Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Status Dibalik Bodyguard

Status Dibalik Bodyguard

andirtps | Bersambung
Jumlah kata
301.6K
Popular
1.6K
Subscribe
161
Novel / Status Dibalik Bodyguard
Status Dibalik Bodyguard

Status Dibalik Bodyguard

andirtps| Bersambung
Jumlah Kata
301.6K
Popular
1.6K
Subscribe
161
Sinopsis
18+PerkotaanAksiKonglomeratMafiaIdentitas Tersembunyi
Bagi dunia luar, dia hanyalah bayangan, seorang pengawal pribadi yang dingin, tangguh, dan selalu berdiri satu langkah di belakang tuannya tanpa pernah menarik perhatian. Mengenakan setelan hitam yang rapi, tugasnya sederhana, melindungi target dengan taruhan nyawa, patuh tanpa bertanya, dan menghilang saat fajar tiba. Namun, di balik tatapan matanya yang tajam dan setelan jas yang tak pernah kusut, tersimpan sebuah rahasia besar yang bisa menjungkirbalikkan tatanan yang ada. Dia bukan sekadar tameng hidup. Ada status tersembunyi yang ia bawa dalam senyap, sebuah identitas asli yang jauh lebih berkuasa, berbahaya, atau bahkan mungkin... justru merupakan ancaman terbesar bagi orang yang sedang ia lindungi. Ketika garis antara tugas, rahasia masa lalu, dan intrik kekuasaan mulai kabur, setiap langkah adalah permainan catur yang mematikan. Karena terkadang, bahaya terbesar bukanlah apa yang ada di depan mata, melainkan status asli yang tersembunyi tepat di belakang punggungmu.
1. Nona Muda

Aula utama kediaman Oktav pagi itu terasa lengang meski langit Benhill sudah mulai terang. Erkan berdiri tegak di dekat pilar marmer. Posisinya tidak berubah sejak tiga puluh menit lalu, kedua tangan tertaut di balik punggung, pandangan lurus menatap anak tangga terbawah. Setelan jas hitamnya rapi tanpa lipatan.

Langkah kaki terdengar dari lantai dua. Ketukan sepatu yang cepat dan berirama itu menandakan Kenya sudah bersiap.

Kenya Oktav turun dengan seragam High School Biacra yang melekat pas di tubuhnya. Rambutnya diikat kuda, bergerak mengikuti ayunan langkahnya yang terburu-buru. Erkan tidak menoleh, namun kepalanya sedikit menunduk begitu ujung sepatu Kenya menapak di lantai aula.

"Selamat pagi, Nona Kenya," ucap Erkan. Suaranya datar, tanpa intonasi yang berlebihan.

Kenya hanya berdehem singkat tanpa menghentikan langkah. Ia berjalan melewati Erkan begitu saja menuju ruang makan yang terletak di sisi kiri aula. Erkan membalikkan tubuhnya dengan satu gerakan tumit yang presisi, lalu berjalan tiga langkah di belakang Kenya.

Di meja makan panjang, beberapa pelayan sudah menata sarapan ringan. Kenya menarik kursi kayu berukir, mendudukinya dengan kasar, lalu meraih sepotong roti panggang yang sudah diolesi mentega.

Erkan mengambil posisi berdiri di sisi kanan kursi Kenya, berjarak dua meter. Matanya bergerak menyapu area sekitar ruang makan, memastikan tidak ada pergerakan yang mencurigakan, sebelum kembali fokus pada area punggung majikannya.

Kenya mengunyah rotinya dengan cepat. Pandangannya tertuju pada layar ponsel yang menyala di atas meja, jemarinya sibuk mengusap layar. Tepat tiga menit berlalu, Kenya meneguk setengah gelas susu putih di samping piringnya, lalu menyeka bibirnya dengan tisu. Ia berdiri dengan sentakan pelan yang membuat kursi bergeser beberapa sentimeter ke belakang.

Sebelum Kenya sempat meraih tas sekolahnya yang bersandar di kursi sebelah, Erkan sudah melangkah maju.

