Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SISTEM BELA DIRI TERKUAT SEJAGAT

SISTEM BELA DIRI TERKUAT SEJAGAT

FIX REBOON III | Bersambung
Jumlah kata
240.6K
Popular
17.7K
Subscribe
579
Novel / SISTEM BELA DIRI TERKUAT SEJAGAT
SISTEM BELA DIRI TERKUAT SEJAGAT

SISTEM BELA DIRI TERKUAT SEJAGAT

FIX REBOON III| Bersambung
Jumlah Kata
240.6K
Popular
17.7K
Subscribe
579
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalSistemReinkarnasiKultivator
Aldino Aditama terlempar ke dunia persilatan modern—dunia di mana kekuatan ditentukan oleh jalur bela diri dan energi darah. Ia masuk ke tubuh seorang siswa SMA Beladiri yang dipandang rendah. Seluruh energi darah siswa itu terkuras habis karena diberikan kepada siswi paling populer di kelas. Aldino bertekad tak lagi menjadi "budak cinta". Ia tak akan lagi mau diperdaya oleh gadis itu dan fokus pada peningkatan kekuatannya sendiri. Tergetnya hanya satu, menjadi ahli bela diri terkuat sejagat hingga tak ada yang bisa meremehkannya.
Bab 1 Teknik Pernapasan Tingkat Mahatinggi

Aldino Aditama terbangun dengan perasaan tidak nyaman.

Bukan karena mimpi buruk… tapi karena dorongan ingin buang air kecil yang luar biasa menyiksa.

Dengan mata setengah terbuka, ia meraba ke samping, berniat mengambil ponsel untuk melihat jam. Namun tangannya hanya menyentuh udara kosong.

“Hah…?”

Matanya terbuka sepenuhnya.

Yang ia lihat bukanlah kamar kos sempit khas mahasiswa… melainkan sebuah ruangan asing dengan dinding kusam dan suasana yang terasa begitu berbeda.

“Apa-apaan ini? Bukannya semalam aku begadang ngerjain skripsi di kos?”

Kebingungan belum sempat terurai, tiba-tiba—

BRAK!

Seolah ada sesuatu yang meledak di dalam kepalanya.

Gelombang ingatan yang bukan miliknya mengalir deras, memenuhi kesadarannya.

Dunia ini… adalah dunia di mana bela diri menjadi hukum tertinggi.

Setiap orang mengasah energi darah, membuka jalur-jalur bela diri, dan meningkatkan daya tempur untuk bertahan hidup.

Dan dirinya…

Bukan lagi Aldino yang dulu.

Ia kini menempati tubuh seorang siswa SMA jurusan bela diri… dengan nama yang sama: Aldino Aditama.

Orang tuanya telah gugur tiga tahun lalu dalam serangan gelombang monster. Yang tersisa hanyalah sedikit uang santunan… dan rumah reyot ini.

Namun itu belum yang terburuk.

Yang membuat Aldino ingin memukul tembok adalah fakta—

Pemilik tubuh ini adalah pecundang cinta kelas dewa.

Selama lebih dari satu tahun, ia mengorbankan hampir seluruh energi darah hasil latihannya… hanya untuk menyenangkan siswi paling populer di kelas: Lina Safira.

Akibatnya?

Tubuhnya kekurangan energi darah kronis.

Dan semalam…

Ia mati saat latihan.

“...Menyedihkan sekali hidupmu.”

Aldino menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan.

“Benar-benar mati karena cinta? Kamu ini serius?”

Di kehidupan sebelumnya, Aldino juga bukan orang beruntung. Ia yatim piatu, hidup pas-pasan… tapi berjuang keras hingga bisa masuk kampus bergengsi.

Ia bukan tipe yang menyerah.

Baginya—

Nasib bukan sesuatu yang diterima, tapi direbut.

Tapi sekarang?

Begadang ngerjain skripsi sampai mati… lalu malah bereinkarnasi jadi orang seperti ini?

“Ini bukan apes lagi… ini sudah keterlaluan.”

Saat ia masih tenggelam dalam kekesalan—

Tiba-tiba suara dingin dan mekanis terdengar di dalam kepalanya.

【Mendeteksi jiwa yang kompatibel…】

【Mengikat Sistem Bela Diri Terkuat Sejagat…】

【Pengikatan berhasil!】

【Host: Aldino Aditama】

Aldino terdiam.

Lalu matanya membelalak.

Sistem?!

【Hadiah pemula diberikan: Teknik Pernapasan Tingkat Mahatinggi — “Teknik Napas Asal”】

Dalam sekejap, lautan informasi membanjiri pikirannya.

---

Teknik Napas Asal

Salah satu metode dasar terkuat di seluruh dimensi.

Tidak perlu diaktifkan secara sadar.

Secara otomatis menyerap energi alam… dan mengubahnya menjadi energi darah paling murni.

Efek:

→ Setiap detik, energi darah +1

---

Energi darah saat ini: 8 poin

---

Aldino terpaku beberapa detik.

Lalu—

“...Gila.”

Senyumnya perlahan terangkat.

“Ini… benar-benar gila.”

Ia tertawa kecil, namun matanya menyala penuh gairah.

“Jadi ini… ‘kekuatan curang’ yang sering dibilang orang?”

Ia mulai mengingat kembali pengetahuan dunia ini.

Planet ini bernama Bintang Tiansa—dunia modern dengan ukuran ratusan kali lebih besar dari bumi.

Di sini—

Energi darah adalah segalanya.

Kekuatan. Status. Kehormatan.

Semua ditentukan oleh satu hal:

daya tempur.

