Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
LELUHUR TERKILLER SEJAGAT

LELUHUR TERKILLER SEJAGAT

Sang Phengkhayal | Bersambung
Jumlah kata
39.3K
Popular
320
Subscribe
42
Novel / LELUHUR TERKILLER SEJAGAT
LELUHUR TERKILLER SEJAGAT

LELUHUR TERKILLER SEJAGAT

Sang Phengkhayal| Bersambung
Jumlah Kata
39.3K
Popular
320
Subscribe
42
Sinopsis
FantasiFantasi TimurKultivatorReinkarnasiDewa & Iblis
Sepuluh ribu tahun lalu, Tristan adalah Raja Iblis Agung yang tak terkalahkan. Kini, setelah kembali ke tanah kelahirannya, ia mendapati sekte yang pernah didirikannya telah runtuh, sementara para penerusnya hidup dalam penindasan.Dengan amarah yang membara, Tristan bangkit untuk merebut kembali kejayaan warisannya. Saat Sang Leluhur kembali, hanya ada dua pilihan bagi musuh-musuhnya: tunduk... atau binasa.
1

Di Kota Mentari, arena latihan Klan Erlangga dipenuhi lautan manusia. 

Hari itu adalah upacara kedewasaan, hari yang menentukan masa depan setiap keturunan Klan. 

Siapa pun yang menunjukkan bakat luar biasa akan memperoleh perhatian para tetua, sumber daya lebih banyak, bahkan kesempatan mengubah nasibnya.

Di mata semua orang, inilah hari untuk melangkah menuju kejayaan. Namun bagi seorang pemuda yang duduk sendirian di sudut arena, hari itu sama sekali tidak berarti.

Tangannya yang dipenuhi lumpur sibuk membentuk sesuatu di atas tanah. Wajahnya penuh kesungguhan, seolah dunia di sekitarnya tidak ada artinya dibandingkan segumpal lumpur di hadapannya.

"Ayo... berubah menjadi naga."

Jarinya membentuk kepala dan tanduk kecil.

"Ayo, berubah menjadi pohon besar."

Ia kembali menepuk-nepuk lumpur itu hingga membentuk batang yang miring. Lalu senyumnya semakin lebar.

"Ayo... musnahkan semua dewa dan iblis."

Bagi orang lain, semua itu hanyalah ocehan orang gila.

Namun di balik tatapan kosong pemuda itu, sesekali muncul kilatan aneh, seolah kata-kata tersebut bukan sekadar khayalan, melainkan kenangan yang telah lama terkubur.

Hanya saja, kilatan itu menghilang secepat kemunculannya.

Pemuda itu kembali tertawa kecil sambil memainkan lumpurnya.

Dialah Tristan Erlangga.

Di seluruh Kota Mentari, hampir tidak ada orang yang tidak mengenalnya.

Bukan karena bakatnya. Bukan pula karena kekuatannya. Melainkan karena semua orang mengenalnya sebagai... si bodoh Klan Erlangga.

Para pemuda yang berdiri tidak jauh darinya melirik dengan tatapan mengejek.

"Bocah itu benar-benar gila."

"Sudah belasan tahun, tapi otaknya tetap seperti anak kecil."

"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa Kepala Klan masih mempertahankannya."

"Aku dengar dia ditemukan di Pegunungan Awan Iblis."

"Mungkin memang sudah gila sejak lahir."

Gelak tawa kecil terdengar di antara mereka.

Tak seorang pun berusaha mengecilkan suara. Karena mereka tahu, Tristan tidak akan mengerti.

Memang benar, lebih dari sepuluh tahun yang lalu Johan Erlangga menemukan seorang anak kecil di kawasan terlarang Pegunungan Awan Iblis.

Tak diketahui siapa orang tuanya. Tak diketahui pula bagaimana ia bisa bertahan hidup di tempat yang bahkan para ahli pun enggan memasukinya.

Sejak dibawa pulang, Johan Erlangga mengangkatnya sebagai anak. Sayangnya, anak itu tidak pernah tumbuh seperti anak normal.

Kecerdasannya berhenti berkembang. Ia sering mengatakan hal-hal aneh.

Kadang mengaku pernah memusnahkan para dewa. Kadang berkata langit pernah runtuh karena dirinya.

Kadang tertawa sendiri sambil memanggil nama-nama yang belum pernah didengar siapa pun.

Semua orang menganggapnya gila. Namun Johan Erlangga tidak pernah menyerah.

