

Michael Tjandra keluar dari kelas saat akhir jam mata kuliahnya. Suara kursi diseret, mahasiswa berceloteh, dan denting notifikasi dari ponsel-ponsel di sekelilingnya bercampur menjadi riuh yang menyerupai gelombang kecil memukul dinding koridor. Koridor lantai empat dipenuhi arus mahasiswa yang bergerak seperti sungai kecil, riuh, penuh gumam mimpi dan tekanan tugas yang belum selesai.
Keringat lembut mengintip di pelipisnya. Bukan karena panas, tapi karena dua jam penuh diagram alur produksi yang disodorkan dosen tadi terasa seperti ditarik keluar dari otaknya dengan paksa. Dunia industri itu luas… dan hari ini, kepalanya sempat tenggelam.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, dua sosok menyergap seperti cameo yang muncul tepat waktu. Radit dengan jaket varsity, rambut klimis, wangi parfum yang pasti harganya sebulan uang makan. Lalu Ayu yang selalu jalan pelan, kepala sedikit miring, seperti sedang mendengarkan musik yang hanya bisa ia dengar sendiri.
“Keluar juga, bro. Gila, Pak Salman today… kayak mesin produksi beneran, ga berhenti ngomong,” Radit mengangkat alis dramatis.
Ayu menguap kecil, menutupinya dengan buku. “Nongkrong bentar, yuk. Kantin bawah lagi diskon ayam geprek level 5. Kamu perlu chill.”
Michael tersenyum, tapi hanya seujung bibir. Senyum yang lebih seperti pintu yang dibuka setengah. “Pass dulu.”
Radit menatapnya seperti orang disuruh minum jamu. “Kerjaan lagi? Jakarta nggak akan hilang kalau lo istirahat sejam.”
“Orderan.” Suaranya datar, tapi ada nada lembut yang menyiratkan keputusan itu bukan untuk ditawar. “Aku harus ambil di Warung Seroja.”
Ayu menghela napas panjang, namun tidak memaksa. Mereka sudah kenal pola hidupnya. Ia melambaikan tangan sekilas, lalu pergi.
Tangga menuju parkiran terasa seperti potongan lain dari kota, lebih gelap, lebih lembap, dan menggantung bau bensin yang sukar dihapus. Suara langkah Michael bergema ringan, menandai transisi halus dari dunia kampus bergedung kaca ke realitas lain yang selalu menunggunya.
Parkiran Surya Kencana berjejer rapi, tapi panasnya khas Jakarta: menusuk, lengket, dan sulit dijelaskan tanpa sumpah serapah. Motor-motor mahal berkilau memantulkan matahari sore. Di sudut paling ujung, Vario hitam milik Michael berdiri sedikit miring, seperti pejuang tua yang tetap keras kepala menolak pensiun.
Ia mendekat, melepas helm dari jok. Spionnya retak dari insiden kecil bulan lalu, ojek online lain menyerempet saat hujan deras. Pantulannya terbelah dua, memperlihatkan dua sisi yang selalu menempel dalam hidupnya.
Sisi pertama: Jakarta. Kota yang bergerak lebih cepat dari napas, tempat semua orang berlari tanpa menoleh. Bising, panas, ambisius.
Sisi kedua: Malang. Rumah kecil di gang sempit, suara gerimis di atap seng, adik perempuan yang sering menelpon hanya untuk bercerita soal drama sekolah, dan ayah yang pulang membawa kantong plastik berisi sayur murah.
Dan satu wajah yang tidak pernah hilang: ibunya.
Separuh darah Tionghoa yang memberi garis lembut pada mata Michael dan disiplin pada caranya bertahan hidup. Perempuan yang pergi terlalu cepat, meninggalkan aroma wedang jahe dan kenangan tentang keberanian yang tidak pernah dikatakan, hanya ditunjukkan.
Michael menarik napas perlahan, membiarkan udara panas sore menempel di kulit. Lalu melepaskannya pelan, seolah mengirimkan sesuatu ke langit Jakarta yang keruh.
Hidup dulu sebelum beasiswa terasa sederhana. Tidak mudah, tapi sederhana. Ayah bekerja serabutan, adiknya masih kecil, rumah selalu sunyi setelah ibu tiada. Michael belajar keras bukan karena ambisi, tapi karena hidup menuntut hal itu darinya.
Ketika ia menang lomba desain produk tingkat nasional, undangan dari Surya Kencana datang seperti berkah yang tidak ia sangka. Kampus elit, fasilitas gila, beasiswa penuh. Ia menerima tanpa banyak mikir. Bagi Michael, pintu peluang tidak datang dua kali.
Tapi Jakarta mahal. Bahkan napas rasanya pakai meteran. Maka ia jadi ojek online. Malam-malamnya dihabiskan melawan lampu merah, macet, dan pelanggan yang punya dunia sendiri.
Ponselnya bergetar. Getaran itu merayap seperti bisikan di bahunya.
[Order masuk: Warung Seroja → Apartemen Arwana, Sudirman]
Michael tersenyum kecil. Senyum yang jujur. “Waktunya kerja.”
Ia mengenakan helm, wajahnya hilang di balik visor yang memantulkan langit sore dan mengenakan jaket kebanggaannya berwarna hijau. Hanya matanya yang tersisa, tenang, ulet, seperti batu kecil yang tidak mudah tergelincir.
Mesin Vario menyala dengan suara parau, lalu stabil. Jalanan kampus penuh mobil seperti Fortuner, HR-V, sedan Eropa, barisan privilege yang lewat begitu saja di sisinya.