Untuk menjadi kuat, seseorang harus:

Melatih teknik pernapasan

Mengonsumsi daging monster

Menggunakan pil energi

Membuka jalur bela diri (titik energi)

Memperkuat tulang dan tubuh

Energi darah bahkan bisa dijadikan mata uang.

Dengan alat khusus di komunitas, energi darah bisa dikonversi menjadi koin energi darah—setara nilai ekonomi yang bisa diperdagangkan.

---

Aldino menatap tangannya.

Di sana, terdapat 8 koin energi darah.

Ia langsung menghela napas panjang.

“Hebat juga kamu… bahkan sisa terakhir pun kamu kirim ke Lina.”

Ia benar-benar tidak tahu harus tertawa atau marah.

Karena menguras habis energi darah terakhir itulah…

Pemilik tubuh ini mati.

Dan dirinya… masuk ke dalam tubuh ini.

Namun—

Sekarang situasinya berbeda.

Aldino memejamkan mata, lalu mencoba merasakan aliran dalam tubuhnya.

Dan benar saja.

Setiap tarikan napas…

Ia bisa merasakan aliran hangat, kecil namun terus-menerus, mengalir ke seluruh tubuhnya.

“Setiap detik… 1 poin…”

Matanya langsung berbinar.

“Satu hari berarti 86.400 poin?!”

Sebagai mantan “raja kerja keras”, ia langsung paham arti angka itu.

Ini bukan sekadar keuntungan.

Ini adalah—

Pendapatan pasif tanpa batas.

Orang lain harus latihan mati-matian, bahkan mempertaruhkan nyawa berburu monster…

Sedangkan dirinya?

Cukup bernapas.

---

Di dunia ini, setiap orang memiliki 99 titik jalur bela diri dasar.

Setiap membuka satu titik, membutuhkan 10 poin energi darah.

Dan tiap titik memberi +1 daya tempur.

Siswa normal?

Latihan penuh sehari mungkin hanya mendapat 1 poin energi darah.

Bakat bagus? 2 poin.

Artinya—

Butuh lebih dari 10 hari untuk membuka satu titik.

---

“...Lambat sekali.”

Aldino tersenyum.

“Kalau begitu… aku saja yang percepat.”

Ia langsung menggerakkan energi darah dalam tubuhnya—

Menghantam salah satu titik di tangan kanan.

BOOM!

Tanpa hambatan.

Titik itu terbuka seketika.

“Semudah ini?”

Ia sedikit terkejut.

“Berarti masalahnya bukan teknik…”

“Tapi kekurangan energi.”

Tanpa ragu—

Ia langsung menyelesaikan urusan “biologisnya”, lalu kembali berbaring dengan santai.

Kemudian…

Ia mulai.

Mengalirkan energi darah yang terus meningkat seperti banjir—

Menghantam satu demi satu titik dalam tubuhnya!

---

BOOM! BOOM! BOOM!

Suara ledakan halus bergema di dalam tubuhnya.

Seperti hujan deras menghantam daun—

Titik demi titik terbuka dengan kecepatan luar biasa!

---

Energi darah: +1… +1… +1…

Jumlah titik terbuka:

6…

12…

26…

46…

68…

95…

---

Dalam waktu kurang dari satu menit per titik—

Semua jalur terbuka seperti kertas yang disobek!

Aldino tenggelam dalam sensasi kekuatan yang melonjak gila-gilaan.

Ototnya menguat.

Refleksnya meningkat.

Panca inderanya menjadi tajam.

Tubuhnya terasa seperti dipenuhi tenaga tanpa batas!

---

Beberapa belas menit kemudian—

DUARR!!

Seolah ada batas yang hancur.

99 titik terbuka sepenuhnya!

Sirkulasi energi terbentuk sempurna!

---

Status:

Nama: Aldino Aditama

Jalur Bela Diri: 99/99

Energi Darah: 23 (terus meningkat…)

Daya Tempur: 99

---

“...Sempurna.”

Aldino membuka mata.

Kilatan tajam melintas di matanya.

“Kurang dari dua puluh menit…”

“Orang lain butuh bertahun-tahun…”

Ia mengepalkan tangan.

Kekuatan mengalir deras.

“Ini… benar-benar luar biasa.”

Ia menghembuskan napas panjang.

Dalam ingatan tubuh ini—

99 jalur terbuka adalah batas teoritis siswa SMA.

Dan ia mencapainya…

Dalam waktu kurang dari 20 menit.

---

Aldino menutup mata.

Menekan emosinya.

Menenangkan pikirannya.

Tubuhnya akhirnya menyerah pada kelelahan mental.

Ia tertidur.

---

Saat membuka mata lagi—

Matahari sudah tinggi.

“Aku harus ke sekolah.”

Ia berdiri, meregangkan tubuh.

Energi dalam dirinya mengalir seperti sungai deras.

Ia tersenyum tipis.

“Lina Safira…”

“Ada hutang yang harus aku selesaikan.”

Ia membuka pintu.

Langkahnya mantap.

Menyambut hari baru—

Dan dunia yang akan segera ia taklukkan.

Aldino Aditama melangkah masuk ke ruang kelas tepat saat bel tanda belajar pagi berbunyi.

Kehadirannya… nyaris tak menarik perhatian.

Ia sengaja menahan aura kekuatannya. Seragamnya masih sama—kusam, pudar, seperti biasa. Namun ada satu hal yang berbeda.

Punggungnya tegak.

Tatapannya… tajam.

Seolah ada sesuatu yang telah bangkit dalam dirinya.

Bersambung...

Lanjut membaca
Lanjut membaca