
Sistem Membahagiakan Istri Orang
Keatin9|Bersambung
- Jumlah kata
- 223.0K
- Popular
- 150.9K
- Subscribe
- 4.4K
- Jumlah kata
- 223.0K
- Popular
- 150.9K
- Subscribe
- 4.4K
Sinopsis
[Cerita 21+] [Hasrat Liar] [Istri Orang] Terpuruk karena diselingkuhi oleh istrinya, hidup Niko berubah drastis setelah mendapatkan sebuah koin yang membangkitkan Sistem Membahagiakan Istri Orang, di mana setiap peser uang dan kepuasan yang dia berikan kepada istri pria lain akan ditukar dengan kekayaan dan kekuatan fisik. Niko pun meraih kejayaan yang sebelumnya tak pernah dia bayangkan. Kini, wanita-wanita cantik dan seksi berlomba-lomba mendapatkan perhatiannya..
Ulasan
2 ulasan
Andie Prastyo
20/9/26 14:32
lanjutkan,tambah bab tiap harinya,ceritanya menarik gak sabar nunggu kelanjutannya,semoga sehat selalu dan bisa update tiap hari
PILIHANAngga Jbg
12/7/26 13:27
Lanjut Thor! Ceritanya seru bgt. Idenya menarik sekali. Premis ceritany bisa se-antimainstream ini ya! Bisa-bisanya kepikiran tema begini. Keren, keren!
1. Perselingkuhan Istri
Jari Niko menekan tombol angka di mesin ATM dengan gerakan cepat. Kemudian layar di depannya memuat deretan angka yang sudah dia tunggu selama berbulan-bulan.
Saldo: Rp 20.450.000.
"Tarik tunai dua puluh juta," gumam Niko pelan.
Mesin itu berderit nyaring, memuntahkan lembaran uang seratus ribuan dalam jumlah tebal. Dia harus melakukannya berkali-kali sampai jumlahnya 20 Juta.
Niko mengambil uang-uang tersebut, menjejalkannya ke dalam tas selempang bututnya, lalu berjalan keluar dari bilik ATM.
Pria itu kemudian melangkah menuju konter ponsel di seberang jalan. Seragam satpam perumahan elit masih melekat di tubuh kekarnya, ditambah jaket pelindung dada ojek online yang menutupi punggungnya.
"Mas, X-Pro terbaru warna emas masih ada?" tanya Niko sambil menaruh tas selempangnya di atas etalase kaca.
Penjaga konter itu menatap seragam Niko sejenak, lalu mengangguk ragu. "Ada, Bang. Tapi harganya dua puluh juta pas. Yakin mau ambil malam ini?"
"Yakin. Keluarkan barangnya," jawab Niko tegas.
Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu menyusun lembaran uang merah di atas kaca dengan rapi. Ini adalah hasil keringatnya sebagai satpam dan juga ojek online.
Semua uang ini murni dia kumpulkan untuk istrinya, Clara. Wanita itu sudah berminggu-minggu merengek meminta ponsel mewah demi menunjang gengsinya sebagai manajer di sebuah perusahaan besar.
"Ini barangnya, Bang. Masih segel pabrik," kata penjaga konter sambil menyodorkan kotak persegi panjang berbahan premium tersebut.
Niko mengusap permukaan kotak itu. Dia membayangkan reaksi Clara saat menerima hadiah mahal ini di rumah nanti, berharap senyum istrinya bisa sedikit melembutkan sikap keluarga mertuanya yang selalu menghina.
Tiba-tiba ponsel butut di saku celana Niko bergetar panjang. Layarnya menampilkan sebuah notifikasi pesan dari Deni.
Deni adalah teman lamanya yang bekerja sebagai staf layanan kamar di Hotel Grand Vania.
"Tumben anak ini kirim pesan jam segini," gumam Niko sambil menggeser layar ponselnya.
Napas Niko mendadak tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak lebar menatap sebuah foto resolusi tinggi yang baru saja masuk ke ruang obrolan mereka.
Di dalam foto itu, Clara terlihat memakai gaun merah menyala yang sangat minim dan ketat. Istrinya itu berjalan mesra memasuki lobi hotel berbintang.
Parahnya, Clara tidak sendirian. Dua orang pria berjas rapi mengapit tubuh istrinya dari sisi kiri dan kanan. Tangan salah satu pria itu bahkan dengan santai bertengger memeluk pinggul Clara.
