
Bujang Lapuk Sang Penakluk
Kentang|Bersambung
- Jumlah kata
- 79.3K
- Popular
- 11.1K
- Subscribe
- 713
- Jumlah kata
- 79.3K
- Popular
- 11.1K
- Subscribe
- 713
Sinopsis
AREA 21+🔞 Perjalanan seorang pemuda bernama Saipul yang dipenuhi keberuntungan setelah menerima gigi taring macan putih di hutan Larangan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Semua tentang Saipul
"Sampai kapan kamu mengurusi Mbah, Pul? Usiamu sudah matang, sudah pantas menikah."
Mbah Kasmi memegangi punggung Saipul. Tangan keriputnya bergetar pelan. Saipul membiarkan jemari rentan neneknya mengusap pundaknya perlahan. Ia terus memijat kaki neneknya.
"Buat apa menikah, Mbah? Selama Mbah ada, aku baik-baik saja."
"Ipul... Pul... uhuk... uhuk!" Mbah Kasmi mencoba duduk. Napasnya terdengar berat. "Nak, usiamu sudah masuk kepala tiga. Sudah pantas menjalin hubungan. Mbah sudah tua. Kamu tidak perlu pikirkan Mbah terus, Nak."
Saipul menuangkan air putih ke gelas seng. Ia menyodorkan gelas ke bibir Mbah Kasmi.
"Minum dulu, Mbah."
Mbah Kasmi meneguk air perlahan. Matanya berkaca-kaca menatap cucu sulungnya. Anak Mbah Kasmi ada lima, namun tak ada satupun yang mau merawat Mbah Kasmi setelah menerima warisan berupa pembagian tanah dan memiliki rumah tangga masing-masing di kota. Hanya Saipul, anak dari mendiang putra sulung, yang sudi menetap.
"Sudahlah Mbah, makan dulu obatnya. Aku mau sabit rumput dulu. Ada pesanan Pak RT."
"Hati-hati, Pul."
Saipul mengangguk. Ia melangkah keluar rumah kayu peninggalan kakeknya, lalu mengambil sepeda jengki yang terparkir di belakang gudang. Karung goni usang dan arit tajam sudah terselip di boncengan. Usia Saipul sudah masuk tiga puluh tahun. Jika di Desa Jukrik, usia segini dibilang bujang lapuk. Sebagian kawan Saipul sudah menikah, beranak dua, dan merantau mencari kerja layak. Tapi Saipul memilih tinggal menikmati hidup.
Saipul mengayuh sepeda jengkinya melewati jalanan setapak menuju hutan yang masih dipenuhi rumput liar. Roda sepedanya berderit melindas kerikil berdebu.
Sayup-sayup terdengar makian kencang dari pinggir sungai menjelang perbatasan.
"Asu... cok! Cacingnya doang disambar, tidak ada satupun ikan termakan!"
Saipul tersenyum geli. Ia membelokkan sepeda mendekati sumber suara.
"Sudah dapat, Mbul?" tanya Saipul menaruh sepedanya di bawah pohon rindang.
Gembul melompat kaget. Joran bambunya nyaris tercebur ke air.
"Jancok! Bikin kaget saja kamu, Pul!" Gembul menancapkan joran ke tanah lalu menghisap rokok batangannya dalam-dalam. Asap tebal mengepul dari hidung lebarnya.
"Hadeh, tidak ada yang mau makan, Pul. Padahal sudah siang begini. Biasanya ikan di sungai pada lapar, ini satupun tidak ada yang nyangkut. Cuma habis dimakan yuyu paling!"
Saipul terkekeh. "Belum keberuntunganmu kali, Mbul."
Gembul menoleh. Matanya menyipit melihat bawaan kawannya. "Mau ngapain kamu bawa arit, Pul? Jangan bilang mau ngambil rumput liar di dalam hutan lebat sana."
"Tahu saja kamu, Mbul."
Gembul membuang puntung rokoknya, menginjaknya pakai sandal jepit buluk. "Jangan gila! Hutan di dalam angker, Pul. Aku saja tidak berani mancing lebih jauh dari pohon waru depan." Ucap Gembul bergidik ngeri menatap kegelapan pepohonan raksasa.
"Angker mah kalau dompet kosong, Mbul. Lagian rumput di luar sudah banyak disabit orang. Sapi Pak RT butuh makan banyak. Aku mau cari rumput gajah yang gemuk dan segar."
"Terserah kamu saja, Pul. Kalau ada Wewe Gombel culik kamu, jangan teriakkan namaku, ya! Aku langsung lari kencang."
Saipul mengacungkan jempolnya mantap. "Aman bos, jagain sepedaku."
Bagi Saipul, lebih angker kalau tidak dapat uang bayaran rumput. Semakin ke dalam Saipul berjalan, suasana hutan semakin gelap. Pepohonan besar dengan akar menjalar raksasa menutupi cahaya matahari. Udara terasa lebih dingin merasuk pori-pori kulit. Saipul harus menebas ranting-ranting patah yang menghalangi jalan.
