
4 Istriku Ganas & Panas
Gauche Diablo|Bersambung
- Jumlah kata
- 92.5K
- Popular
- 19.8K
- Subscribe
- 1.5K
- Jumlah kata
- 92.5K
- Popular
- 19.8K
- Subscribe
- 1.5K
Sinopsis
[KHUSUS 21+++] "Gila! Aku sudah mati dan masuk ke raga orang lain! Aku nggak boleh mati untuk kedua kalinya!" Gino Arvan, 27 tahun, pria yang dulu memang kasar, bejat, dan bajingan tengik di mata keempat istrinya. Hingga mereka berkomplot ingin membunuhnya. Namun, mereka tidak tahu bahwa Gino yang mereka hadapi sekarang bukanlah suami yang selama ini berlaku zalim ke mereka. Dia bertekad ingin mengubah takdir Gino Arvan, sampai tak menyadari bahwa dia memiliki kekuatan aneh. Seperti apa itu? Apakah kekuatan itu bisa membuat empat istri ganasnya takluk dan mendamba kasih sayangnya?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1 - Istri-istri yang Ganas dan Berbahaya
'Haaghh!' Gino Arvan membuka mata. Rasanya dia seperti baru saja tenggelam dan akhirnya mendapatkan udara yang dicari-cari.
Semua terasa menyesakkan dan menyakitkan.
Dan setelah matanya diedarkan ke sekeliling, barulah menyadari bahwa dia saat ini sedang di atas ranjang kamar dalam kondisi tak berdaya.
'Kamar? Mewah sekali!' batinnya. 'Rumah siapa ini?'
Matanya berkeliling menatap ruangan luas dengan ranjang besar berkanopi yang setahunya hanya ada di cerita para bangsawan.
Dengan sekali lihat saja dia bisa yakin bahwa interior dan semua barang di kamar itu bukanlah barang murah.
"Mmhh!"
Kepalanya sedikit berdenyut dan tangan langsung menyentuh kening.
'Aku kenapa?' Dia terus membatin. 'Tunggu dulu! Kenapa aku di sini? Bukannya aku tertabrak truk?’
“Erghh!”
Dia memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Mendadak saja seperti ada gelombang tsunami di kepalanya. Berbagai informasi deras menerjang otak.
'Tunggu dulu! Aku... aku hidup lagi, tapi... di tubuh yang berbeda?'
Matanya menatap ke cermin besar di samping ranjang yang berfungsi seperti dinding.
'Wajahku jadi tampan... kulitku nggak sekusam sebelumnya. Ya ampun, aku mirip cowok Turki!'
Antara ingin tertawa dan terkagum-kagum dengan penampilan dirinya sendiri. Tapi Gino buru-buru menyadari satu hal.
'Tunggu dulu....' Keningnya berkerut. 'Kalau muka sama penampilanku beda jauh dengan aku yang dulu... itu artinya ... aku pindah raga!'
Akhirnya dia menyadari satu hal dan membuat kesimpulan bahwa dia mengalami fenomena luar biasa, yaitu transmigrasi jiwa.
'Oke. Jadi orang yang aku masuki ini sebenarnya sudah mati atau bagaimana, sih?'
Gino masih mencoba menggali memori pemilik tubuh.
'Hm... sepertinya ini situasi setelah kepala pemilik tubuh ini dipukul dan setelah itu didorong ke kolam sama....'
Belum usai dia membatin, tiba-tiba pintu kamar dibuka.
Masuklah 4 wanita cantik mempesona. Masing-masing dari mereka tidak bercacat dalam penampilannya.
Tubuh ramping, dada montok, dan wajah rupawan yang pasti membuat banyak pria meneteskan air liur. Keempatnya memukau mata.
Jakun Gino sampai naik-turun menyaksikan empat wanita tersebut.
'Me—Mereka istriku? Ya ampun, pemilik tubuh ini beruntung sekali punya istri semolek itu! Tapi... dari memorinya … kenapa sepertinya dia dibenci semua istrinya?' Gino memiliki ingatan dari pemilik tubuh lama.
"Mas Gin nggak apa-apa?" Salah satu dari mereka mendekat ke ranjang.
Wajahnya terlihat cemas melihat Gino yang sedang lemas tak berdaya.
'Rheva. Dia istri keempatku.' Gino menatap wanita yang sedang duduk di tepi ranjang. 'Dia yang ikut mendorong aku ke kolam. Kecemasannya pasti akting!'
Mata sedih Rheva menatap Gino.