Ponsel Niko kembali bergetar. Sebuah panggilan suara masuk dari Deni.
Niko langsung menekan tombol terima. "Den! Apa maksud foto ini?"
"Nik, tenang dulu," suara Deni di seberang sana terdengar gemetar panik. "Kamu di mana sekarang?"
"Itu Clara, kan? Istriku ngapain di hotel tempatmu kerja sama dua laki-laki itu?!" suara Niko meninggi, urat di lehernya mulai menonjol.
"Dengar, Nik. Mereka bertiga memesan satu kamar dan sekarang mereka ada di sana. Tapi tahan emosimu. Jangan datang ke sini dan membuat keributan. Kumohon. Kamu bisa hancurkan pekerjaanku."
Tangan kanan Niko meremas ujung meja etalase dengan sangat kuat hingga membuat penjaga konter menatapnya was-was.
"Beri tahu aku nomor kamarnya, Deni. Aku jamin tidak akan bawa namamu ke dalam masalah ini."
"Gila kamu! Sekuriti hotel ini banyak, Nik. Kamu pasti ditahan sebelum sampai pintu lift!" bantah Deni cepat.
"Terus aku harus diam saja melihat istriku dibawa masuk ke kamar oleh bajingan lain?!"
Hening sejenak di ujung telepon. Terdengar suara napas Deni yang memburu dan ragu.
"Aku punya akses ke kamera tersembunyi," ucap Deni setengah berbisik.
Kening Niko berkerut tajam. "Kamera apa yang kamu bicarakan?"
"Kamar Deluxe 402. Tadi aku yang bertugas mengantar wine ke sana. Aku sengaja pasang kamera kecil di sela-sela pot tanaman hias palsu di nakas."
"Untuk apa kamu pasang kamera di kamar tamu?" desak Niko tidak sabar.
"Bukan urusanmu! Intinya, kamu bisa lihat sendiri apa yang mereka lakukan di dalam sana tanpa harus mendobrak pintu. Temui aku di lorong gelap samping hotel sekarang juga."
Sambungan telepon terputus sepihak.
Niko memasukkan kotak ponsel mewah itu ke dalam tasnya. Dia melompat ke atas motor matic tuanya, lalu memutar tuas gas dalam-dalam.
Dia melajukan motornya itu ke batas maksimal yang bisa dihasilkan, sehingga, ketika dia sampai di lorong sempit samping hotel, motornya berdecit keras karena dia mengerem secara mendadak dari kecepatan tinggi.
Deni sudah berdiri di sudut tembok. Pria kurus berseragam staf hotel itu terus mengisap rokoknya dengan tangan gemetar dan wajah sepucat kapas.
"Mana videonya?" Niko turun dari motor dan langsung menghampiri Deni.
Deni membuang puntung rokoknya, menginjaknya dengan ujung sepatu. "Janji padaku, Nik. Apa pun yang kamu lihat, kamu nggak boleh lari ke lobi dan mengamuk."
"Cepat serahkan rekamannya padaku!" bentak Niko dengan suara rendah namun berat.
Deni menelan ludah dengan susah payah. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah ponsel, lalu menyodorkannya ke dada Niko.
"Ini terhubung langsung ke kamera di kamar 402. Suaranya juga masuk ke sini," kata Deni pelan.
Niko menyambar ponsel itu. Layarnya menampilkan sudut pandang dari arah meja nakas, menyorot langsung ke tengah ranjang berukuran besar.
Detik itu juga, realitas menghantam wajah Niko dengan sangat mengerikan.
Dunia pria bertubuh kekar itu hancur berkeping-keping tanpa sisa.
Di layar kecil tersebut, Clara terlihat sangat menikmati situasi. Istrinya yang selalu menolak disentuh di rumah dengan alasan lelah bekerja, kini mendesah liar melayani nafsu dua pria sekaligus.
Pakaian minim Clara sudah berserakan tidak berbentuk di atas karpet.
Seorang pria berjas abu-abu yang sudah setengah telanjang berada di belakang Clara, menikmati penyatuannya dengan milik wanita itu. Sementara satu pria lagi yang memakai kemeja hitam berdiri tepat di depan wajah Clara.
