

Teguh berdiri di depan gerbang SMK. Dia menghela napas panjang. Hari ini pengumuman kelulusan. Suasana di sekitarnya sangat ramai.
Teman-temannya asyik tertawa, berfoto dengan keluarga, pamer buket bunga, sampai pamer kunci motor baru.
"Habis ini kita nongkrong di mana? Aku bawa mobil ayah nih, bebas mau ke mana saja!" seru salah satu teman sekelasnya.
Di tengah keramaian itu, Teguh hanya berdiri sendirian.
Tidak ada buket bunga untuknya. Tidak ada keluarga yang datang menjemput dan memeluknya.
Ibunya sedang sakit parah dan hanya bisa terbaring lemah di rumah, tidak mungkin kuat untuk datang ke sekolah.
Teguh memegang erat amplop kelulusan di tangannya. Saat dia bersiap melangkah pulang, sekelompok teman sekelasnya berjalan melewatinya. Salah satu dari mereka sengaja menyenggol bahu Teguh dengan kasar.
"Eh, si miskin ternyata lulus juga," ejek temannya itu sambil tertawa sinis.
"Kukira kamu bakal numpuk utang SPP terus putus sekolah.”
“ Habis ini mau kerja apa? Jadi pengemis di lampu merah?"
Gerombolan anak itu langsung tertawa terbahak-bahak.
"Udah biarin aja, paling habis ini dia mulung botol plastik buat beli obat ibunya," sahut anak yang lain dengan nada merendahkan.
Teguh mengepalkan tangannya kuat kuat. Darahnya mendidih mendengar ibunya dibawa bawa, tapi dia menahan diri. Memukul mereka sekarang hanya akan membuat masalah baru.
Teguh sama sekali tidak memperdulikan mereka. Dia ingin cepat pulang. Dia ingin segera melihat wajah ibunya saat tahu anak laki-lakinya akhirnya lulus sekolah.
Teguh berjalan kaki menyusuri jalanan menuju rumah.
Saat melewati pinggiran pasar, langkahnya terhenti. Matanya tertuju pada sebuah bros berbentuk bunga berwarna putih kusam yang digelar di atas terpal pedagang. Bentuknya sederhana, tapi terlihat manis. Pasti cocok kalau disematkan di baju ibu.
"Berapa brosnya, Pak?" tanya Teguh.
"Tiga Puluh Ribu, Mas," jawab pedagang itu.
Teguh merogoh saku celananya. Dia menghitung lembaran uang hasil kerjanya semalaman. Dia langsung memberikan uang itu tanpa menawar.
"Tidak apa apa uangnya habis. Selama ini ibu tidak pernah mengeluh atau meminta apa apa. Paling tidak di hari kelulusan ini, aku bisa memberi ibu kejutan kecil," batin Teguh.
Namun, senyum itu langsung hilang saat dia berbelok masuk ke gang rumahnya.
Langkah Teguh mendadak melambat. Dia menyipitkan mata, mencoba memastikan pemandangan di depannya. Gang yang biasanya sepi itu kini penuh sesak.
Ada tenda terpal biru.
Ada deretan kursi plastik.
Ada orang-orang yang berbisik-bisik.
Saat warga melihat Teguh datang, suara bisikan mereka serentak berhenti. Perlahan warga menyingkir dan memberi jalan. Semua mata menatap Teguh dengan pandangan iba.
Teguh menelan ludah.
Rasa dingin tiba-tiba menjalar di tengkuknya. Dia memaksa kakinya melangkah. Tatapannya kosong, tertuju lurus ke depan rumahnya sendiri.
Di sana, terikat di tiang pagar kayunya, sebuah bendera kuning berkibar pelan tertiup angin.
"Ibu …."
Teguh berteriak keras. Dia berlari menerobos kerumunan warga yang menutupi jalan masuk.
Langkah kakinya berhenti. Napasnya tertahan.
Di tengah ruangan, terbujur sebuah tubuh di atas kasur tipis. Tubuh itu sudah tertutup rapat oleh kain jarit cokelat. Bau kapur barus dan bunga melati langsung menyengat hidungnya.
Teguh menjatuhkan dirinya berlutut di samping jenazah itu. Tangannya bergetar hebat saat perlahan menyingkap ujung kain jarit di bagian wajah.
Wajah ibunya terlihat sangat pucat, tapi tenang dengan mata tertutup rapat.
"Ibu ... bangun, Bu," suara Teguh bergetar. Pertahanannya hancur. Air matanya langsung tumpah membasahi pipi.
