
Nona, Anda Mau Lebih?
Bulan Jingga|Bersambung
- Jumlah kata
- 40.8K
- Popular
- 5.2K
- Subscribe
- 479
- Jumlah kata
- 40.8K
- Popular
- 5.2K
- Subscribe
- 479
Sinopsis
Warning!! 21+ "Nona... Jangan di sentuh! Saya tidak tahan." Terlahir tidak sempurna di antara ketiga Kakaknya, membuat hidup Seno tidak pernah mudah. Tidak hanya orang desa yang mengucilkan - keluarganya sendiri pun enggan mengakui pria berusia 22 tahun itu sebagai anak, kecuali jika Seno memberikan uang cukup untuk orang tuanya. Lelah menjadi bulan-bulanan kedua Kakaknya, Seno memutuskan menerima kontrak kerja yang dirinya dapatkan dari sebuah situs internet. Seno tak pernah mengira, jika pada akhirnya ia di tuntut untuk memberikan benih kehamilan kepada seorang Nona muda. Setelah menandatangani kontrak kerjasama, semenjak itulah hidup Seno mulai berubah.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Kucilan keluarga
Huh...
Tarikan napas pendek dari seorang pemuda yang tengah duduk di tepi parit sawah itu terasa sangat memprihatinkan. Segala kecaman pedas dan hinaan dari Ibunya sendiri kini berputar dalam ingatannya tak pernah berhenti.
Seno - pemuda 22 tahun itu memang memiliki kulit hitam dan sedikit gendut di banding ke-dua kakaknya. Meskipun berat badanya hanya di angka 70 kg di tinggi badan 185 cm, tapi bagi keluarganya, Seno tak ubah seperti beban keluarga yang tak pernah mendapat dukungan maupun sanjungan.
Hari-hari Seno hanya bekerja sebagai kuli panggul padi jika para warga desa membutuhkan jasa panggulnya. Namun meskipun begitu, Seno tetap tidak selamat dari mulut manusia - hanya karena kekurangan fisiknya.
Dan jika mendapatkan upah pun, Seno selalu memberikan uangnya kepada sang Ibu. Walaupun kehadirannya tidak begitu terlihat di mata keluarga, ia tetap berusaha menjadi anak berbakti.
Huft...
Seno mengusap peluh di dahinya menggunakan kaos partai yang ia sampirkan pada bahu gempalnya. Napasnya masih terengah setelah memanggul karung padi sebanyak 20 karung ia borong sendiri. Di tengah rasa lelah, pemilik sawah mendatangi dirinya di bawah pohon magga pinggir parit.
"Sudah selesai, Seno?" tegur pemilik sawah tadi. Seorang pria seusia Ayah Seno, kini ikut duduk di samping pemuda itu sambil mengeluarkan sebuah uang dari dalam tas yang dirinya ikatkan pada perutnya.
"Sudah, Pak! Ini istirahat dulu," jawab Seno tersenyum simpul. Matanya sedikit terbuka melirik pecahan uang merah yang bergambar presiden serta wakilnya.
"Ini, Sen bayaran kamu. Perkarungnya 'kan 25 ribu... Jadi kalau di kali 20 jadi 500 ribu. Nih," pria pemilik sawah itu menyodorkan lima lembar uang merah.
Mata Seno senantiasa berbinar penuh syukur. Ia menerimanya dengan senyum mengembang sempurna. Dan disaat uang tadi menyentuh tangannya, bukan lagi makanan enak apa yang akan dirinya beli. Juga bukan pakaian terbaik mana yang menjadi incarannya. Tapi bagi Seno, uang sebanyak itu pasti akan membuat Ibunya bahagia.
"Pak, terimakasih banyak. Kalau begitu saya permisi."
Seno segera bangkit. Memungut botol mineral yang dirinya bawa dari rumah, lalu juga memasukan uang tadi ke dalam kresek hitan sebelum masuk ke dalam kantong celananya.
Sesampainya di rumah, Seno langsung masuk ke rumah untuk mencari Ibunya. Saking bahagianya, sampai ia lupa masuk rumah melalui pintu utama. Keluarga Seno bukan orang miskin. Ibunya pensiunan guru, sementara Ayahnya yang sedang sakit kini pensiunan DPU, atau orang yang sering menyapu di pinggir jalan.
