
- Jumlah kata
- 30.3K
- Popular
- 107
- Subscribe
- 20
Sinopsis
Sejak sekolah di sini, sebenarnya banyak hal misteri yang tidak terungkapkan. Mulai dari hilangnya siswa, fotografer yang selalu memotret siswa diam-diam, ruang di bawah tanah, gedung sekolah yang jaraknya 3 kilometer, ginjal siswa yang hampir rata-rata hanya 1 ginjal, organ tubuh siswa yang sebagian ada yang hilang, dan masih banyak lagi. Bukan hanya itu, di asrama sendiri sering terjadi hal-hal yang tidak masuk logika. Misalnya, penghuni kamar yang tiba-tiba saja melakukan bunuh diri, bahkan parahnya sampai ada yang lompat dari lantai 6.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Cantik itu membunuh
Setiap melewati lorong kelas XI IPS 3 selalu saja tercium bau-bau amis seperti ini, padahal kelas XI IPS 3 sudah tidak terpakai lagi tempatnya karena mereka pindah ke bangunan baru.
Uweek, aku sangat mual, bau busuk ini sudah tidak tertolong lagi. Padahal kondisinya aku sudah menutup hidungku dengan tangan begitu kuat menekannya tetapi tetap saja bau busuk dari bangkai ini masih menembus masuk ke kecelakaan cela hidung.
Malam itu saat aku mau kembali ke asrama, jalan potong satu-satunya yang cepat adalah melewati jalan ini.
Tapi seperti halnya ini, bukan bangke sebuah binatang. Mustahil sekali bangke tikus, kucing, anjing sekalipun sampai sebusuk itu.
Aku tidak menghiraukannya lagi, aku pun mengatur langkahku buat cepat-cepat pergi dari situ.
Bugh...
"Eh, maaf maaf," tak sengaja menabrak seseorang yang aku kenal, orang itu Hamna.
Hamna selalu dibully di kelas karena penampilannya, apalagi Hamna terdapat bekas bakaran hingga sekarang. Bekas sisa membuat sebagian wajah Hamna terlihat buruk. Namun bagiku, tidak terlalu buruk, Hamna hanya tidak mau melawan saja. Selama ini aku mengenal Hamna, aku belum pernah mengganggunya, apalagi sampai melakukan pembullyan seperti yang lain. Terkadang aku kasihan dengan Hamna, orang yang tidak banyak bicara. Aku dan dia bahkan jarang sekali berinteraksi satu sama lain.
"Hamna, tidak apa-apa?" tanyaku sembari menjulurkan tangan membantunya untuk bangkit.
"Engga."
"Serius, kamu enggak apa-apa?" tanya aku sekali lagi karena merasa tak enak.
"Tidak kok, tenang saja."
"Atau ada yang terluka, biar aku obatin. Aku beneran enggak sengaja, Ham. Aku benar-benar buru-buru tadi, sumpah."
"Enggak papa, santai aja. Emangnya kenapa kok kamu ada di sini?" aku menatapnya dengan tatapan sesuatu. Tempat ini sudah tidak terpakai lagi. Apa jangan-jangan dia tahu sesuatu? "Ah, tak mungkin," dalam hatiku.
"Aku ada ekskul hari ini, terus les tambahan. Kalau pulang dari depan ke asrama putri rasanya capek banget, harus melewati kelas dan juga halaman yang luas. Makanya aku motong jalan dari sini, Ham," jelasku.
"Oh gitu."
"Ham, sini deh," Hamna mendekat ke aku.
"Ada apa?" tanya aku mendekat ke Michel.
"Kamu nyium bau amis gak?"
Mendengar ucapan Michel, aku membulatkan mataku kaget. Ini tidak boleh terjadi. Dia tidak boleh tahu.
"Aku tidak mencium apapun, hidungku tumpat," jelasku langsung menghindari pertanyaan Michel yang lain.
"Oh, iya kah? Ngomong-ngomong kamu malam-malam begini kenapa di tempat ini seperti ini?"
"Air kamar mandiku mati, jadi aku hanya punya tujuan untuk menggunakan fasilitas kamar mandi di sini."
"Tapi di sini itu kan gelap. Kamu mending ke kamar mandi kamarku saja, Ham," kabarku masih merasa tak enak dengan kejadian tadi.
"Tak perlu."
Hamna selalu saja dikerjai oleh anak-anak asrama, nggak hanya di sekolah. Bahkan di luar sekolah Hamna masih dibully.
"Ya sudah kalau gitu aku pergi dulu ya. Kamu gak bawa senter gitu?"
"Aku bawa ponsel kok."
"Ya, kalau ada apa-apa atau kebutuhan apapun bilang ke aku ya. Kamu nggak perlu sungkan," aku pun duluan pergi cari tempat itu. Apalagi bau yang sudah menyegat membuatku sudah tak tahan.
"Dia baik, dia bahkan tidak seperti orang-orang yang sering membullyku. Michel tak pernah mengusikku, ia bahkan tidak ikut ikutan menghina apa pun itu. Hanya saja yang ku takuti saat ini adalah dia." Aku berdiri memastikannya untuk benar-benar pergi dari tempat ini. Aku takut Michel melihatku. Setelah Michel pergi, aku pun berjalan membuka pintu ke dua dari belakang.
"Selamat malam Gea," ucapku tersenyum lebar.
Rasa puas itu menjalar di seluruh tubuhku, seperti embun pagi yang menetes di dedaunan, terasa dingin namun menyegarkan. Melihat mayat Gea tergeletak di sana, wajahnya yang dulu cantik kini hancur tak berbentuk, dikerumuni ulat dan belatung yang berpesta pora, membuatku merasa lega. Bau bangkainya yang dulu menusuk hidung, kini tak lagi tercium, seakan tergantikan oleh aroma kemenangan yang pahit.