Dia menaruh amplop kelulusan yang sudah lecek itu di samping lengan ibunya. Lalu, dengan tangan gemetar dia mengeluarkan kalung dari saku celana.
"Ibu, lihat. Aku lulus, Bu," isak Teguh.
"Aku juga bawa bros cantik untuk Ibu. Bagus kan, Bu? Ayo bangun. Coba dipakai dulu brosnya."
Teguh menempelkan bros itu kedada ibunya yang sudah terasa sangat dingin. Dada Teguh terasa seperti mau pecah. Dia menangis sejadi-jadinya di samping jasad satu-satunya keluarga yang dia miliki.
Pak RT yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan perlahan mendekat. Dia memegang kedua bahu Teguh, lalu memapahnya untuk pelan-pelan berdiri.
"Sabar, Teguh. Ikhlaskan," ucap Pak RT pelan.
"Ibumu sudah tidak sakit lagi. Dia sudah tenang."
Teguh tidak sanggup menjawab. Dia hanya bisa menunduk dalam. Tangannya menggenggam erat bros itu sampai buku-buku jarinya memutih.
Pemakaman sudah selesai. Para warga perlahan pulang meninggalkan rumah duka.
Sore itu, rumah terasa sangat sepi. Teguh duduk sendirian di teras depan. Wajahnya kusut dan tatapannya kosong. Tangannya terus menggenggam erat bros yang batal dia berikan kepada ibunya.
Tiba-tiba, deru kasar mesin motor memecah keheningan. Beberapa tetangga yang masih berada di luar langsung menyingkir, bergegas masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rapat-rapat. Suasana gang mendadak mencekam.
Tiga pria berbadan besar turun dari motor dan berjalan arogan masuk ke halaman rumah Teguh. Satu orang memimpin di depan, sementara dua anak buahnya mengikuti dari belakang.
"Mana ibumu? Waktunya bayar utang!" bentak pria yang paling depan. Dia adalah bos rentenir yang sering memeras warga di kampung ini.
Teguh mendongak. Matanya memerah.
"Ibuku baru saja dimakamkan siang tadi. Tolong beri aku waktu," jawab Teguh dengan suara serak.
Bos rentenir itu mendecih remeh. Dia meludah sembarangan ke tanah teras.
"Aku tidak peduli ibumu mati atau hidup! Utang tetap utang. Kalau tidak bisa bayar sekarang, serahkan sertifikat rumah ini!" bentaknya keras.
Teguh langsung berdiri. Emosinya yang sedari tadi ditahan akhirnya meledak.
"Kalian tidak punya hati! Ini rumah peninggalan orang tuaku. Aku tidak akan menyerahkannya!" teriak Teguh.
"Kamu berani juga ternyata. Oke." Bos rentenir itu tersenyum sadis. "Hajar anak ini. Bikin dia sadar posisi."
Dua anak buahnya langsung maju. Teguh mencoba melawan, tapi tenaganya sudah terkuras habis setelah menangis seharian. Dia kalah jumlah dan kalah tenaga.
Sebuah pukulan keras mendarat telak di perut Teguh. Dia langsung membungkuk menahan sakit yang luar biasa. Belum sempat dia bernapas, sebuah tendangan keras menghantam wajahnya.
Teguh terpelanting jatuh ke lantai tanah. Sudut bibir dan pelipisnya robek. Darah segar mengalir deras. Saat dia terjatuh, amplop kelulusan yang sedari tadi disimpannya di saku kemeja ikut terlempar keluar.
Langkah berat bos rentenir itu mendekat. Ujung sepatu botnya yang kotor sengaja menginjak amplop putih tersebut.
"Oh, baru lulus sekolah?" ejek bos rentenir itu lantang, sengaja membiarkan suaranya terdengar oleh para tetangga yang sedang mengintip ketakutan dari balik jendela.
Pria bertubuh besar itu memungut amplop yang sudah kotor karena injakannya, lalu merobeknya menjadi dua tepat di depan mata Teguh. Lembaran surat kelulusan itu hancur dan dibuang begitu saja ke tanah.
"Kamu pikir kertas sampah ini bisa buat bayar utang ibumu? Sadar diri, anak gembel!" tawa bos rentenir itu pecah, diikuti kedua anak buahnya.
Teguh menggertakkan giginya kuat-kuat. Matanya menyala penuh amarah melihat hasil kerja kerasnya selama tiga tahun dihancurkan begitu saja. Dia mencoba merangkak bangkit, tapi bos rentenir itu langsung menendang bahunya dan menginjak kepalanya keras-keras ke lantai teras.