Clara melayani pria kedua itu dengan lidahnya yang bergerak liar, memutar kepalanya seolah-olah dia adalah pelacur profesional kelas atas.
"Bagus, Clara. Bos Anton pasti suka caramu ini," ucap pria berkemeja hitam itu sambil mengelus rambut Clara kasar.
"Tentu saja, Pak Boris. Asal proyek kita lancar dan bonusku cair," balas Clara di sela-sela desahannya.
Dada Niko terasa seperti ditikam ribuan jarum beracun. Rahangnya mengatup sangat rapat hingga giginya bergemeretak menahan emosi yang memuncak.
Telinga Niko kembali menangkap percakapan menjijikkan dari pengeras suara ponsel tersebut.
"Ngomong-ngomong, suami satpammu itu tidak curiga kamu lembur terus setiap minggu?" tanya pria bernama Anton dari arah belakang.
Clara tertawa meremehkan, suaranya terdengar sangat merendahkan.
"Niko? Jangan sebut nama pecundang itu di depanku. Bikin selera makanku hilang total," ucap Clara sinis.
"Hahaha! Benar juga. Kudengar dia ngojek juga sampai malam? Kasihan sekali hidupnya." Boris ikut tertawa lepas sambil meremas pipi Clara.
"Suami sampah kayak dia memang cuma pantas jadi babu, Pak Boris. Gajinya sebulan bahkan tidak cukup buat beli tas kerjaku," timpal Clara tanpa beban sedikit pun.
"Bapak mertuamu benar, Clara. Harga diri pria itu cuma dilihat dari uang dan pekerjaannya. Satpam miskin seperti suamimu itu tidak punya harga diri sama sekali," kekeh Anton.
"Ya sudah, biarkan saja babu itu jaga perumahan orang kaya. Malam ini, istrinya yang cantik ini biar kami berdua yang jaga sampai pagi."
Anton menekan pinggul Clara lebih keras.
Clara memekik kegirangan merespons gerakan tersebut. "Terserah kalian berdua mau sampai jam berapa. Aku tidak peduli pada keberadaan pria miskin itu."
Niko menatap layar itu tanpa berkedip. Mata gelapnya merekam setiap inci pengkhianatan yang terjadi tepat di depan matanya.
Dia telah menghabiskan seluruh sisa uang gajiannya demi membelikan ponsel mewah untuk Clara. Dia rela makan mi instan berminggu-minggu demi mengumpulkan dua puluh juta rupiah.
Namun, hinaan murahan inilah balasan yang dia terima.
Urat-urat tebal langsung bermunculan di sekitar leher dan lengan Niko. Otot bisepnya menegang keras menembus kain seragam satpamnya, menampilkan kekuatan fisik yang selama ini dia sembunyikan.
Tangannya mengepal sangat kuat. Kuku jarinya menancap dalam ke telapak tangannya sendiri hingga menimbulkan rasa perih yang nyata.
"Nik..." panggil Deni ragu-ragu, mundur selangkah karena ketakutan. "Kamu... tidak apa-apa?"
Niko mengabaikan panggilan temannya itu. Matanya terpaku pada pintu darurat hotel yang berada hanya sepuluh langkah dari posisinya berdiri.
Pintu baja itu adalah akses langsung menuju tangga darurat yang menyambung ke lantai empat gedung ini.
Dorongan amarah merasuk kuat ke dalam otak Niko. Pria itu menatap punggung tangannya sendiri, membayangkan seberapa mudah dia bisa mendobrak pintu kamar Deluxe 402 tersebut dengan tubuh kekarnya.
Dia bisa mencekik leher Anton dan Boris secara bersamaan. Dia bisa menghancurkan wajah kedua pria sombong itu hingga rata dengan lantai marmer kamar hotel.
Lalu, dia bisa menyeret rambut Clara keluar dari kamar dalam kondisi memalukan agar semua orang melihat wujud asli wanita materialistis tersebut.
Niko mengambil satu langkah maju ke arah pintu darurat. Postur tubuhnya condong ke depan, urat di tangannya semakin menonjol siap menghancurkan apa saja yang menghalanginya.
Deni langsung melompat maju menahan lengan Niko dengan kedua tangannya, memelas ketakutan. "Jangan, Nik! Aku mohon!"
Daftar bab
197 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
197 bab








