

Suara rintihan kesakitan bisa didengar dari sebuah gedung yang terbengkalai. Didalam gedung tersebut, terdapat seorang laki-laki yang terlihat berusia 17 Tahun.
Dia sedang fokus memukuli seorang laki-laki yang lebih tua darinya, hanya karena dia sudah berani menindas adik kesayangannya.
"A-Ampun," ucap pria tersebut.
Anak itu berhenti menendangi laki-laki itu saat mendengar suaranya. Dia berjongkok didepan laki-laki itu. Tangannya meraih dan menggenggam segenggam rambut laki-laki tersebut.
"Apa kau tau salahmu sekarang?" Tanya anak itu. Laki-laki itu langsung menganggukkan kepala dengan cepat. "Aku tidak ingin melihatmu mengganggu adik aku lagi di sekolah. Paham?" Ucapnya, dengan nada tegas.
"P-Paham…" ucap laki-laki itu.
Anak itu tersenyum puas saat mendengar responnya. "Ingat baik-baik kejadian hari ini. Selain itu… jangan coba-coba menceritakan tentangku pada siapapun. Aku akan tau jika kamu berani buka suara tentangku. Aku akan memberimu pelajaran lebih buruk dari ini jika kau berani membuka suara tentangku," ucap anak itu, perlahan berdiri tegak. Laki-laki itu menganggukkan kepalanya lagi. Anak itu menoleh kearah anggota gengnya yang lain. "Bawa dia pergi dari sini, dan pastikan tidak ada yang melihat kalian," perintahnya pada anggota geng yang bergerak dibawahnya.
"Baik, ketua!" Seru mereka, bersamaan.
"Aku mau pulang," ucap anak itu.
Anggota gengnya menundukkan kepala mereka sebagai gestur hormat terhadap anak itu. Anak itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Kedua matanya menoleh kearah laki-laki itu, masih merintih kesakitan. Laki-laki tersebut tersentak saat melihat tatapan anak itu. Anak itu meludah kearah laki-laki itu. Lalu, dia berjalan keluar dari gedung itu.
Tidak butuh waktu lama untuk anak itu sampai di rumahnya. Dia membuka pintu depan, dan masuk kedalam. "Aku pulang," ucap anak itu. Suara langkah kaki langsung didengarnya. Anak itu menoleh kearah suara tersebut dan melihat adiknya yang memiliki perban di kepalanya. "Dika… kenapa kamu malah keluyuran. Sana baring dan istirahatlah," ucapnya, memutarkan badan adiknya dan membawanya kembali ke kamarnya.
Anak itu membaringkan adiknya dikasurnya. "Abang habis darimana?" Tanya Dika, menatap sang kakak dengan ekspresi cemas. Anak itu terdiam saat mendengar pertanyaan adiknya. "Apa abang kelahi lagi?" Tanyanya, menyadari belakang tangan anak itu yang memar.
"Jangan khawatirkan abang," ucap anak itu.
"Aku akan selalu mengkhawatirkan abang, karena abang itu abangku," ucap Dika, dengan nada mengantuk. Anak itu hanya tersenyum saat mendengar ucapan adiknya.
"Sudahlah. Kamu tidur saja, dek," ucap anak itu.
"Oke," ucap Dika, mengangguk.
Anak itu membantu adiknya untuk memakai selimutnya dengan lebih baik. "Selamat tidur, adikkku," ucap anak itu, dengan nada lembut sambil mengelus kepala adiknya. Dika hanya menganggukkan kepalanya dan memejamkan kedua matanya. "Tidurlah yang nyenyak. Selama abang disini… tidak akan ada orang yang akan berani mengganggumu lagi," gumamnya, dengan nada pelan sambil tersenyum agar tidak membangunkan adiknya yang sudah tertidur.
Anak itu keluar dari kamar Dika, berhati-hati untuk tidak membuat suara berlebihan yang bisa mengganggu istirahat adiknya. Anak itu berdiri didepan kamar Dika selama beberapa detik, sambil memejamkan kedua matanya. Dia menghelakan nafas dan mulai berjalan menuju kamarnya sendiri.
"Axel," panggil seseorang memanggil namanya, membuatnya berhenti sebelum dia sampai ke kamarnya. Dia menghelakan nafas dan menoleh kearah suara tersebut untuk melihat ibunya. "Darimana saja kamu, nak?" Tanya ibunya, menatap putranya dengan ekspresi cemas. Dia tidak menjawab pertanyaan ibunya, yang membuat ibunya merasa kesal. "Hei! Axel Ravendra… ibu sedang bicara sama kamu. Dirumah ini apakah ada lagi anak lain yang namanya Axel selain kamu, nak? Kalau ditanyain itu jawab dong."
