Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
RAKA SANG PENAKLUK

RAKA SANG PENAKLUK

Joviyes | Bersambung
Jumlah kata
235.2K
Popular
54.4K
Subscribe
1.9K
Novel / RAKA SANG PENAKLUK
RAKA SANG PENAKLUK

RAKA SANG PENAKLUK

Joviyes| Bersambung
Jumlah Kata
235.2K
Popular
54.4K
Subscribe
1.9K
Sinopsis
18+PerkotaanAksiHaremKekuatan Super21+
Warning...!! Mengandung unsur 21+. Raka dikhianati Dinda kekasihnya demi pria yang lebih kaya. Hinaan, cacian, hingga diburu pembunuh bayaran sudah Raka terima. Di titik akhir nyawanya, seorang nenek membantunya. Raka dirawat dan dididik hingga membangkitkan akar spiritual emas dalam dirinya. Raka bangkit dan kembali untuk membalas orang yang menghinanya. Ternyata, tak hanya dendam yang terbayar tuntas, banyak wanita ikut bertekuk lutut menuntut untuk dituntaskan gairahnya. Dunia dan seisinya kini berhasil dia taklukan.
1 Luka karena pengkhianatan

Di rumah makan Purnama, baju kaos putih yang dikenakan Raka arsana sudah basah oleh keringat, karena harus melayani banyaknya pembeli.

"Pesan satu porsi lagi ya, Kak," ujar seorang pelanggan dari sudut ruangan.

"Tunggu sebentar," jawab Raka.

Indah, Adik perempuan Raka terlihat kewalahan melayani pembeli yang membludak setiap hari di rumah makan mereka.

"Kak Raka, kita harus tambah pelayan. Kalau cuma ngandelin kita bertiga, nggak bakalan mampu."

"Betul. Apalagi Minggu depan proyek pembangunan pusat perbelanjaan di dekat sini sudah dimulai. Pasti para pekerja bakal makin banyak yang mampir ke rumah makan kita." Rani yang merupakan sepupu Raka juga ikut menyela.

"Ya sudah, besok pagi kita cari karyawan baru. Dua orang juga gak papa. Ran, kalau kamu punya kenalan, ajak mereka kerja di sini. Jangan khawatirkan masalah tempat tinggal. Mereka bisa tinggal bareng sama kita," kata Raka.

"Kebetulan ada dua temanku yang nganggur. Nanti aku hubungi mereka." Rani terlihat sangat senang, begitu juga dengan Indah.

Meski lelah, Raka merasa bangga. Rumah makan Purnama yang ia bangun, kini mulai berkembang. Semua jerih payahnya telah terbayarkan.

Semenjak kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan, Raka rela putus sekolah demi membiayai hidup dan sekolah adiknya. Walau harus bekerja serabutan yang penting halal.

Setelah punya modal, barulah dia membuat rumah makan ini. Tidak disangka, semuanya berjalan lancar dan berkembang lumayan pesat.

Tiba-tiba, ponsel Raka yang diletakkan diatas meja kasir berdering nyaring. Rani yang berada paling dekat, segera mengambilnya.

"Raka, ada pesan dari Dinda!" serunya.

Raka langsung menoleh dan bergegas mengambil ponsel yang diberikan Rani. Ia membuka pesan yang dikirimkan kekasihnya itu.

"Raka temui aku di Hotel Berlian, malam ini jam delapan. Kamar no 212."

"Apa? Ketemuan di Hotel? Apa yang ingin dia lakukan di tempat itu? Jangan-jangan..." gumam Raka dalam hati.

Selama tiga tahun menjalin hubungan, Dinda tidak pernah mengajaknya bertemu di tempat seperti itu. Tanpa sadar, seulas senyum tipis muncul dibibirnya.

"Jangan-jangan, dia ingin memberiku sesuatu yang istimewa?" pikirannya mulai melayang jauh. Membayangkan Dinda memeluknya erat.

"Wah, ada apa tuh? Senyum-senyum sendiri? Pasti janji mau ketemuan, ya?" Goda Indah sambil tersenyum jahil.

"Hushh...! Anak kecil gak usah ikut campur," jawab Raka. Di hatinya, rasa penasaran bercampur harapan sudah mulai tumbuh.

Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat, jarum jam telah menunjukkan pukul lima sore. Dan semua makanan yang mereka jual telah ludes tanpa tersisa.

"Akhirnya selesai juga kerjaan kita. Gak disangka, kita bisa tutup lebih awal," ujar Indah sambil meregangkan tangannya.

"Kalian yang bereskan, ya? Aku ada acara penting." Raka buru-buru pergi ke kediaman mereka yang berada tepat di belakang rumah makan.

 Indah dan Rani hanya bisa menggelengkan kepala, melihat sikap Raka yang terburu-buru dan penuh semangat.

"Kayaknya kakakmu lagi seneng banget," ucap Rani

"Namanya juga orang lagi kasmaran, jadi lupa segalanya. Apalagi Kak Raka bucin banget sama Kak Dinda," balas Indah sambil mengemaskan piring dan gelas di atas meja. 