Wanita berbaju pink itu memegang lengan Gino sambil berkata, "Mas Gin merasa sakit di mana?"
Bukannya menjawab, Gino malah menatap keempat istrinya.
'Benar-benar nggak ada yang terlihat tulus.' Gino membatin sedih. 'Memangnya apa saja yang dilakukan pemilik tubuh ini dulunya sampai dibenci begini? Kok mereka berusaha mmbunuh aku?'
Tiga dari mereka hanya menatap acuh tak acuh ke Gino tanpa keinginan mendekat ke ranjang.
Hanya Rheva yang terlihat peduli. Sedangkan tiga lainnya lebih menonjolkan kebencian ketimbang cemas.
'Dari ingatan pemilik tubuh ini, mereka tadinya ingin membunuh aku dengan ditenggelamkan ke kolam, tapi gagal. Aku berhasil merangkak keluar kolam dan selamat. Tapi sehabis ini aku akan mati ditusuk keempat istriku sekaligus setelah racun dari mereka kurang ampuh bekerja!' Gino mendapatkan ingatan tersebut. 'Dan itu terjadinya nanti malam!'
Dia tak menyangka akan diberikan kehidupan baru, tapi di detik-detik terakhir sebelum dibunuh secara brutal oleh keempat istrinya.
'Nggak bisa!' teriak batin Gino. 'Aku sudah susah payah hidup lagi. Mana bisa pasrah mati untuk kedua kalinya? Aku harus membuat mereka nggak boleh membunuhku!'
Setelah itu, dia menggali memori pemilik tubuh lama.
Dan kemudian dia mengetahui bahwa pemilik tubuh lama kerap bertindak sewenang-wenang terhadap keempat istrinya.
'Astaga! Pantas saja mereka berkomplot ingin membunuhku. Yang punya tubuh ini juga ngaco, nggak wajar ke istrinya! Oke. Aku akan membuat mereka nggak lagi membenciku!'
Setelah bertekad demikian, Gino tahu apa yang harus diubah sebagai pemilik baru tubuh tersebut.
"Sakitku nggak ada yang terlalu serius, Rheva." Gino akhirnya merespon dengan suara lembut. "Badanku cuma agak lemas sedikit. Terima kasih sudah cemas."
Mendengar suara lembut Gino, empat wanita tadi langsung melongo.
Ada ekspresi kaget di masing-masing wajah rupawan mereka yang tak bisa ditahan-tahan.
Dari ingatan yang dia dapatkan, Gino tahu bahwa pemilik lama tubuh ini orang yang kasar dan temperamen. Dia kerap menyiksa dan memukul istri-istrinya.
'Hghh... Gino Arvan… untuk apa kamu kasar ke istri-istrimu?' Dia menyalahkan pemilik lama tubuh tersebut. 'Mereka semanis dan semolek itu, loh! Wajar saja kalau mereka ingin kamu mati. Aku yang cuma pegawai perpustakaan kelurahan dulunya, mana mungkin bisa dapat istri secantik mereka.'
"Nanti aku buatkan bubur untuk Mas Gin, ya!" Mata Rheva terlihat bercahaya.
Namun, Gino paham dengan pasti bahwa itu pastinya hanya sandiwara belaka.
'Ya, bubur maut yang kamu buat untukku, Rheva. Pakai racun yang susah dideteksi oleh forensik, kalian memang ingin aku mati.' Gino membatin dengan hati sedih. 'Empat istriku ini... ganas!'
Setelahnya, keempat istrinya keluar dari kamar secara bersama-sama.
Mereka semua segera duduk di sofa ruang tengah.
"Jangan tertipu sama mulut manisnya!" Ghea, istri pertama berkata ke yang lain. "Ingat, kita semua korban rayuan gombal dia."
Yang lainnya diam sambil berpikir.
Kemudian, Rheva bicara, "Tapi Kak Ghea, sudah lama Mas Gino nggak bicara selembut itu, loh!"
"Kalau dipikir-pikir... kapan dia bicara manis begitu?" Zeline, istri kedua, mengerutkan kening. "Sudah lama sekali sejak dua tahun lalu dia bicara semanis itu, iya kan?"
"Iya juga, sih...." Kiran, istri ketiga, menyahut. "Biasanya dia kasar dan main bentak ke kita. Ini tadi dia mendadak bisa bicara kalem macam itu."
Mereka saling pandang.
"Paling-paling itu salah satu trik dia!" Ghea memukul meja. "Aku nggak akan semudah itu lupa bagaimana dia memukuli aku!"
"Jadi bagaimana ini?" Kiran bertanya, "Dia masih hidup! Kebebasan kita justru gagal begini."