Axel menghelakan nafasnya perlahan, dan menoleh kearah ibunya. "Aku hanya mengurus sampah yang tidak penting, Bu," ucap Axel. Ibunya mengangkat sebelah alisnya. "Sudahlah. Aku ingin istirahat. Selamat malam," ucapnya, berjalan lagi ke kamarnya.
"Hmm… selamat malam," ucap Ibunya.
Axel masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintunya. Setelah itu dia mengganti pakaian ke yang lebih santai. Lalu, dia membaringkan tubuhnya diatas kasur.
Axel menatap langit-langit kamarnya selama beberapa detik. Tidak lama kemudian, rasa ngantuk yang dia rasakan menjadi semakin tak tertahankan. Dia pun memiringkan badannya, dan perlahan tertidur.
Keesokan Harinya
Axel terbangun karena suara alarm. Tangannya meraih dan mematikan alarm tersebut. Perlahan dia bergerak untuk duduk. Tatapan matanya terlihat kosong selama beberapa detik karena dia masih merasa mengantuk.
"Axel!! Nanti kamu terlambat!" Seru Ibu Axel.
"Iya, bu!" Seru Axel.
Axel pun berdiri dari kasurnya, dan berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap ke sekolah. Axel menyalakan air, mengaturnya ke suhu yang sesuai dengan keinginannya. Lalu, dia mulai rutinitas pagi harinya.
Setelah selesai bersiap-siap, Axel keluar dari kamarnya. Dia memakai seragam sekolah dan kacamata untuk menutupi wajahnya. Rambut dia juga disisir rapi, tidak seperti dirinya saat berada diluar sekolah.
"Axel?" Panggil ibunya saat Axel duduk dikursi dekat meja makan. Axel bergumam lembut dan menoleh kearah ibunya. "Ibu tidak mengerti kenapa kamu harus memakai kacamata kayak gitu. Kamu kan tidak rabun."
"Aku punya alasan sendiri, Bu," ucap Axel, dengan nada pelan. Ibunya menatap Axel dengan ekspresi bingung. Axel mengangkat kepalanya untuk menatap ibunya. "Sudahlah. Ibu tidak perlu terlalu memikirkannya. Omong-omong… dimana Dika?" Tanyanya, menoleh kearah kamar Dika.
Tepat setelah dia menanyakannya, Dika keluar dari kamarnya. "Pagi, bang Axel," ucap Dika, tersenyum kecil pada Axel. Dika duduk dikursi sebelah Axel.
"Pagi," sahut Axel, tersenyum lembut pada adiknya. Axel menatap perban yang ada di kepala Dika. "Bagaimana lukamu? Apa sudah membaik?" Tanyanya, menatap adiknya dengan tatapan cemas.
"Sudah membaik kok, bang," jawab Dika.
"Hmm… syukurlah," ucap Axel, terlihat lega. Dika tersenyum pada kakaknya, dan fokus untuk menikmati makanannya. "Pelan-pelan saja makannya, dek. Nanti kamu tersedak. Kita masih punya waktu kok," ucapnya, menggestur kearah jam yang ada di dinding.
Dika hanya menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum kecil. Axel tertawa melihat adiknya yang mengira akan terlambat. Tangannya Axel bergerak untuk mengelus rambut adiknya.
Setelah selesai makan, mereka pun berpamitan sama Ibu mereka. Lalu, mereka keluar dari rumah dan berjalan menuju mobil Axel. Axel menggunakan mobil yang cukup sederhana saat berangkat sekolah. Namun, biasanya dia menggunakan motor sebagai alat transportasi. Hanya saja, dia memutuskan untuk pakai mobil. Agar tidak ada satupun orang yang tau tentang rahasia yang dia simpan.
Axel menyalakan mesin mobil, dan menoleh kearah Dika yang duduk disebelahnya. "Ada apa?" Tanya Axel, saat menyadari Dika terlihat cemas. Dika menggigit bibir bawahnya, sambil menunduk.
"Bagaimana kalau mereka menargetkan aku lagi, Bang?" Tanya Dika, menoleh kearah Axel dengan tatapan cemas. Axel terdiam saat mendengar ucapannya.
"Tidak usah cemas," ucap Axel, dengan nada lembut. Axel meletakkan tangannya dibahu Dika, memberinya senyuman lembut. "Selama ada abang… siapapun yang berani menyakiti kamu akan kakak beri pelajaran," ucapnya, dengan nada serius.
"Kenapa kakak berpura-pura menjadi anak laki-laki yang culun, bang?" Tanya Dika, membuat Axel terdiam. Axel menggerakkan tangannya dari bahu Dika, dan membuang muka. "Apa karena aku?" Tanyanya, menatap Dika dengan ekspresi penasaran.
"Abang akan cerita saat waktunya tiba," ucap Axel, dengan nada pelan. Dika menghelakan nafas dan menganggukkan kepalanya. Axel memberinya senyuman kecil. Lalu, dia fokus mengemudikan mobilnya menuju sekolah.