
Kebangkitan Sang Penguasa Dunia
Abigail Kusuma|Bersambung
- Jumlah kata
- 81.1K
- Popular
- 154
- Subscribe
- 47
- Jumlah kata
- 81.1K
- Popular
- 154
- Subscribe
- 47
Sinopsis
Lima tahun lalu, Ethan Deighton mengorbankan segalanya demi wanita yang dicintainya. Ia menanggung kejahatan yang tidak pernah dilakukannya, menghabiskan masa mudanya di balik jeruji besi, dan kehilangan keluarganya dalam permainan kotor para penguasa. Namun, ketika akhirnya menghirup udara kebebasan, yang menantinya bukanlah pelukan hangat, melainkan pengkhianatan paling menyakitkan. Iris Valeska—wanita yang dahulu ia lindungi dengan seluruh hidupnya—kini berdiri di sisi Marcus Cross, pria yang telah menghancurkan keluarganya. Di saat semua orang menganggap Ethan telah jatuh dan tak akan pernah bangkit, sebuah warisan rahasia dari sang ayah membuka jalan menuju pembalasan. Berbekal kecerdasan, kekuasaan, dan dendam yang membara, Ethan bersumpah akan merebut kembali setiap hal yang telah dirampas darinya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1. Pengkhianat di Malam Bebas
Malam itu, setelah lima tahun yang panjang merayap di balik dinginnya jeruji besi, Ethan Deighton akhirnya melangkah keluar sebagai pria bebas. Lima tahun telah terbuang sia-sia dari masa mudanya. Ia sengaja menarik kerah jaket lusuhnya lebih tinggi, mencoba menghalau angin malam New York yang menusuk hingga ke tulang. Langkah kakinya membawa tekad yang bulat menuju sebuah rumah megah di ujung jalan, tempat seorang wanita yang dulu menjadi alasan utamanya bertahan hidup di dalam sel.
Iris Valeska. Nama itu adalah satu-satunya pelarian di kepala Ethan ketika suara gemerincing kunci sipir dan dinginnya dinding penjara menyiksanya setiap malam. Lima tahun lalu, Ethan rela mengorbankan masa depannya, mengaku bersalah atas kasus manipulasi saham yang tidak pernah ia lakukan, hanya karena Iris memohon sambil menangis agar nama baik keluarganya tidak hancur. Ethan menuruti permintaan itu tanpa ragu. Karena cinta, pikirnya waktu itu. Kebodohan yang kini harus ia bayar mahal.
Saat mendekati gerbang besi tinggi rumah Iris, Ethan melihat pemandangan yang mengejutkan. Lampu-lampu kristal berkilauan, memantulkan cahaya ke atas salju yang memutih di halaman seperti hamparan permata. Sebuah tenda putih besar berdiri megah, dengan alunan musik jazz yang mengalun lembut di udara, bercampur dengan suara tawa renyah para tamu dan denting gelas kaca yang saling beradu. Hati Ethan mendadak berdegup kencang. Sebuah senyuman tipis sempat terukir di wajahnya yang kuyu. “Dia tahu aku bebas hari ini,” batin Ethan penuh harap. “Dia pasti menyiapkan pesta ini untuk menyambutku.”
Namun, langkah kaki Ethan mendadak melambat saat ia berdiri di ambang pintu masuk tenda pesta. Suara seorang wanita yang berdiri di dekat panggung terdengar begitu lantang dan penuh semangat melalui pengeras suara, memecah ekspektasi indahnya menjadi kepingan tak berwujud.
“Selamat ulang tahun pernikahan yang pertama untuk Tuan Marcus Cross dan Nyonya Iris Cross!”
Tepuk tangan riuh dan tawa bahagia langsung menyusul pengumuman itu. Ethan terpaku di tempatnya berdiri, senyumnya padam seketika. Kata-kata itu seperti sebongkah batu besar yang dihantamkan tepat ke dadanya, membuatnya sesak napas.
Marcus Cross. Nama itu adalah nama yang ia benci setengah mati. Pria licik itu adalah dalang utama yang telah memanipulasi pasar, menghancurkan perusahaan milik keluarga Deighton, membuat ayahnya kehilangan segalanya, hingga akhirnya sang ayah memilih mengakhiri hidup dengan tragis. Dan sekarang, di depan matanya sendiri, nama musuh bebuyutannya itu disandingkan dengan nama wanita yang paling ia cintai.
Ethan menggenggam pagar dekorasi pesta dengan erat, begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar. Dunia di sekitarnya seolah berputar. Ia ingin meyakinkan diri bahwa ia hanya salah dengar, tetapi matanya menangkap sosok wanita bergaun satin putih gading yang berdiri anggun di atas panggung utama.
Itu Iris. Wanita itu masih secantik dulu, tetapi kini kedua tangannya melingkar mesra di lengan Marcus Cross. Marcus mengenakan setelan tuksedo hitam sempurna, senyumnya tampak begitu tenang dan penuh kemenangan, memeluk pinggang Iris seolah-olah seluruh dunia ini adalah miliknya.
