Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pendekar Tak Terkalahkan!

Pendekar Tak Terkalahkan!

Muarahayu | Bersambung
Jumlah kata
61.4K
Popular
1.2K
Subscribe
64
Novel / Pendekar Tak Terkalahkan!
Pendekar Tak Terkalahkan!

Pendekar Tak Terkalahkan!

Muarahayu| Bersambung
Jumlah Kata
61.4K
Popular
1.2K
Subscribe
64
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurPedangDewaPendekar
Di dunia tempat kekuatan menentukan nasib para pendekar, Raden Wira malah memiliki jiwa kanuragan paling rendah. Ia dihina, dipermalukan, bahkan dibuang oleh keluarganya sendiri. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu, tersembunyi Sukma Kanuragan Purba: kekuatan legendaris yang mampu melampaui surga, Dan ketika kekuatan itu bangkit, bahkan langit akan gemetar, sementara para dewa hanya bisa tunduk di hadapannya!!
BAB 1: Jenius Jatuh!

“Variasi ular berkepala dua. Sukma kanuragan tingkat tujuh.”

Ucapan Penatua Agung, Ki Ageng Mahendra terdengar tenang, tetapi bagi Raden Wira, kalimat itu seperti palu besar yang menghantam harga dirinya di hadapan seluruh keluarga.

Pendapa Kanuragan yang sebelumnya dipenuhi harapan mendadak sunyi.

Semua tatapan yang tadi menunggu keajaiban darinya kini berubah. Ada yang kecewa, ada yang terkejut, dan ada pula yang mulai menyembunyikan senyum mengejek di balik wajah pura-pura prihatin.

Raden Wira berdiri di tengah lingkaran cahaya bersudut enam dengan punggung tegak. Wajahnya tetap tenang, seolah keputusan itu sama sekali tidak mengguncangnya.

Namun di dalam dadanya, sesuatu terasa runtuh.

Bukan karena ia tidak mampu menerima hasil itu.

Melainkan karena ia tahu, sukma kanuragan yang baru saja bangkit di belakangnya tidak sesederhana penilaian mereka.

Ular berkepala dua berwarna hitam dan biru itu bukan sukma biasa. Ada tekanan ganjil yang bahkan membuat napasnya sedikit berat saat pertama kali bayangan itu muncul. Akan tetapi, sebelum ia sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi, orang-orang telah lebih dulu menjatuhkan vonis.

Tingkat tujuh.

Variasi biasa.

Tidak sebanding dengan Arya Wijaya.

Hanya dalam beberapa tarikan napas, gelar jenius yang selama ini melekat pada dirinya seolah dicabut paksa dan dilemparkan ke bawah kaki orang lain.

Di altar tinggi, ayahnya, Rakryan Wisesa, menatapnya dengan sorot mata yang berusaha tetap tenang. Namun Raden Wira menangkap kekecewaan samar di balik tatapan itu.

Ibunya, Dyah Sekar, menggenggam tangan sang suami lebih erat. Wajahnya tidak berkata apa-apa, tetapi justru diam itulah yang membuat dada Raden Wira terasa semakin sesak.

Ia ingin mengatakan sesuatu.

Ia ingin menjelaskan bahwa mereka salah.

Namun apa yang bisa ia katakan?

Di hadapan para tetua, di hadapan Ki Ageng Mahendra, di hadapan seluruh murid Kedaton Wangsa Mahendra, suaranya tidak akan berarti apa-apa. Seorang anak muda yang membantah penilaian sesepuh hanya akan dianggap tidak tahu diri.

Di sisi lain pendapa, Arya Wijaya, putra dari Paman sulungnya berdiri dengan kepala terangkat. Di belakangnya, bayangan Macan Hitam Bermata Tiga masih menyisakan tekanan ganas yang membuat semua orang kagum.

Sukma kanuragan tingkat sepuluh.

Sebuah bakat langka yang cukup untuk membuat seluruh keluarga bersorak bangga.

Beberapa saat lalu, nama Raden Wira masih menjadi bahan pujian. Semua orang yakin ia akan membangkitkan sukma kanuragan yang luar biasa. Semua orang percaya masa depannya akan gemilang.

Namun sekarang, pujian itu lenyap secepat embun terkena matahari.

Bisikan mulai terdengar dari segala arah.

“Sungguh disayangkan, ternyata hanya sukma kanuragan tingkat tujuh.”

“Mulai hari ini, jenius nomor satu bukan lagi Raden Wira, melainkan Arya Wijaya.”

“Sukma kanuragan tingkat tujuh? Kalau begitu, dia mungkin tidak jauh lebih baik dariku.”

“Apa lagi yang bisa diharapkan darinya? Masa depannya tidak akan terlalu tinggi.”

“Dia hanya seorang jenius yang jatuh!”

Suara-suara ejekan memenuhi telinga Raden Wira, membuat Raden Wira menurunkan pandangannya sejenak.

Tangannya mengepal perlahan di balik lengan bajunya.

Dia menatap wajah-wajah yang di penuhi dengan senyum mengejek itu, Raden Wira hanya bisa menghela nafas panjang.

Orang-orang ini!