Selama bertahun-tahun, hampir seluruh kekayaannya dihabiskan demi mencari tabib terbaik, ramuan paling langka, dan pil paling berharga.

Setiap kali melihat Tristan tertidur dengan wajah polos, Johan selalu berharap suatu hari nanti anak itu akan membuka mata dan memanggilnya "Ayah" dengan pikiran yang benar-benar sadar.

Sayangnya, harapan itu tak pernah menjadi kenyataan.

Di atas panggung utama, para petinggi Klan Erlangga telah duduk berjejer.

Penguasa Kota Mentari, Raka Wisesa, beserta para pemimpin Klan besar lainnya juga hadir untuk menyaksikan upacara tersebut.

Namun perhatian Raka justru beberapa kali tertuju kepada Tristan yang masih asyik bermain lumpur. Di dalam hatinya muncul rasa iba.

Dahulu ia memang pernah bercanda ingin menjodohkan putrinya dengan anak angkat Johan Erlangga. Saat itu ia mengira Tristan hanyalah anak yang terlambat berkembang.

Siapa sangka belasan tahun telah berlalu, keadaan pemuda itu tidak berubah sedikit pun. 

Ia hanya bisa menghela napas. Persahabatannya dengan Johan tetap sama seperti dulu. Tetapi mustahil ia mengorbankan masa depan putrinya.

Sementara itu, Johan Erlangga yang duduk di sampingnya memahami isi hati sahabatnya tanpa perlu mendengar sepatah kata pun.

Ia hanya tersenyum pahit. Sebagai seorang ayah, hatinya jauh lebih sakit daripada siapa pun.

Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat anak sendiri menjadi bahan tertawaan setiap hari.

Namun ia tidak pernah menyesali keputusannya. Baginya, Tristan tetaplah putranya.

Di sisi lain, beberapa tetua Klan memandang Tristan dengan sorot mata dingin. Di mata mereka, keberadaan pemuda itu hanyalah beban.

Selama bertahun-tahun Johan Erlangga terus menggunakan berbagai sumber daya untuk mengobatinya, sementara hasilnya sama sekali tidak terlihat.

Banyak anggota Klan diam-diam menganggap Johan terlalu memanjakan anak angkat yang tidak memiliki masa depan. Terutama Bayu Erlangga.

Tetua Agung itu memandang Johan sekilas sebelum mengusap janggut putihnya.

Hari ini bukan hanya upacara kedewasaan. Hari ini juga merupakan kesempatan terbaik untuk menggoyahkan kedudukan Johan sebagai Kepala Klan.

Apalagi cucunya, Eko Erlangga, telah menjadi kebanggaan seluruh Klan.

Pada usia belum genap enam belas tahun, Eko sudah mencapai tingkat kesembilan Alam Pemurnian Energi.

Prestasi itu belum pernah muncul di Kota Mentari selama hampir satu abad.

Di mata banyak orang, hanya tinggal menunggu waktu sampai Eko menjadi Kepala Klan berikutnya.

Tak lama kemudian, Johan Erlangga berdiri perlahan. Wajahnya tampak jauh lebih tua dibandingkan usianya.

"Upacara kedewasaan... dimulai."

Satu demi satu para peserta maju menuju batu hitam raksasa. Mereka meletakkan telapak tangan di atas permukaannya, lalu menyalurkan energi spiritual.

Nama dan tingkat kultivasi mereka segera diumumkan.

"Riko Erlangga, tingkat kelima Alam Pemurnian Energi."

"Romi Erlangga, tingkat keempat Alam Pemurnian Energi."

"Hana Erlangga, tingkat kedelapan Alam Pemurnian Energi."

Sorak kagum segera menggema.

Hana menerima banyak pujian. Tak lama kemudian giliran Eko Erlangga.

Saat cahaya terang memancar dari batu hitam, seluruh arena langsung bergemuruh.

"Tingkat kesembilan Alam Pemurnian Energi!"

Suasana menjadi riuh. Bahkan para tamu dari Klan lain pun menunjukkan ekspresi kagum.

Bayu Erlangga tersenyum bangga.

Sementara itu, Johan hanya memandang semua itu dengan tenang. Di matanya, semua pujian tersebut terasa begitu jauh. Tatapannya tetap tertuju kepada Tristan.

Pemuda itu bahkan tidak memperhatikan jalannya upacara. Ia masih bermain lumpur. Sesekali ia tersenyum sendiri. Sesekali ia bergumam pelan.