"Dengar baik-baik," bisik bos rentenir itu sambil menekan ujung sepatunya di pelipis Teguh yang berdarah.
"Aku beri kamu pilihan. Jilat sepatuku sekarang dan mengemis minta ampun di depan semua tetanggamu, atau aku seret kamu keluar dan aku bakar rumah ini detik ini juga."
Teguh mengepalkan tangannya. Di balik rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuh, harga dirinya menolak untuk tunduk. Alih-alih mengemis, Teguh memiringkan kepalanya sedikit dan meludah tepat ke ujung sepatu bos rentenir itu.
"Keparat!" bentak bos rentenir itu murka. Wajahnya merah padam. "Bikin anak ini cacat!"
Tendangan dan pukulan kembali menghujani tubuh Teguh tanpa ampun. Berkali-kali lipat lebih brutal. Teguh hanya bisa meringkuk melindungi dadanya. Pandangannya mulai kabur. Tubuhnya lemas tak berdaya, tidak sanggup lagi menahan rasa sakit.
Setelah puas menyiksa, bos rentenir itu berjongkok dan menjambak rambut Teguh dengan kasar, memaksa pemuda itu menatap matanya.
"Aku beri kamu waktu sampai besok pagi," desisnya tajam. "Kalau uangnya tidak ada, rumah ini jadi milikku dan kamu akan aku jual hidup-hidup. Ayo pergi!"
Ketiga rentenir itu meludah sekali lagi lalu pergi meninggalkan halaman rumah Teguh. Deru motor mereka perlahan menjauh.
Teguh merasa seluruh tubuhnya remuk. Dia terkapar tak berdaya di lantai tanah yang dingin. Dia bahkan tidak kuat untuk sekadar menggerakkan jarinya. Namun, rasa sakit di badannya sama sekali tidak sebanding dengan rasa hancur di hatinya.
Tanpa dia sadari, darah segar dari pelipisnya menetes pelan. Darah itu jatuh membasahi bros itu.
Detik berikutnya, sesuatu yang tidak masuk akal terjadi.
Sebelum Teguh bisa bereaksi, ada cahaya biru melesat cepat dan langsung masuk menembus ke dalam kepala Teguh.
Di tengah kesadarannya yang hampir hilang, sebuah suara asing bergema jelas di dalam kepalanya.
"Inang terdeteksi, DNA cocok. Inang sangat sengsara, Apakah Tuan ingin menerima pemasangan sistem?"
Teguh memaksa matanya terbuka. Pandangannya berputar hebat. Dia menyapu pandangan ke sekeliling teras yang gelap dan sepi. Tidak ada siapa-siapa di sana.
"Suara siapa itu?" batin Teguh dengan napas tersengal. Rasa takut mulai merayap di tengkuknya.
"Apa aku halusinasi? Apa kepalaku bocor sampai aku gila?"
Bukannya menghilang, suara di kepalanya justru terdengar lagi. Kali ini nadanya lebih mendesak.
"Peringatan. Kondisi fisik Inang sangat kritis. Pemasangan sistem diperlukan untuk pemulihan. Apakah Tuan ingin menerima pemasangan sistem? Hitung mundur konfirmasi .... 10 .... 9 ...."
Teguh makin kebingungan. Kepalanya pusing setengah mati dan tubuhnya terasa sedingin es. Dia merasa nyawanya benar-benar akan melayang malam ini di lantai teras rumahnya sendiri.
Tiba-tiba bayangan rentenir yang merendahkan ibunya melintas di benaknya. Tidak. Dia tidak boleh mati sekarang. Kalau dia mati, rumah ibunya akan dirampas besok pagi.
"Tiga .... dua ...."
Di tengah rasa panik dan keputusasaan yang luar biasa, Teguh memaksakan suaranya keluar dari tenggorokan yang kering.
"Terserah .... apa pun itu, iya! Pasang sekarang!" erang Teguh putus asa.
"Konfirmasi diterima. Pemasangan Sistem akan berjalan."
Seketika, rasa hangat yang aneh meledak di dalam kepalanya. Berikutnya, pandangan Teguh menjadi gelap gulita dan dia benar-benar kehilangan kesadaran.
Ding!
Syarat keputusasaan terpenuhi. Otorisasi darah berhasil. Memulai penyatuan Sistem .... 1% .... 50% .... 100%. Integrasi selesai. Selamat datang, Tuan.