

Basement bar "The Pit" berbau keringat, bir murah, dan darah. Lampu redup menggantung di langit-langit beton, menciptakan bayangan panjang di sekeliling ring improvisasi yang terbuat dari tali tambang lusuh dan papan kayu. Kerumunan pria dan beberapa wanita berteriak, bertaruh, dan mengacungkan uang kertas lusuh ke udara.
Ren Vale berdiri di sudut ring, tangannya gemetar.
Bukan karena takut. Setidaknya, dia bilang begitu pada dirinya sendiri.
Ini karena adrenalin. Atau mungkin karena dia belum makan sejak kemarin siang. Atau karena seluruh tubuhnya tahu betul dia sedang melakukan sesuatu yang bodoh.
"Kau yakin mau lanjut, bocah?" Seorang pria paruh baya dengan bekas luka di pipi meludah ke lantai. Dia berdiri di pojok berlawanan, kedua tangan dilipat di dada. Marcus Doran, pemilik gym underground "Iron Fist" yang menolak Ren tiga kali dalam dua minggu terakhir.
Ren tidak menjawab. Dia hanya menatap lawan di depannya.
"Mad Dog" Vargas. Debt collector lokal yang terkenal sadis. Tubuhnya seperti lemari besi bergerak, penuh tato dan bekas luka. Matanya kosong, seperti orang yang sudah terlalu lama hidup di jalanan dan tidak peduli lagi soal konsekuensi.
Vargas menyeringai, menampilkan gigi emasnya. "Hei, anak kecil. Masih sempat kabur, loh."
Kerumunan tertawa.
Ren menelan ludah. Tangannya yang dibungkus perban usang terkepal erat. Dia ingat kenapa dia ada di sini. Ingat wajah Lio yang pucat di ranjang rumah sakit. Ingat tagihan yang harus dibayar besok pagi. Ingat fakta bahwa panti asuhan tidak punya uang lagi bahkan untuk beras.
Lima ratus ribu. Pemenang dapat lima ratus ribu dalam satu malam.
Dia butuh uang itu.
"Ayo mulai!" teriak seseorang dari kerumunan.
Tidak ada wasit. Tidak ada aturan. Hanya dua orang, satu ring, dan satu yang masih berdiri di akhir menang.
Vargas melangkah maju, buku-buku jarinya berderak. "Coba tahan sepuluh detik, ya? Aku mau cepat pulang."
Kemudian dia menyerang.
***
Ren tidak pernah dilatih untuk berkelahi.
Dia pernah berkelahi, tentu saja. Anak jalanan tidak bisa menghindari itu. Tapi berkelahi di gang dengan anak seusianya berbeda dengan ini.
Ini berbeda dengan monster yang bergerak seperti kereta barang.
Pukulan pertama Vargas menghantam perut Ren seperti palu godam. Udara meledak keluar dari paru-parunya. Tubuhnya terlipat, refleks bertahan yang terlambat. Sebelum dia sempat berpikir, hook kedua datang dari samping, menghantam tulang rusuknya.
Rasa sakit meledak. Putih. Panas. Tajam.
Ren terhuyung ke belakang, hampir jatuh. Kakinya tersandung tali ring. Kerumunan mengaum.
"JATUHKAN DIA!"
"HABISI!"
"UANGKU TARUH DI VARGAS! JANGAN LAMA-LAMA!"
Vargas tertawa, suara rendah yang bergema di ruang sempit itu. "Lemah sekali. Harusnya kau jadi tukang cuci piring saja, bocah."
Ren meludah. Ada rasa logam di mulutnya. Darah.
Matanya kabur sebentar. Dunia berputar. Tapi dia masih berdiri.
Dia harus tetap berdiri.
Vargas maju lagi, kali ini lebih santai. Seperti kucing yang bermain dengan tikus. Jab ringan ke wajah Ren, diikuti cross yang lebih keras. Kepala Ren terlempar ke belakang. Hidungnya meledak dalam rasa sakit yang membutakan.
Darah segar mengalir. Hangat. Lengket.
"JATUH! JATUH! JATUH!"
Tapi Ren tidak jatuh.
Entah kenapa, kakinya tetap menopang tubuhnya. Entah kenapa, tangannya masih terangkat dalam usaha menjaga yang kacau balau. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan. Dia hanya bergerak karena tubuhnya menolak untuk berhenti.
Vargas berhenti sebentar, alisnya terangkat. "Huh. Kau cukup tahan banting juga, ya?"
Kemudian dia melepaskan kombinasi brutal. Jab-jab-cross-hook-uppercut.
Setiap pukulan terasa seperti batu bata menghantam tubuh Ren. Pipi, rahang, perut, rusuk. Dia tidak punya waktu untuk berpikir. Hanya bereaksi. Hanya bertahan.