Tangan kanan Erkan yang terbungkus sarung tangan kain hitam meraih tali tas ransel kulit milik Kenya. Ia mengangkatnya tanpa menimbulkan suara gesekan.

"Biar saya yang bawa, Nona," kata Erkan sambil mengangguk kecil.

"Jangan sampai ada yang lecet. Buku tugas fisika ada di kantong depan," sahut Kenya. Suaranya terdengar ketus, tipikal anak muda yang enggan memulai hari di sekolah.

"Sudah dipastikan aman," jawab Erkan pendek.

Kenya berjalan mendahului menuju pintu keluar utama. Erkan mengikuti dari belakang dengan jarak konstan. Begitu jarak Kenya tersisa dua meter dari daun pintu ganda setinggi tiga meter itu, Erkan mempercepat langkahnya secara efisien. Ia melewati sisi kiri Kenya, meraih gagang pintu kuningan, lalu menariknya lebar-lebar ke arah dalam.

Pintu terbuka penuh tepat saat Kenya tiba di ambang pintu, membuatnya bisa terus berjalan tanpa perlu memperlambat langkah sedetik pun.

Di halaman depan, sebuah sedan hitam mengilat sudah terparkir dalam kondisi mesin menyala. Erkan mendahului Kenya lagi menuju sisi kiri mobil. Tangan kirinya membuka pintu penumpang belakang, sementara telapak tangan kanannya diposisikan horizontal di atas bingkai pintu, melindungi kepala Kenya agar tidak terbentur saat masuk.

Kenya menekuk tubuhnya dan masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk. Erkan mendorong pintu hingga menutup dengan bunyi klik yang solid.

Erkan berjalan memutari bagian belakang mobil, membuka pintu kemudi, dan duduk di balik kemudi. Ia menyesuaikan spion tengah, melirik sekilas ke arah Kenya yang sudah kembali sibuk dengan ponselnya di kursi belakang.

"Kita berangkat sekarang, Nona?" tanya Erkan sebelum memindahkan tuas transmisi.

"Ya. Jangan terlambat. Pak sarman bilang gerbang Biacra tutup jam tujuh lewat lima belas hari ini," jawab Kenya tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.

Erkan menginjak pedal gas perlahan. Mobil bergerak mulus membelah jalanan aspal kediaman Oktav yang luas, menuju gerbang luar yang dijaga ketat oleh dua satpam.

Saat mobil melambat di dekat pos penjagaan, ponsel di dasbor mobil bergetar. Layarnya menampilkan nama Milan Oktav. Erkan menekan tombol jawab pada kemudi tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya Benhill yang mulai padat.

"Ya, Tuan Milan," kata Erkan. Suaranya terdengar melalui sistem pengeras suara mobil secara interkom, namun volume suaranya diatur agar tidak terlalu keras mengganggu Kenya.

"Erkan. Kau sudah jalan?" Suara berat Milan Oktav terdengar dari seberang saluran.

"Sudah, Tuan. Saat ini kami baru saja keluar dari gerbang kompleks."

"Pastikan kau tidak melepaskan pandangan darinya hari ini. Situasi di distrik utara agak memanas sejak kemarin malam. Jangan biarkan dia pulang bersama teman-temannya jika tidak ada dalam jadwal resmi."

"Dimengerti, Tuan. Pengamanan tingkat dua akan diterapkan selama jam sekolah."

"Bagus. Kenya tidak perlu tahu detailnya. Dia hanya akan protes jika kau terlalu ketat."

"Baik, Tuan."

Erkan memutuskan panggilan setelah Milan mematikan sambungan. Dari kaca spion tengah, Erkan melihat Kenya menghentikan gerakan jarinya di atas layar ponsel. Kepala Kenya mendongak, matanya menatap tajam ke arah spion tengah, bertemu langsung dengan pandangan Erkan.

"Ayah bilang apa lagi?" tanya Kenya, nadanya menyelidik. "Dia mau membatasi jam keluar soreku lagi?"