Kemudian, mereka sama-sama terdiam. Saling memikirkan cara apa yang bisa dilakukan agar bisa membunuh Gino tanpa harus bersinggungan dengan hukum.
"Kita pakai racun punya temanku saja." Rheva tiba-tiba mencetuskan ide tersebut. "Nanti aku bubuhkan itu ke buburnya. Tapi memang nggak boleh terlalu banyak dosisnya agar nggak ketahuan polisi nantinya."
Tiga lainnya diam sambil terus berpikir.
"Lalu bagaimana misalkan dia nggak mati juga?" tanya Zeline.
"Kita bunuh, kita tusuk dia beramai-ramai!" Ghea menampar meja sambil mengatakan kalimatnya.
Tiga lainnya langsung terhenyak kaget mendengar ucapan Ghea.
"Mbak Ghea ini! Kalau main tusuk begitu bukannya akan kacau? Belum lagi nanti mayatnya bagaimana?" Kiran bertanya.
Sambil menaikkan bahunya dengan sikap acuh tak acuh, Ghea menjawab, "Ya... tinggal kuburkan saja dia di halaman belakang. Toh jarang ada tamu yang mencari orang problematik macam dia."
Namun, ketiga istri lainnya seakan memiliki keraguan tersendiri.
"Kita tusuk dia, ya?" Rheva merenung. Tubuhnya agak gemetaran.
"Sudahlah, Rheva, jangan ragu! Apa kamu lupa bagaimana dia pernah menjadikan kamu alat taruhannya ketika judi tiga bulan lalu?" Ghea menatap tajam ke Rheva.
Rheva semakin gemeteran. Tubuhnya merinding seketika saat mengingat insiden itu.
Saat itu, teman judi suaminya menginginkan dirinya.
Ketika dia mengira dirinya akan dipertahankan Gino, pria itu tanpa berpikir dua kali malah menyetujui.
Beruntungnya, Gino menang dan dia tak perlu melayani pria tambun berkepala botak yang terus menatap mesum ke arahnya.
Dia urung jadi budak ranjang teman Gino malam itu hanya karena suaminya kebetulan memenangkan judi tersebut.
Jika mengingat hal itu, Rheva masih merasakan dingin di punggungnya.
"Ya sudah, aku beli dulu racunnya di temanku. Kebetulan dia kerja di tempat farmasi. Dia sudah tahu situasiku, pasti nggak akan menolak membantuku." Rheva memaksakan senyumnya keluar.
—
Sementara itu, di kamarnya, Gino terus berpikir.
“Aku hidup sebagai Gino Arvan berumur 27 tahun sekarang ini. Bukan lagi Gino Armanto si pegawai perpustakaan kelurahan di kota Cendana.”
Seketika dia mengingat kehidupannya yang lalu. Seorang pegawai kelurahan yang menjaga ruangan perpustakaan di sana.
Pegawai rendahan yang sehari-hari berkutat dengan berbagai buku.
Beruntungnya dia suka membaca, sehingga pekerjaan itu bukanlah suatu beban untuknya, meski gajinya cukup membuatnya pusing bila tanggal tua mulai datang.
Mie instan sudah menjadi hidangan harian dia demi gajinya tidak lekas habis dalam sebulan. Apalagi dia hanyalah anak yang tumbuh besar di panti asuhan, tak punya keluarga yang mendukung hidupnya.
Bergelimang uang? Bahkan memiliki pasangan cantik? Itu hanya ada di impian terliarnya.
Lucunya, hidup barunya justru menjawab mimpinya.
“Gino Arvan ini anak orang kaya. Bapaknya konglomerat yang punya Arvan Group, ibu tirinya sosialita terkenal di Nusantara. Tapi… dia dibuang ke desa Asoka biar nggak ganggu keluarganya."
Sesuai ingatan barunya, desa Asoka ini merupakan tempat asal dari ayahnya.
“Dia punya satu kakak cowok yang sering dibandingkan dengannya. Bapak sama ibunya sudah nggak peduli ke dia gara-gara kelakuan sembrono dia sendiri. Cuma neneknya—satu-satunya orang yang masih sayang dia. Hanya saja, si nenek sudah sakit-sakitan dan jarang menemui dia.”
Dia terus menggali ingatan kehidupan barunya.
“Oke, Gino Arvan, aku akan hidup menggantikan kamu yang kacau. Lihat saja, kubuat Gino Arvan baru yang nggak bisa diremehkan siapapun!”
Daftar bab
68 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








