Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
BAYANGAN SILUMAN

BAYANGAN SILUMAN

Iqbal Nasution | Bersambung
Jumlah kata
323.0K
Popular
1.0K
Subscribe
58
Novel / BAYANGAN SILUMAN
BAYANGAN SILUMAN

BAYANGAN SILUMAN

Iqbal Nasution| Bersambung
Jumlah Kata
323.0K
Popular
1.0K
Subscribe
58
Sinopsis
FantasiFantasi TimurPedangPertualanganBalas Dendam
Dia hanyalah seorang anak kecil ketika dunia di depan matanya tenggelam dalam lautan darah.Rangga menyaksikan tanpa daya saat keluarganya dibantai di hadapannya sendiri, jeritan mereka terkubur di bawah kobaran api kehancuran dan tawa para pria tak berperikemanusiaan. Malam itu bukan hanya merenggut rumahnya—malam itu merobek jiwanya dan meninggalkan luka yang tak akan pernah mampu disembuhkan oleh waktu.Tahun demi tahun berlalu.Bocah kecil yang ketakutan itu menghilang, dan dari abu penderitaan bangkitlah seorang pemuda yang diselimuti misteri dan kegelapan. Tampan dan tanpa rasa takut, membawa pesona yang mampu menarik begitu banyak hati, Rangga berjalan di dunia bagaikan badai sunyi. Banyak wanita jatuh dalam pesona tatapannya, terpikat oleh sosok pria di balik senyum dinginnya.Namun di balik pesona itu tersembunyi sesuatu yang mengusik.Sesuatu yang telah hancur.Sesuatu yang tak sepenuhnya lagi menjadi bagian dari dunia manusia biasa.Sifatnya yang aneh, kehadirannya yang bagai bayangan, dan aura gelap yang selalu mengikuti langkahnya membuatnya dikenal dengan nama yang dibisikkan penuh ketakutan: Sang Iblis Bayangan.
TRAGEDI BERDARAH

Pada awal abad ke-11, angin laut di Selat Malaka membawa kabar buruk bagi Sriwijaya. Fajar belum tinggi ketika armada Colamandala muncul di cakrawala—puluhan kapal perang berhaluan tajam, bergerak seperti gulungan badai dari selatan. Di istana Sriwijaya, denting lonceng peringatan terdengar memecah keheningan pagi. Para pendeta Buddha, pedagang asing, dan prajurit lokal berlarian memenuhi pelabuhan, menyaksikan langit berubah kelam.

Serangan itu datang cepat dan terencana. Panah api melesat, membakar kapal dagang dan gudang rempah. Benteng yang selama berabad-abad tak tertembus akhirnya berguncang di bawah hantaman mesin perang Colamandala. Raja Sriwijaya mengirim pasukan elit, namun gelombang musuh terlalu besar. Satu per satu kota pelabuhan jatuh, meninggalkan asap dan puing.

Hari itu menjadi awal dari runtuhnya kejayaan Sriwijaya—suatu kerajaan maritim yang pernah menguasai lautan, kini dipaksa berlutut oleh badai besi dari selatan.

Setelah Sriwijaya jatuh ke tangan Kerajaan Cola, masa kelam mulai menyelimuti pusat-pusat kota dan pelabuhan yang dulu makmur. Prajurit-prajurit Cola ditempatkan sebagai penjaga baru, namun mereka bertindak seperti penguasa tanpa hukum. Di jalan-jalan, rakyat dipaksa membungkuk setiap kali pasukan berpatroli. Mereka yang menolak atau terlambat menyingkir dipukul dengan gagang tombak, bahkan ditendang hingga tergeletak.

Para perwira Cola jauh lebih bengis. Mereka merampas rumah-rumah para pedagang, menjarah harta, dan menjadikan beberapa keluarga sebagai pelayan paksa. Di pasar dan dermaga, perempuan Sriwijaya hidup dalam ketakutan. Banyak yang dilecehkan secara kasar, dijadikan objek hinaan, atau dipaksa melayani keinginan para perwira tanpa mampu melawan. Orang-orang tua hanya bisa menunduk, tak berdaya menghadapi kekuasaan asing yang datang membawa penghinaan.

Pembunuhan terjadi hampir setiap malam. Siapa pun yang dicurigai sebagai mata-mata atau pemberontak—langsung diseret keluar dan dihukum mati tanpa pengadilan. Tubuh-tubuh mereka dibiarkan tergeletak sebagai peringatan bagi siapa pun yang berani melawan.