Sementara Raka yang sudah selesai mandi, dia mengenakan kemeja hitam dan celana jeans panjang.

"Wah… rapi banget, Kak. Mau kemana sih?" Tanya Indah yang sudah berdiri di pintu kamar.

"Ada janji penting. Anak kecil gak perlu tau," jawab Raka sambil menyemprotkan parfum Casablanca.

Indah menyipitkan mata. "Penting… atau mau ketemu kak Dinda?" 

"Hustt! Kamu sama Rani jaga rumah ya. Aku pulangnya mungkin tengah malam." 

"Raka, nanti kamu hati-hati ya, jangan sampai kecantol janda," Rani ikut menimpali.

"Jangan kebanyakan omong, mending bikinin aku kopi. Ran, nanti mau gak kukenalin sama temenku? biar kamu gak jadi jomblo akut. Masa umur 25 belum juga dapat pasangan. Padahal kalo dilihat-lihat, kamu itu lumayan cantik, loh."

"Kalo ada maunya, muji-muji cantik. Ingat! Aku ini sepupumu, jadi jangan macam-macam!" Rani langsung melangkah pergi ke arah dapur, untuk membuatkan Raka kopi hitam.

Raka keluar kamar, kemudian duduk bersama Adiknya di ruang tengah. Dia sesekali melihat jam digital di ponselnya yang telah menunjukkan pukul enam.

"Kak, pendapatan kita hari ini banyak banget. Kalo setiap hari kayak gini, kita bisa cepat kaya," ucap Indah sambil menghitung pendapatan mereka hari ini.

"Baguslah, semoga ke depannya tetap lancar." balas Raka. Ia membantu Indah menghitung uang hasil pendapatan mereka hari ini.

Tak lama kemudian, Rani kembali ke ruang tengah, membawa segelas kopi hitam di tangannya.

"Terima kasih, Rani cantik." 

"Jangan menggodaku. Kuakui kau memang tampan, tapi sayangnya kita ini sepupuan. Seandainya bukan, pasti sudah kukejar sampai ke ujung dunia," canda Rani.

Raka yang tengah menyeruput kopinya, hampir saja tersedak mendengar ucapan Rani.

Beberapa menit kemudian Raka menyudahi minum kopinya. Ia mengambil kunci motor dan Helm yang sudah disiapkannya dari tadi.

"Aku pergi dulu, ya. Ingat pesanku tadi."

"Siap tuan besar," canda Rani.

"Kak, jangan lupa martabak manisnya, ya?" Indah menambahkan.

"Moga aja kakakmu yang ganteng ini nggak lupa." Raka melangkah keluar rumah. Lalu dengan cepat menyalakan motornya.

Brem... Bremm...

 Tujuannya saat ini cuma satu, Hotel Berlian yang tempatnya lumayan jauh dari kediamannya.

Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi bayangan Dinda, wajah cantiknya, senyumnya, dan kejutan apa yang telah disiapkan oleh Kekasihnya itu.

"Semoga saja, apa yang terjadi nanti.. sama seperti yang ada dalam pikiranku," gumamnya pelan.

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh dan berliku, akhirnya Raka sampai juga keparkiran Hotel Berlian yang berdiri megah di tengah kota.

 Ia memarkir motornya, lalu berjalan masuk dengan langkah yang sedikit gugup melewati lobi.

"Kenapa Dinda harus buang-buang uang menginap di hotel segala? Kalau ingin memberi kejutan, kan bisa di rumah saja," gumam Raka tak habis pikir. 

Dengan penuh semangat, ia menapaki anak tangga. Setelah menyusuri lorong yang lumayan sepi, akhirnya, Raka berhenti di depan kamar no 212. Jantungnya berdegup kencang, ia menarik napas dalam lalu mengetuk pintu.

Tok... Tok... Tok...

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka perlahan. Dinda berdiri di sana, mengenakan handuk putih, baru saja selesai mandi. tapi wajahnya terlihat dingin, tidak ada senyum atau kehangatan sama sekali.

"Masuklah, ada hal penting yang ingin kubicarakan."

Raka sedikit terkejut tapi tetap masuk ke dalam kamar. Begitu pintu tertutup, suasana terasa berbeda.

"Dinda, ada apa ini sebenarnya? Kenapa kamu mengajakku bertemu di sini? Apa kau menginginkan sesuatu dariku?" tanya Raka penuh harap. Dia menatap Kekasihnya sambil tersenyum.

Dinda tidak langsung menjawab. Ia menatap Raka cukup lama, seolah sedang menyusun kata-kata yang tepat.

"Aku ingin kita selesai. Raka, hubungan kita cukup sampai disini saja."

"Apa? Dinda, kenapa kamu ngomong seperti ini? Apa salahku?" Tanya Raka tak percaya.

Kata-kata Dinda, bagaikan petir disiang bolong yang menghantamnya tanpa ampun.

"Aku capek. Sudah tiga tahun kita bersama, tapi kamu tidak berubah," ucap Dinda sambil melipat tangannya di depan dada.

