

PLAAAK!
"Kau memalukan!" seru Akbar, sang Raja.
Akbar merupakan seorang Raja dari Kerajaan Silver. Sang Permaisuri meninggal karena sakit tiga tahun yang lalu. Raja Akbar dan Permaisuri Nining mempunyai seorang putra bernama Kelud. Namun, sang Raja sangat malu mengakuinya sebagai putra mahkota.
Bagaimana tidak? Tubuh Kelud gemuk, jerawat memenuhi wajahnya. Dia tidak pandai dalam hal apapun, kecuali makan, tidur dan mengeluh. Bahkan pakaian kerajaan yang Kelud pakai saja seperti permata yang terendam lumpur.
"A-Ayahanda, aku minta maaf." Kelud memegang pipinya yang panas karena tamparan Raja Akbar, ayahnya.
"Sekarang coba jawab aku. Apa yang bisa kau lakukan? Hah? Belajar tentang ilmu pengetahuan saja kau tertidur, berkuda saja badanmu tak bisa naik, bela diri saja kau ngos-ngosan. Apa yang kau bisa? Katakan!" Raja Akbar murka, sembari duduk di kursi tahtanya.
"Coba lihat Adikmu, Angga. Dia tampan, gagah, rupawan, pintar. Bahkan seluruh penduduk di dalam dan diluar istana ini mengakui kepintarannya." Lanjut Akbar.
Kelud hanya bisa menunduk. Ini bukan pertama kalinya, Ayahnya membandingkan dirinya dengan Angga. Tapi tetap saja kata-kata Sang Ayah oomenyakiti hatinya.
Angga tersenyum. Lalu dengan cepat memasang raut wajah sedih.
"Ayahanda, jangan kasar begitu pada kakak. Aku yakin pasti ada kelebihan di antara kekurangan kakak, iya kan kak?" ucap Angga melirik Kelud dengan senyum licik.
Angga merupakan anak dari Selir Ayu, selir cantik yang memiliki obsesi bahwa putranya harus menjadi putra mahkota Kerajaan Silver.
Berbeda dengan Kelud, Angga mempunyai fisik yang sempurna. Tubuhnya tinggi, atletis, gagah perkasa, dengan wajah yang aduhai rupawan. Ketampanannya sudah dikenal di kalangan Negeri Awan Biru.
"Kakak..." panggil Angga mendekat pada Kelud. "Kau harus merawat tubuhmu. Tadi pagi saat aku berjalan-jalan di sekitar istana, aku mendengar jika kamu menjadi pembicaraan warga. Berani sekali mereka menyebutmu Pangeran Babi." Ucap Angga berdusta.
Akbar tersenyum miring. "Jelas saja kau dipanggil Pangeran Babi. Itu cocok untukmu. Lihat badanmu saja, sudah seperti babi. Bahkan babi saja masih berguna, sedangkan kau?" tunjuk Akbar.
Kelud menunduk. Kata-kata dari ayahnya membuat dadanya sesak.
"Pergi dari hadapanku." usir sang ayah.
**
Malam itu, Kelud tidak bisa tidur. Dia duduk di halaman istana, meratapi dirinya.
Tiba-tiba dari arah belakang, seseorang menyekap mulut Kelud. Kelud mencoba berontak, dan tanpa menunggu lama, Kelud tidak sadarkan diri.
Orang tersebut menyeret tubuh Kelud, lalu membawanya ke suatu tempat gelap di dalam istana.
"Dia tidak sadarkan diri sekarang," ucap seseorang.
"Buang dia! Bila perlu bunuh dia. Aku tak sudi melihatnya di istana ini!"
Orang tersebut menunduk dalam. "Baik, Yang Mulia."
Dan malam itu juga, Kelud dibawa oleh lima orang dengan kereta kuda. Tubuhnya yang besar membuat lima orang tersebut kesusahan.
"Gila! Makan apa ini si Babi, berat banget," ucap salah satunya.
"Terserah mau makan apa. Yang penting setelah ini kita akan bersenang-senang di Rumah Sejuta Bunga." Ucap seseorang lainnya.
"Benar, ayo kita selesaikan tugas ini. Aku sudah tidak sabar menghabiskan malam ku bersama wanita-wanita cantik di sana."
MMM...MMMM...MMMM...
Kelud tersadar, mulutnya mencoba berteriak namun percuma saja. Teriakannya tidak akan ada yang mendengar. Dia mencoba meronta namun apa daya, kaki dan tangannya terikat.
Salah seorang dari mereka yang tinggi besar, memukul kepala Kelud dengan keras menggunakan tangannya.
"Diam! Atau aku bunuh kau sekarang." Ucapnya.
Telinga Kelud berdenging, hingga ia merasakan cairan hangat mengalir keluar telinganya. Darah. Kepala Kelud sakit, nafasnya tersengal.
Kereta kuda itu berhenti di atas tebing yang curam, sedangkan dibawahnya laut dengan ombak yang menggulung ganas.
Kelima laki-laki itu menyeret tubuh gempal Kelud.
SRRET SREEETTT
"Lempar dia! Biarkan tubuhnya menjadi makanan ikan!" perintah seseorang.
Lalu dengan sekejap, tubuh Kelud dibuang ke laut dari ketinggian tebing.
BLUUUNG
Tubuhnya terjebur di dalam laut yang dingin. Dia mencoba meronta, namun sayang tubuhnya masuk semakin dalam ke dasar lautan.
Air asin memenuhi hidung dan paru-parunya terasa terbakar.
