

Di pagi hari di sebuah Villa mewah di Jakarta Selatan, sepasang kekasih yang tidak jelas statusnya sedang berbincang dingin
"Sayang, aku lagi seret nih akhir-akhir ini... bisa pinjemin aku sedikit uang nggak?" ujar seorang pemuda sambil bersandar di sofa kulit mewah di sebuah vila mewah di kawasan Pondok Indah.
Nayla Manata, CEO muda sebuah perusahaan fashion ternama, menatap tajam. Alisnya yang rapi berkerut, nada suaranya dingin.
"Satria Pradana, bisa nggak sih kamu jaga wibawa dikit? Serius, kamu kelihatan nyebelin banget sekarang!"
Satria menggaruk kepala, wajahnya canggung.
"Aku baru balik ke Indonesia, Nay. Uangku masih tertahan di luar negeri... Aku bener-bener nggak bawa sepeser pun."
Sebagai mantan pendekar jalanan yang hidupnya serba bebas, konsep “uang” buat Satria selalu samar. Tapi begitu menapakkan kaki di Jakarta, dia baru sadar, tanpa uang, bahkan untuk makan pun susah.
Masalahnya, wanita yang kini jadi “tunangan sementara”-nya bukan orang sembarangan.
Nayla Manata, presiden muda sekaligus wajah utama dunia bisnis mode Jakarta, baru berusia dua puluh dua tahun.
Penampilannya elegan dalam balutan gaun biru pastel, rambut hitamnya jatuh lembut di bahu, dan setiap gerakannya memancarkan wibawa yang tak bisa dibantah.
Kecantikannya bukan sekadar paras ia punya aura. Dingin, tinggi, tapi memesona.
“Kamu udah makan di rumahku, tidur di rumahku, dan sekarang mau minta uang juga? Serius, Sat?” Nayla menghela napas panjang. Nada muaknya jelas.
Bagi wanita seperti Nayla, yang terbiasa hidup mandiri dan dikelilingi pria sukses, Satria hanyalah beban. Dan ketika seorang wanita sudah tidak suka pada pria, semua hal kecil jadi tampak menjijikkan.
Yang membuat Nayla makin kesal: kakeknya sendiri memaksanya bertunangan dengan Satria, bahkan mengancam bunuh diri jika dia menolak.
Demi menghormati sang kakek, Nayla akhirnya setuju tinggal serumah dengan Satria selama satu tahun—hanya secara simbolis.
Dulu, Nayla sempat berpikir bisa “mendidik” Satria jadi pria yang pantas. Tapi setelah tiga hari hidup bersama, harapan itu lenyap.
Pria ini... benar-benar tidak bisa diandalkan.
“Sayang, jangan segitu kejamnya dong,” ujar Satria dengan senyum sok manis. “Kamu kan bos besar, uang buat kamu cuma angka.”
Tatapan Nayla langsung membeku.
“Satria, aku nggak akan kasih kamu uang tanpa alasan. Kamu punya tangan, punya kaki—ya kerja lah! Aku mau meeting. Jangan ganggu aku lagi!”
Tanpa menunggu jawaban, Nayla mengambil tasnya dan melangkah keluar vila. Tumit sepatunya berderap dingin di lantai marmer.
Satria hanya menatap punggungnya yang menjauh. Wajahnya mengeras.
“Dicemooh sama wanita... siapa juga yang tahan.” Ia mendengus pelan. “Kerja ya? Ya udah, aku cari.”
Masalahnya, dia benar-benar nggak tahu harus kerja apa. Hidupnya dulu diisi dengan hal-hal ekstrem—berkelahi, melarikan diri, bertahan hidup di jalanan. Pekerjaan “normal” bukan wilayahnya.
Cara tercepat cari uang? Merampok. Tapi itu masa lalu yang ingin dia kubur.
“Ya udahlah, ngalir aja,” gumamnya, keluar dari kompleks vila menuju jalan raya yang panas menyengat.
Jakarta di bulan Juni terasa seperti oven.
“Kerja apa coba di panas kayak gini? Masak aku nguli batu bata?” Satria mengeluh sambil jalan santai di trotoar.
Sepanjang jalan, ia lihat banyak lowongan ditempel di kaca toko, restoran, hotel, tempat karaoke. Tapi nggak ada yang menarik.
Sampai tanpa sadar, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan ia telah sampai di kawasan bisnis SCBD, pusat keramaian kota.
Secara kebetulan, Satria melihat sebuah papan pengumuman besar di lantai dasar sebuah gedung perkantoran di kawasan Sudirman.
Di situ tertulis:
Manata International Fashion Group sedang membuka lowongan besar-besaran.
Tersedia posisi di berbagai departemen dengan gaji menarik. Ayo bergabung bersama kami!