"Tuan Milan hanya memastikan jadwal kedatangan Anda di sekolah tepat waktu, Nona," jawab Erkan datar. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, seperti topeng semen yang kaku.

"Jangan bohong, Erkan. Aku dengar kata pengamanan tingkat dua tadi. Apa artinya?" Kenya memajukan tubuhnya, bertumpu pada sandaran kursi depan, tepat di samping bahu Erkan. "Kau mau menguntitku sampai ke dalam kelas lagi seperti bulan lalu? Itu memalukan."

Erkan memutar kemudi ke kiri, membawa mobil membelah jalur cepat jalan protokol Benhill. "Tugas saya adalah memastikan keselamatan Anda di area publik, termasuk lingkungan sekolah. Jika situasi dinilai memerlukan pengawasan lebih dekat, saya akan melaksanakannya sesuai prosedur."

"Aku bukan tawanan, Erkan. Aku ini anak sekolah," ketus Kenya. Ia menghempaskan punggungnya kembali ke sandaran kursi belakang dengan kasar, melipat kedua tangannya di dada. "Sampaikan pada ayahku, kalau kau terus-menerus berdiri di depan kelasku, aku akan bolos lewat jendela belakang."

"Jendela ruang kelas Anda berada di lantai tiga, Nona. Lompat dari sana akan mengakibatkan fraktur pada tulang kaki, yang berarti Anda tetap tidak bisa pergi ke mana-mana," ucap Erkan dengan nada yang sepenuhnya serius, tanpa ada niat bercanda sedikit pun.

Kenya mendengus kencang, memalingkan wajahnya menatap kemacetan kota Benhill di balik jendela mobil yang gelap. "Kau benar-benar tidak asyik. Seperti robot."

Erkan tidak menanggapi kalimat terakhir itu. Matanya kembali fokus memindai kendaraan di sekitar mereka. Sebuah motor matic dengan dua penumpang sempat melambat di sisi kanan mobil, namun Erkan segera menekan gas sedikit lebih dalam untuk menutup celah, menjauhkan potensi bahaya.

Mobil terus melaju di antara gedung-gedung tinggi kota Benhill. High School Biacra sudah terlihat di ujung jalan, ditandai dengan gerbang besi hitam tinggi dan barisan mobil mewah yang mengantre menurunkan siswa.

Erkan mengarahkan mobil masuk ke jalur drop-off khusus. Begitu mobil berhenti sempurna di depan lobi sekolah, Erkan mematikan mesin, melepas sabuk pengaman dengan satu gerakan cepat, dan keluar dari mobil.

Ia memutari mobil dalam waktu kurang dari lima detik, membuka pintu belakang untuk Kenya, lalu menyerahkan tas ransel yang sejak tadi diletakkan di kursi penumpang depan.

Kenya menerima tasnya dengan sentakan kecil. "Jangan jemput terlalu cepat sore nanti. Aku ada kerja kelompok."

"Jam berapa kerja kelompok Anda selesai?" tanya Erkan, tangannya masih menahan pintu mobil.

"Jam empat. Mungkin jam lima."

"Saya akan berada di area parkir luar sejak pukul lima kurang lima belas menit. Jika ada perubahan lokasi, Anda wajib mengirimkan pesan teks dalam waktu sepuluh menit sebelum berpindah," kata Erkan tegas.

Kenya tidak menjawab. Ia berbalik dan berjalan cepat membaur dengan kerumunan siswa berseragam serupa yang mulai memadati koridor masuk High School Biacra.

Erkan berdiri diam di samping pintu mobil yang terbuka, matanya terus mengikuti sosok Kenya hingga gadis itu benar-benar menghilang di balik pintu kaca lobi gedung utama sekolah. Setelah memastikan situasi aman, ia kembali masuk ke dalam mobil, menutup pintu, dan mulai memikirkan rute patroli di sekitar area sekolah untuk beberapa jam ke depan.

BAB SELANJUTNYA>>>

Lanjut membaca
Lanjut membaca