Jadi... ini akhirnya?
Aku mati... tanpa pernah berguna untuk apapun?
Kesadaranya mulai memudar. Kegelapan menelan segalanya.
Tapi tepat sebelum kesadarannya lenyap sepenuhnya, sebuah cahaya mendekat.
Cahaya lembut berwarna biru keperakan, berdenyut menggoda di tengah kegelapan laut yang kelam dan menyesakkan.
Dari dalam cahaya itu, muncul seorang gadis misterius. Dia meluncur perlahan, seakan lahir dari pelukan kegelapan laut yang basah dan hangat, berenang mendekati Kelud dengan gerakan pinggul yang halus, seperti undangan rahasia.
Tangan gadis itu warnanya putih pucat, lembut seperti sutra basah. Tampak terulur, menepuk pipi Kelud dengan sentuhan dingin yang menggetarkan.
Lalu, jari-jarinya yang ramping menyusuri, membuka kain penutup mata Kelud, dan melepaskan sumpalan di mulutnya dengan kelembutan yang intim, napasnya yang manis menyapu wajah Kelud.
Mata Kelud terbuka perlahan, disambut wajah sang gadis yang mendekat begitu dekat, bibirnya yang merah merekah menyentuh bibir Kelud dalam ciuman lambat, panjang.
Seketika sensasi listrik menyambar tubuhnya, lidahnya menyelinap sekilas, membangkitkan panas terlarang di dasar perut Kelud, seperti janji kenikmatan yang dilarang.
Kelud membuka matanya sepenuhnya. Gadis itu melepaskan ciuman dengan kerlingan mata dan senyum menggoda, bibirnya masih basah mengilap.
Sekarang Kelud bisa menatap setiap inci lekukan tubuh sang gadis yang memabukkan. Gaun biru tipis transparannya mengambang ringan di air, menempel ketat pada kulit seputih susu yang berkilau, membiarkan puting merona samar terlihat di balik kain basah.
Buah dadanya sempurna, montok dan menggantung bebas, bergoyang lembut mengikuti arus air, sangat mengundang sentuhan, yang memancarkan hawa nafsu yang menebal, membuat darah Kelud mendidih meski tubuhnya lumpuh.
Rambutnya panjang, hitam legam berkilau seperti sutra basah yang menjuntai hingga pinggang, membingkai wajahnya yang cantik memikat. Ada bibir penuh, pipi merona halus. Matanya cokelat dalam, penuh rahasia erotis yang menjanjikan ekstasi.
Kelud mencoba bergerak, mencoba bicara, tapi tubuhnya tak patuh, terperangkap dalam kelemahan yang manis. Dia hanya bisa menatap, haus akan setiap lengkungan pinggulnya yang melengkung sempurna, aroma samar bunga laut dan feminitasnya meresap ke indranya.
Tangan gadis itu terangkat perlahan, isyarat halus baginya untuk berenang ke permukaan dimana gerakannya seperti tarian penggoda, buah dadanya bergoyang hipnotis.
Kelud masih memandang, wajah cantiknya membuat jantungnya berdebar kencang, hasrat membara di dada seperti api bawah air.
Perlahan, gadis itu berenang mundur, senyumnya yang penuh godaan terakhir kali berkedip, meninggalkan jejak panas di ingatan Kelud.
Lalu dia lenyap ke lautan gelap, gaun tipisnya berkibar seperti undangan yang tak terucap.
Cahaya biru meredup.
Dan Kelud tenggelam lebih dalam ke ketiadaan, ditinggalkan dengan bayang erotis yang membakar.
**
Empat hari kemudian.
"Waryo! Tarik jaringnya lebih kuat! Ikannya mau lepas!"
"Iya, Hana!"
"Tangkapan hari ini lumayan," Nenek Hana tersenyum. "Kita bisa jual di pasar besok."
"Eh?" Nenek Hana tiba-tiba menunjuk ke arah pantai. "Waryo, lihat! Ada sesuatu terdampar!"
Di pasir putih pantai Desa Tembok yang sepi, tergeletak tubuh seorang pemuda.
"Astaga!" Kakek Waryo memeriksa nadi di leher pemuda itu. "Hana, dia masih hidup! Denyut nadinya lemah, tapi dia masih hidup!"
"Sepertinya dia terseret arus,Waryo." Ucap Nenek Hana.
"Ayo kita bawa dia kerumah."
Dan dengan susah payah, pasangan tua itu membawa tubuh gemuk Kelud ke rumah mereka.
**
Kelud membuka matanya perlahan.
"Jangan dipaksakan," suara lembut seorang wanita tua terdengar. Nenek Hana masuk dengan membawa semangkuk bubur. "Kau sudah tidur tiga hari tiga malam."
"Ini... dimana?" suara Kelud serak. "Ahh, kepalaku sakit sekali." Tangan Kelud memegang kepalanya.
"Kamu ada di Desa Tembok, Pulau Bando," Nenek Hana duduk ditepi kasur. "Kami menemukanmu terdampar di pantai, dan telingamu berdarah. Saat kami tahu kamu masih hidup, kami membawamu ke sini, rumah kami."
"Siapa namamu, nak?" tanya Nenek Hana lembut.
Kelud terdiam. Nama Kelud dari Kerajaan Silver... nama itu sudah tidak berarti lagi.
"Kai," dia akhirnya menjawab. "Namaku... Kai."
Nenek Hana tersenyum. "Kai. Nama yang bagus. Aku Hana, dan ini suamiku Waryo. Selamat datang, Kai."