Sriwijaya, yang pernah menjadi pusat ilmu dan perdagangan, berubah menjadi wilayah penuh rasa takut. Warga hidup dalam sunyi, menyimpan kemarahan dan luka. Dari kegelapan itu, hanya satu harapan yang tersisa—bahwa suatu hari, tanah mereka akan kembali bebas dari cengkeraman Cola.

*****

Bocah laki-laki itu berusia kurang dari sebelas tahun, ia mengintai dari tirai jendela dengan muka marah, mata merah, dan gigi rapat saking marah dan sedihnya—menyaksikan keadaan di ruangan dalam rumah gedung ayahnya. Ruangan itu luas dan terang-benderang, suara tetabuhan gamelan terdengar riuh, di samping gelak tawa tujuh orang pria asing yang sedang dijamu oleh ayahnya. Dari luar jendela ia tidak dapat menangkap suara percakapan yang diselingi tawa itu, karena amat bising bercampur suara musik, akan tetapi anak ini menjadi marah dan sedih—menyaksikan sikap ayahnya terhadap para tamu-tamu itu.

Ayahnya bicara sambil membungkuk-bungkuk, muka ayahnya yang biasanya bengis terhadap para pelayan dan angkuh terhadap orang lain, kini menjadi manis berlebih-lebihan, tersenyum-senyum dan mengangguk-angguk, bahkan dengan kedua tangan sendiri melayani seorang pembesar yang brewok tinggi besar, menuangkan arak sambil membungkuk-bungkuk.

Ayahnya yang dipanggil seperti budak oleh para pembesar itu menjadi gugup dan kakinya tersandung kaki meja. Guci arak yang dipegangnya miring, isinya tertumpah dan sedikit arak menyiram celana dan sepatu seorang pria lain yang bermuka hitam.

Anak itu dari luar jendela melihat bagaimana orang itu memelototkan mata, mulutnya membentak-bentak, dan tangannya menuding-nuding ke arah sepatu dan celananya.

Ayahnya cepat berlutut dan menggunakan ujung bajunya membersihkan sepatu dan celana itu sambil mengangguk-angguk—dan magut-magut seperti keledai dungu. Tak terasa lagi air mata mengalir ke luar dari sepasang mata anak laki-laki itu, membasahi kedua pipinya dan ia mengepalkan kedua tangannya.

Ia marah dan sedih, terutama sekali, ia malu! Ia sangat malu sekali menyaksikan sikap ayahnya. Mengapa ayahnya sampai begitu merendahkan diri? Bukankah ayahnya terkenal sebagai hartawan dan disegani semua orang, bukan hanya karena kaya rayanya, melainkan juga karena ayahnya terkenal sebagai seorang terpelajar di kota itu. Ayahnya hafal akan isi kitab-kitab, bahkan dia sendiri telah dididik oleh ayahnya itu menghafal dan menelaah isi kitab-kitab kebudayaan dan kitab-kitab filsafat.

Semenjak berusia lima tahun, dia telah belajar membaca, kemudian membaca kitab-kitab kuno, dan oleh ayahnya diharuskan mempelajari isi kitab-kitab itu yang menuntun orang mempelajari hidup dan kebudayaan—sehingga dapat menjadi seorang manusia yang berguna dan baik. Akan tetapi, setelah kini menghadapi para pria-pria itu, mengapa ayahnya menjadi seorang penjilat yang begitu rendah?

Anak itu bernama Rangga, lengkapnya Rangga Surya dan panggilannya sehari-hari adalah Angga. Dia putera bungsu keluarga itu, karena ayahnya yang disebut Juragan Sudirja hanya mempunyai dua orang anak. Yang pertama adalah seorang anak perempuan, kini telah berusia tujuh belas tahun, bernama SrI Utami. Rangga adalah anak ke dua.

Pada waktu itu, Rangga yang mengintai dari balik jendela melihat ayahnya sudah bangkit kembali, sepertinya mendapat ampun dari pria muka hitam. Namun kemudian pria yang brewok dengan setengah mabuk menghampiri lalu memanggilnya. Pembesar brewok itu mengatakan sesuatu kepada ayahnya, dan ia melihat betapa sang ayah menjadi pucat sekali dan spontan menggeleng-gelengkan kepala.

Akan tetapi pembesar brewokan itu menggerakkan tangan kiri–dan... ayahnya terpelanting roboh. Rangga hampir menjerit. Ayahnya telah ditampar oleh pembesar brewok itu! Dan semua pelayan yang membantu melayani tujuh orang pembesar itu berdiri dengan muka pucat dan tubuh menggigil. Tujuh orang pria kini tertawa-tawa—sambil memaki-maki ayahnya, dan mendesak ayahnya melakukan sesuatu.