Michael menarik gas. Motor tua melaju, lincah tapi rendah hati, seperti seseorang yang tahu dunia tidak menunggunya jadi siap.
Keluar gerbang, Jakarta langsung menamparnya.
Aspal memantulkan panas seperti oven raksasa. Angin hanya bergerak untuk bikin rambut berantakan. Klakson dari truk box terdengar dari arah Gatot Subroto. Aroma bakso dari gerobak pojok menusuk lewat helm.
“Jaksel ngeri banget sih,” gumamnya, separuh letih, separuh tertawa.
Ia menyelip, berhenti, melaju lagi. Ritme kota itu menyatu dengan napasnya. Setiap lampu merah terasa seperti jeda pendek dalam film aksi.
Saat perjalanan ke warung Seroja yang ada di jalan Setiabudi. Ponselnya berbunyi lagi, bukan notif orderan, tapi telepon. Ayah.
Michael menatap layar. Ada jeda sekejap, sesempit helaan napas.
Ia angkat.
“Halo, Yah.”
Ada suara serak di seberang, seperti seseorang yang sedang mencoba menyembunyikan sesuatu lewat keheningan.
“Mic… adikmu tadi pulang sekolah pingsan.”
Dunia bising itu tiba-tiba merapat seperti tangan yang menampar dada.
Michael menegakkan diri. “Kenapa?”
“Masih dicek. Bapak lagi di Puskesmas. Kamu… kerja, ya?”
Lampu merah berubah hijau, tapi Michael tidak langsung jalan. Motor-motor di belakang membunyikan klakson, suara panjang penuh teguran.
Michael hanya berbisik, “Nanti aku telepon lagi, Yah.”
Ia matikan panggilan.
Lalu Michael melanjutkan perjalanan untuk mengambil orderan.
Tidak lama ....
Warung Seroja muncul di ujung tikungan seperti sesuatu yang tak sengaja terselip dari masa lalu atap kayu tua, papan nama kusam, aroma rempah yang menetes keluar sampai ke trotoar. Jakarta di luar masih menggertak dengan klakson dan panas, tapi di dalam restoran itu, dunia meredup menjadi suara sendok beradu dan kipas angin yang meraung pelan.
Michael memarkir motornya, napasnya masih tertahan sejak telepon tadi. Langkahnya masuk ke warung terasa seperti menjejak dua realitas sekaligus, yang satu keras dan tergesa, yang lain lambat dan penuh kenangan.
“Pesanan online atas nama Kak Dewi, Mas?” tanya kasir dengan suara lembut.
Michael mengangguk. “Iya, itu.”
“Sebentar, ya. Masih dimasak.”
Ia hanya menggumam oke, lalu menepi di dekat rak kerupuk, punggungnya bersandar pada dinding kayu yang sedikit lengket oleh kelembapan. Ponsel di tangannya gelisah, seperti tahu ada sesuatu yang belum selesai.
Akhirnya ia menekan tombol telepon lagi.
Nada sambung hanya dua kali sebelum ayahnya mengangkat. Suara itu terdengar lebih tua dari seminggu lalu.
“Mic?”
Michael menunduk, menatap lantai yang sudah lama retak. “Iya, Yah. Gimana dengan adik?”
“Masih pusing katanya. Dokter bilang kemungkinan kecapekan atau kurang makan. Bapak… tadi kepikiran. Kalau-kalau harus beli obat tambahan. Bapak nggak minta banyak, cuma buat… jaga-jaga. Nanti kalau gajian, Bapak balikin.”
Hening itu jatuh seperti pasir di tenggorokan Michael.
Dari luar, piring jatuh di dapur, suara pecahannya masuk seperti gema dari dunia lain.
Ia menarik napas, suaranya pelan. “Yah… aku beneran lagi nggak ada uang.”
Ia memejam mata, seakan itu membantu. “Sekarang beneran kosong. Tadi bayar bensin aja pas banget.”
Ada tarikan napas panjang di seberang. Berat. Tertahan. “Maaf, Mic. Bapak cuma… kaget aja. Bapak nggak nyalahin kamu. Kamu sudah membantu banyak.”
Ayahnya berusaha terdengar biasa, tapi retakan kecil itu bocor juga. Michael menelan rasa getir yang menggumpal di dadanya.
“Aku pulang ke kos agak malaman, Yah. Kalau ada apa-apa kabarin langsung.”
“Ya. Hati-hati.”
Sambungan terputus.
Dan kesunyian menyerbu kembali, lebih tebal dari sebelumnya.
“Pesanan atas nama Kak Dewi!” seru kasir.
Ia menoleh. Di meja, dua kotak makanan sudah diberi karet gelang rapi, aromanya hangat dan sedikit pedas.
“Ini pesanannya.”
Michael meraih kotak itu, mengucapkan terima kasih dengan suara yang hampir hilang. Tangannya menggenggam kotak itu lebih erat dari seharusnya. Dua kotak untuk pelanggan di Apartemen Arwana dan sementara itu, adiknya terbaring pucat di Malang, ayahnya menghitung receh, sedangkan ia sendiri menyisir Jakarta dengan bensin yang nyaris habis.
Ia keluar dari Warung Seroja, helm kembali menutupi wajahnya. Langit sore Jakarta menyala oranye tajam, seperti membakar tepian gedung-gedung Sudirman.
Mesin motornya menyala. Suara parau itu menyelinap ke sela-sela pikirannya, menumbuhkan tekad yang belum punya nama.
Michael menarik gas. Kota bergerak, dan ia terpaksa ikut.
Tujuan: Apartemen Arwana, Jakarta Selatan.