Rumah satu lantai yang cukup nyaman dengan atap yang sudah terplafon serta lantai berkeramik luas, membuat keluarga Seno menjadi orang terpandang di desanya. Tapi sayangnya, semua kehidupan serba ada itu tak berlaku untuk kehidupan Seno. Selain tidak boleh menginjakan kakinya di rumah utama, Seno memilih tinggal di sebuah gubuk berukuran kecil, temboknya memakai sulaman bambu jarang-jarang, bahkan orang sering menyebut gubuk itu jauh lebih jelek dari pada kandang kambing mereka.
Dan semua itu tak ada efeknya terhadap rasa hormat serta berbaktinya Seno kepada Kedua orang tua serta Kakaknya.
"Bu... Bu....!!!"
Suara berat Seno rupanya membuat tidur cantik Ibunya terganggu. Wanita bernama Bu Reni keluar dari kamar dengan wajah merah, mata terbuka lebar melihat Seno menginjak lantai rumahnya.
"SENO!!!" bentaknya melengking. "Kamu punya mata nggak?! Berani ya, kamu menginjakan kakimu di rumah ini. Saya itu jijik melihat wajah kumelmu. Apalagi bau kayak gini," lanjut Bu Reni sambil menutup hidungnya.
Seno reflek mencium ketiaknya kanan kiri. Dan memang benar dirinya sangat bau. Tapi kedatangannya itu bukan ingin mensetorkan bau badan untuk Ibunya. Seno mau memberikan sedikit rejeki kepada Ibunya.
"Bu... Ini, Seno tadi habis dapat rejeki. Semua ladang padi Pak Maman, Seno yang pangguli sendiri. Ini uangnya buat kebutuhan rumah, Bu."
Seno mengulurkan uang pecahan 500 ribu tadi.
Bu Reni menatap uang pemberian Seno dengan gurat emosi. Uang tadi teremat kuat, membuat gambar dua pahlawan di dalamnya lusuh.
"Seno, uang segini kamu pikir cukup apa?!" Bu Reni mengangkat uang tadi. "Kebutuhan rumah itu banyak! Apalagi perawatan Bapakmu yang lumpuh! Kamu jadi anak nggak guna banget sih!"
Dada Seno berdesir nyeri. Padahal pundaknya lecet, kulitnya sampai mengelupas pun tak ia rasa, asal tetap dapat memberikan Ibunya uang untuk keperluan rumah. Tapi dengan tega Ibunya malah mencercanya tanpa ampun.
Seno hanya mampu tertunduk. Kedua tangannya saling teremat.
"Di rumah ini yang makannya banyak itu kamu! Lihat tubuhmu itu! Seharusnya kamu sadar diri jadi anak, jangan bisanya nyusahin orang tua mulu!" napas Bu Reni sampai terengah. "Saya itu menyesal sekali punya anak seperti kamu, Seno! Kamu itu mencemari nama baik keluarga saya. Tahu begitu lebih baik saya aborsi saja biar tidak punya anak memalukan seperti kamu."
Tak sekecap pun Seno menjawab. Rasanya bukan hanya hancur, tapi hidupnya sudah tak bermakna lagi di hadapan manusia.
Tiba-tiba dari kamar luar keluarlah seorang pria, kakak pertama Seno yang bernama Arjuna. "Kasian banget jadi orang jelek kaya kamu. Dimana-mana selalu dapat hinaan. Tapi kamu memang pantas mendapatkannya, Seno."
Seno terdiam menegang. Jantungnya berpacu hebat mendengar penghinaan keluargannya yang entah ke berapa ribu setiap detiknya. Kedua tangannya sudah terkepal erat hingga membuat baku kukunya memutih. Tatapanya menghujam bumi, seperti tengah mempersiapkan sesuatu yang siap untuk dirinya ledakan.
Belum sampai Seno menjawab, datanglah Kakaknya yang nomor 2. Dengan penampilan santai, pria cukup tampan berkulit putih itu berdiri di samping Kakaknya nomor pertama sambil menyesap rokok vape. Begitu asap tadi ia sembulkan di atas udara, Kakaknya yang nomor 2 memulai membuka suara.
