
NOX8 – Saudara Dalam Gelap
David|Bersambung
- Jumlah kata
- 51.6K
- Popular
- 196
- Subscribe
- 26
- Jumlah kata
- 51.6K
- Popular
- 196
- Subscribe
- 26

David|Bersambung
Delapan pemuda dari keluarga miskin di berbagai kota di Indonesia, hidup dalam tekanan ekonomi dan kerja keras demi bertahan hidup. David, Aan, Agus, Rohman, Cean, Gerry, Niko, dan Bara tak saling mengenal, namun takdir mempertemukan mereka dalam kegelapan. Diculik dan dijual ke luar negeri oleh orang tak bertanggung jawab, mereka terbangun di Korea Selatan tanpa harapan, tanpa ponsel, tanpa keluarga. Namun, ketika segalanya terasa hancur, mereka diangkat menjadi anak oleh pasangan suami istri pemilik agensi hiburan ternama—pasangan yang begitu penyayang dan penuh kesabaran. Kedua anak perempuan pemilik agensi yang telah menikah, mendambakan adik-adik laki-laki dan menyambut kedelapan pemuda itu dengan hangat, menjadikan mereka keluarga. Mereka disekolahkan kembali, namun tak mudah. Wajah tampan dan bakat mereka tak cukup untuk menghentikan ejekan karena pakaian mereka yang sederhana dan latar belakang mereka yang miskin. Namun di balik itu semua, mereka menyimpan bakat vokal yang luar biasa. Saat audisi internal digelar, mereka satu per satu menunjukkan suara yang mengguncang hati. Dari cemoohan lahirlah harapan. Dari luka, lahirlah cahaya. Dengan nama grup NOX8, delapan saudara ini berdiri di panggung dunia—bukan hanya sebagai idol, tapi sebagai simbol kekuatan dari kegelapan menuju terang. Sementara itu, keluarga mereka di Indonesia terus mencari, menangis, dan berharap. Sebuah kisah tentang persaudaraan, kehilangan, harapan, dan perjuangan melawan stigma. NOX8 – Saudara Dalam Gelap, akan membuatmu menangis, berharap, dan percaya… bahwa keluarga sejati tak selalu lahir dari darah, tapi dari hati.
NOX8 – Episode 1: Anak-Anak yang Tak Pernah Pulang
Hujan turun perlahan di malam itu. Langit Jawa seperti ikut menangis ketika empat anak remaja, David, Aan, Agus, dan Rohman, tidak pernah sampai di rumah setelah selesai bekerja. Mereka baru saja menutup rumah makan tempat mereka mengais rejeki setiap hari. Keringat masih menempel di baju lusuh mereka, namun senyum tetap ada di wajah—saling menghibur meski hidup tak mudah.
Namun, malam itu berbeda.
Sebuah mobil hitam tanpa plat menghentikan langkah mereka. Sebelum sempat berteriak atau lari, semuanya gelap. Mereka diculik. Begitu juga dengan Cean, Gerry, Niko, dan Bara—empat remaja lainnya dari kota berbeda yang mengalami hal serupa, diculik dan dijual secara ilegal ke luar negeri.
Tujuan mereka: Korea Selatan. Negara asing, bahasa asing, tanpa satu pun petunjuk tentang apa yang akan terjadi. Penculik menjual mereka pada seorang pemilik agensi hiburan. Tapi bukan karena alasan kejam. Justru berbeda.
Pemilik agensi itu, pria paruh baya dengan mata teduh dan senyum hangat, melihat kedelapan anak itu sebagai anugerah. Ia memiliki dua anak perempuan yang sudah menikah dan tinggal bersama. Kedua putrinya selalu bermimpi memiliki adik laki-laki. Bukan satu, tapi delapan. Dan kini, mimpi itu datang dengan cara tak biasa.
Ia dan istrinya menerima kedelapan anak itu seperti darah daging sendiri. Mereka diberi nama Korea dan marga yang disatukan dalam keluarga. Mereka disekolahkan kembali. Tapi dunia tak semudah kasih sayang keluarga.
Di sekolah, mereka ditertawakan. Bahasa mereka aneh, penampilan mereka sederhana, wajah lelah tak bisa disembunyikan. Anak-anak dari keluarga kaya memandang mereka seperti bukan manusia. Tapi dari semua tatapan meremehkan itu, ada empat pasang mata yang memandang dengan ketulusan.
Empat sahabat baru. Empat orang anak dari keluarga terpandang tapi berhati lembut. Mereka melihat kedelapan anak itu bukan dari penampilan, tapi dari luka dan semangat di mata mereka.
Dari sinilah segalanya dimulai. Bukan sekadar perjalanan untuk jadi idol, tapi perjalanan menemukan keluarga, harga diri, dan arti dari “pulang.”
104 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
104 bab
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.