Gea, gadis yang dulu selalu menjadi pusat perhatian, kini hanya tinggal mayat yang di kerumunin lalat yang terbujur kaku. Wajahnya yang dulu dihiasi senyum manis, kini hanya tinggal rongga mata kosong yang menatap kosong ke langit. Rambutnya yang dulu hitam legam, kini kusut dan dipenuhi kotoran.
Semua itu, adalah hasil dari perbuatannya sendiri. Dia telah menghancurkan hidupku, Dia selalu membullyku mengejeki wajahku yang kena bekas kebakar ini, sekarang rasakan bagaimana rasanya menderita seperti itu.
Beberapa hari lalu, Gea benar-benar kelewatan batas. Kemarahannya meledak seperti gunung berapi yang sedang erupsi, menggelegar dan menghembuskan awan panas yang membakar. Dia menghardik ku dengan kata-kata kasar, matanya melotot tajam, seperti serigala yang mengincar mangsanya. Hanya karena aku tidak memberikannya contekan, dia berteriak-teriak, mencaci maki, dan mengancam ku dengan segala macam hal.
"Perempuan sialan," plak! Tamparan dari tangan Gea yang sangat keras mengenai luka bakaran di pipiku, sehingga membuatku pendarahan seketika. Untung saja aku cepat diselamatkan Michel.
"Hamna, kamu tidak apa-apa?" Luka di pipimu sudah aku obatin.
Aku melihat Michel membuka sarung tangannya.
"Masih sakit," ucapku memegang pipiku. Ternyata dibalut perban.
"Kamu istirahat di ruang UKS ini dulu ya, aku mau ke kelas. Nanti aku izinin kamu kok."
Aku pun mendengar perintah Michel, sementara aku tinggal di UKS untuk pemulihan.
"Dia kelewatan, tidak bisa dibiarkan. Lihat saja, aku akan membalasmu nanti," aku sudah bertekad bulat untuk membunuh Gea. Melihatnya sudah keterlaluan, aku mengepalkan tanganku geram hingga membuat seprai tempat tidur UKS kusut.
"Permainan akan dimulai, kamu cantik, kamu yang akan mati," aku melepaskan genggaman itu.
***
Reci, Arles yang selalu bersama Gea, mereka berdua sedang sakit. Arles sudah dua hari tak masuk sekolah dan Reci hari ini tidak datang karena demam.
Kesempatan untukku! Aku melemparkan kertas ke Gea dengan sengaja.
"Wah, anjing berani banget kamu ya sama aku," bangkit sambil memukul meja.
"Ia, emang kenapa?"
"Kurang ajar kau perempuan sialan!" Aku berjalan mendekat ke Hamna, namun Hamna malah berlari. Aku pun langsung mengatur langkah untuk mengejarnya.
Sampai di lorong kelas XI IPS, karena buntu akhirnya aku dapat menyusul Hamna.
"Rasain, biadab! Mau kemana kamu sekarang!"
"Enggak kemana-mana," aku hanya berdiri.
Memerhatikan langkah Gea, "Bisa lebih cepat kemarinya?"
Saat Gea sudah mulai mendekat, aku meraih pisau lipat yang selalu kubawa dalam saku. Dengan gerakan cepat, aku melemparkannya ke arah pergelangan tangannya. Pisau itu melesat seperti anak panah, berputar di udara, dan menusuk tepat sasaran.
"Aaaaaarghhhh!!!" Jeritan Gea menggema di lorong kelas, menggelegar dan menggetarkan jantungku. Darah segar menyembur keluar dari lukanya, menodai seragam putihnya. Gea terhuyung mundur, tangannya memegangi pergelangan tangan yang terluka, wajahnya pucat pasi.
Aku terpaku, terkejut dengan keberanianku sendiri. Rasa puas dan ketakutan bercampur aduk dalam hatiku. Aku telah melakukan hal yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Gea terjatuh, menangis kesakitan. Aku berdiri di hadapannya, napas terengah-engah, mata menatap tajam ke arahnya. "Ini balasannya, Gea," bisikku, suara serak karena ketegangan.
"Sialan! Apa maksudmu, ha?!" Gea meraung, suaranya bergetar karena campuran rasa sakit dan amarah. Darah segar mengalir deras dari pergelangan tangannya, menetes di lantai, membentuk genangan merah yang masih segar.
Aku mendekatinya dengan langkah pelan, mata menatap tajam ke arahnya. Senyum sinis terukir di wajahku, menampakkan gigi-gigiku yang putih dan tajam.
"Kau ingin tahu maksudku?" Aku mencabut pisau yang tertanam di tangannya dengan paksa, gerakan tangan ku kasar dan penuh sadisme. Gea meringis kesakitan, tangannya gemetar hebat.
"Ini baru permulaan, Gea," bisikku, suara serak dan dingin. Aku mengarahkan pisau itu ke wajahnya, menelusuri garis rahangnya dengan lembut, menciptakan rasa takut yang mencekam. "Aku akan membuatmu merasakan apa yang telah kau lakukan padaku."
Dengan gerakan cepat, aku menyayat sedikit wajah Gea. "Aghh!" Jeritannya menggema di lorong kelas tak terpakai ini, menggelegar dan nyaring. Darah segar mengalir deras, menodai pipinya yang putih.
Gea terhuyung mundur, tangannya memegangi wajahnya yang terluka, matanya melotot ke arahku, dipenuhi rasa takut dan benci. Aku tertawa, suara tawa yang dingin dan mengerikan, menyeramkan seperti tawa hantu.
"Ini baru permulaan, Gea," ulangi ku, suara serak dan penuh ancaman. "Kau akan merasakan apa artinya menjadi korban."
Daftar bab
27 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








