Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Playboy Miliarder

Playboy Miliarder

Mitragyna | Bersambung
Jumlah kata
213.1K
Popular
7.4K
Subscribe
387
Novel / Playboy Miliarder
Playboy Miliarder

Playboy Miliarder

Mitragyna| Bersambung
Jumlah Kata
213.1K
Popular
7.4K
Subscribe
387
Sinopsis
PerkotaanAksiDarah Muda21+Miliarder
Rama Perkasa adalah seorang anak konglomerat...Hidup penuh kelimpahan dan dihormati..Banyak wanita yang ingin mendekatinya tapi dia memiliki penyakit aneh yang membuat kejantananya di pertanyakan..Hingga suatu hari saat dia sedang berlibur dia bertemu dengan seseorang kakek tua yang mengubah hidupnya...Dari pria culun menjadi seorang playboy yang elegant..Kisah menarik dalam hidupnya telah di mulai
BAB.1 JODOH

Namaku Rama Perkasa…Saat ini usiaku baru menginjak sembilan belas tahun…Di mata banyak orang, aku adalah pemuda paling beruntung.

Aku lahir sebagai putra tunggal Sunyoto, seorang konglomerat ternama yang memiliki kerajaan bisnis di berbagai bidang, mulai dari properti, pertambangan, hingga teknologi.

Sejak kecil aku tidak pernah mengenal kata kekurangan…Rumah megah, mobil mewah, jet pribadi, hingga kapal pesiar adalah bagian dari kehidupan sehari-hariku.

Ke mana pun aku pergi, selalu ada pengawal yang mengikutiku… Orang-orang menghormatiku bukan karena siapa diriku, melainkan karena nama besar ayahku.

Banyak orang ingin menjadi temanku, bahkan tidak sedikit wanita cantik yang berusaha mendekat…Mereka menganggap hidupku sempurna.

Namun mereka hanya melihat apa yang tampak dari luar.

Di balik semua kemewahan itu, aku menyimpan rahasia yang tidak pernah berani kuceritakan kepada siapa pun.

Sejak memasuki masa pubertas, aku menyadari ada sesuatu yang berbeda pada diriku.

Saat teman-temanku mulai membicarakan kisah cinta, hubungan dengan perempuan, bahkan pengalaman-pengalaman yang membuat mereka bangga, aku hanya bisa tersenyum hambar sambil berpura-pura mengerti.

Aku memiliki kelainan yang sangat memukul harga diriku sebagai seorang pria.

Rudal ku tidak mampu berdiri lebih dari lima detik.

Awalnya aku mengira itu hanya keterlambatan perkembangan…Aku yakin suatu hari nanti semuanya akan berubah dengan sendirinya.

Namun bulan demi bulan berlalu, bahkan hingga usiaku delapan belas tahun, kondisiku tidak pernah membaik.

Setiap kali mencoba berharap, yang datang hanyalah kekecewaan.

Aku mulai menghindari perempuan.

Aku takut ditertawakan.

Lebih tepatnya, aku takut mengecewakan orang yang suatu hari akan menjadi istriku.

Ayah dan ibuku akhirnya mengetahui rahasia itu…Alih-alih marah atau kecewa, mereka justru berusaha melakukan segala cara untuk menyembuhkanku.

Mereka membawaku berkeliling dunia.

Kami mendatangi rumah sakit terbaik di Jepang, Korea Selatan, Jerman, Amerika Serikat, hingga Swiss.

Dokter-dokter terkenal memeriksaku dengan berbagai alat canggih…Berbagai tes dilakukan berulang kali.

Hasilnya selalu sama.

Tubuhku dinyatakan sehat.

Kadar hormon normal.

Aliran darah normal.

Tidak ada kelainan pada saraf maupun organ reproduksiku.

"Secara medis, Anda baik-baik saja."

Kalimat itu sudah terlalu sering kudengar.

Namun kenyataannya tidak berubah sedikit pun.

Ayahku bahkan rela mengeluarkan miliaran rupiah demi mendatangkan profesor dan spesialis andrologi dari berbagai negara.

Mereka memberikan obat-obatan terbaru, terapi hormon, hingga metode pengobatan eksperimental.

Tidak ada yang berhasil.

Ketika jalur medis menemui jalan buntu, ibuku mulai mencari pengobatan alternatif…Kami menemui tabib terkenal, ahli herbal, hingga praktisi pengobatan tradisional dari berbagai negara.

Ada yang memberiku ramuan pahit, terapi pijat, akupunktur, bahkan ritual-ritual yang menurut mereka mampu mengembalikan vitalitas seorang pria.

Hasilnya tetap nihil.

Harapan yang muncul selalu berakhir menjadi kekecewaan.

Lama-kelamaan aku mulai menerima kenyataan bahwa mungkin beginilah takdirku…Aku memiliki semua yang diimpikan banyak orang..Harta, kekuasaan, dan masa depan yang terjamin tetapi kehilangan sesuatu yang bagi sebagian besar pria dianggap sangat mendasar.

Aku sering bertanya kepada diriku sendiri di tengah malam.