"Nah, ini dia," gumam Saipul tersenyum. Hamparan rumput gajah setinggi pinggang tumbuh subur di dekat aliran air sempit.
Srett! Srett!
Arit di tangan Saipul bergerak lincah. Batang demi batang rumput putus, terkumpul cepat. Keringat mulai bercucuran membasahi kaus oblongnya. Napas Saipul memburu cepat. Dalam waktu setengah jam, karung goninya hampir penuh sesak.
Raunghh!!
Suara aungan memecah keheningan hutan. Jantung Saipul berdegup kencang. Tangannya refleks mencengkeram gagang arit erat-erat.
Ia menelan ludah, lalu melangkah pelan mencari sumber suara misterius di depannya. Kaki Saipul menginjak ranting kering, menimbulkan bunyi retakan pelan.
Raunghh!!
Suara erangan terdengar lebih jelas dari balik semak belukar. Saipul menyibak daun-daun lebar menjalar. Matanya seketika melotot sempurna.
"Ma... macan putih?" gumam Saipul. Seluruh sendinya mendadak lemas. Tangannya bergetar hebat.
Seekor macan berbulu seputih salju terkapar lemah. Kaki belakang sang hewan buas terjepit rapat di celah bongkahan batu besar. Cakaran putus asa menggores tanah basah di sekitarnya.
Batin Saipul berkecamuk. Selamatkan tidak? Kalau kubiarkan, macan malang di depanku pasti mati perlahan. Tapi kalau kutolong, bisa-bisa nyawaku sendiri melayang jadi makan siangnya.
Ketakutan mengalahkan rasa kasihan. Saipul memutar badan, berniat lari sekencang mungkin menuju tempat Gembul menunggu. Namun langkahnya terhenti. Sang macan menatap mata Saipul lekat. Tatapannya memelas pedih, seakan memohon belas kasih. Seolah mengerti hanya pemuda di hadapannya yang sanggup memberi pertolongan.
Saipul menghela napas panjang. "Ah, baiklah. Kutolong saja."
Dengan langkah ragu, Saipul mendekat. Jarak mereka kini tersisa setengah meter.
Raunghh!
Macan putih mengaum tertahan menahan sakit.
"A... aku mau menolongmu," ucap Saipul terbata-bata, menyodorkan telapak tangannya ke depan sebagai tanda damai. "Tapi tolong, jangan makan aku."
Saipul meletakkan aritnya ke tanah basah. Ia merangkul sisi bongkahan batu raksasa. Urat-urat di lengan Saipul menonjol keluar. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaganya, menggeser batu keras ke pinggir sekuat mungkin.
Napas Saipul tersengal. Sedikit demi sedikit, batu bergeser menjauh. Kaki sang macan akhirnya terbebas sepenuhnya.
Tanpa aba-aba, macan putih langsung melompat lincah. Kaki depannya menerkam dada Saipul sangat cepat.
Tubuh Saipul terdorong keras ke belakang hingga jatuh telentang mencium tanah.
"Tolong!!!!" teriak Saipul sekuat tenaga, menutup matanya pasrah menyambut maut.
"Jangan takut, manusia. Kamu sudah berbuat baik menolongku."
Saipul terengah-engah. Jantungnya berdetak liar. Macan putih mendadak memancarkan cahaya terang benderang. Wujud hewan buas seketika menyusut lalu berubah menjadi sosok pria tua. Pria misterius mengenakan jubah putih panjang. Jenggotnya tebal menjuntai hingga menutupi dada.
"Ka... kamu? Bisa berubah?" Suara Saipul bergetar hebat.
"Aku Ki Ageng, penjaga hutan larangan ini. Aku tak sengaja terjepit saat berburu."
Saipul mengerjapkan matanya berkali-kali. Pikirannya kosong mencerna kejadian ganjil di depan mata.
"Hahaha, tidak perlu takut. Mendekatlah. Aku tak suka berutang budi." Ki Ageng mengangkat sebelah tangan menuju mulut, lalu mencopot satu gigi taringnya.
Sebuah taring tajam berwarna putih tulang kini tergeletak di atas telapak tangan keriputnya.
"Ambillah pusaka pemberianku. Gigi taringku bukan sembarangan gigi. Kelak apapun masalahmu, kamu bisa menggunakan taring saktiku."
Saipul yang sudah terlanjur ketakutan setengah mati langsung menyambar taring dari tangan Ki Ageng. Tanpa mengucapkan sepatah kata terima kasih, ia langsung membalikkan badan. Saipul buru-buru mengambil aritnya di tanah, membopong karung goni penuh rumput, lalu lari pontang-panting membelah lebatnya pepohonan meninggalkan kedalaman hutan.
Daftar bab
70 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








