya, setelah Bara kembali ke klan, para tetua Klan Mahesa beberapa kali mengadakan pertemuan untuk mencari tahu penyebab turunnya tingkat kultivasi Bara.

Namun, semua usaha itu tidak membuahkan hasil.

Klan Mahesa telah menghabiskan begitu banyak sumber daya untuk meningkatkan kekuatan Bara, tetapi bahkan hal itu pun tidak mampu menghentikan kemerosotan tingkat kultivasi bela dirinya.

Pada akhirnya, mereka hanya bisa menyerah.

Kini, setiap kali nama Bara disebut, para anggota Klan Mahesa hanya bisa menghela napas panjang penuh penyesalan.

Bintang yang dahulu bersinar paling terang kini telah menjadi bukan siapa-siapa.

Sekarang, Bara tinggal di sebuah kamar yang berada di pinggiran kediaman Klan Mahesa.

Saat Bara masih dihormati oleh rekan-rekannya, para pendekar Klan Mahesa setiap hari datang mengunjunginya di halaman kecil itu.

Namun sekarang, halaman itu sunyi dan terbengkalai.

Bahkan seekor burung pun tidak terlihat di sana.

Di dalam kamar, Bara sedang duduk bersila di atas tempat tidurnya.

“Huu...” Bara, yang baru saja menyelesaikan satu putaran kultivasi, perlahan membuka matanya.

Senyum pahit muncul di wajahnya.

“Masih tetap sama!” Bara menggeleng pelan.

“Energi Vital yang berhasil kukultivasikan langsung menghilang tanpa meninggalkan jejak. Apa sebenarnya yang kulakukan hingga menjadi seperti ini?”

Perasaan tidak berdaya memenuhi hati Bara.

Sebenarnya, ia masih mampu menghasilkan Energi Vital setiap kali berkultivasi.

Namun, begitu ia menghentikan kultivasinya, Energi Vital itu akan lenyap hanya dalam beberapa tarikan napas.

Seolah-olah energi itu tidak pernah berhasil ia bangkitkan sejak awal.

Biasanya, para pendekar dapat menghasilkan Energi Vital melalui kultivasi, lalu menyimpan Energi Vital tersebut di dalam tubuh mereka.

Semakin banyak Energi Vital yang tersimpan di dalam tubuh seorang pendekar, semakin tinggi pula tingkat kultivasi bela dirinya.

Namun, tubuh Bara bagaikan sebuah botol yang berlubang di bagian bawah.

Ia tidak lagi mampu menyimpan Energi Vital dengan baik.

Tidak peduli seberapa banyak Energi Vital yang berhasil ia kultivasikan, semuanya akan mengalir keluar begitu ia selesai berkultivasi.

Bahkan Bara sendiri tidak mengetahui penyebab sebenarnya.

Semua ini mulai terjadi tiga bulan setelah ia memasuki Institut Dewa Angin.

Pada awalnya, Bara tidak terlalu memedulikannya.

Namun, hanya dalam beberapa bulan, tingkat kultivasinya merosot dari ranah Pra-Surgawi hingga kembali ke Tingkat Surga Kesembilan.

Saat itulah Bara menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya.

Jika orang biasa mengalami naik turun seperti itu, mereka pasti sudah lama menyerah pada diri sendiri.

Namun, Bara tidak demikian.

Pikiran untuk menyerah pada seni bela diri bahkan tidak pernah terlintas di benaknya.

Meskipun tingkat kultivasinya terus menurun, ia tetap berkultivasi setiap hari.

Walaupun ia tidak mampu mempertahankan Energi Vital lebih dari beberapa saat, tidak pernah sekalipun ia melewatkan satu hari tanpa berkultivasi.

"Apakah aku akan menjadi manusia biasa?" Bara menatap langit ketika senja mulai turun.

"Tidak! Aku tidak percaya! Aku akan bangkit kembali dan mencapai puncak sekali lagi."

"Aku harus terus berlatih!"

Bara berdiri, menggerakkan tubuhnya sejenak, lalu kembali duduk bersila untuk melanjutkan kultivasinya.

Waktu mengalir bagaikan sungai dan berlalu dengan cepat.

Perlahan-lahan, malam pun berganti menjadi pagi, dan cahaya mentari mulai menyinari bumi.

Bara menghabiskan sepanjang malam untuk berkultivasi, menyelesaikan enam putaran penuh dan berhasil mengumpulkan cukup banyak Energi Vital.

"Jangan menghilang! Jangan menghilang!" gumamnya dalam hati ketika ia mengakhiri sesi kultivasi itu.

"Masih sama saja."

Ia menghela napas saat merasakan Energi Vital yang baru saja ia kultivasikan menghilang dengan kecepatan yang mencengangkan.

Bara kembali menggelengkan kepala.

Sebenarnya, ia tahu kemungkinan untuk mempertahankan Energi Vital itu sangat kecil, tetapi setiap kali menyelesaikan satu putaran kultivasi, Bara selalu berharap hasilnya akan berbeda.

Harapan itu hancur berkali-kali, tetapi ia tetap menggenggamnya, dan putaran itu terus berulang.

"Hah?"

Saat Bara hendak berdiri dan meregangkan kakinya di halaman, indranya tiba-tiba merasakan sesuatu yang baru.

Ia mendeteksi sensasi yang tidak biasa di dalam tubuhnya.

Kali ini, ada sesuatu yang berbeda pada hilangnya Energi Vital miliknya.

Energi Vital itu tidak menghilang seperti biasanya.

"Apa yang sedang terjadi?"

Pandangan Bara segera tertuju pada cincin yang melingkar di jarinya.

Cincin Semesta, itulah nama cincin tersebut.

Kakeknya telah mewariskan cincin itu kepadanya lebih dari setahun yang lalu.

Kakeknya, Wira Mahesa, adalah mantan Pemimpin Klan Mahesa sebelum dia tiada.

Bara berada di sisi tempat tidur kakeknya saat lelaki tua itu mengembuskan napas terakhir.

Wira secara pribadi menyerahkan Cincin Semesta kepada Bara sambil berpesan agar ia menjaga cincin itu dengan baik dan jangan pernah sampai kehilangannya.

Meskipun Wira tidak pernah menjelaskan mengapa cincin itu begitu berarti baginya, Bara tahu bahwa Cincin Semesta adalah benda yang sangat penting.

Karena itu, sejak menerima Cincin Semesta, Bara tidak pernah melepasnya dari jarinya.

Apa pun yang ia lakukan, cincin itu selalu melekat di tangannya.

Sejak hari pertama cincin itu menjadi miliknya, Bara tidak pernah menemukan sesuatu yang aneh pada cincin tersebut.

Namun, pada saat itu, lapisan cahaya kuning pucat seperti susu perlahan memancar dari permukaan Cincin Semesta.

Karena cincin itu sebelumnya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda keanehan ataupun aktivitas apa pun, Bara pun sedikit mengernyit saat menatapnya.

Ia dapat merasakan kehangatan yang memancar dari Cincin Semesta.

Pada awalnya, rasa hangat itu hanya terkumpul di sekitar telapak tangannya.

Namun, beberapa saat kemudian, sensasi tersebut menyebar ke seluruh tubuhnya.

Cahaya kuning pucat yang memancar dari permukaan cincin itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan meredup.

Sebaliknya, cahaya itu justru semakin lama semakin terang.

Lanjut membaca
Lanjut membaca