Saat dia masih seorang jenius, mereka memujinya setinggi langit, namun begitu dia jatuh, mereka dengan cepat berubah.

Sementara itu, Arya Wijaya berjalan melewatinya dengan senyum tipis. Suaranya rendah, hanya cukup terdengar oleh Raden Wira. “Orang-orang dulu bilang aku tidak sebaik dirimu. Tapi lihat sekarang, Wira. Mulai hari ini, jenius nomor satu hanya bisa menjadi milikku,” katanya dengan senyum mengejek.

Raden Wira menatapnya tanpa ekspresi.

Di masa lalu, saat dia masih menjadi jenius. Arya Wijaya ini selalu bersikap patuh dan bertingkah seperti anak penurut di hadapannya.

Namun begitu dia berhasil membangkitkan Sukma Kanuragan tingkat sepuluh, dia menjadi begitu sombong.

“Jangan terlalu sombong, selalu ada langit di atas langit. Terkadang, semakin tinggi seseorang naik, semakin sakit jika dia jatuh nanti,” kata Raden Wira dengan ekspresi acuh tak acuh.

Arya Wijaya terkekeh, sudut bibirnya menyeringai. “Hehe, langit di atas langit. Aku Arya Wijaya adalah pemilik Sukma Kanuragan tingkat sepuluh, aku di takdirkan untuk menjadi langit itu sendiri. Sedangkan kamu, kamu hanya akan menjadi semut yang bisa aku injak sesuka hati.”

Setelah mengatakan itu, Arya Wijaya berjalan menuju tempat Ki Ageng Mahendra berada.

Pada saat ini, Ki Ageng Mahendra, Penatua Agung sekaligus orang terkuat di dalam keluarga menatap Arya Wijaya dengan senyum lebar.

"Bagus. Bagus. Bagus!"

Ki Ageng Mahendra mengucapkan kata itu tiga kali. Senyum lebar tampak di wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan kegembiraan di dalam hatinya.

Matanya penuh rasa bangga ketika memandang cucu yang memiliki sukma kanuragan tingkat sepuluh itu. Dengan dukungan dan sumber daya dari Kedaton Wangsa Mahendra, ia yakin pencapaian Arya Wijaya kelak pasti melampaui dirinya. Cucu itu mungkin dapat mencapai tataran yang selama ini hanya mampu ia impikan seumur hidup.

Di altar tertinggi, ayah Raden Wira, Rakryan Wisesa berjalan menghampiri ayah Arya Wijaya, Rakryan Mahendra.

"Selamat, Kakang."

Rakryan Mahendra menatap wajah tulus adiknya, lalu menepuk bahu Rakryan Wisesa.

"Terima kasih, Adi. Jangan terlalu berkecil hati. Wira juga membangkitkan Sukma Kanuragan tingkat Tujuh, selama dia bekerja keras, bukan tidak mungkin dia bisa melampaui Arya.”

Namun orang-orang yang mendengarnya memahami bahwa itu hanya ucapan penghiburan. Bagaimanapun juga, sukma kanuragan tingkat sepuluh bukanlah sesuatu yang dapat dilampaui.

Dalam sejarah, semua orang yang terlahir dengan Sukma Kanuragan tingkat sepuluh akan menjadi pendekar Kanuragan yang sangat kuat dan berpotensi melampaui ranah Perwira tingkat sepuluh.

Sementara Sukma Kanuragan tingkat Tujuh, tidak peduli bagaimana Raden Wira berusaha, dia paling tinggi hanya bisa mencapai Perwira tingkat tujuh.

Arya Wijaya berdiri di hadapan Ki Ageng Mahendra. Sang kakek mengulurkan tangan, mengusap kepala Arya Wijaya dengan penuh kasih.

Sambil tertawa, Ki Ageng Mahendra menoleh kepada Rakryan Mahendra.

"Mahendra, engkau telah memberiku cucu yang luar biasa.”

Ki Ageng Mahendra tampak sangat bahagia, dia bahkan tidak melirik Raden Wira.

Kemudian, Ki Ageng Mahendra berkata dengan suara keras. “Mulai hari ini, Arya Wijaya akan berlatih langsung di bawah bimbinganku.”

Wow!

Perkataan mendadak Ki Ageng Mahendra mengejutkan semua orang, bahkan Raden Wira tidak terkecuali.

Ki Ageng Mahendra adalah Penatua Agung sekaligus pemimpin keluarga, di latih langsung olehnya sama saja dengan menyatakan bahwa semua sumber daya keluarga akan diberikan untuk Arya Wijaya.

Para murid di sekitar menatap Arya Wijaya dengan iri, membuat Arya Wijaya tersenyum puas. Kesombongan tampak jelas di matanya.

Raden Wira menatap ekspresi sombong Arya Wijaya, kemudian melihat kekecewaan di mata ayahnya, tangan di balik lengan bajunya terkepal dengan kuat.

Kemudian, dia dengan tenang berbalik dan meninggalkan aula.

Rakryan Wisesa menatap punggung putranya dan tidak bisa melakukan apapun selain menghembuskan nafas panjang. Punggung putranya yang selalu bangga itu kini tampak begitu kesepian.

Lanjut membaca
Lanjut membaca