Dan setiap kali, dia menutup matanya.
Refleks bodoh. Refleks anak yang tidak pernah dilatih.
"BUKA MATAMU, BODOH!" teriak Marcus dari pojok, suaranya nyaris tertimbun oleh kerumunan.
Tapi Ren tidak bisa. Tubuhnya bergerak sendiri, melawan logika. Setiap kali pukulan datang, matanya menutup. Setiap kali, dia telat bereaksi.
Vargas menyadarinya. Seringainya melebar. "Oh, kau tutup mata tiap kali aku pukul? Lucu sekali."
Dia mulai bermain. Feint kiri, Ren menutup mata. Pukulan datang dari kanan. Feint atas, mata tertutup. Pukulan ke perut.
Kerumunan tertawa terbahak-bahak.
Ren terhuyung di tengah ring seperti orang mabuk. Dunia berputar. Kakinya terasa seperti jeli. Tapi dia masih berdiri.
"Kenapa kau tidak jatuh saja?!" Vargas terdengar frustrasi sekarang. Dia sudah memukul anak ini puluhan kali. Harusnya sudah KO sejak lama.
Tapi Ren masih berdiri.
Masih bernapas.
Masih bergerak maju, selangkah demi selangkah.
"Menyebalkan," desis Vargas. Dia mundur, menarik napas dalam, lalu bersiap untuk pukulan finishing. Haymaker penuh kekuatan yang akan mengakhiri ini semua.
Ren melihatnya datang. Lambat. Terlalu lambat untuk menghindar.
Tapi kali ini, sesuatu berbeda.
Saat pukulan itu meluncur, sesuatu di kepala Ren... bergetar.
***
**[SISTEM DETEKSI: HOST DALAM KONDISI KRITIS]**
Sebuah suara. Dingin. Mekanis. Tidak terdengar oleh telinga, tapi terasa di dalam tengkorak.
Ren terbelalak. Apa...?
**[PROTOKOL DARURAT: AKTIF]**
**[FIGHTER'S ASCENSION SYSTEM: INISIALISASI]**
Dunia melambat. Hanya sesaat. Seperti frame film yang melompat. Ren melihat kepalan tangan Vargas bergerak—masih terlalu cepat, tapi sekarang dia bisa melacak trajektorinya.
Tubuhnya bergerak sendiri.
Lengan kiri terangkat, blocking posisi yang tidak sempurna tapi cukup. Pukulan Vargas menghantam lengannya, bukan wajahnya. Rasa sakit meledak di lengan bawahnya, tapi lebih baik daripada tengkorak retak.
**[AUTO-GUARD: AKTIF]**
**[HP: 15/100]**
Angka-angka muncul di sudut pandangnya. Transparan, seperti hologram. HP bar merah menyala, hampir kosong.
Ren tidak punya waktu untuk memproses apa yang terjadi.
Vargas terlihat kaget sebentar, tapi segera menyerang lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Tapi sekarang, tubuh Ren bergerak dengan cara yang aneh. Tidak sempurna. Tidak elegan. Tapi ada... pola. Seperti ada yang memandu refleksnya, memaksanya untuk bereaksi sedikit lebih cepat.
Block. Slip. Duck.
Dia masih kena pukulan. Banyak. Tapi tidak sebanyak sebelumnya.
**[HP: 12/100]**
**[WARNING: KONDISI KRITIS]**
**[QUEST DARURAT: BERTAHAN HIDUP]**
**[REWARD: ???]**
**[KEGAGALAN: KEMATIAN]**
Kematian.
Kata itu menggema di kepala Ren seperti lonceng peringatan.
Dia menatap Vargas yang bersiap untuk serangan lain. Pria itu berkeringat sekarang, frustrasi jelas di wajahnya. Dia sudah lelah memukul anak ini. Kenapa anak ini tidak jatuh?
"JATUH!" raung Vargas, meluncurkan uppercut brutal.
Ren melihatnya. Slow motion lagi. Tubuhnya bereaksi.
Tapi kali ini, bukan hanya defense.
Tangannya melayang, tidak terpikirkan. Pukulan liar, tidak punya teknik, hanya murni insting dan putus asa.
Tinjunya menghantam rahang Vargas.
Tidak keras. Tidak sempurna. Tapi... tepat.
Vargas terhenti.
Matanya melotot, kaget.
Kerumunan terdiam.
Selama satu detik, dua detik, tiga detik, tidak ada yang bergerak.
Lalu Vargas tersenyum. Seringai lambat, menakutkan. "Ohhh. Kau bisa memukul balik, ternyata."
Dia mengusap rahangnya. "Bagus. Aku suka mainan yang melawan."
Kemudian dia meluncur maju seperti banteng mengamuk.