"Aku kerja keras, aku bangun usaha. Itu semua untuk kita dimasa depan." 

"Usaha kecil itu? Usaha rumah makan yang penghasilannya gak seberapa?" Dinda menggelengkan kepalanya.

Raka terdiam. Kalimat itu terasa seperti pisau yang  menusuk hatinya. Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka dan keluar seorang pria yang mengenakan handuk berwarna biru dengan senyum meremehkan.

"Siapa dia?" suaranya sedikit meninggi, apa yang di-impikannya selama ini langsung hancur saat itu juga.

"Kenalin, dia calon suamiku," ucap Dinda.

"Aku tidak menyangka, wanita yang kucintai, ternyata tega mengkhianatiku. Kenapa kau tidak berkata jujur, dan malah mengundangku kemari. Apa kalian sengaja ingin menunjukkannya padaku?" Raka mencoba tersenyum, meskipun matanya mulai memerah karena amarah.

Pria yang tadi baru keluar dari kamar mandi, langsung mendekat dan berdiri disamping Dinda.

"Namaku Rangga Kusuma. Keluargaku merupakan salah satu keluarga kelas atas di Ibu kota wilayah pusat. Kusarankan padamu, sebaiknya kau sadar diri jika ingin bersaing denganku."

"Dinda, tiga tahun kita menjalani hubungan tapi begitu mudahnya kau mencampakanku. Sungguh tidak kusangka," ujar Raka kecewa.

Dia menggelengkan kepalanya, seolah tak percaya dengan apa yang dialaminya saat ini.

Dinda menunduk sesaat, kemudian kembali menatap Raka dengan sorot mata yang dingin.

"Aku butuh masa depan yang jelas. Dan masa depanku bukan bersamamu."

"Jadi selama ini, aku kau anggap apa? Susah payah, Aku selalu mewujudkan apa yang kau inginkan. Begini balasanmu terhadapku?"

Raka menatap mereka berdua, hatinya remuk dan harga dirinya terasa diinjak-injak. Namun ia berusaha tersenyum, mencoba menerima kenyataan.

"Baiklah, Aku pergi. Suatu saat nanti, kau pasti akan menyesal, karena telah mengkhianati dan menyakitiku." Raka berbalik, hendak keluar dari kamar itu.

"Tidak ada kata penyesalan dalam kamusku. Jika aku terus bersamamu, hidupku akan sengsara. Tapi bersama Rangga, aku akan menjadi wanita kelas atas," ucap Dinda penuh keyakinan.

"Berhenti! Siapa yang menyuruhmu pergi! Perlu kau ketahui, Dinda telah menyerahkan kesuciannya padaku. Mulai detik ini, dia sudah menjadi milikku. Jika kau berani mendekatinya, aku tak akan segan-segan untuk menghabisimu, orang miskin!" ancam Rangga.

Raka terpaku. Perlahan, ia memutar tubuhnya menatap Rangga yang berdiri santai dengan tangan disilangkan di dada.

Rangga melangkah mendekat, matanya menatap Raka penuh penghinaan.

“Orang kayak kamu itu nggak pantas sama Dinda. Kamu hanya memiliki rumah makan kecil, sedangkan Aku punya segalanya. Uang, jabatan, masa depan yang cerah. Bukan masa depan yang penuh bau minyak dan bawang," Rangga menunjuk dada Raka berulang kali.

“Kamu bilang apa?'' suara Raka berubah berat.

“Apa? Mau marah! Kamu itu gak ada apa-apanya dibandingkan aku. Dasar sampah! Hahaha...!" Rangga tertawa penuh ejekan.

Bugh!

Satu pukulan keras dari Raka mendarat tepat di rahang Rangga. Tubuh pria itu terhuyung mundur, hingga membentur meja dan jatuh tersungkur ke lantai.

“Aggghhh...! Kurang ajar! Kau berani memukulku!" erangnya.

“Raka! Stop! Kamu jangan keterlaluan!" jerit Dinda panik.

Namun Raka sudah kehilangan akal sehatnya. Ia melompat ke arah Rangga, mencengkeram leher pria itu, dan menghujani wajahnya dengan pukulan bertubi-tubi.

Bugh! Bugh!.

Darah segar mengalir dari hidung dan mulut Rangga.

“Pukulan ini untuk tiga tahun aku menjaganya!” teriak Raka di sela pukulannya, melampiaskan semua rasa sakit hati yang menggumpal di dada.

Rangga mencoba melawan, tapi ia tak berdaya. Pukulan Raka begitu kuat dan penuh tenaga. Dinda mencoba menahan tangan mantan kekasihnya itu, namun sia-sia.

Plak...!

Tamparan keras Raka, tanpa sengaja mendarat tepat di pipi mulus Dinda, sehingga membuatnya jatuh terduduk di lantai.

Sontak, Raka menghentikan aksinya. Napasnya memburu, sambil memperhatikan Rangga yang tergeletak babak belur tak berdaya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia berbalik, membuka pintu, kemudian pergi meninggalkan kamar 212.

Lanjut membaca
Lanjut membaca