"Ck! Perasaan Ibu cantik, Bapak ganteng, terus aku sama Mas Arjun juga putih ganteng. Lalu... Lalu kamu itu mirip siapa, Seno? Atau jangan-jangan, kamu itu makhluk siluman kerbau ya? Pantes hitam dan suka banget di sawah."
Hahaha....
Seketika ruangan itu pecah oleh tawa remeh yang di hujamkan ke arah Seno.
"Sudah, cukup!" sentak Seno meninggikan suaranya. "Jika kalian berdua memang tidak menyukai aku sebagai adik kalian, sudah cukup untuk hinaan kalian selama ini." Seno menunjuk satu persatu Kakaknya dengan kilatan amarah besar.
Setelah puas, pandangan matanya menatap ke arah Bu Reni. Wanita parubaya dengan lipstik merahnya itu mendelik, tak terima Seno berani membentak Kakak-Kakaknya.
"Buat Ibu... Jika memang keberadaan Seno selama ini hanya beban, mulai besok jangan cari Seno lagi sebagai anakmu. Seno akan pergi jauh dan tidak akan kembali pulang sebelum Seno SUKSES!!!" suara Seno bergetar.
Tanpa sepatah kata lagi, ia memutuskan keluar dan langsung menuju gubuk kecil di samping rumahnya. Di situlah Seno tinggal. Hanya ada sebuah ranjang kayu beralaskan kasur lantai tipis serta bantal usang yang busanya hampir hilang.
Tidak ada lagi tangisan. Matanya merah, air mata itu tak lagi keluar. Seno hanya mampu duduk menatap sebuah kalender kecil yang menggantung di sisi dinding bambu. Tangannya terkepal erat di atas meja hingga membuat uratnya menonjol kuat.
"Aku bersumpah... Aku akan membuktikan pada kalian jika aku mampu berubah menjadi orang sukses. Dan akan aku pastikan, kalian semua akan menyesal telah mengucilkanku selama ini!"
Brak!!!
Gelas di atas meja sampai ikut bergetar. Seno memukul kuat, meluapkan rasa emosinya yang tertahan.
Sore itu, setelah Seno terbangun, ia iseng sekedar mengecek ponselnya, siapa tahu lowongan kerja yang dirinya komen mendapat balasan. Dan benar saja, di antara banyaknya orang, hanya nomor Seno yang di hubungi.
"Saya sebagai tangan kanan Majikan saya sudah melihat semua data diri anda termasuk foto keseluruhan fisik anda. Besuk anda di minta Majikan saya segera ke Jakarta, agar bisa menjelaskan point-ponit secara detail."
Di bawah pesan itu sudah tertera alamat rumah calon Majikannya, dan ada pesangon yang di kirimkan untuk perjalanan Seno lusa.
Malam itu juga tanpa sepengetahuan Ibu dan kedua kakaknya, Seno berpamitan kepada sang Ayah - Pak Agus untuk terakhir kalinya. Bukan uang yang di berikan Pak Agus, melainkan sebuah gelang antik dengan bulatan kayu putih mengkilat sebagai manik-maniknya.
"Bapak tidak mampu memberikan uang, Seno. Semua uang Bapak di bawa Ibumu. Jaga baik-baik gelang ini, karena hanya kamu yang Bapak percaya untuk memakainya."
Dalam keadaan tak berdaya, terlentang di atas ranjang, Pak Agus tidak dapat berbuat lebih atas sakit stroke yang di alaminya. Ia hanya berharap, gelang itu akan membawa keberuntungan pada hidup putra bungsunya.
Seno menggenggam erat gelang tadi. Saking mengkilatnya, ia sampai menyipitkan mata. Sinar itu memenuhi ruangan, mengalahkan lampu temaram gantung di sudut plafon. Namun anehnya, hal itu tak berlaku untuk sang Ayah. Seno langsung memakainya. Detik itu ada getaran aneh begitu manik putih tadi menyentuh pori-pori kulitnya. Ia menatap Pak Agus dengan kobaran api semangat. "Setelah sukses, Seno akan pulang untuk membawa Bapak ke hidup yang lebih layak."
"Gelang tadi rupanya telah menemukan pemiliknya."
Daftar bab
38 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