"Aku ingin langit menjadi gelap..."

"...maka langit tidak akan berani terang."

"Aku ingin langit terbelah..."

"...maka langit tidak akan berani menyatu lagi."

Kalimat-kalimat itu membuat seorang gadis bercadar yang berdiri tidak jauh darinya tanpa sadar berhenti melangkah.

Dialah Rika Wisesa. Putri Penguasa Kota Mentari.

Semula ia hanya ingin melihat seperti apa sosok pemuda yang dijodohkan ayahnya. Namun setelah melihat Tristan dari dekat, ia justru merasa bingung.

Tatapan pemuda itu memang kosong. Senyumnya juga tampak lugu. Tetapi ketika mengucapkan kalimat tadi, untuk sesaat muncul wibawa yang begitu sulit dijelaskan.

Seolah orang yang berbicara bukanlah seorang anak bodoh. Melainkan seseorang yang pernah berdiri di puncak dunia.

Perasaan itu menghilang sekejap. Tristan kembali tertawa sambil membuat boneka lumpur.

Rika menggeleng pelan. Mungkin dirinya hanya salah melihat.

Sementara itu, banyak pemuda diam-diam memperhatikan sang putri bercadar.

Mereka penasaran dengan wajah wanita tercantik Kota Mentari yang selama ini selalu menyembunyikan wajahnya.

Namun tidak seorang pun berani bertindak karena Raka Wisesa masih berada di tempat itu.

Di sisi lain, suasana di panggung mulai berubah. Para tetua perlahan mengarahkan pembicaraan kepada Johan.

Tidak lagi secara terang-terangan, melainkan melalui sindiran halus mengenai pembagian sumber daya Klan dan masa depan kepemimpinan.

Semua orang memahami maksud mereka.

Johan tidak membalas. Ia memilih diam. Karena ia tahu, apa pun yang dikatakannya tidak akan mengubah pandangan mereka terhadap Tristan.

Tak lama kemudian, Eko Erlangga melangkah maju. Tatapannya dipenuhi rasa percaya diri.

Sebagai pemilik kultivasi tertinggi, ia memperoleh hak istimewa dalam upacara kedewasaan. Hak untuk menantang siapa pun.

Tatapan Eko perlahan beralih ke sudut arena. Ke arah seorang pemuda yang sedang tersenyum sambil memegang lumpur.

"Aku memilih dia."

Jari Eko menunjuk lurus kepada Tristan Erlangga.

Arena yang semula ramai langsung sunyi.

Semua orang memahami arti pilihan itu. Ini bukan sekadar tantangan. Melainkan hukuman mati yang dibungkus aturan Klan.

Dengan perbedaan kekuatan sebesar itu, Tristan tidak mungkin memiliki kesempatan bertahan hidup.

Wajah Johan Erlangga langsung memucat. Tangannya tanpa sadar mengepal.

Ia tahu persis tujuan Eko. Kalau menerima tantangan itu, Tristan akan mati.

Kalau menolak, dirinya akan dianggap melanggar aturan Klan dan kehilangan kedudukannya sebagai Kepala Klan. Ia terjebak dalam jalan buntu.

Saat seluruh arena menunggu jawabannya, Tristan tiba-tiba berdiri.

Ia mengambil segenggam lumpur, lalu melemparkannya ke udara.

"Ahhh!"

Jeritan yang menyayat hati menggema. Tubuhnya gemetar hebat.

Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Seolah ada sesuatu yang hendak keluar dari dalam pikirannya.

Potongan-potongan bayangan memenuhi benaknya.

Langit yang retak.

Lautan darah.

Gunung mayat.

Suara jutaan makhluk yang bersujud.

Pedang yang membelah alam semesta.

Namun semuanya terlalu kabur untuk dikenali.

"Ahhh!"

Kedua mata Tristan perlahan berubah merah darah. Aura yang sama sekali berbeda mulai memancar dari tubuhnya.

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, senyum bodoh di wajahnya menghilang.

Rika Wisesa yang berada paling dekat langsung mundur beberapa langkah. Entah mengapa, dadanya dipenuhi rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Raka Wisesa seketika menarik putrinya menjauh.

"Hati-hati!"

Johan Erlangga berlari secepat mungkin menuju Tristan. Wajahnya dipenuhi kepanikan.

Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan sebuah pil berwarna hijau.

"Ini Pil Pemurni Jiwa."

"Tristan... cepat telan!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca