

Pulang dari berburu, saat sang surya agak tergelincir ke barat, sinarnya yang kekuningan menembus celah-celah daun, menciptakan bayangan panjang yang menari di tanah.
Suara serangga hutan mulai saling bersahutan, mengiringi langkah lelah Saka yang baru saja berhasil mendapatkan seekor rusa kecil.
Ia membayangkan senyum Rinjani saat melihat hasil buruannya, bagaimana istrinya akan menyiapkan masakan kesukaan mereka. Namun, bayangan manis itu seketika hancur berkeping-keping.
Alangkah terkejutnya Saka bukan alang kepalang. Aroma amis darah buruan yang melekat di tangannya mendadak terasa hambar.
Jantungnya serasa berhenti berdetak, lalu mendadak bergemuruh lebih kencang dari gong yang dipukul keras.
Nafasnya tercekat di tenggorokan, setiap serat ototnya menegang kaku.
Di ambang pintu gubuk sederhana yang selama ini menjadi saksi bisu cinta mereka, sebuah pemandangan mengerikan terpampang jelas, menusuk relung jiwanya seperti belati panas.
Saka melihat istrinya, Rinjani, sedang bercinta dengan lelaki lain. Bukan hanya itu, ia melihat Rinjani begitu sangat menikmati cumbuan lelaki yang tengah menindihnya.
Tubuh Rinjani melengkung, matanya terpejam rapat, bibirnya mengerang lirih, menunjukkan kenikmatan yang begitu nyata.
Bahkan mereka tengah terhanyut berpacu menggapai puncak asmara, tanpa sedikit pun menyadari kehadiran Saka yang berdiri mematung, hancur lebur di ambang kehancuran.
Dari sikap Rinjani yang tampak terlena itu, telah menorehkan luka hati yang amat dalam. Luka yang lebih parah dari sayatan pedang tajam.
Darah serasa mendidih dalam nadinya, mengubah setiap tetesnya menjadi lahar panas yang membakar seluruh tubuhnya.
Bibir Saka bergetar hebat, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Dadanya bergemuruh panas bukan main, seakan-akan ada badai dahsyat yang mengamuk di dalam sana.
Pikirannya kosong, namun pada saat yang sama, dipenuhi oleh satu kata yang menggema keras, membentur-bentur dinding otaknya: Ini pengkhianatan!
Saka tidak percaya. Bagaimana bisa? Rinjani, istrinya, cinta pertamanya, belahan jiwanya, main serong dengan lelaki lain.
Lelaki itu, setahu dia, adalah Boma Sagara, murid utama Ki Jangkung Wulung. Nama itu seperti cambuk yang mengoyak-ngoyak sisa-sisa harapannya.
Kelompok Ki Jangkung Wulung beserta murid-muridnya sudah sering melakukan kekacauan di dunia persilatan, sehingga banyak dimusuhi kaum pendekar.
Reputasi buruk mereka adalah rahasia umum. Jadi, Rinjani jatuh ke pelukan orang seperti itu? Mustahil!
"Rinjani, wanita laknat! Terkutuk kau!" bentak Saka Lasmana, suaranya parau, penuh amarah membara seakan-akan kepalanya dikobari api neraka.
Kata-kata itu meluncur keluar dari kerongkongannya yang kering, bercampur dengan rasa sakit yang tak terhingga.
Bentakan ini mengejutkan dua orang yang sedang mendaki menuju puncak kenikmatan itu.
Gerakan mereka seketika terhenti, namun posisi mereka tetap saling menindih, seolah tak peduli dengan dunia luar.
Lalu terdengar Boma Sagara tertawa lantang, tawa yang menusuk tulang, tawa yang penuh ejekan dan tanpa sedikit pun merasa bersalah.
Matanya yang gelap menatap Saka dengan pandangan merendahkan.
"Apa kau tidak lihat? Dia keenakan menikmati keperkasaanku ini. Aku dengar sendiri, katanya kau sama sekali tidak ada perkasanya. Makanya diam-diam dia melakukannya denganku!" Boma berucap, suaranya meremehkan, setiap kata seperti paku yang dihantamkan ke jantung Saka.
Jika cuma Boma Sagara yang berkata, mungkin Saka masih bisa menahannya. Amarah dan harga dirinya mungkin bisa sedikit meredam rasa sakit.
Tetapi ucapan Rinjani berikutnya membuat hatinya semakin terpukul, menghempaskannya ke jurang keputusasaan yang lebih dalam.
Wanita itu, yang dulu ia puja, yang ia kenal sebagai gadis sederhana, lugu, polos, dan baik hati, kini berbicara dengan nada sinis dan penuh kebencian.
Wanita itu seperti bukan Rinjani yang dia kenal selama ini.
"Kau pikir aku bahagia bersuamikan pria miskin sepertimu? Dasar bodoh!" Suara Rinjani melengking, penuh ejekan, tanpa sedikitpun penyesalan di matanya.
Seolah semua cinta dan janji yang pernah terucap adalah bualan belaka.
Bagaimana bisa Rinjani yang dia kenal sebagai gadis pujaan hatinya, yang juga merupakan adik seperguruannya di perguruan Gagak Lumayung, berubah menjadi monster ini?
Mereka saling mencintai, lalu menikah dan hidup mandiri di luar wilayah perguruan, membangun impian sederhana.
Saka Lasmana, selain masih tetap menjadi murid perguruan Gagak Lumayung, berburu dan memancing untuk kebutuhan hidup.
Mereka hidup pas-pasan, tapi selalu penuh tawa. Namun, setelah dua tahun mereka belum dikaruniai anak. Mungkin belum takdirnya memiliki keturunan.
Tapi apakah itu alasan untuk pengkhianatan sekeji ini? Apa yang telah merasuki istrinya ini?
"Aku tidak percaya kau bisa berkata seperti itu, Rinjani!" seru Saka, suaranya kini lebih seperti rintihan, campur aduk antara amarah, sakit hati, dan kekecewaan yang tak terkira.
Tiba-tiba saja, seolah dari udara tipis, lima orang tegap masuk dari balik pintu gubuk. Gerakan mereka cepat dan terkoordinasi.
Mereka langsung memegang tubuh Saka dan menguncinya dalam cengkraman kuat sehingga murid Ki Aswani ini tak bisa bergerak.
Kelima pria itu bukan orang sembarangan. Aura jahat terpancar dari mata mereka, seringai kejam terukir di bibir.
"Setan! Lepaskan!" teriak Saka, meronta sekuat tenaga.
Ia mengerahkan setiap tetes kekuatan yang dimilikinya, mencoba melepaskan diri dari kungkungan baja itu.
Sebenarnya Saka sudah memiliki kepandaian yang tidak bisa dianggap enteng, ia adalah murid kesayangan Ki Aswani, Pendekar Gagak Putih.
Namun, tenaga kelima orang ini sangat kuat, cengkraman mereka bagaikan besi yang dipanaskan dan ditempa.
Mereka menguncinya dengan jurus-jurus yang tak dikenalnya, menekan titik-titik vital di tubuhnya.
Meskipun sudah meronta sekuat tenaga, menggerakkan otot-ototnya hingga terasa seperti akan robek, namun tiada hasil. Pegangan mereka tak bergeming.
Lima orang yang ternyata teman seperguruan Boma Sagara itu tidak menghiraukan teriakan dan rontaan Saka. Wajah mereka dingin, mata mereka memancarkan kepuasan.
Mereka sengaja menahan lelaki itu agar terus menyaksikan pergumulan istrinya dengan Boma Sagara sampai selesai. Ini adalah siksaan mental yang paling keji.
Setiap erangan kenikmatan dari Rinjani, setiap gerak tubuh mereka yang berpadu, terasa seperti sayatan pisau di hati Saka.
Kepalanya berdenyut nyeri, amarahnya meluap-luap, namun ia tak berdaya, tubuhnya terkunci, matanya dipaksa menyaksikan adegan yang menghancurkan jiwanya.
Sambil berteriak-teriak, memaki, dan meronta-ronta, Saka berusaha melepaskan diri.
Keringat membasahi tubuhnya, bercampur dengan air mata yang entah sejak kapan mulai membasahi pipinya. Tetapi pegangan kelima orang itu sangat kuat.
Mereka bukan hanya mengandalkan kekuatan fisik, tapi sepertinya menggunakan tenaga dalam pula, mengerahkan aliran energi mereka untuk menekan setiap gerakan Saka.
Sakit, marah, malu, dan putus asa bercampur aduk menjadi satu.
Ternyata sampai Rinjani menjerit di saat mencapai klimaksnya, suara yang dulu hanya diperuntukkan baginya, lalu terkulai lemas dalam pelukan Boma Sagara, Saka belum dilepaskan juga.
Lima pasang mata itu masih menahannya, memastikan ia menyaksikan setiap detik kehancurannya.
"Pergi! Aku tak sudi melihatmu lagi!" teriak Saka.
***