***
Ren tidak ingat banyak dari detik-detik berikutnya.
Hanya kilatan rasa sakit, darah, dan tubuhnya yang bergerak sendiri. Sistem di kepalanya terus berbunyi, notifikasi yang tidak dia mengerti, angka yang naik turun, peringatan yang berkedip.
**[HP: 8/100]**
**[STAMINA KRITIS]**
**[KEMAUAN: 20/100 - AKTIF]**
**[BUFF: REFUSE TO DIE - AKTIF SEMENTARA]**
Dia tidak tahu apa artinya itu semua. Yang dia tahu adalah tubuhnya tidak mau berhenti. Tidak bisa berhenti.
Setiap kali dia hampir jatuh, sesuatu menariknya kembali berdiri. Setiap kali kesadarannya mengabur, rasa sakit yang tajam menyadarkannya kembali.
Vargas juga mulai melambat. Pukulannya tidak secepat tadi. Napasnya tersengal-sengal. Dia tidak terbiasa dengan lawan yang tidak jatuh setelah dipukul seperti ini.
"Kenapa... kau... tidak... JATUH?!" raung Vargas, frustrasi memuncak.
Ren tidak menjawab. Dia tidak bisa. Lidahnya terasa kebas, mulutnya penuh darah.
Tapi dia maju selangkah.
Lalu satu lagi.
Dan satu lagi.
Vargas mundur. Untuk pertama kalinya malam ini, dia mundur.
Kerumunan mulai berubah. Suara mereka berbeda sekarang. Tidak lagi mengejek. Tidak lagi tertawa.
"Gila, anak itu masih berdiri..."
"Berapa lama ini?"
"Vargas kelihatan capek..."
Vargas mendengarnya. Wajahnya memerah, campuran kelelahan dan amarah. Dia tidak bisa kalah. Tidak bisa kalah dari anak kampung yang bahkan tidak tahu cara tinju.
Dia mundur ke pojok ring, mengambil napas dalam, lalu meluncur untuk satu serangan terakhir. All in. Semua kekuatan yang tersisa.
Straight punch lurus ke wajah Ren, dengan seluruh berat tubuhnya.
Ren melihatnya datang.
Kali ini, dia tidak menutup mata.
**[PELUANG TERDETEKSI]**
**[COUNTER TERSEDIA]**
Tubuhnya bergerak. Bukan defense. Offense.
Ren melangkah ke dalam jangkauan, bukan menjauh. Tangan kirinya terangkat untuk partial block, melindungi wajahnya. Tangan kanannya terkepal, setiap otot yang tersisa berkontraksi.
Dan dia melepaskan pukulan.
Tidak elegan. Tidak sempurna. Haymaker liar dengan semua yang dia punya.
Kedua pukulan bertemu di udara. Kepalan Vargas menghantam pelindung Ren, mengirimkan shock ke lengannya. Tapi kepalan Ren melewati guard Vargas yang terbuka, menghantam dagunya dengan bunyi keras yang memekakkan.
**KRAK.**
Vargas berhenti di tempat.
Matanya berputar.
Kakinya goyah.
Lalu dia jatuh.
Keras.
Seperti pohon tumbang.
Ruangan terdiam.
Ren berdiri di tengah ring, tangan masih terangkat, napas tersengal-sengal, darah mengalir dari hidung, mulut, luka di alis. Tubuhnya bergetar, nyaris ambruk.
**[QUEST SELESAI: BERTAHAN HIDUP]**
**[KEMENANGAN]**
**[LEVEL UP]**
**[SISTEM SEPENUHNYA AKTIF]**
**[SELAMAT DATANG, REN VALE]**
Ren menatap tulisan transparan di depannya. Otaknya tidak bisa memproses apa yang baru saja terjadi. Dia hanya tahu satu hal.
Dia menang.
Dia masih hidup.
Dan entah kenapa, ada suara asing di kepalanya yang bilang ini baru permulaan.
Kerumunan meledak. Setengah bersorak, setengah berteriak marah karena uang taruhannya hilang. Marcus berjalan ke ring dengan ekspresi tidak terbaca, menatap Ren lama sebelum menarik sudut bibirnya sedikit.
"Tidak buruk, bocah," gumamnya. "Meskipun kau bertarung seperti orang mabuk."
Ren tidak sempat menjawab. Dunia berputar, dan dia ambruk.
Tapi sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, dia mendengar suara sistem sekali lagi.
**[STATUS: HOST KRITIS]**
**[PERINGATAN: CEDERA INTERNAL TERDETEKSI]**
**[DIPERLUKAN PERAWATAN MEDIS]**
**[WAKTU UNTUK PEMULIHAN SEMPURNA: 2 MINGGU]**
**[LEVEL SAAT INI: 2]**
Kemudian, gelap.