Apakah semua kekayaan keluargaku benar-benar berarti jika aku tidak mampu menjalani kehidupan sebagai laki-laki secara utuh?

Saat itu aku belum tahu bahwa sebuah pertemuan yang tidak disengaja akan mengubah seluruh jalan hidupku, bahkan membawaku memasuki dunia yang sama sekali belum pernah kubayangkan sebelumnya.

Sore itu cuaca sangat cerah…Matahari mulai turun ke ufuk barat, sementara angin laut bertiup pelan.

Sebuah kapal pesiar mini berwarna putih berlabuh tidak jauh dari bibir pantai…Kapal itu milik Sunyoto, ayah Rama.

Untuk mengisi waktu liburan, Rama mengajak lima sahabatnya, yaitu Zainal, Ari, Hendra, Rianti, dan Luna menikmati keindahan sebuah pulau yang masih alami.

Mereka menghabiskan waktu dengan kegiatan masing-masing…Ari dan Hendra berjalan di sepanjang pantai mencari kerang, sedangkan Rianti dan Luna sibuk berfoto.

Zainal yang sudah tidak sabar melihat air laut yang jernih langsung berteriak ke arah Rama.

"Rama! Ayo kita renang di dekat batu karang itu! Airnya jernih!"

Rama menoleh sekilas, lalu menggeleng sambil tersenyum tipis.

"Aku di sini saja… Aku ingin menikmati sunset."

"Ya sudah, terserah kau!" balas Zainal sebelum berlari menuju laut.

Tak lama kemudian, hanya Rama yang masih duduk sendirian di atas batu besar…Pandangannya tertuju ke arah matahari yang perlahan tenggelam.

Walaupun pemandangannya sangat indah, pikirannya tetap dipenuhi berbagai masalah yang selama ini ia pendam.

Di saat itulah terdengar suara seseorang dari belakang.

"Selamat sore, Cuk…Mau beli ikan dan udang?"

Rama tersentak dari lamunannya…Dia menoleh dan melihat seorang kakek tua berdiri beberapa meter di belakangnya.

Tubuh kakek itu sangat kurus…Rambutnya sudah memutih seluruhnya…Langkahnya tampak tertatih karena memikul bambu yang di kedua ujungnya tergantung dua keranjang anyaman berisi ikan dan udang segar.

Rama segera berdiri.

Tanpa banyak bicara, ia menghampiri kakek itu lalu membantu menurunkan pikulan bambunya ke atas pasir.

"Kakek sudah tua, tapi masih membawa beban seberat ini…Anak atau cucu kakek mana?" tanya Rama.

Kakek itu tersenyum ramah.

"Kakek sebatang kara, Cuk."

Mendengar jawaban itu, hati Rama langsung terenyuh

Ia melihat tangan kakek itu penuh kapalan…Bajunya juga sudah kusam dan beberapa bagian tampak dijahit berkali-kali.

"Kalau begitu saya beli semuanya, Kek…Berapa harganya?"

Kakek itu melihat isi keranjang sebentar sebelum menjawab sambil tersenyum.

"Tiga ratus lima puluh ribu rupiah saja, Cuk."

Rama mengangguk pelan.

Baginya, uang sebesar itu tidak berarti apa-apa…Seperti setetes air di dalam akuarium besar

Namun bagi kakek tua ini, hasil jualan tersebut mungkin menjadi satu-satunya sumber penghasilan hari itu.

"Kakek sudah makan belum?"

Kakek itu menggeleng.

"Belum…Nanti setelah pulang baru kakek makan."

Rama tersenyum.

"Kalau begitu jangan pulang dulu."

Kakek itu menatap Rama dengan heran.

"Ayo ikut aku ke kapal…Kita makan dulu…Kebetulan aku juga belum makan…Dan uangku juga ada di kapal"

"Tidak usah repot, Cuk."

"Tidak merepotkan…Lagipula makan sendirian juga tidak enak Kek"

Sambil berkata demikian, Rama mengangkat kembali pikulan bambu yang berisi ikan dan udang.

"Ayo, Kek…Sudah jangan di pikirkan lagi"ucap Rama sambil terkekeh dan melwmparkan senyum kepada kakek itu

Tanpa menunggu jawaban, Rama berjalan lebih dahulu menuju kapal pesiarnya.

Kakek itu hanya memperhatikan punggung Rama yang berjalan santai sambil membawa pikulannya…Senyum di wajah tua itu perlahan berubah menjadi senyum penuh arti.

Ia kemudian memasukkan tangan kanannya ke dalam saku kain lusuh yang tergantung di pinggang…Dari dalamnya, ia menyentuh sebuah cincin tua berwarna hitam dan berumahkan perak dengan ukiran ukiran kuno yang telah menemaninya selama puluhan tahun.

"Anak yang baik," gumamnya pelan.

"Sudah waktunya cincin ini menemukan pemilik barunya."

Tanpa diketahui Rama, kakek itu kembali tersenyum…Di dalam hatinya, ia sudah mengambil keputusan.

"Anak ini berdarah dingin, sama denganku dimasa muda dulu…Dia berjodoh dengan cincin ini."

Lanjut membaca
Lanjut membaca