Si Pembesar Muka hitam sekarang menggerakkan tangan sambil berdiri, dan ia telah mencabut pedangnya. Dengan gerakan penuh ancaman, pembesar muka hitam itu menusukkan pedangnya—sehingga ujung pedang menancap di atas meja, berdiri dengan gagang bergoyang-goyang mengerikan.

Rangga membelalakkan matanya dan ia menyelinap turun dari tempat pengintaiannya. Kini ia menjenguk dari pintu belakang, terus menyelinap, dan akhirnya ia berhasil masuk tanpa diketahui telah berada dalam ruangan itu, lalu ia bersembunyi di balik tirai kayu, dimana ia dapat mengintai dan juga dapat mendengarkan percakapan mereka.

“Sudirja!” Terdengar pembesar brewok membentak sambil menudingkan telunjuknya kepada juragan itu yang sudah berlutut dengan tubuh menggigil dan muka pucat.

“Apakah engkau masih berani membantah dan tidak memenuhi perintah kami?” Suaranya terdengar lucu karena kaku ketika bicara.

“Kau kira kami ini orang-orang macam apa? Kami bukan serdadu-serdadu biasa, tahu? Apa artinya penyanyi-penyanyi dan pelacur-pelacur ini?” Si Muka hitam menunjuk ke arah para wanita sewaan yang memang disediakan disitu untuk melayani dan menghibur mereka.

“Kami adalah pembesar-pembesar terhormat... dan jangan sampai kami menghukummu dan menghancurkan rumahmu. Sekarang juga! Keluarkan istri dan putrimu!”

“Ha-ha-ha! Aku mendengar Nyonya Sudirja dan puteri-nya sangat cantik dan manis!” berkata seorang pembesar lain yang perutnya gendut tapi kepalanya kecil.

“Suruh mereka melayani kami, baru kami percaya bahwa engkau benar-benar tunduk dan taat kepada kekuasaan baru yang jaya!” kata pula seorang pembesar lain yang kurus kering.

“Tapi... tapi...!” Suara ayah Rangga sukar terdengar karena menggigil dan perlahan, kepala nya di geleng-geleng, kedua tangannya diangkat ke atas. “Hal itu ti... tidak mungkin... Ampunkan kami, Tuan-tuan...”

Melihat ayahnya meratap seperti itu, air mata Rangga makin deras ke luar membasahi pipinya. Bukan hanya sedih karena kasihan, melainkan terutama sekali karena malu dan kecewa. Ia tahu bahwa banyak keluarga di kota itu yang pergi mengungsi setelah kota itu terjatuh ke tangan penguasa baru yang kejam, mengungsi dan meninggalkan rumah serta hartanya. Akan tetapi ayahnya tidak mau meninggalkan kota. Selain karena sayang kepada hartanya, ayahnya percaya bahwa kalau ia bersikap baik dan suka menyuap kepada penguasa, ia akan dapat hidup aman disitu.

“Kau membantah? Kalau begitu kau memberontak terhadap kami, ya? Hukumannya penggal kepala!”

Si Perwira Muka hitam bangkit dari kursinya, mencabut pedang yang menancap di atas meja dan mengangkat pedang itu, siap memenggal kepala Sudirja yang masih berlutut.

Semua pelayan yang hadir, termasuk penabuh musik dan wanita-wanita sewaan menjadi pucat dan mendekap mulut sendiri agar tidak menjerit.

Rangga dari balik tirai memandang dengan mata melotot.

“Tahan...!” Terdengar jerit dari dalam dan muncullah Nyonya Sudirja berlari dari dalam.

“Mohon para Tuan-tuan yang mulia sudi mengampuni suami hamba...! Biarlah hamba melayani Tuan-tuan...”

Tujuh orang pembesar itu menoleh dan berserilah wajah mereka. Pembesar muka hitam menyeringai dan menyarungkan kembali pedangnya, kemudian sekali tangan kirinya bergerak, ia telah menyambar pinggang Nyonya Sudirja dan dipeluk, terus dipangkunya sambil tertawa-tawa.

“Benar cantik...! Masih cantik, montok dan harum...! Hemmm...!”

Perwira muka hitam itu tidak segan-segan lalu mencium pipi dan bibir nyonya itu yang saking kaget, takut dan malunya hanya terbelalak pucat.

Lanjut membaca
Lanjut membaca