Tanpa memedulikan penampilannya yang kacau, Ethan melangkah maju menembus kerumunan. Kehadirannya yang tiba-tiba langsung menarik perhatian. Musik jazz terhenti perlahan, digantikan oleh bisik-bisik miring dari para tamu yang menyingkir karena risih. Ethan berdiri di tengah-tengah lampu pesta yang terang, mengenakan jaket lusuh yang basah, wajahnya belum dicukur rapi, memperlihatkan kontras yang ekstrem dengan kemewahan di sekelilingnya.
Marcus yang menyadari kehadiran Ethan langsung tersenyum samar, seolah-olah adegan ini adalah pertunjukan yang sudah ia ramal. “Lihat siapa yang baru keluar dari kandang,” ujar Marcus dengan suara tenang namun sarat akan racun. Beberapa tamu tertawa kecil, menutup mulut mereka dengan gestur pura-pura sopan.
Ethan mengabaikan mereka semua. Matanya hanya terkunci pada Iris. “Iris,” panggil Ethan dengan suara serak yang bergetar. “Apa-apaan ini? Kau... dan dia?”
Marcus turun dari panggung dengan langkah ringan yang sombong, mendekati Ethan. “Kau datang tanpa undangan, Ethan. Seharusnya kau tahu diri. Ini pesta kelas atas, bukan reuni napi di sel tahanan.”
Hinaan itu memicu tawa yang lebih keras dari para tamu. Ethan mengepalkan tangannya di dalam saku jaket, menahan gejolak amarah yang membakar dadanya. “Katakan padaku ini tidak nyata, Iris! Jawab aku!” teriak Ethan, mengabaikan Marcus.
Iris menghindari tatapan mata Ethan. Kepalanya menunduk, dan bahunya tampak gemetar. “Ethan, tolong... jangan buat keributan di sini,” jawab Iris dengan suara pelan yang nyaris habis.
“Keributan?” Ethan tertawa pendek, sebuah tawa getir yang terdengar menyakitkan. “Lima tahun aku membusuk di penjara untukmu, Iris! Lima tahun aku menutup mulut agar nama keluargamu tetap bersih di mata publik! Dan hari ini aku kembali, hanya untuk melihatmu tidur di ranjang pria yang sudah membunuh ayahku? Sungguh luar biasa.”
Marcus tertawa puas, memutar-mutar cincin pernikahan di jarinya dengan sengaja. “Jangan menyalahkannya, Ethan. Dia hanya membuat pilihan yang rasional. Perempuan cerdas tidak akan sudi membuang waktu demi menunggu laki-laki bodoh yang tidak punya masa depan seperti dirimu.”
Seorang tamu wanita di dekat mereka menyahut dengan nada manja yang menghina, “Astaga, jadi dia mantan narapidana kasus manipulasi saham itu? Kupikir dia sudah mati membusuk di dalam penjara.”
Ethan menatap Marcus dengan pandangan membunuh. “Semua manipulasi itu adalah ulahmu, Marcus! Kau yang menjebak keluargaku!”
Marcus mendekatkan wajahnya, berbisik begitu dekat hingga napasnya beradu dengan Ethan. “Dunia tidak akan pernah membela seorang napi, Ethan. Di atas kertas, kau adalah penjahatnya. Dan aku? Aku hanyalah pebisnis sukses yang beruntung mengambil alih sisa-sisa reruntuhan keluargamu yang lemah.”
Sadar bahwa berdebat di tempat ini tidak akan mengubah keadaan, Ethan menatap Iris untuk yang terakhir kalinya. Wanita itu tetap diam, bahkan tidak berani menatap matanya. Itu adalah rasa sakit terbesar yang menghancurkan sisa-sisa kemanusiaan di dalam diri Ethan malam itu.
“Baiklah,” kata Ethan dengan nada suara yang mendadak dingin dan datar. “Jika ini pilihanmu, aku akan pergi.”
Marcus mengangkat gelas sampanyenya dengan gestur mengusir yang tak tahu malu. “Bagus. Dunia tidak pernah menunggu orang gagal.”
Ethan berbalik, berjalan tegap melewati barisan tamu yang menyingkir seolah-olah takut tertular penyakit. Ia berhenti sejenak di ambang gerbang, menoleh sekilas ke arah lampu pesta yang gemerlap. Pandangan matanya kini setajam belati. “Kau sudah mengambil segalanya dariku, Marcus,” bisik Ethan pada angin malam. “Tapi ingat, waktu tidak selamanya berada di pihakmu. Suatu hari nanti, aku akan datang untuk menagih setiap detik yang telah kau curi.”
Ethan melangkah keluar, membiarkan tubuhnya tenggelam ke dalam kegelapan malam New York yang mulai diguyur badai hujan deras. Di kejauhan, papan iklan digital raksasa milik Cross Holdings Group menyala terang di tengah badai, menampilkan wajah sombong Marcus Cross. Ethan menatap papan itu lama, lalu menyelipkan surat pembebasannya yang basah ke dalam saku. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, matanya tidak lagi kosong. Ada kobaran api pembalasan dendam yang menyala di sana. “Lima tahun terlalu lama untuk tidur,” gumamnya tegas. “Sekarang, giliranku yang bermain.”
Daftar bab
68 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