Satria mengangkat alis, membaca ulang tulisan itu sambil menyeringai kecil.
“Manata International Fashion Group? Bukannya itu perusahaan si Ratu Es?” gumamnya.
Tentu saja dia tahu siapa “Ratu Es” itu Nayla Manata, presiden muda perusahaan sekaligus... tunangan sementara-nya.
Awalnya Satria malas bekerja di bawah perempuan yang menatapnya seperti sampah setiap pagi, tapi mengingat situasinya, tidak ada pilihan lain. Lagipula, kalau dia bisa kerja di sana, bukankah itu cara paling mudah untuk balas dendam secara halus?
Satria menepuk-nepuk kerah kemeja motif bunganya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu melangkah masuk ke gedung dengan percaya diri.
Begitu naik ke lantai dua, suasananya langsung ramai. Puluhan pelamar muda berdandan rapi, jas, dasi, sepatu mengilap—semuanya tampak siap perang.
Di tengah kerumunan itu, Satria jelas menonjol dengan kemeja bunga dan celana jeans santainya.
Seorang resepsionis cantik mendekat, senyumnya profesional. “Permisi, Mas... ke sini untuk wawancara kerja juga?”
Satria tersenyum santai. “Iya, Mbak. Tapi boleh nanya dikit nggak? Departemen mana di sini yang gajinya paling tinggi?”
Gadis itu sempat melongo, lalu tertawa pelan.
“Lucu juga kamu. Kenapa nggak sekalian tanya, departemen mana yang isinya wanita paling cantik?”
Satria ikut tertawa kecil. “Kalau bisa dua-duanya sih lebih bagus, tapi aku serius nanya yang pertama.”
Resepsionis itu mengamati Satria dengan lebih teliti. Meskipun gayanya santai, jelas kalau pakaian yang ia pakai bukan murahan.
Mungkin anak orang kaya lagi main-main, pikirnya.
Ia lalu menjawab dengan nada menggoda, “Kalau gaji paling tinggi, ya di Departemen Hubungan Masyarakat. Lagi buka lowongan Manajer, tuh. Kenapa nggak coba?”
Satria menepuk dada dan tersenyum lebar.
“Manajer Humas? Cocok banget tuh buat aku. Terima kasih ya, Mbak cantik.”
Ia lalu mendaftar, mengambil formulir, dan mulai mengisi data dengan asal tapi cepat.
Posisi Manajer Hubungan Masyarakat ternyata menuntut kemampuan komunikasi yang tinggi dan penguasaan bahasa Inggris, Italia, serta Prancis.
Meski tidak mencantumkan syarat pendidikan, standar seleksinya terkenal ketat dan mayoritas pelamar di ruangan itu tampak lulusan luar negeri.
Saat Satria baru menulis namanya di formulir, seseorang menepuk bahunya dari belakang.
“Bro! Kamu juga mau daftar di Humas?”
Satria menoleh. Seorang pria gemuk dengan setelan jas mengilap berdiri di belakangnya, menatapnya dengan tatapan menilai. Jasnya mahal, sepatunya mengilap, dan jam tangannya terlalu mencolok untuk orang yang beneran butuh kerja.
“Iya, kenapa?” tanya Satria datar.
Pria itu menyipitkan mata.
“Bro, nggak usah pura-pura. Kemeja bunga yang lu pakai itu kan Balenciaga edisi terbatas, paling nggak dua puluh juta. Ngapain kamu ikut lamaran kayak gini? Pasti kamu ngincer cewek di sini, kan?”
Satria sempat tertegun. Ia bahkan nggak tahu merek bajunya, karena itu pemberian adiknya.
Ia terbatuk pelan. “Eh, enggak, bro. Aku beneran mau kerja.”
Pria itu langsung tertawa terbahak.
“Hahaha! Serius amat! Departemen Humas Manata tuh isinya cewek semua, bro. Kalau kamu nggak niat PDKT, buat apa kerja di sana?”
Satria mengerutkan kening. “Serius, semuanya cewek?”
“Yoi! Makanya aku daftar sini. Aku udah incar satu orang, namanya Clara Wijaya, staf Humas paling cantik di kantor ini. Jadi, bro... jangan coba-coba rebut dia dari aku, ya?”
Satria hanya menggeleng pelan, menatap antrian pelamar yang mengobrol sambil berdandan ala model.
Dalam hati, ia mendesah. “Orang-orang kota ini bener-bener aneh. Lowongan kerja aja dijadiin arena cari gebetan...”
Satria sebenarnya malas berpikir terlalu jauh. Ia hanya ingin satu hal sederhana: pekerjaan.
Kalau bisa kerja di tempat yang isinya banyak wanita cantik yah, itu bonus menyenangkan.
Tak lama kemudian, tibalah gilirannya untuk wawancara.